Latest Event Updates

Gadis Virus (Bagian 2)

Posted on

Sisi tak menoleh waktu kerikil sebesar kelereng menyentuh punggungnya dengan keras. Permintaan maaf gadis kecil yang rupanya tak sengaja melempar kerikil itu pun tak dipedulikannya. “Kak Sisi ngga marah, kan? Kak…aku ngga sengaja tadi. Aku cuma…” Kalimatnya perlahan lenyap ditelan dinding yang membatasi gang sempit di mana Sisi terus melangkah. Kecipak air dari lubang jalan yang terinjak kakinya membasahi sepatu yang baru dua hari yang lalu dengan cermat dibersihkannya dari kotoran. Pintu tempat tinggalnya telah nampak dari kejauhan. Ia ingin segera meraihnya. Genangan air akibat saluran pembuangan yang mampet harus dilewatinya perlahan. Jumlahnya makin lama makin banyak. Membuat kesal yang dirasakannya kian membuncah.

Terlalu tinggikah cita-cita ini hingga perusahaan ke-6 yang aku datangi untuk wawancara hari ini tak satu pun menganggapku sebagai manusia? Sisi menorehkan sebaris kalimat di buku hariannya sesampainya di rumah. Sayur bayam dingin dan bakwan jagung sisa sarapan tersimpan rapi di bawah tudung saji. Selera makan Sisi mati sudah. Ditinggalkannya meja makan dan buku hariannya di atas meja. Ia harus segera mencelupkan kepalanya yang hampir mendidih ini ke dalam bak mandi sekarang. Atau, emak keburu datang dan mengiranya mencoba bunuh diri.

Sisi menyambar handuk yang sejak pagi dibiarkan tergeletak di tempat tidurnya. Secepat kilat tanpa peduli gerakannya akan membahayakan benda-benda di sekitarnya.

Kalau saja bukan karena cicak yang melesat di hadapannya bak meteor yang siap menyerang, mungkin Sisi tak akan pernah menemukan kenyataan bahwa hidup bukanlah pertunjukan ketidakadilan seperti yang dirasakannya hari itu. Hidup juga bukan ajang persaingan tak sehat di mana uang menempatkan dirinya sebagai raja lalim yang tak berpihak pada penghuni rumah kontrakan sempit seperti dirinya. Bukan.

Sehelai amplop melayang ringan seolah siap menjadi tikar terbang bagi seekor cicak yang bergerak cepat di dinding. Ia lepas ke udara bersamaan dengan ayunan handuk Sisi. Tepat di atas pintu kamar tidur Sisi dan emak. Tak ubahnya tikar terbang, lajunya lambat menuju lantai. Ujung kanan dan kirinya bergantian naik turun diayun angin yang sebelumnya terasa panas di wajah Sisi. Hingga akhirnya ia mendarat mulus nan elegan dengan posisi terlentang diagonal terhadap pintu kamar. Meninggalkan cicak yang tak lagi nampak di dinding. Benarlah demikian kiranya bila Sisi diminta menggambarkan betapa syahdu pertemuan pertamanya dengan sepucuk surat yang mengubah hidupnya hari itu. Sehelai kertas yang mampu memindahkan dunianya yang sempit di ujung gang penuh balita dan anak sekolah ke kehidupan  perkantoran nan sejuk dengan bunyi ketuk sepatu di atas karpet dan gerak lembut jari di atas keyboard laptop sebagai iramanya.

Siang itu langit mendadak putih kebiruan tanpa gumpalan awan. Sisi menangkapnya sebagai pertanda baik. Dilipatnya surat pemberitahuan dari PT Arga Mulia bahwa dirinya diterima bekerja mulai bulan depan. Jendela kamar yang semula terbuka agar ia dapat memandang tiap huruf dalam surat tanpa terlewat dengan jelas ditutupnya perlahan. Sambil berbaring di kasur, Sisi mereka-reka kalimat seperti apa yang akan disampaikannya kepada Emak sore nanti.

