Latest Event Updates

Diagram

Posted on

(Dimuat harian Media Indonesia, 5 Februari 2017)

Tepat di malam ketiga kami menyandang gelar suami-istri, aku menyadari pernikahanku tak akan berumur panjang. Tapi siapa yang sanggup mengakhiri janji hidup bersama di usia pernikahan yang baru tiga hari?

Sebulan setelah perayaan dan segala rupa ramah-tamah keluarga usai, aku memberanikan diri untuk berbagi cerita ini pada teman dekatku. Kubilang padanya kalau suamiku menyerahkan beberapa lembar seratus ribuan sebagai uang belanja bulanan pertama kami, dengan meletakkannya di tempat tidur, tepat setelah kami melakukan hubungan suami-istri. Sebelum teman dekat itu sempat berkomentar apa salahnya, segera kuluruskan gambaran yang mungkin keliru. “Bukan diletakkan, tapi dilemparkan…”

Sahabatku sejak SD itu mendehem, lalu menanggapi,

“Seminggu lalu kaca jendela rumah tetanggaku pecah berantakan.” Ia memberi jeda pada kalimatnya, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi plastik yang ia duduki.

Aku sengaja mengajaknya ke salah satu warung di mana kami sering melewatkan waktu istirahat semasa kuliah dengan alasan bernostalgia.

“Sebabnya adalah salah paham. Sori, jangan berprasangka dulu. Aku belum selesai.” Ia mengangkat tangannya agar aku tak menyela ucapannya.

“Beberapa minggu sebelum kejadian, konon tetanggaku itu berupaya mendapatkan tukang jahit yang mampu menjahit kain celana panjang, sesuai keinginan suaminya. Kau tahu, beberapa orang punya selera yang sulit. Ia bekerja pagi hingga malam sebagai marketing di perusahaan swasta. Usahanya mencari tukang jahit dilakukannya sepulang bekerja kira-kira jam 8 hingga 10 malam. Kau tahu apa yang terjadi saat ia memberikan celana panjang itu pada suaminya?”

Aku mengedikkan bahu. “Melayang, Sus. Lima buah celana panjang  melayang mengenai wajah istrinya. Tanpa babibu, dalam keadaan lelah ia meraih benda terdekat yang kebetulan adalah vas keramik untuk dilemparkan ke wajah suaminya sebagai balasan.”

“Wow!” ujarku kagum.

“Masalahnya adalah, itu salah paham. Suaminya tak berniat melemparkan barang yang telah susah payah diupayakan istrinya itu. Ia hanya kaget karena ada tokek yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia phobia binatang melata.”

 

***

Sejak saat itu, aku tak berbagi lagi dengan siapapun. Teman karibku dan semua orang tentu menginginkan pernikahanku langgeng sampai kakek-nenek. Sayangnya, aku tak bisa!

Bila nampaknya aku berupaya mempertahankan pernikahanku sebisa mungkin hingga akhirnya kami memiliki anak, itu tak sepenuhnya benar. Aku mengandung Saskia saat pernikahan kami berusia 4 bulan. Tapi, keputusanku untuk mengakhiri pernikahan dengan Seto tak berubah. Aku hanya tak mampu menghempaskan kebahagiaan sanak-saudara yang senantiasa berdoa untuk kehamilanku. Jangan lakukan sesuatu yang kita tak ingin hal itu menimpa kita  nanti. Begitu pesan ibuku, yang selalu kuingat. Meski kebahagiaan dan harapanku telah terhempas di malam ketiga, aku tak ingin membalaskannya ke orang lain. Aku hanya ingin menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan. Semudah itu.

Aku menghitung penantianku untuk berterus terang pada Seto dengan membuat diagram di sebuah buku catatan. Garis horisontal pada diagram adalah umur pernikahan kami. Aku membaginya dalam hari. Garis vertikal adalah sikap Seto padaku, yang diukur dari seberapa sering ia menyerahkan benda-benda padaku dengan cara melempar, setengah melempar, atau dengan cepat¾tanpa memandang apakah benda itu akan mendarat dengan mulus di tanganku atau di lantai. Melempar dengan cepat menempati posisi tertinggi.

Aktivitas melempar kutandai dengan tinta merah tua. Cokelat tua untuk setengah melempar, dan hijau tua untuk kategori terakhir. Aku tak berpegang pada filosofi apapun dalam memilih tiga warna tersebut. Aku hanya pernah bermimpi dikejar pria bergolok yang menutup mimpiku dengan warna merah tua. Warna yang kemudian paling sering mendatangiku saat sendirian. Sementara cokelat tua adalah warna tanah basah yang kusukai. Lalu hijau tua, adalah satu-satunya spidol yang tersisa di laci kerja Seto setelah warna lain dilemparkannya ke lantai karena kehabisan tinta. Saat memunguti ceceran spidol tersebut, aku membubuhkan tanda berwarna cokelat tua pada diagram. Demikian upayaku merawat ingatan.

Membesarkan Saskia tanpa Seto bukan hal yang tak sanggup kulakukan. Tapi memandang nyala di kedua mata buah hatiku surut karena pertikaian panjang ayah- ibunya sama dengan mematikan harapan hidupku sendiri. Maka, kutempa diriku untuk penantian lebih panjang lagi. Sengaja kubeli beberapa pak buku tulis untuk diagramku,saat mengantar Saskia berbelanja buku di tahun ajaran baru. Kuperbaharui pulpen dan spidol yang mulai memudar warnanya. Aku beralibi hendak menyumbang ke Panti Asuhan, saat Saskia dan Seto melihat tumpukan buku tulis yang kubeli. Aku mengisi waktu dengan berjualan kue dan puding buatan sendiri saat Saskia mulai lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya.

Awalnya aku tak pernah alpa mengisi diagram. Namun, lambat laun malas menggelayutiku. Penyebabnya adalah bentuk diagram yang hampir sama dari tahun ke tahun. April hingga September kegiatan melempar menempati puncaknya. Sementara Desember hingga Februari ada di posisi terendah. Dari aktivitas harian, kegiatan mengisi diagram berubah menjadi aktivitas bulanan. Aku mulai khawatir dengan diriku sendiri. Waktu yang seharusnya kugunakan untuk mengingat-ingat detail penting demi mengisi diagram berubah menjadi keraguan tak berujung.

Aku menambah variabel diagramku dengan detail yang semula tak ada. Spidol merah tua kini tak hanya bertugas membubuhkan tanda titik tebal, tapi juga bentuk-bentuk yang mewakili jenis benda yang dilemparkan. Segitiga untuk jenis benda padat, segiempat untuk jenis makanan, dan titik tebal yang semula berlaku umum, kini mewakili benda di luar kategori segitiga dan segiempat. Aku menutup buku tulis bergambar kelinci, dan membuka lembaran baru diagramku. Buku yang seminggu kemudian saat kubuka lagi memberi gambaran serupa langit bertabur bintang. Sebentuk diorama yang mampu membuatku tersenyum sesaat, meski kemudian pandanganku kabur oleh tirai tipis yang jatuh sebagai butiran air saat kukatupkan pelupuk mataku.

Aku merasa membuat kekeliruan dengan menambah variabel itu. Bukan karena waktuku untuk Seto dan Saskia yang berkurang sehingga menyebabkan Seto terganggu dan makin sering menghakimiku dengan pertunjukan melemparnya. Bukan pula oleh belas kasihan Saskia padaku, yang kerap disalahartikan sebagai hasutan untuk memusuhi ayahnya sendiri oleh Seto. Tapi lebih pada keputusan yang tak mengarah pada penyelesaian. Aku tak membutuhkan mimpi untuk mengetahui rasanya jatuh ke lubang gelap tanpa dasar.

 

***

 

Dua hari sebelum ulang tahun Saskia yang ke-15, Seto mengajak aku dan Saskia berlibur di vila. “Hanya empat hari tiga malam. Berangkat Kamis, kembali Minggu. Lagipula vilanya tak jauh dari sini. Hanya 100 kilometer,” ujarnya. Saskia menyambut gembira, tapi aku langsung keberatan dengan beberapa pertimbangan. Pertama, tentang kebiasaan Saskia merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya. Saskia sempat terdiam sesaat. “Kecuali kalau kita mengajak mereka sekalian,” lanjutku. “Jangan bodoh, itu tak mungkin,” timpal Seto seketika. Kedua, berhubungan dengan sisa cuti Seto yang sayang bila tak baik-baik dihemat. “Itu urusanku dengan kantor,” katanya. Sesungguhnya aku tak pernah ingin Seto cuti.

Sebelum tampak rimbunan pohon yang menyerupai hutan dari kejauhan, aku enggan mengikuti keinginan Saskia dan Seto untuk melintasi persawahan di sekitar vila yang kami kunjungi. Aku beralasan tak enak badan dan ingin bersantai sambil menghirup udara segar. Namun, saat penjaga vila membenarkan bahwa memang ada hutan di arah yang kumaksud, segera kuisi tas ranselku dengan bekal makanan secukupnya, dan satu stel pakaian. Sebuah buku tulis berisi diagram meluncur dari kemeja ganti yang akan kulesakkan ke dalam tas ransel. Dengan gerak cepat kuselipkan lagi ke dalam kemejaku yang terlipat rapi di dalam ransel.