‘Mak, aku punya kejutan buat Emak’, atau ‘sebentar lagi, Emak tidak usah menanggung hidupku lagi’, atau ‘doa Emak selama ini terkabul’, bagaimana kalau ‘tidak sia-sia Emak menyekolahkanku selama ini’.

Sore yang ditunggu tiba. Seperti biasa, sepulang kerja Emak meletakkan tasnya di tempat tidur dan bersiap mandi. Hal yang istimewa terjadi sore itu. Seseorang melompat keluar dari persembunyiannya di balik pintu kamar, memeluknya sambal berkata,”Mak, aku diterima Maaaak….aku diterima!” Emak yang masih kebingungan berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya yang hampir ambruk. Tanpa bertanya ia membalas pelukan gadisnya. “Sisi nggak sabar nunggu bulan depan Mak! Sisi bakal ngantor!”

Emak menyambar surat yang diserahkan Sisi. Tidak salah lagi, Sisi akan mulai bekerja di daerah perkantoran elit pusat kota mulai bulan depan. Sebagai office girl. Sama seperti dirinya.

Emak mempererat pelukannya. Dalam hidupnya, Emak meyakini bahwa kebahagiaan selalu berawal dari sesuatu yang sederhana. Seperti kebahagiaannya hari ini. Pipinya membasah.

 

Bersambung….

Gadis Virus

Posted on

Bagian Satu

Apa yang ada di pikiranmu saat seseorang mengatakan bahwa dirinya ingin membersihkan isi kepalanya darimu, katamu suatu hari padaku. Kau akan menganggap dirimu adalah virus, jawabku kemudian. Sebab bila kau menganggap dirimu alien, tentunya kau adalah jenis yang sulit untuk sekedar dibersihkan. Kau haruslah ‘dimusnahkan’. Terlebih, alien memiliki konotasi sebagai makhluk yang datang dari luar bumi, sementara dirimu tak ubahnya dirinya, sama-sama tinggal dan dilahirkan di bumi.

Meski tak nampak tanpa bantuan miskroskop, kau akan cukup berbahaya. Kau mampu memaksa tubuh inang yang kau tumpangi meningkat suhunya secara drastis. Kau memperbanyak dirimu dengan cepat. Kau tak butuh makanan, karena setiap inang yang kau tumpangi akan membantumu berkembang biak. Kau tak ubahnya makhluk tak tau diri yang merasa dirinya penting sementara sesungguhnya kau sedang menghancurkan pemilik sel inangmu perlahan. Di akhir analisaku tentang keberadaanmu baginya, kau mendesis kesal.

Pernahkah kau bertanya sejak kapan ia menyadari bahwa dirimu adalah virus baginya? Kau berkata sejak awal bertemu yang kemudian kau ralat tentunya tidak. Lalu? Kau mulai ragu dengan ingatanmu. Kejadiannya sudah agak lama, katamu. Agak lama adalah tenggat waktu yang menyebalkan, kataku. Baiklah, pertama kali bertemu, kami tak ubahnya Adam dan Hawa, sepasang makhluk Tuhan pertama di muka bumi yang lahir untuk dipertemukan sebagai jodoh. Lalu? Aku setengah tak sabar dengan perumpamaannya yang bombastis itu. Namun kulihat kau tersenyum mengingatnya. Kami kemudian mengukuhkan diri sebagai sepasang kekasih walaupun prinsip kami berbeda. Bah, kataku. Apa pula itu prinsip? Di hadapanmu, seekor kucing melintas. Kau melirik sebentar sebelum kemudian seperti mendapat ide. Begini, katamu memulai. Aku menyukai kucing karena wajahnya lucu, bulunya lembut, dan gayanya yang manja tapi sombong ataupun sebaliknya. Aku akan memberinya segala yang kucingku butuhkan karena jika aku menjadi kucing akupun akan menyukai majikan yang memperhatikan kebutuhanku. Sementara ia menganggap bahwa kucing perlu dipelihara karena keyakinannya bahwa mereka akan memberinya rizki lebih dan menghindarkannya dari marabahaya di kehidupan yang makin tak menentu ini. Ia berpikir bahwa makhluk ataupun benda tak perlu disukai agar dapat diambil manfaatnya. Ia hanya perlu ada.