Berjalan di urutan paling belakang memberiku keleluasaan untuk menikmati keheningan alam pegunungan. Aku mengikuti langkah Seto, Saskia dan pemandu kami, menyusuri pematang sawah. Saat tiba di persimpangan, kubuka telapak tanganku. Kompas di genggaman basah oleh keringat. Aku ingat betul ucapan penjaga vila tentang arah ke hutan yang kumaksud. Ia berlawanan dengan rencana perjalanan Seto. Kulambatkan langkahku sebisanya hingga membuat jarak yang makin jauh dari Seto dan Saskia. Setiap Saskia menegok ke belakang, aku berjongkok seperti mengamati tanaman di kanan-kiriku. Atau mengarahkan kameraku ke sebuah objek. Saskia, Seto dan pemandu, kian menjauh. Langkah dan suaranya tak lagi terdengar.

Segera aku berbalik. Berlari ke arah hutan. Tak kuhiraukan lagi jarak dan kapan aku akan mencapai hutan yang kutuju. Saat langit mulai gelap, kuturunkan ransel di pundakku. Kerongkonganku kering. Namun yang kulakukan pertama kali adalah mengeluarkan buku tulis diagramku. Melenyapkannya dari pandanganku dengan sekali lempar. Aku tak akan membutuhkannya di hutan nanti…

 

2017

 

Iklan

Semangkuk Sup Hari Itu

Posted on

(Dibukukan dalam Dunia di Dalam Mata, Motion Publishing 2013)

Aku merasakan cairan panas mengalir di wajahku. Pertama di dahiku. Lalu seperti lahar yang tumpah dari mulut gunung berapi dan meliuk ke bawah mengitari bukit dan lembah, ia mengalir mengikuti liku wajahku. Melewati kanan dan kiri hidungku. Sebagian tetap mampu mengalir di bagian tertinggi dari hidungku. Air itu seperti menyimpan tenaga yang tak mampu kuduga sebelumnya. Ia seperti hidup dan ingin menguasai tubuhku. Mulai dari wajah terlebih dahulu. Mungkin kemudian leher, tangan, dada, perut dan kakiku. Membuat kulitku mengelupas perlahan, kemudian daging di bawahnya lalu aku tinggal sebentuk kerangka yang kerap kulihat di film horor. Aku tak tahan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Aku merasa sesuatu menggerogoti isi kepalaku.

“Biarkan aku yang memesan,” ujarnya sambil menggeser buku menu di hadapan kami. Suaranya yang
riang memecah kebekuan. Aku mengenalnya setahun yang lalu. Di desa yang terletak di pantai utara pulau
Jawa. Ia bukan penduduk setempat. Ia teman kuliah yang sayangnya baru kukenal di tahun terakhir masa
perkuliahan. Saat kami tinggal di desa yang sama untuk menyelesaikan kewajiban Kuliah Kerja Nyata yang
merupakan bagian dari syarat kelulusan sarjana. Ia memiliki kulit sawo matang. Wajahnya termasuk kategori
manis, kata teman-teman kuliah yang tinggal satu desa denganku. Manis yang sederhana kataku. Sesuai dengan
keinginanku. Seorang yang sederhana sebaiknya memilih teman yang juga sederhana. Jangan lebih, kalau tak
ingin tersakiti, kataku pada diri sendiri.

Aku melihat matanya beralih dari satu menu ke menu lain. Urut dari atas ke bawah. Kemudian kembali
lagi ke atas. Begitu seterusnya. Setidaknya tiga kali ia membiarkan matanya bergerak atas-bawah atas-bawah
sebelum akhirnya memutuskan.”Sudah lama aku tidak makan sup buntut. Sup buntut di sini terkenal. Kita pesan
menu yang sama ya,” mata indahnya yang selalu tampil bak mata malaikat bagiku, meminta persetujuan. Apa
yang harus kukatakan selain „ya, sayang‟ padanya? Ia begitu baik, begitu sabar, begitu sederhana. Sesuatu yang
aku cari dari diri seorang wanita semua ada padanya.

Kenangan indah akan kehadiran Mira, wanita di hadapanku ini, sirna begitu saja sesaat setelah aku
menyetujui pilihannya. Harusnya aku melarang Mira memesan sup buntut. Mestinya bibir ini sanggup
menggumamkan kekecewaan pada pilihan wanita sederhana di hadapanku.
Sorak sorai penonton terdengar hingga tempatku dan Mira duduk di rumah makan itu.”Ada apa sih
ribut-ribut?” ujar Mira gusar. Aku mengangkat bahu tak peduli. Namun, seperti menjawab keingintahuan yang
sedang berusaha tak kupedulikan, seorang pramusaji rumah makan menghambur ke arah ku dan Mira seraya
berteriak,”Merdeka! Merdeka!” Aku dan Mira saling tatap. Seakan tak percaya dengan apa yang kami dengar.
Senyum lega kemudian merekah dari mulut kami.

Sehari sebelum aku dan Mira duduk untuk menikmati sup buntut, berita itu menguasai siaran televisi di
mana-mana. Di pom bensin, waktu aku mengisi ulang motor butut tahun ‟70-an dengan bensin seadanya. Di
televisi pos siskamling yang dibiarkan menyala meskipun petugas jaganya tidak terlihat keberadaannya. Dan
tentunya di kampus. Ya, kampusku dan Mira. Kampus seperti memiliki keharusan tidak tertulis untuk terus
memantau siaran tersebut. Kami berada kurang lebih 400 kilometer dari kota besar di mana hiruk pikuk itu
berlangsung. Sebagian dari kami turut menyumbangkan tenaganya langsung ke kota tersebut. Menyuplai
makanan siang dan malam, menyediakan obat-obatan bila diperlukan. Menduduki gedung parlemen bukan
perkara mudah. Anak-anak muda itu, yang masih seumuranku dan Mira, yang mungkin juga baru saja
menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata, berbondong-bondong meringsek ke dalam gedung parlemen. Berteriak-
teriak menuntut hak atas nama demokrasi. Di akhiri dengan tumbangnya sebuah rezim yang telah berkuasa
selama lebih dari 30 tahun.

Mataku berkaca-kaca dalam pelukan Mira.”Rudi, lihat, tak ada yang sia-sia. Mereka bekerjasama, bahu-membahu untuk arti kemerdekaan yang sesungguhnya!” Aku pun lalu memeluk Mira dengan pelukan yang lebih erat. Sambil menahan haru yang tak mungkin dapat kusampaikan dengan kata-kata. Tak lama kemudian Mira berusaha untuk melepaskan pelukanku. Mungkin ia ingin menggantikannya dengan sebuah kecupan di
kedua pipiku. Atau malu disaksikan oleh banyak pasang mata yang mengisi restoran tersebut. Namun aku tak ingin Mira melihatku meneteskan air mata. Aku ingin selamanya terlihat perkasa. Ketangguhan yang diwariskan dari ayahku. Aku masih memeluknya waktu air mataku mengering.
“Ada apa dengan supnya? Tidak enak?” aku mendengar pertanyaan yang kunanti sejak sekian menit yang lalu. Tepatnya sejak raut wajahku kemungkinan besar menampakkan keengganan menghabiskannya. “Eh, nggak kok, perutku cuma agak kenyang,” jawabku asal-asalan.

*

Mereka melakukannya padaku 14 tahun yang lalu. Menjejaskan luka yang sulit lekang oleh waktu. Aku
sedang mengais rezeki di antara kepulan uap beragam makanan di sebuah restoran Padang di Jalan Pemuda di
kotaku. Aku bukan tukang masak. Tidak pernah belajar memasak, apalagi berkeinginan menikmati hidangan
beraroma lezat yang menusuk hidungku. Aku kenyang oleh uapnya. Di bahuku kuselempangkan tas kecil berisi
semir sepatu, dua buah sikat sepatu, dan dua buah lap kain. Di usiaku yang belum genap 8 tahun, hidup
mengajarkanku untuk bersabar pada teriakan perut lapar separah apa pun. Aku harus telaten mengajaknya
bersabar hingga satu atau dua orang menggunakan jasaku untuk membuat sepatunya mengkilat. Sesekali aroma
lumpia juga mampir di hidungku. Penganan khas kotaku yang hingga aku tepekur dengan perut gelisah di
pinggir restoran Padang saat itu belum juga pernah kucicipi. Harganya mahal, kata ibuku. Sementara ayah
pernah berjanji, kalau ada sisa uang bulanan dari mengajar, akan ayah belikan barang 7 buah lumpia untukku
dan enam orang saudaraku. Ayah dan ibu tidak usah, katanya. Aku menghargai janji ayah. Ia sesungguhnya tak
ingin ingkar seandainya dirinya tidak dipaksa berhenti dari pekerjaannya sebagai guru di sebuah madrasah tak
jauh dari tempat kami tinggal. Kata seorang tetanggaku, ayah tidak pantas mengajar di sana. Ayah tidak sejalan
dengan pemerintah yang memaksakan kelanggengan sang penguasa mutlak terus dipupuk di benak murid-
muridnya. Ia mengidolakan penguasa sebelumnya. Penguasa yang menganggap kaum buruh bukanlah makhluk
yang cukup diperas tenaganya saja. Aku mengingat ayah sebagai sosok pejuang tangguh. Mantap pada pendirian
dan sikapnya. Ayah kerap memperlihatkan kepadaku buku-buku yang memuat ajaran tentang kekuasaan yang
diyakininya benar. Yang belakangan kutahu membuat KTP nya diberi tanda sebagai eks penganut paham yang
tidak direstui pemerintah saat itu. Ayah kehilangan pekerjaan di saat seharusnya ia menghidupi istri dan ketujuh
anaknya.