Hanya itu?

Alih-alih memberi contoh lain, pandanganmu justru menerawang jauh. Seolah berbicara pada diri sendiri kau katakan bahwa seharusnya kau menyadarinya sejak awal. Harus kukatakan bahwa kali ini kau tak seperti biasa. Meski kalimatmu bernada penyesalan, wajahmu tidak. Kau justru seperti menertawakan dirimu sendiri. Entah kemenangan atau kekalahan. Yang jelas, aku sering tak mampu menjangkau alam khayalmu. Kau terbang terlalu cepat meninggalkan tubuh dan langit malam yang menaungi kita saat itu. Langit yang padanya kau temukan bagian dari dirimu yang lain. Bagian di mana seseorang telah menganggapnya sebagai virus.

Bersambung…

Sailing Heart across the Sea

Posted on Updated on

arranged-marriage-photo

There was time when a sound of supermarket’s trolley wheels heard like moan of person trying to resist an illness. They scratched cement blocks passing through my apartment’s door on a windy autumn day in South Australia. They moved slowly as awaiting somebody to open the door and say hello. But it didn’t seem knocking my conscious to open the door. The weather is too cold for me. I peeked thru my window. It was my neighbor with her light winter coat pushing that trolley. The wheels supposed to be replaced with the new one or to be greased with oil. But seems it is not a big deal for her. Some people enjoyed unfix tools. They give a specific sound as well as holding bitter sweet memories.

She was more than 60 years old I think. I’ve never really known. Her story about her migration from east Europe to Australia is more interesting for me. Imagining big vessel carrying hundred people across the sea on early 50’s or 60’s is like having historical fiction novel to be real. She told me that her parents asked her to move to another country. They wanted to make sure that she was safe and continued her life prosperously. They don’t know what will be happened to their country at that time. Several years later, she realized that the decision to sail her to the new land is a precious decision. She had always been excitedly showing the route of her sailing from northern part to southern part of the world to us. My 2 years old girl who accompanying me laughing and jumping happily in front of a huge world map attached on her apartment’s wall.

Migration is not only transferring people. It is also pursuing life journey to find the identity. Using various characters in her story, Chitra Banerjee Divakaruni showing to us how India’s women challenging their life. What they are thinking about their marriage, what they are actually expecting from their parent before deciding to be married, what kind of living they needed in their new place, and many more.

There are 11 short stories in this book. Among the others, The Word Love, A Perfect Life, The Disappearance, Affair and Meeting Mrinal are my favorites. Allow me to bring you to my slight point of view during reading them. I promise there will not be any spoiler in it. It is not easy but I tried. Well, The Word Love and The Disappearance are the most intriguing (let me save you from spoiling the others J). Basically, in every story she wrote, Divakaruni has always been put her position as an observer, a really good and smart one. She observed person’s behavior carefully. I easily gave an empathy to what the characters do when it is intend to show a certain feeling or thought. In The Word Love, ‘Love’ is something too fragile to be practiced. Is it love when we are holding our belief to what our parents’ but on the same time we are ignoring our needing to reach the happiness? At the end, word love should be transforming from one meaning to the other in completing our life. The finding is not easy, sometimes even too risky. Meanwhile, in The Disappearance, the main character, who is always Indian women, showing her strength in the silence. Kind of silence needed by Indian man in their marriage. Unfortunately, the silence is not always golden in marriage. They are screaming inside.