Di mana letak keluargaku di tengah-tengah masyarakat belum benar-benar kupahami hingga siang itu.
Aku dan tas selempang berisi perlengkapan menyemir sepatu sedang menanti waktu yang bergerak dalam diam.
Derap dua pasang sepatu menyelesaikan bunyinya pada dua buah bangku kosong. Dua orang lelaki dengan
setelan rapi memesan makanan. Orang-orang mapan, begitu sebutan Mas Mamat yang becaknya kerap mangkal
di depan restoran. Sebuah tanda serupa pohon berdaun banyak berwarna kuning keemasan tersemat di saku kiri
kemeja. Aku merasa tidak asing dengan simbol itu. Tapi tak terlalu kupedulikan. Sayup-sayup kudengar
rendang, ayam goreng, dan sup daging diucapkan oleh seorang dari mereka. Mereka menolak beragam lauk
yang memenuhi meja makan sebagai bagian dari adat istiadat rumah makan Padang. Mereka ingin beberapa
menu pilihan mereka saja yang disajikan di meja. Mungkin mereka bukan orang Padang. Itu hanya tebakanku
saja. Tak lama, hidangan yang dipesan tersaji di atas meja. Semangkuk sup menguarkan aroma daging dan
sayuran nan sulit dicerna oleh dunia sadarku. Sekali aku mendekati mereka. Memberanikan diri untuk
menawarkan jasa. Bukan untuk meminta. Aku cukup mengerti bahwa tak ada yang cuma-cuma di muka bumi
ini. Perutku bersuara mengamini kalimat yang keluar dari mulutku. Bila mulutku berhasil, artinya perutku dapat
bagian. Tak ada tanggapan dari dua lelaki necis dengan setelan rapi itu. Aku mengira mereka tidak mendengar
tawaranku. Sekali lagi kukumandangkan. Ada baiknya sedikit lebih keras,”Pak, semir sepatunya….” Aku segera
mendapat jawaban. Namun bukan berupa rentetan kata. Kuah sup panas dengan sedikit minyak yang berasal
dari lemak daging mendarat di wajahku dan membakarnya perlahan. Sumpah serapah yang mengalir dari mulut
salah satu lelaki necis memberangus keinginanku untuk mendapatkan beberapa koin untuk membeli sedikit
pengganjal perut. Menghentak kesadaranku akan nilai hidupku. Nilai hidup seorang keturunan penganut paham
kesetaraan buruh. Rendah dan hina.

Aku menyambut sentuhan lembut Mira pada punggung tanganku. Aku tak mampu menyangkal
kenyataan bahwa Mira yang kucintai sedang mempertanyakan kesediaanku melamarnya. Di hadapan
semangkuk sup yang mulai dingin, hatiku lebih dulu membeku. Pada suhu di mana kesadaran akan perbedaan
yang disematkan masyarakat pada keluargaku sekian puluh tahun tak juga hilang. Meski rezim yang
menyuburkan perbedaan itu telah runtuh, jati diriku telanjur menciut. Mengajak rasa percaya diri ini untuk
mengecil bersamanya. Kemudian mengambang di udara dan kehilangan makna.

***

Simalakama

Posted on

(Dimuat Majalah MORE edisi Juni 2013)

“Nama?”

“Sekar Larasati”

“Umur?”

“Tiga puluh dua tahun”

“Boleh saya pinjam KTP-nya?”

Sekar mengambil dompet tempatnya menyimpan KTP. Mengeluarkannya lalu menyerahkan pada petugas kepolisian di hadapannya. Setelah menyalin beberapa data yang dibutuhkan dari KTP tersebut, ia mengajukan setidaknya dua puluh pertanyaan sehubungan dengan tertangkapnya dua orang anak buah Sekar oleh polisi pelabuhan. Sekar tak ingin menghitung berapa kali pertanyaan semacam ‘Apakah anak buah Saudara Sekar yang bernama A dan B ini bekerja atas perintah Saudara Sekar?’ mesti dijawabnya. Jawabannya selalu sama, yaitu ‘tidak’. Sekar sudah lebih dari muak menghadapi masalah yang mengancam kariernya ini. Di balik ekspresinya yang dingin di hadapan petugas yang mencatat berkas perkara, hatinya tak henti mengumpat.

Selama sepuluh tahun dirinya mengabdi pada perusahaan pelayaran Maritim Abadi, tak pernah sekalipun terbayang olehnya akan menghadapi masalah seperti ini. Dua orang anak buahnya ditangkap polisi pelabuhan yang sedang melakukan razia atas seluruh barang yang dibawa masuk wilayah pabean Indonesia di pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Sekar mendengar kabar tersebut pukul 6 pagi. Jantungnya berdebar lebih cepat. Telapak tangannya dingin tiba-tiba. Ia tengah bersiap-siap berangkat kerja dan meninggalkan putrinya yang berumur 2 tahun saat berita itu diterimanya melalui SMS. Pagi yang seharusnya berjalan seperti pagi yang lain ternyata begitu mudah dirusak oleh lima kotak seal container1 yang tertangkap basah dibawa oleh anak buahnya tanpa melaporkannya terlebih dahulu ke bea cukai setempat. Dugaan penyelundupan segera saja dilayangkan ke anak buahnya itu. Sekar tak habis pikir Bagaimana dua orang staf operasional kantornya dapat melakukan hal yang jelas sangat beresiko ini.

“Biasanya memang begitu, Bu. Seal container diturunkan begitu saja dari kapal dan di bawa masuk tanpa dilaporkan dulu ke bea cukai. Selama ini sih nggak ada masalah. Toh termasuk barang tidak kena pajak. Urusan dengan bea cukai hanya masalah administrasi. Biasanya diurus belakangan.”

Sekar kesal mendengarnya. Begitu enteng anak buahnya mengungkapkan hal semacam ini sebagai bagian dari ‘kebiasaan’. Sementara razia dilakukan atas dasar ‘keharusan’. Dan polisi-polisi pelabuhan sialan itu sudah pasti tidak pernah tahu bedanya barang kena pajak dan tidak. Sekarang, apapun yang terjadi, mau biasanya mau tidak, mereka harus berurusan dengan polisi pelabuhan yang haus uang itu. Ok, uang bisa diurus belakangan. Ujung perkara ini pasti uang. Tapi bagaimana dengan masa depan karier Sekar sendiri? Pernahkah mereka berpikir bahwa kejadian seperti ini akan menjadi catatan penting perusahaan? Menghancurkan segala yang telah Sekar bangun selama ini?

Setahun belakangan ini Sekar ditempatkan di kantor cabang Semarang sebagai kepala cabang. Bagi Sekar, pemindahan dirinya dari kantor pusat ke kantor cabang ini tak boleh disia-siakan. Ia akan menjadikan kesempatan ini untuk lebih memantapkan dirinya sebagai salah satu manajer berprestasi di tempatnya bekerja. Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kinerja kantor cabang Semarang sehingga tak lagi dipandang sebelah mata oleh pimpinan perusahaan. Andai tak ada kejadian hari ini.

Sekar tiba-tiba teringat sesuatu. Ia merasa dianugerahi ide dari langit. Seal container yang sedang di tahan di kantor polisi dengan tuduhan diselundupkan itu adalah milik perusahaan pelayaran lain yang menitipkan barangnya di atas kapal Maritim Abadi. Bila diumpamakan barang haram semacam narkoba, anak buah Sekar bisa dikatakan sebagai pengedar. Sementara pemilik langsung seal container tersebut adalah bandarnya. Tentu polisi menghendaki bandarnya ketimbang pengedarnya. Sekar merasa mendapat kesempatan emas. Meski dirinya menyadari bahwa kesalahan sepenuhnya ada di tangan anak buahnya. Pemiliknya tentu tak pernah menghendaki kesalahan tersebut terjadi. Tapi apa boleh buat, analogi barang haram tadi adalah satu-satunya lubang untuk menyelamatkan kariernya.

Sekar segera menghubungi kantor polisi. Melaporkan bahwa ada orang lain yang lebih pantas dicurigai sebagai penyelundup ketimbang anak buahnya. Sekar sedikit lega saat kepala polisi pelabuhan mengatakan bahwa tak lama lagi ia akan mengerahkan anak buahnya untuk melakukan penangkapan terhadap seseorang sebagaimana dilaporkan Sekar. Orang tersebut adalah staf operasional perusahaan pemilik seal container tersebut. Kedudukannya sama persis dengan dua orang anak buah Sekar yang tertangkap. Tentunya tak sulit menangkapnya untuk ditukar dengan dua orang anak buahnya di kantor kepolisian pelabuhan nanti. Sekar dapat memancing kedatangannya ke kantor Sekar dengan mengatakan bahwa seal containernya telah tiba. Saat orang tersebut datang, sekelompok polisi berpakaian preman akan meringkusnya dengan mudah. Sekar berharap anak buahnya dapat segera bebas dan dirinya akan terbebas pula dari cacat yang dapat mengancam karirnya.

Ternyata yang terjadi tidaklah semudah yang Sekar harapkan. Dua orang anak buahnya tetap ditahan dan diminta bertanggung jawab meski staf perusahaan pelayaran pemilik seal container tersebut telah berhasil ditangkap. Usaha pamungkasnya yang berupa permohonan penangguhan perkara dengan menyerahkan sejumlah uang tidak juga mendapat perhatian dari kepala polisi pelabuhan. Selentingan terdengar bahwa kepala polisi pelabuhan yang melakukan penahanan belum lama mengemban tugasnya. Oleh karenanya, ia akan berpura-pura tidak mau menukar apapun dengan uang. Setidaknya hingga penangkapan-penangkapan yang dilakukannya mendapat perhatian dari atasannya terlebih dahulu. Pukul 9 malam Sekar masih tepekur di meja kerjanya. Usaha untuk menyelamatkan kariernya hari ini sia-sia.

Setelah berkoordinasi dengan bagian hukum kantor pusat, Sekar diminta untuk menjemput seorang pengacara besok pagi. Pengacara itu akan membantu Sekar menuntaskan masalah yang sedang ia hadapi.

Meski kepalanya terasa sangat berat, malam ini juga Sekar akan mengunjungi kantor kepolisian pelabuhan terlebih dahulu sebelum pulang. Dua orang anak buahnya yang ditangkap adalah staf operasional yang bertugas mengurus administrasi bongkar muat barang di atas kapal. Saat ini, sebuah kapal pengangkut gula yang menjadi tanggung jawab mereka tengah sandar di pelabuhan tanpa mengerti ujung nasibnya. Selain ancaman karier, Sekar juga dihadapkan pada tugas-tugas baru yang harus dikerjakannya. Tugas-tugas anak buahnya yang tertangkap. Ia harus menanyakan dengan jelas malam ini apa saja yang harus dikerjakannya besok pagi. Kalau tidak, masalah lain akan siap menghadang. Brengsek!

Saat kakinya yang lelah memasuki halaman kantor kepolisian pelabuhan, Sekar mendapati seorang wanita muda tengah menggendong bayinya. Semula Sekar mengira wanita tersebut adalah keluarga salah satu polisi yang bermarkas di tempat ini. Demi melihat dirinya, wanita muda itu berlari menghampirinya. Menyapa Sekar terlebih dahulu sebelum sepatah kata pun sanggup Sekar ucapkan.

”Ibu Sekar? Saya istrinya Wagimin. Ibu mau menjenguk suami saya? Boleh saya ikut?”

Wagimin? Bukankah nama itu yang ia sebut saat dirinya menelpon kepala kantor ini siang tadi untuk ditangkap? Wagimin staf operasional perusahaan pemilik seal container yang ia korbankan untuk ditukar dengan pembebasan anak buahnya? Sesaat Sekar merasa dadanya sakit. Wanita ini begitu muda. Mungkin awal dua puluhan. Bayi di gendongannya mungkin belum genap berusia 6 bulan. Pakaian yang menutup tubuhnya lusuh. Peluh di dahi dan lehernya terus mengalir di tengah udara malam yang dingin.

“Mari ikut saya,” ucap Sekar ragu.

Selama mengikuti Sekar berjalan memasuki kantor kepolisian pelabuhan, wanita muda ini tak henti-hentinya bicara.

“Saya baru sore tadi tahu dari teman kantornya Mas Wagimin kalau dia ditangkap polisi. Katanya, masukkan barang tanpa ijin. Saya sih tadinya ndak percaya, Bu. Suami saya bukan orang seperti itu. Wong dari dulu dia kerja cari uang yang halal saja.”

Sekar melihat wanita muda itu sesekali mengencangkan kain yang digunakan untuk menggendong bayi dipelukannya yang sudah terlelap. Sambil terus bicara.

“Sejak lulus dari akademi pelayaran, suami saya sudah bekerja di Segara Line. Sampai sekarang. Orang-orang pelabuhan banyak yang kenal dengan dia. Dia terkenal paling ndak suka neko-neko. Kalo kata teman-temannya di pelabuhan, Mas Wagimin itu orang paling guoblok cari duit. Lha kok sekarang dituduh nyelundupkan barang.”

Sekar berharap lorong menuju tempat Wagimin dan dua orang anak buahnya ditahan tidak sejauh ini agar pembicaraan ini segera berhenti. Perutnya mulai bergolak, ikut bereaksi atas pernyataan wanita muda di sampingnya kini.

“Bu Sekar percaya kalau suami saya nyelundupkan barang?”

Sekar menarik napas panjang sebelum menjawab,”Saya orang baru di Semarang, Mbak. Tapi saya akan coba membantu sebisa saya untuk membebaskan suami Mbak.” Sekar merasa tenggorokannya dicekik saat mengakhiri kalimatnya.

Sesaat sebelum Sekar dan wanita muda yang mengikuti langkahnya tiba di ruang yang dituju, terdengar suara tangis bayi. Sekar melihat wanita muda itu mengayun pelukannya perlahan sambil menepuk pantat si bayi dengan lembut. Sesekali terdengar senandung lirih dari mulutnya agar bayi di pelukannya kembali tertidur. Sekar berusaha mengingat-ingat kapan dirinya terakhir kali mendendangkan lagu nina bobo untuk putrinya. Ia tak berhasil mengingatnya.

Begitu tiba di pintu masuk ruangan, wanita muda tadi menghambur ke pelukan seorang lelaki yang dikenal Sekar bernama Wagimin itu. Isak tangis keduanya terdengar meski Sekar berusaha mengajak dua orang anak buahnya menjauh dari tempat itu. Di tengah obrolan Sekar dengan anak buahnya tentang pekerjaan, telinganya dipaksa untuk mendengar pembicaraan Wagimin dengan istrinya.

“Sudah, Buk, yang penting anak kita masih ada yang nemani”

“Omongan tetangga, Pak. Apa kata mereka nanti kalau berita ini menyebar”

“Kamu percaya ndak sama aku?”

Sekar tak mendengar jawaban. Tapi ia menduga istri Wagimin mengangguk.

“Ya sudah. Buatku yang penting kamu percaya kalau aku ndak seperti yang disangka orang”

Isak tangis kembali terdengar.

“Apalagi Bu Sekar juga sudah janji bakal bantu aku biar bisa cepet bebas. Bu Sekar itu orang berpengaruh lho. Jadi jangan kuatir lagi ya. Nanti, sebelum pulang, jangan lupa bilang terima kasih dulu sama beliau”

Sekar merasa dadanya dicabik-cabik. Perihnya luar biasa. Yang ingin ia lakukan saat ini adalah segera sampai di rumah, membenamkan kepala di bantal dan menangis sejadi-jadinya.

 

Keterangan :

1 Seal container adalah benda terbuat dari seng atau besi yang biasa dipasang di bagian luar pintu kontainer dan berfungsi sebagai kunci.

Biru

Posted on

(Dibukukan dalam Kumpulan Pemenang Sayembara Fantastic Fiction 2012 – ARASSI, Ufuk Publishing 2012)

Marta memilah kain yang berserakan di tempatnya tidur. Ia tak dapat memejamkan matanya sejak Bulan menjalankan kewajibannya menemani Bumi beberapa jam yang lalu. Kini Matahari malu-malu mengintip dari celah awan. Matanya makin tak mampu terpejam. Ingatan Marta dipenuhi oleh kejadian sehari yang lalu. Kala dirinya terperangkap pada sorot mata lembut nan penuh canda Andrew. Teman baru yang ditemuinya di Bumi. Di tempat ia berada kini Marta merasa benci. Benci pada paksaan dan alasan yang dibuat-buat oleh penasihat ayahnya, Sang Raja Langit. Marta sungguh dibuat tertegun oleh tingkah laku salah satu tangan kanan ayahnya itu. Sikapnya dingin dan penuh selidik. Marta tidak suka diselidiki. Dipenjara secara tidak langsung oleh alam pikiran penuh prasangka Sang Penasihat. Ia ingin murka. Tapi apa daya. Kemurkaan putri langit seperti dirinya tidaklah memiliki pengaruh apa-apa pada keputusan ayahnya. “Marta, bila waktunya tiba nanti kau akan mengerti bahwa yang ayah lakukan selama ini adalah demi kebaikanmu. Kebaikan keluarga kita. Kebaikan seluruh penghuni Kerajaan Langit”
Marta bosan mendengarnya. Ia sudah mampu mencerna logika. Ia bukan lagi bayi mungil yang senang dibelikan mainan lucu tanpa tahu dengan jelas mengapa bentuknya seperti ini atau seperti itu. Ia menginginkan penjelasan lengkap dengan hubungan sebab akibat yang berasal dari fakta yang ada. Ah, betapa berjarak dirinya kini dengan sang ayah.

Kain perca dihadapannya akan menjadi saksi betapa ia merindukan kehidupan damai di bumi. Bersama Andrew. Potongan kain itu akan dijahitnya menjadi sebuah boneka. Boneka siapa lagi kalau bukan si wajah lucu menyenangkan, Andrew.

Di usianya yang mendekati 15 berdasarkan perhitungan yang telah ditetapkan Kerajaan Langit, Marta merasakan getaran yang berbeda kala ia bertemu dengan lawan jenisnya. Seperti malu yang sebelumnya tidak pernah dialaminya. Pertemuannya dengan Andrew bukan saja membuatnya merasakan ‘seperti malu’ itu tetapi juga kehangatan pada kedua pipinya. Bila saat itu tersedia cermin, entah seperti apa wajahnya. Mungkin kemerahan atau apa, Marta tak berani menduga-duga. Bibinya pernah bercerita tentang pipi yang memerah kala dirinya tertangkap basah sedang memandangi lelaki tampan yang sedang berjalan di muka bumi. Bibinya berkata, suatu saat ia akan mengalaminya pula bila usianya sudah diatas 12. Dan kini ia telah 15.

Tapi sesungguhnya Marta lebih menyukai warna biru. ia berandai-andai bahwa pipinya berwarna biru saja kalau boleh bila suatu saat ia dapat bertemu lagi dengan Andrew. Biru berkesan damai. Sementara kemerahan baginya lebih mirip sebagai gambaran nafsu. Oleh karenanya, ia pun memilih warna kain biru untuk dijadikan boneka. Mungkin karena hatinya juga sedang berwarna biru.

Potongan demi potongan kain telah disiapkan. Kini saatnya merangkai kain-kain itu membentuk wajah serta tubuh manusia. Tubuh Andrew yang ingin selalu dikenangnya. Tetapi di mana kah jarum serta benang yang biasanya tersedia di dalam lemari kamarnya? Marta mencoba mengingat-ingat. Tak lama kemudian ia teringat sesuatu.