As immigrant in USA, Divakaruni using western life style to reach a proper contradiction against the eastern one in several conflicts. Western and eastern absorbed deeply in the mind of characters. By the end of the story, they are completed each other or the other way, it is nothing but a memory. The finding to accept the new form of culture and belief is so tricky yet interesting. They bring me from one to the other unpredictable situation and end up with a lot of question that sometimes I prefer to not getting the answer. I adored the way Divakaruni wrote the scenes which is so real. The cold of the snow season, the dust of the city, the insecurity of each characters described simply touching.

This book is a nice and warmhearted fellow to every woman who is eager to know some reflections in the Indian’s marriage. A tradition that representing not only Indian marriage mind and living, but also other eastern countries. A migration that needs courage to sailing the heart and soul.

Title                 : Arranged Marriage

Author             : Chitra Banerjee Divakaruni

Pages               : 300

Published         : 1997

Publisher          : Black Swan Books

 

Striving New Light in Big Idea

Posted on Updated on

all-the-light-photo

I don’t really remember whether someone asking me a question or I do it by myself, but it is intriguing to discuss about moral of the story. When an author writes a storyline, do they put moral of the story as priority? Positively, what kind of impact to the storyline itself? If not, do they just define the theme and then continued by determining some characters? When I wrote my own story, I let my mind doing their job: selecting the idea, choosing some characters, sometimes preparing mind map sometimes not. Moral probably is something that I prefer my characters to find by theirselves. However, reading some books especially those that bring up big idea, having numerous storylines and conflicts and at the end of the story ended smoothly by closing statements/chapter that trying to provide kind of conclusion, increase my curiosity on how the author starting the story by.

World war absolutely is a very big idea. Accordingly, everybody has their own version as well as every writer has their own weapon to shoot which part is potential to develop into a story. Anthony Doerr, a short story winner prize, showed his capability in writing a novel about Nazis invasion in Saint Malo, an important district in France. He spent some times in Saint Malo to observe the roads and buildings, comparing the present situation to era 40’s when the invasion happened. A big work that paid by Pulitzer Prize in 2015.

Using third point of view, Doerr brings the readers to a living of blind girl, Marie-Laure, who is spending her childhood with her father in Paris. In 1944, during Nazis invasion, Marie-Laure and her father escaped to St. Malo and stayed at her grand uncle house. The house where all the hidden activity arranged to transmit codes to outside area seeking possibility of help. Meanwhile, an albino boy namely Werner Pfennig, living in the mining area of Germany is chosen to be transferred to the camp of Youth Hitler when he fix a broken radio of Nazis army. As a poor young boy, Werner continue his life in the camp by holding memories of his sister Jutta who left behind in children house of Zollverein with Frau Elena. A lot of things happened to Marie and Werner before finally they meet in a chaos situation of St. Malo. Story of diamond in France National Museum; implementation of radio transmission in the war for the first time; how miniature of the city made by Marie father successfully help this girl to understand the situation are only parts of the important storyline that move the story up to the end.

The most interesting part for me during exploring various ‘big ideas’ inside the book is everything related to the diamond that secured in high level protection in the National Museum of France.  It’s found first time in Borneo, it is a magic stone, and Nazis want it badly. I tried googling to get some more information about this diamond but found nothing except reviews of this book. So it’s presumed that this part probably is a key that differ this book from other historical fiction novel. Doerr successfully polished the “diamond” to look so shiny for readers. It’s a brilliant idea.

A big and magnificent World War II has been split into several ideas or the other way that is those smaller ideas come first then combined into one story. Which one is coming first is difficult to identify. Each character brings ‘big story’. When those big stories having same level of important combined into one book, it is like seeing bricks intend to be used to build a castle that painted by interesting different color in which we must put every brick carefully so every color could be support each other properly. Small mistake would cause dull combination. In this case, the good news is, the author could manage it properly. At least, at the end of the story, every information related in their own portion. If there is information’s bias, it is not the thing that reader put their attention to.