Ia meninggalkan perlengkapan jahitnya di kamar Peri Hujan. Menurut Marta, Peri Hujan mirip dengan bibinya. Bibi Jenny yang hilang beberapa tahun yang lalu. Bibinya seolah disapu oleh angin kencang yang datang tanpa permisi. Dan angin itu tak pernah membawanya kembali. Ia sesungguhnya sangat merindukan sang bibi yang kerap menemaninya bermain sejak kecil. Tepatnya semenjak ibunda Marta, Sang Ratu Langit meninggal dunia.

Marta berjalan menuju kamar Peri Hujan melewati taman istana yang dipenuhi  bunga-bunga beraneka warna. Marta menyukai keindahan yang diciptakan oleh taman itu. Berlama-lama menikmati pemandangan halaman luas penuh beraneka bunga di pagi hari adalah sebagian surga yang didambakannya. Kesejukan pagi yang sedang diselaminya terhenti kala bunyi derap langkah pengawal kerajaan terdengar kian jelas di telinganya. Marta berpikir cepat. Tidak biasanya ia mendengar derap langkah seperti itu di pagi hari. Pasti telah terjadi sesuatu. Ia bersembunyi di balik semak agar dapat melihat apakah yang ingin dilakukan oleh para pengawal sepagi ini. Ia menyelipkan tubuhnya dengan baik hingga menyatu dengan sekelompok tanaman berbunga indah.

Derap langkah terdengar kian jelas. Marta menahan nafas. Jangan sampai deru nafasnya mengacaukan persembunyiannya kali ini. Marta begitu ingin mendengar semua kasak-kusuk yang terjadi di sekitarnya setelah peristiwa pemulangan paksa dirinya dari bumi. Dan derap langkah tergesa yang menghampiri tempatnya saat ini mungkin dapat memberikan sedikit penjelasan.

“Bedebah Kerajaan Bumi! Jangan dikira kita tidak mampu menghadapi mereka!”

Marta mengenal suara itu. Tidak perlu kepalanya mendongak untuk memastikan asal suara itu. Ia yakin betul. Bayangannya dipenuhi oleh warna merah. Jubah kebanggaan sang pemilik suara.

“Kemarin tuan putri hampir saja terperdaya. Untung bola kristalku jeli memandang gerak geriknya”

Suara itu menggema di telinga Marta. Memantul-mantul seolah memanggilnya untuk terus mengikuti ke mana suara itu pergi. Dan Marta memanglah mengikutinya. Rasa penasarannya mengalahkan keinginannya untuk berkutat dengan kain yang telah dipersiapkannya untuk dijahit menjadi boneka.

Lima orang pengawal bersiaga di belakang sang empunya suara. Suara yang sangat dikenal Marta. Suara yang selalu terdengar memusuhi siapa pun.

“Apakah Tuan telah mempersiapkan segalanya?”

“Mantra warisan ayahku pernah gagal menjalankan tugasnya untuk menumpahkan hujan berwarna merah. Tapi segalanya telah kusempurnakan kini. Mantra yang sama akan dibacakan di depan jenis larutan yang berbeda. Tidak, tidak mungkin gagal lagi!”

Kini tawanya terdengar sampai ke telinga Marta. Penasihat ayahnya. Penyihir berjubah merah itu telah mempersiapkan segalanya untuk sebuah rencana.

“Apakah raja akan turut menyaksikan pelaksanaannya?”

“Untuk apa? Dia sudah mempercayakan segalanya padaku. Kelangsungan Kerajaan ini ada di tanganku. Kurasa tidak perlu ia melihat apa yang akan kuperbuat pada jahanam-jahanam Kerajaan Bumi itu. Ia cukup menikmati hasilnya saja.”

Kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut Sang Penasihat membuat Marta geram. Seringai tajam yang kerap diperlihatkan itu terbayang di benak Marta. Marta dapat merasakan niat makar si penggemar warna merah ini. Tapi apa yang dapat ia perbuat?

Marta gelisah. Diluar segala yang pernah diketahuinya tentang permusuhan yang terjadi antara Kerajaan Langit dan Bumi, Marta teringat kisah pengantar tidur yang seringkali dibawakan oleh ibunya. Kisah itu bercerita tentang suatu masa kala kerajaan langit dan bumi hidup dengan damai dan sejahtera. Langit menurunkan hujan untuk memberikan kesejukan kepada bumi. Bumi menumbuhkan tanaman, hewan dan memelihara manusia dengan baik demi membentuk lingkaran saling memberi yang utuh. Tanaman memberikan yang dimiliki untuk kepentingan manusia, begitu juga hewan. Manusia berusaha untuk memelihara kelangsungan hidup tanaman dan hewan agar bumi tempat mereka semua tinggal hidup secara seimbang.

Marta mengendap-endap kembali ke kamarnya. Berjalan berputar-putar di dalam kamarnya sendiri rupanya sanggup menjernihkan sedikit hatinya yang risau. “Harus ada cara,” bisiknya perlahan. Tak lama kemudian Marta membongkar seluruh isi lemari pakaiannya. Mengaduk-aduk jajaran pakaian, perhiasan, buku-buku mantra, dan…akhirnya ia menemukannya! Marta terpekik gembira.

*

Hingga Matahari berdiri berkacak pinggang memperlihatkan kemampuannya membakar Bumi, belum terlihat aktivitas apa pun di dalam kerajaan langit. Ruang utama raja yang biasanya telah dipenuhi menu sarapan dan buah-buahan kesukaan raja terlihat lengang. Sementara di dalam sebuah bilik muram yang berada di salah satu menara kerajaan, asap berwarna merah mengepul perlahan. Tengkorak hewan, bulu gagak hitam dan cairan merah kehitaman diletakkan disekeliling tungku raksasa yang dipanaskan oleh api dari tumpukan bahan bakar yang menyerupai batu besar. Sejumlah pengawal kerajaan terlihat bersiaga di bagian luar ruangan tersebut hingga bagian bawah menara. jumlah yang cukup untuk melakukan penyerbuan ke kerajaan bumi. Namun kali ini mereka hanya berjaga-jaga. Tidak membentuk barisan yang siap menyerbu.

“Ingat, Marta. Kekuatan yang ditimbulkan oleh mawar biru ini hanya mampu dikendalikan oleh sebuah kehendak suci. Karena bila tidak, ia justru akan membuat kekuatan jahat yang sedang dilawannya menjadi makin kuat”

Marta teringat pesan itu. Pesan mendiang ibunya sebelum meninggal. Ibu yang disayanginya. Ibu yang selalu bercerita tentang kebaikan. Marta dapat membaca kekhawatiran di wajah ibunya kala menyerahkan mawar biru yang konon hanya tumbuh sekali selama seratus masa. Mungkinkah ibunya telah meramalkan permusuhan ini akan terus meruncing dan ia mengharapkan Marta akan berdiri untuk membela kedamaian di alam semesta ini? Tanpa sadar air mata meleleh ke pipi Marta. Membasahi sebagian mahkota bunga mawar biru yang ada di genggamannya. Ia teringat ibu yang sangat dicintainya.

Sesungguhnya Marta dapat segera menuju menara yang dituju seandainya tongkat pemberian Peri Hujan masih ada. Tapi kini tongkat itu lenyap darinya. Mungkinkah tertinggal di bumi? Marta berharap seseorang akan memelihara tongkat tersebut di manapun tongkat itu berada. Kini dengan segenap tekadnya ia memulai perjalanan menuju ke menara milik Penasihat Raja. Ia harus segera tiba. Tidak hanya nasib kerajaan bumi yang menjadi taruhan, tapi juga kerajaan langit. Ia mengerti mengapa ruangan ayahnya begitu sepi tanpa penghuni sementara hari mulai senja. Mereka tentu telah dibuat tertidur oleh mantra sang penasihat licik itu. “Dasar penyihir licik! Ia mengira hanya ayah dan kedua kakak lelakiku saja lambang kekuatan kerajaan ini. Oleh karenanya ia membuat mereka tertidur. Kini akan kubuktikan dihadapannya kalau ia keliru!”

Asap merah yang menguar dari jendela salah satu menara kerajaan itu makin tebal. Marta bernafas satu satu sambil terus berlari menuju tempat tersebut. “Cukup selembar mahkota bunga dan segalanya akan kembali seperti semula,” Marta berbisik memberi kekuatan pada dirinya sendiri.

Penjagaan berlapis mulai dari bagian bawah menara hingga di ujung menara menyulitkan Marta. Dengan sangat terpaksa Marta melepas selembar demi selembar mahkota bunga mawar biru tersebut untuk mengalahkan barisan demi barisan pengawal kerajaan yang telah disihir oleh sang penasihat untuk mematuhi segala perintahnya. Mereka tidak lagi menaruh hormat pada Marta. Mereka berada di bawah kendali kekuatan merah. Satu per satu pengawal tersebut terkapar tidak sadarkan diri kala Marta meremas mahkota bunga mawar biru tersebut dan meniupkannya di hadapan mereka. Jumlah mereka sangat banyak sementara Marta harus menyisakan satu lembar untuk dimasukkan ke dalam tungku yang berisi ramuan jahat itu.

Tepat dimulut gerbang menuju ruang rahasia di ujung menara itu, kala tinggal selembar lagi mahkota bunga yang tersisa, Marta masih harus menghadapi pertahanan terakhir sang penasihat licik. Seorang pengawal mengenakan baju zirah lengkap dengan perisai dan pedangnya mendekati Marta dengan penuh rasa percaya diri. Marta menghampirinya. Rencana pamungkas terpatri di benaknya. Ia akan menelan lembar terakhir mahkota bunga mawar tersebut dan terjun ke muka bumi. Itulah harapan terakhirnya untuk menahan kekuatan jahat yang akan dikirimkan ke bumi. Harapan terakhirnya untuk melindungi Andrew. Meski ia harus mengorbankan jiwanya.