When an author decides to choose big historical idea that has been written by so many author before, even there are still a lot of angles to be brought up, this kind of author is like having responsibility to find something new and fresh which is not easy. Reader will always ready to prey the story. They are criticizing the facts, historical backgrounds, variety of the conflicts, character chosen and so on. Accordingly, searching of the brand new idea become more frustrating. However, that difficulties should not always push an author to the situation of collecting numerous important cases and information that finally burdened the story. Giving one example, Angela’s Ashes (winner of Pulitzer Prize for the year of 1997) showing different sight of how to construct a story using time frame based on important historical record. As memoir, Angela’s Ashes potential to tell a lot of author experience during Catholic and Protestant conflict era in Ireland. Instead, he focused only to one storyline which can be developed deeply and widely. Focusing only to the relationship between mother and her children during that time in fact has been emotionally provoked readers mind to the grief and craziness happened.

Title                 : All the Light We Cannot See

Author             : Anthony Doerr

Published         : 2014

Pages               : 520

Publisher          : Fourth Estate An Imprint of Harper CollinsPublishers

A Life of Little Possibility

Posted on Updated on

little-life

Someday, when you meet people humiliating you, underestimating you, or measuring you based on your physical appearance or any other background that makes you looking so invaluable, who do you expect to calm down your anger? Is it friends, relatives, or your parents? Perhaps it depends on how close you are to one of them. To the one that has been considered as family. Or, you feel better to keep it as a secret?

In individual community where independence and liberty are very important, personal problem, in certain stage is abandoned. People intend to ignore other person business in the name of human rights. Some person who is able to lift up their problem would probably could manage it properly by increasing their knowledge or their faith whatever solve their problem without involving other people too much. That’s what is supposed to be happened and expected in that kind of community. However, some persons with certain condition, due to the problem itself too much dark and deep, could not easily lifting up their problem. They won’t let other people get into their business. They try to live just like the others (by ignoring the problem) while at the same time they actually just digging the hole for their problem deeper. The risk of depression is there. Mental Health America recorded that people who feel empty inside, over or under stimulated, unable to express their feelings, lonely, fearful of intimate relationship, is in the high risk of self-injury.

Friendship of Jude St. Francis, Malcolm, Willem and JB grew stronger day by day as they are struggling to stand their living in New York City. They fight for their existence in their own field. Artist, actor, architect, lawyer are jobs that bring them to know how strong their ambition to continue their “big life” in NYC. Unlike the other 3, Jude St. Francis, the central of the story who is giving the meaning of life itself, is the most introvert one. Growing orphan in monastery, Jude fully understand that his life is not and will never be the same as the other. Nobody knows, not even the closest friend, Willem, about what really happened to Jude during his childhood. How deep is the scar left. How abusive it is. What made him feeling ‘so small’ beside all his big support to their friends. All his support that gathered them into one family.

Jude, the humble-smart-respectful lawyer is actually the one who are none of receiving what he gives to his friends. Time goes by, days, months and years pass and no one realizing it. Until one day what has been hiding so far arising and asking huge responsibility and care.

A Little Life is talking about many things. It is almost impossible to calculate the problem yet the cause and effect as they are intertwined in an intense plot. As a fashion magazine journalist, Yanagihara is working carefully in some fields very far from fashion itself. She brings us to various worlds that fulfill the buildings, streets and houses of NYC. But none of them is related to fashion journalist. Some art works probably are fields that she had ever been involved with. But there are some deep discussion about math philosophy (especially in the chapter The Axiom of Equality) that made me amazed of the author’s knowledge and research. An analogy of math philosophy into disaster that somehow kind of predicted and measured by people mind written precisely in that chapter. During finishing the book, I almost sure that author is a lecturer. I let my curiosity until more than half to search about what is actually Yanagihara’s job in USA. Which until today for me still never enough considering some fields and cases brought up in this book.