Pedang berkilauan terhunus di dada Marta. Siap mencabik tubuhnya. Marta memejamkan matanya. Menyerahkan seluruh takdir kisahnya di tangan semesta.

Marta merasakan tubuhnya melayang. Tentunya inilah yang dirasakan oleh setiap yang binasa. Melayang ringan diterpa angin. Sesekali ia merasakan tubuhnya berdebum di sebuah pertahanan lembut yang mirip kapas. Kemudian terpental ringan dan terhempas lagi. Demikian berulang-ulang hingga akhirnya segala yang muncul dalam ingatannya hanyalah yang indah. Belaian lembut ibunya, kenangan indah bersama kakak-kakaknya, perjalanannya ke muka bumi untuk berlatih menurunkan hujan, pertemuannya dengan Andrew. Ya, dengan Andrew. Seorang anak laki-laki yang menemaninya di sebuah taman di muka bumi. Seorang yang senyum hangatnya menumbuhkan rasa yang sulit dijelaskan. Seorang yang kini ada di hadapannya. Inilah surga yang didamba oleh setiap insan makhluk Tuhan. Pertemuan dengan semua yang disayangi. Saling berbagi tanpa ada kecemasan sedikitpun. Setelah wajah Andrew berada di hadapannya, Marta yakin sebentar lagi ibunya, bibi Jenny, dan mungkin ayah dan kakak-kakaknya akan datang menghampiri. Marta meragu. Ayah dan kakak-kakaknya tentunya masih hidup. Tapi… Semua begitu kacau diingatannya. Ada yang tidak sesuai dengan khayalannya selama ini. Surga baginya adalah sebuah taman indah dimana air mengalir dan taman bunga dimana-mana. Bukan. Ini bukan surga. Taman ini ia kenal. Pada sebuah hari waktu segalanya menjadi berwarna biru.

Andrew membelai rambut indah Marta. Ia merindukan Marta. Tongkat Marta yang tertinggal di bumi diletakkannya lagi di samping Marta yang terbaring lemas. Di sebuah taman di daerah Menteng, Jakarta Pusat.

*

Asap berwarna merah kehitaman yang sedianya dikirimkan ke Bumi untuk membuat kacau bumi  seisinya menipis. Langit cerah berwarna biru muda perlahan menyelimuti awan. Pengawal berbaju zirah menyelesaikan tugasnya hari itu. Mendorong putri langit untuk jatuh ke Bumi agar dapat bertemu kembali dengan kekasih hatinya, dan menggagalkan rencana makar sang penasihat raja. Lembar terakhir mawar biru juga telah dicampurkannya ke dalam tungku berisi cairan merah. Tugasnya hari itu ditutup dengan menjebloskan penasihat licik itu ke dalam penjara istana. Kini ia harus kembali ke dalam kamarnya. Menguji mantra untuk mendatangkan hujan. Biarlah semua mengira dirinya adalah peri cantik bermuka pucat yang suaranya mirip tangisan langit kala turun hujan. Biarlah mereka menilai hanya berdasarkan indra penglihatan saja. Tak apa. Cukuplah baginya kebahagiaan seorang keponakan yang berani membela cintanya pada putra mahkota kerajaan bumi. Kekuatannya muncul kembali berkat dikendalikannya sebuah mawar biru oleh kehendak suci. Ia merasa begitu tercukupi sekarang. Biarlah sebagian besar kisahnya tersimpan dalam lembar rahasia. Untuknya, biru yang senantiasa menghias langit ini jauh lebih berharga.

***

Peri Hujan

Posted on

(Dibukukan dalam Kumpulan Cerpen Celoteh Perempuan, Gramedia Pustaka Utama 2012)

 

Marta memandang langit biru dengan awannya yang putih bersih di atas tempatnya duduk pagi ini. Di sebuah taman yang indah di daerah Menteng Jakarta Pusat. Langit, tempatnya tinggal, tampak seperti kubah raksasa. Seperti ini rupanya langit terlihat dari bumi, gumamnya. Kecuali dirinya dan seekor katak yang setia menemani, tidak ada yang tahu tugas yang sedang diembannya saat ini.

Sebagai putri raja langit, Marta diturunkan ke Bumi tepat di hari ulang tahunnya yang ke-17. Putra dan putri raja langit harus turun ke bumi untuk melewati ujian demi ujian di usia tersebut. Masing-masing mendapat tugas yang berbeda menurut kemampuannya. Albert, kakak tertua Marta, pada usia yang sama, mendapat tugas untuk senantiasa memastikan bahwa cahaya matahari yang sampai ke bumi tidak bertambah dari waktu ke waktu. Ia dibekali semacam serbuk lengkap dengan mantranya. Serbuk tersebut digunakan untuk mencegah jilatan panas matahari yang terjadi saat Sang Matahari sedang naik pitam.

Marta sering mendengar kasak-kusuk punggawa kerajaan langit tentang Matahari. Makhluk Bumi kabarnya kerap dibuat kelimpungan oleh sengatan Matahari kala ia mengamuk. Mengamuk  untuk sebab yang tidak jelas. Albert harus mampu berhadapan dengan anggota kerajaan langit yang paling temperamental itu. Sebagai anak sulung, tugas Albert adalah yang terberat diantara yang lain. Lucas, sang kakak kedua, bertugas menemani Sang Bulan melaksanakan tugasnya di keheningan malam. “Jangan dikira ini tugas yang ringan!” Marta teringat akan ucapan kakak keduanya itu.”Bulan dipuja oleh banyak bintang yang mengitarinya. Mereka berebut untuk mengajak bulan keluar dari orbitnya! Dan itu tidak boleh terjadi!” seru Lucas berapi-api. Marta mendengarkan sambil menebak-nebak seperti apakah tugasnya kelak. Mampukah ia melakukannya?

Marta mendapat tugas yang menurut seluruh anggota kerajaan langit sangatlah menyenangkan. Yaitu mendatangkan hujan ke Bumi. Menyenangkan? Itu menurut mereka yang hanya bisa melihat. Nyatanya, setelah kurang-lebih satu minggu menetap di bumi Marta masih saja belum berhasil mendatangkan hujan. Sebelum Marta, Bibi Jennie-lah yang mendapatkan tugas serupa. Entah ada di mana ia sekarang. Yang Marta tahu, Peri Hujan yang memberinya tongkat sebelum hari keberangkatannya ke bumi adalah Bibi Jennie yang telah tiada dan menjelma menjadi peri. Marta tidak sempat bertanya terlalu banyak perihal pekerjaan Bibi Jennie. Ia sibuk mengagumi kecantikan Peri Hujan dengan tongkatnya yang berkilau. Kulitnya pucat dengan mata yang meski selalu terlihat sayu namun memperkuat aura kecantikannya. Ia tak banyak bicara. Beberapa kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti isak tangis.

“Marta, tetaplah teguh pada pendirianmu untuk mendatangkan hujan di Bumi. Jangan dengar bujuk rayu yang dapat membuatmu… membuatmu terjebak… terjebak dalam situasi sulit…”

Itulah kalimat terakhir yang dilontarkannya pada Marta.

Entah sudah berapa jam Marta komat-kamit di taman di daerah Menteng yang dipilihnya kali ini. Membaca mantra turun hujan. Langit bergeming. Awan cerah bermain riang seolah menertawakan dirinya. Mengubah salah satu punggawa kerajaan langit menjadi katak jauh lebih mudah ternyata ketimbang mendatangkan hujan. Tanpa disadarinya, seorang anak lelaki seusianya yang sedari tadi melepas lelah di taman yang sama tersenyum-senyum memperhatikan Marta.

“Dasar anak laki-laki tidak tahu diri! Dia pikir mudah melaksanakan tugas semacam ini? Bisanya menghina anak perempuan!” Marta menggerutu. Merasa dirinya direndahkan melalui ekspresi wajah yang ditampilkan anak lelaki yang sedari tadi memperhatikannya.

Gemerisik rumput yang terinjak kaki membuyarkan konsentrasinya. Ia menoleh ke samping dan mendapati anak lelaki itu duduk disampingnya.

“Apa yang kamu lakukan?” ujarnya.

“Mau tahu aja,” jawab Marta ketus.

“Tidak baik bicara sendiri,” anak lelaki itu berkata sambil tertawa kecil.

“Tidak baik mencampuri urusan orang lain!” bentak Marta. Ia ingin makhluk di sampingnya ini mengerti bahwa dirinya tidak mau diganggu.

Anak lelaki itu diam ditempatnya sebelum akhirnya tangannya bergerak meraih sesuatu di dalam kantong jaketnya. Marta terbelalak melihat benda yang kini berada di tangan kanan anak lelaki itu. Sebuah tongkat! Sama persis seperti yang diperolehnya dari Peri Hujan. Mungkinkah ayahnya memberi tugas pada dua anak sekaligus? Tapi siapa anak lelaki ini? Marta merasa tidak pernah bertemu sebelumnya.

Marta tersipu malu kala kedua mata anak lelaki di sampingnya memergoki keheranannya akan tongkat yang berada di genggamannya.

“Aku tidak suka kau melihatku seperti itu,” ujar anak lelaki itu, membuat Marta makin salah tingkah. Ia berbicara sambil tersenyum penuh kemenangan. Marta memalingkan wajahnya. Kini kepalanya dipenuhi tanda tanya.

Teman bicaranya kemudian mengulurkan tangannya.

“Namaku Andrew,” tangannya masih terulur di depan Marta. Alih-alih menyambut uluran tangan teman barunya, Marta memandang Andrew dengan raut muka heran. Belum habis Marta membelalakkan matanya dengan mulut sedikit terbuka, Andrew kembali menyahut,”Hei, jangan memandangku begitu. Aku bukan makhluk jadi-jadian,” kini gantian Andrew yang kesal.

“K-kamu… A-Andrew… yang…,” Marta mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mengungkapkan fakta yang sangat ingin dimungkirinya. Andrew dengan sebuah tongkat sihir hanyalah putra mahkota kerajaan bumi. Musuh utama kerajaan langit tempat Marta tinggal.

“Ya. Kamu tidak salah. Aku Andrew putra Raja Bumi.”

Dia dapat membaca pikiranku, bisik Marta dalam hati.

“Masih belum mau berkenalan nih?”

Marta ragu mengulurkan tangannya. Di hadapannya kini berdiri anak lelaki yang hampir setiap hari menjadi topik pembicaraan anggota keluarga kerajaan langit. Putra mahkota kerajaan bumi yang keberadaannya menjadi ancaman bagi makhluk langit. Konon perseteruan kerajaan bumi dan langit yang telah berlangsung sejak kakek dan nenek Marta memerintah itu meruncing saat seorang peramal memberitakan bahwa kehadiran putra mahkota kerajaan bumi yang bernama Andrew adalah ancaman serius bagi keberadaan kerajaan langit. Ia serakah dan haus kekuasaan. Gemar menghalalkan segala cara demi mencapai segala yang diinginkannya.

Marta ingin memercayai cerita yang didengarnya itu seandainya yang di hadapannya adalah monster raksasa pengisap darah yang akan menghabisi mangsanya kapan saja ia mau. Bukan seperti yang berdiri dan mengulurkan tangan di hadapannya kini.

Gerakan refleks tangannya menyambut tangan Andrew adalah bagian dari wujud rasa percaya yang terjadi dalam waktu singkat karena kehangatan yang terpancar dari tatapan mata Andrew.

“Tanganmu nggak kudisan kan karena bersalaman denganku?” ujar Andrew sambil nyengir.

Marta tidak menjawab. Dia belum mampu menganalisis kejutan yang terjadi padanya. Tanpa kecurigaan sedikitpun, Andrew menggeser duduknya lebih dekat ke arah Marta.

“Aku sesungguhnya sejak tadi memperhatikanmu. Menatap langit tanpa berkedip. Seolah mengharapkan sesuatu jatuh dari sana. Kamu menanti hujan?”

Marta mengangguk pelan. Kebetulan. Ini pasti hanyalah sebuah kebetulan. Tak mungkin makhluk di sebelahnya ini mengetahui tugasnya kali ini.

“Baiklah. Tidak lama lagi hujan akan mengguyur kota ini,” Andrew berkata dengan intonasi suara yang mirip nyanyian di telinga Marta. “Sekarang, pejamkan matamu,” ucapnya lagi.

Tanpa rasa waswas sedikit pun Marta menuruti kata-kata Andrew. Dalam gelap, Marta merasakan aliran udara di sekitarnya bergerak lebih cepat. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai berkejar-kejaran menutupi wajahnya. Bukan itu saja. Hidungnya kini mencium aroma basah. Tak lama kemudian, perlahan tapi pasti, tetesan air membasahi kepalanya, tangan, kaki dan tubuhnya.

“Kamu tidur?” suara Andrew membangkitkan kesadaran Marta yang hilang sejenak menikmati kedatangan hujan yang dinantinya.

Marta membuka matanya. Tersenyum.

“K-k-kau b-bisa mendatangkan hujan?” lidah Marta kelu karena bahagia meski terselip rasa curiga. Andrew menggandeng tangan Marta dan menariknya berlari mengitari taman tersebut. Chicko, katak jelmaan salah satu punggawa kerajaan langit turut menikmati hujan yang diidam-idamkannya. Ia melompat riang gembira dari satu kubangan ke kubangan yang lain.

Nun jauh di atas segala kebahagiaan yang dirasakan penduduk bumi karena turunnya hujan, kegemparan terjadi di kerajaan langit. Seorang petinggi kerajaan dengan jubah berkilau dan cambang yang menghiasi wajah tirusnya mondar-mandir kebingungan.

“Ini tidak boleh terjadi! Tidak boleh!” teriakannya memenuhi ruangan kosong tempatnya menghabiskan waktu dengan botol-botol kaca dan bola kristalnya.

Tak lama kemudian, maklumat Raja Langit menggema di seluruh wilayah kerajaan. Seluruh bala tentara kerajaan diminta bersiaga karena tugas untuk menyelamatkan putri Marta harus segera dilaksanakan. Titah Raja Langit kali ini jelas dan singkat yaitu membawa pulang putri Marta ke kerajaan langit segera. Siapa pun yang menghalangi harus siap mati.

Mengenai alasannya, hanya sebagian dari pejabat tinggi kerajaan langit yang berhak mengetahuinya. Hujan yang mengguyur Bumi baru saja menurut ahli sihir kerajaan adalah hujan jadi-jadian yang diciptakan oleh makhluk berbahaya putra kerajaan bumi yang bernama Andrew. Celakanya, melalui bola kristalnya, putri Marta terlihat sedang bersamanya.

“Marta, lihat! Pelangi…ada pelangi di sana!” seru Andrew dengan jari telunjuk mengarah ke langit yang menaunginya dan Marta.

“Wow, indahnya… Aku belum pernah menikmati pemandangan seperti ini dari tempat tinggalku”

“Kau belum pernah melihat pelangi? Benarkah? Hujan kali ini bukanlah satu-satunya hujan semenjak dirimu dilahirkan di muka bumi kan?”

Marta menutup mulutnya. Andrew belum tahu siapa dirinya. Tidak, ia tidak perlu tahu. Marta tidak ingin menghadapi kenyataan yang sesungguhnya terjadi antara keluarga Andrew dan keluarganya. Ia tak ingin kehilangan tatapan hangat Andrew, senyum lucunya, dan canda tawanya. Suasana yang belum pernah ia dapatkan dari siapapun di kerajaan langit tempatnya tinggal dan dibesarkan. Kerajaan langit dipenuhi oleh peraturan, ketegangan dan kecurigaan. Andrew sungguh sosok yang berbeda dengan yang selama ini Marta bayangkan.

Kini Andrew membutuhkan jawaban darinya. Marta baru saja bersiap-siap melontarkan beberapa patah kata untuk menjelaskan kejanggalan yang dirasakan Andrew sebelum akhirnya pelangi yang menghias langit di atas mereka berubah menjadi kelabu.

“Apakah itu, Andrew?”

“Aku tidak tahu. Mengapa menjadi begini?”

Pertanyaan keduanya terjawab dalam waktu singkat. Sekawanan makhluk menyerupai serigala berlari menuruni pelangi yang semula terlihat indah. Mereka menarik kereta yang dikendarai oleh sekelompok tentara kerajaan langit. Marta memandang dengan tatapan ngeri. Ragu dengan apa yang ditangkap oleh penglihatannya sendiri, Marta sama sekali tidak menyangka bahwa hari indahnya kali ini harus berakhir dengan penangkapan paksa atas dirinya.

Marta tidak diberi kesempatan untuk bertanya. Dengan sekali sergap tubuhnya telah berpindah dari atas tanah ke atas kereta yang akan membawanya pulang. Marta melihat Andrew berteriak memanggilnya.

“Marta! Marta!” Mata yang biasanya memancarkan kehangatan itu berubah menjadi penuh kecemasan. Marta meronta sekuat tenaga dari cengkeraman tentara kerajaan. Ia masih ingin melanjutkan sisa harinya bersama Andrew. Tanpa sadar, tongkat pemberian Peri Hujan terlempar keluar dari saku bajunya. Jatuh ke tanah.

Andrew memandang benda berkilauan yang berada di tangan kanannya. Tangan kirinya meraih sebuah benda yang sama dari saku celananya. Kini kedua tangannya menggenggam tongkat yang sama. Ia meremas keduanya perlahan. Samar-samar ingatannya akan kisah yang pernah disampaikan oleh mendiang neneknya hadir kembali.

Andrew, jagalah tongkat sihir yang diwariskan oleh ayahmu dengan baik. Suatu saat tongkat tersebut akan menemukan pasangannya sendiri. Tanpa paksaan, tanpa rekayasa. Ibu yang melahirkanmu adalah korban dari ego penyihir kerajaan langit untuk berkuasa. Ayah dan ibumu hampir berhasil menyatukan keinginan kerajaan langit dan bumi. Mendamaikan kepentingan keduanya. Namun malang, ibumu yang berasal dari kerajaan langit itu harus merelakan dirinya dihukum karena ayahnya terhasut oleh tipu muslihat penyihir kerajaan langit yang mengatakan bahwa berdamai dengan kerajaan bumi akan membahayakan kelangsungan kerajaan langit. Ia tidak lagi boleh menemui ayahmu yang berasal dari kerajaan bumi. Nenek tidak tahu dimana ibumu kini berada. Bila suatu saat tongkat sihir pemberian ayahmu menemukan pasangannya, saat itulah petunjuk tentang keberadaan ibumu akan terungkap.