As Man Booker Prize finalist, this book brings a new voice. Yanagihara didn’t force herself to talk about big issue that built the history of America. Instead, she wrote day-to-day living that in fact become the heart of America itself. Recent issues such as homosexual written dramatically which ask everybody to listen and read carefully of what actually happened in our environment.

Using analogy a little to describe a huge and burdened problem in a book with more than 700 pages is really intriguing. Although in some places author looks like over explanation about some characters who is not giving enough support to the main plot, the whole story of this book is still meaningful and disturbing.

Finally, what happened when life seems giving you a lot of opportunity to continue fighting? Is it a bigger life or a little possibility?

Title: A Little Life

Author: Hanya Yanagihara

Published: 2015

Pages: 720

Publisher: Picador in imprint of Pan MacMillan London (for paperback version)

Unaccustomed Earth (Bagian 1)

Posted on

Membaca Unaccustomed Earth bagi saya adalah kesempatan melihat lebih dalam apa yang sesungguhnya terjadi di balik keseharian hidup manusia. Benarkah seorang anak yang hidup di tengah kultur yang menempatkan orang tua sebagai sosok yang sangat dihormati meyakini hal tersebut? Akankah kebenaran terus-menerus disembunyikan demi menghormati sebuah pertemanan? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang boleh jadi melatarbelakangi kisah-kisah dalam kumpulan cerpen karya Jhumpa Lahiri ini.

Dibanding Interpreter of Maladies, kisah dalam Unaccustomed Earth terlihat lebih matang dari segi penyajian. Terbit 8 tahun setelah Interpreter of Maladies, Jhumpa Lahiri rupanya ingin menghadirkan beragam kisah dengan warna yang baru. Plot yang terasa lebih lambat dalam cerita yang lebih panjang, digunakan oleh pengarang untuk menggali lebih dalam sisi kemanusiaan tokoh-tokoh di dalamnya. Unaccustomed Earth tidak lagi menghadirkan kisah kaum marjinal India. Ia banyak berbicara tentang bagaimana asimilasi budaya timur dan barat terjadi dalam tubuh imigran/keturunan India di Amerika.

Sebagaimana buku ini dibagi menjadi dua bagian, saya pun ingin mengulas keduanya secara terpisah. Part One, yang sedang saya ulas saat ini, terdiri dari lima buah cerita pendek yang sesungguhnya tidaklah pendek. Kelima cerita tersebut masing-masing mengisi setidaknya 40 hingga 60 halaman buku. Di sini, mungkin lebih lazim disebut novela, ketimbang cerpen (short story). Lima cerpen tersebut masing-masing diberi judul: Unaccustomed Earth, Hell-Haven, A Choice of Accomodations, Only Goodness dan Nobody’s Business. Sementara Part Two bercerita tentang sebuah saga berjudul Hema and Kaushik yang terbagi menjadi tiga buah cerita pendek.

Unaccustomed Earth berkisah tentang Ruma, wanita India, yang memutuskan menikah dengan lelaki Amerika dan mencoba tetap memelihara hubungan baik dengan ayah kandung yang telah mengecewakannya.  Lahiri menyelipkan kegundahan Ruma dengan baik melalui dialog maupun narasi, sebagaimana kutipan di bawah ini.

“How far it is?”

When she was younger she would have corrected him; “How far is it?” she would immediately have said, irritated, as if his error were a reflection of her own shortcomings. “I don’t know. I think it takes him about forty minutes each way.”

“That’s a lot of driving. Why didn’t you choose a house closer by?”

“We don’t mind. And we fell in love with the house.” She wondered whether her father would consider this last remark frivolous.

Dan juga pada bagian ini.

She had never been able to confront her father freely, the way she used to fight with her mother. Somehow, she feared that any difference of opinion would chip away at the already frail bond that existed between them. She knew that she had disappointed him, getting rejected by all the Ivy Leagues she’d applied to. In spite of Romi’s itinerant, uncertain life, she knew her father respected him more for having graduated from Princenton and getting a Fulbright to go abroad. Ruma could count the arguments she’d had with her father on one hand.