*

Lilin yang menerangi ruangan tidur pengap itu meredup perlahan. Sosok cantik merenung di hadapan lilin yang sebentar lagi padam. Di bagian luar kamarnya, jeruji besi adalah pemandangan hariannya. Kulit putih pucat dan mata sayunya yang indah tidak lagi memancarkan cahaya seperti kala dirinya masih diizinkan untuk tinggal bersama keluarga tercintanya, menimang bayi lelakinya yang lucu dan montok. Kini semua itu hanyalah singgah dalam khayalan belaka. Mengapa ia diharuskan membenci sementara ia ingin menyayangi? Mengapa langit tempatnya tinggal merasa lebih ‘tinggi’ derajatnya daripada Bumi? Terakhir kali ia diizinkan untuk keluar dari penjara yang mengungkungnya adalah ketika ia harus menyerahkan tongkat sihirnya kepada Marta, putri kakaknya, Sang Raja Langit. Ia mengerti sudah waktunya Marta mengemban tugas seperti yang diembannya dulu. Menjalani ujian di bumi. Ah, Marta yang manis. Yang selalu menyebutnya sebagai Peri Hujan.

***

 

Gadis Virus (Bagian 2)

Posted on

Sisi tak menoleh waktu kerikil sebesar kelereng menyentuh punggungnya dengan keras. Permintaan maaf gadis kecil yang rupanya tak sengaja melempar kerikil itu pun tak dipedulikannya. “Kak Sisi ngga marah, kan? Kak…aku ngga sengaja tadi. Aku cuma…” Kalimatnya perlahan lenyap ditelan dinding yang membatasi gang sempit di mana Sisi terus melangkah. Kecipak air dari lubang jalan yang terinjak kakinya membasahi sepatu yang baru dua hari yang lalu dengan cermat dibersihkannya dari kotoran. Pintu tempat tinggalnya telah nampak dari kejauhan. Ia ingin segera meraihnya. Genangan air akibat saluran pembuangan yang mampet harus dilewatinya perlahan. Jumlahnya makin lama makin banyak. Membuat kesal yang dirasakannya kian membuncah.

Terlalu tinggikah cita-cita ini hingga perusahaan ke-6 yang aku datangi untuk wawancara hari ini tak satu pun menganggapku sebagai manusia? Sisi menorehkan sebaris kalimat di buku hariannya sesampainya di rumah. Sayur bayam dingin dan bakwan jagung sisa sarapan tersimpan rapi di bawah tudung saji. Selera makan Sisi mati sudah. Ditinggalkannya meja makan dan buku hariannya di atas meja. Ia harus segera mencelupkan kepalanya yang hampir mendidih ini ke dalam bak mandi sekarang. Atau, emak keburu datang dan mengiranya mencoba bunuh diri.

Sisi menyambar handuk yang sejak pagi dibiarkan tergeletak di tempat tidurnya. Secepat kilat tanpa peduli gerakannya akan membahayakan benda-benda di sekitarnya.

Kalau saja bukan karena cicak yang melesat di hadapannya bak meteor yang siap menyerang, mungkin Sisi tak akan pernah menemukan kenyataan bahwa hidup bukanlah pertunjukan ketidakadilan seperti yang dirasakannya hari itu. Hidup juga bukan ajang persaingan tak sehat di mana uang menempatkan dirinya sebagai raja lalim yang tak berpihak pada penghuni rumah kontrakan sempit seperti dirinya. Bukan.

Sehelai amplop melayang ringan seolah siap menjadi tikar terbang bagi seekor cicak yang bergerak cepat di dinding. Ia lepas ke udara bersamaan dengan ayunan handuk Sisi. Tepat di atas pintu kamar tidur Sisi dan emak. Tak ubahnya tikar terbang, lajunya lambat menuju lantai. Ujung kanan dan kirinya bergantian naik turun diayun angin yang sebelumnya terasa panas di wajah Sisi. Hingga akhirnya ia mendarat mulus nan elegan dengan posisi terlentang diagonal terhadap pintu kamar. Meninggalkan cicak yang tak lagi nampak di dinding. Benarlah demikian kiranya bila Sisi diminta menggambarkan betapa syahdu pertemuan pertamanya dengan sepucuk surat yang mengubah hidupnya hari itu. Sehelai kertas yang mampu memindahkan dunianya yang sempit di ujung gang penuh balita dan anak sekolah ke kehidupan  perkantoran nan sejuk dengan bunyi ketuk sepatu di atas karpet dan gerak lembut jari di atas keyboard laptop sebagai iramanya.

Siang itu langit mendadak putih kebiruan tanpa gumpalan awan. Sisi menangkapnya sebagai pertanda baik. Dilipatnya surat pemberitahuan dari PT Arga Mulia bahwa dirinya diterima bekerja mulai bulan depan. Jendela kamar yang semula terbuka agar ia dapat memandang tiap huruf dalam surat tanpa terlewat dengan jelas ditutupnya perlahan. Sambil berbaring di kasur, Sisi mereka-reka kalimat seperti apa yang akan disampaikannya kepada Emak sore nanti.

‘Mak, aku punya kejutan buat Emak’, atau ‘sebentar lagi, Emak tidak usah menanggung hidupku lagi’, atau ‘doa Emak selama ini terkabul’, bagaimana kalau ‘tidak sia-sia Emak menyekolahkanku selama ini’.

Sore yang ditunggu tiba. Seperti biasa, sepulang kerja Emak meletakkan tasnya di tempat tidur dan bersiap mandi. Hal yang istimewa terjadi sore itu. Seseorang melompat keluar dari persembunyiannya di balik pintu kamar, memeluknya sambal berkata,”Mak, aku diterima Maaaak….aku diterima!” Emak yang masih kebingungan berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya yang hampir ambruk. Tanpa bertanya ia membalas pelukan gadisnya. “Sisi nggak sabar nunggu bulan depan Mak! Sisi bakal ngantor!”

Emak menyambar surat yang diserahkan Sisi. Tidak salah lagi, Sisi akan mulai bekerja di daerah perkantoran elit pusat kota mulai bulan depan. Sebagai office girl. Sama seperti dirinya.

Emak mempererat pelukannya. Dalam hidupnya, Emak meyakini bahwa kebahagiaan selalu berawal dari sesuatu yang sederhana. Seperti kebahagiaannya hari ini. Pipinya membasah.

 

Bersambung….

Gadis Virus

Posted on

Bagian Satu

Apa yang ada di pikiranmu saat seseorang mengatakan bahwa dirinya ingin membersihkan isi kepalanya darimu, katamu suatu hari padaku. Kau akan menganggap dirimu adalah virus, jawabku kemudian. Sebab bila kau menganggap dirimu alien, tentunya kau adalah jenis yang sulit untuk sekedar dibersihkan. Kau haruslah ‘dimusnahkan’. Terlebih, alien memiliki konotasi sebagai makhluk yang datang dari luar bumi, sementara dirimu tak ubahnya dirinya, sama-sama tinggal dan dilahirkan di bumi.

Meski tak nampak tanpa bantuan miskroskop, kau akan cukup berbahaya. Kau mampu memaksa tubuh inang yang kau tumpangi meningkat suhunya secara drastis. Kau memperbanyak dirimu dengan cepat. Kau tak butuh makanan, karena setiap inang yang kau tumpangi akan membantumu berkembang biak. Kau tak ubahnya makhluk tak tau diri yang merasa dirinya penting sementara sesungguhnya kau sedang menghancurkan pemilik sel inangmu perlahan. Di akhir analisaku tentang keberadaanmu baginya, kau mendesis kesal.

Pernahkah kau bertanya sejak kapan ia menyadari bahwa dirimu adalah virus baginya? Kau berkata sejak awal bertemu yang kemudian kau ralat tentunya tidak. Lalu? Kau mulai ragu dengan ingatanmu. Kejadiannya sudah agak lama, katamu. Agak lama adalah tenggat waktu yang menyebalkan, kataku. Baiklah, pertama kali bertemu, kami tak ubahnya Adam dan Hawa, sepasang makhluk Tuhan pertama di muka bumi yang lahir untuk dipertemukan sebagai jodoh. Lalu? Aku setengah tak sabar dengan perumpamaannya yang bombastis itu. Namun kulihat kau tersenyum mengingatnya. Kami kemudian mengukuhkan diri sebagai sepasang kekasih walaupun prinsip kami berbeda. Bah, kataku. Apa pula itu prinsip? Di hadapanmu, seekor kucing melintas. Kau melirik sebentar sebelum kemudian seperti mendapat ide. Begini, katamu memulai. Aku menyukai kucing karena wajahnya lucu, bulunya lembut, dan gayanya yang manja tapi sombong ataupun sebaliknya. Aku akan memberinya segala yang kucingku butuhkan karena jika aku menjadi kucing akupun akan menyukai majikan yang memperhatikan kebutuhanku. Sementara ia menganggap bahwa kucing perlu dipelihara karena keyakinannya bahwa mereka akan memberinya rizki lebih dan menghindarkannya dari marabahaya di kehidupan yang makin tak menentu ini. Ia berpikir bahwa makhluk ataupun benda tak perlu disukai agar dapat diambil manfaatnya. Ia hanya perlu ada.

Hanya itu?

Alih-alih memberi contoh lain, pandanganmu justru menerawang jauh. Seolah berbicara pada diri sendiri kau katakan bahwa seharusnya kau menyadarinya sejak awal. Harus kukatakan bahwa kali ini kau tak seperti biasa. Meski kalimatmu bernada penyesalan, wajahmu tidak. Kau justru seperti menertawakan dirimu sendiri. Entah kemenangan atau kekalahan. Yang jelas, aku sering tak mampu menjangkau alam khayalmu. Kau terbang terlalu cepat meninggalkan tubuh dan langit malam yang menaungi kita saat itu. Langit yang padanya kau temukan bagian dari dirimu yang lain. Bagian di mana seseorang telah menganggapnya sebagai virus.

Bersambung…