Meski beberapa detail kejadian sedikit melelahkan, hubungan Ruma dan sang ayah yang mengalami transformasi dari hari ke hari sangat menarik untuk disimak.

Hell-Haven, cerpen kedua, adalah salah satu cerpen favorit saya. Sebagaimana judulnya, siapapun akan menduga bahwa cerpen ini mengangkat pro dan kontra tentang mana yang baik dan yang buruk, ataupun mana hitam mana putih. Tapi lagi-lagi saya dibuat tercengang oleh kekayaan imajinasi pengarang. Kisah tentang seorang ibu yang membesarkan anaknya di luar tanah airnya tentu memiliki banyak ketegangan saat ideologi yang dianggapnya benar mengalami benturan dengan lingkungan yang membesarkan anaknya. Yang satu ini sudah sangat biasa. Yang tidak biasa adalah kenyataan bahwa sang ibu memiliki cinta diam-diam yang memicunya menjadi makin agresif dalam menanamkan keyakinannya pada anaknya. Cinta yang nyaris memakan tubuhnya dalam bara itu ternyata mampu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi anak semata wayangnya. Adegan-adegan konyol nan menggelitik bermunculan dari awal hingga akhir cerita.

A Choice of Accomodation, untuk saya adalah kisah yang tricky. Banyak fakta dihadirkan dalam sekelumit kisah perjalanan pasangan suami istri yang ingin menghadiri pesta pernikahan teman lama sang suami. Kenyataan bahwa calon pengantin wanita memiliki masa lalu tersendiri dengan sang suami hanyalah sebagian dari sekian banyak fakta tentang hubungan lelaki perempuan yang diangkat dalam cerpen ini. Tanpa meninggalkan gaya bertuturnya yang cerdas, Lahiri menguliti cara berpikir pasangan muda dengan dua orang anak sehingga seolah mereka hanyalah latar belakang dari seluruh peristiwa yang terjadi dalam cerpen ini.

Penyesalan seorang kakak terhadap adiknya diangkat dalam cerpen berjudul Only Goodnes. Sebagaimana imigran yang menginginkan kehidupan lebih baik dibanding di tanah airnya, orang tua Sudha dan Rahul mati-matian menginginkan anak-anaknya mampu menjadi kebanggaan keluarga. Sayangnya, keinginan ini justru menyakiti mereka. Berbagai peristiwa membawa Sudha dan Rahul, adik lelakinya, ke dalam situasi sulit yang hanya mereka berdua yang mengerti bagaimana mengatasinya.

She had not seen Rahul since her wedding night, a fact that was incredible to her. “Hi, Didi,” he said when she opened the door, still using the traditional term of respect their parents had taught him. She felt no awkwardness, the sight of him after over a year and a half standing under the portico of the house completing a part of her that have been missing, like the clothes she could wear again now that the weight of her pregnancy was gone.

Mencekam sekaligus mengharukan. Demikian Lahiri menciptakan dunia bagi Sudha dan Rahul. Only Goodnes adalah juga cerpen favorit saya.

Cerpen terakhir yang berjudul Nobody’s Business, awalnya saya kira bakal mirip dengan A Treatment of Bibi Haldar dalam Interpreter of Maladies. Ternyata berbeda jauh. Seorang India Bengali yang kurang beruntung dalam mencari pasangan hidup kali ini hadir dalam wujud wanita labil, drop out dari Harvard University, dan bekerja di sebuah toko buku. Cerpen ini terbilang ringan dibanding empat cerpen sebelumnya. Pergolakan batin tokoh utama tidak begitu dalam digali. Meski demikian, kisah ini diimbangi dengan plot yang lebih dinamis dibanding cerpen-cerpen sebelumnya.

Sebagaimana cerpen karya Jhumpa Lahiri yang lain, jangan mengharapkan kejutan apapun di akhir cerita. Tapi bersiap-siaplah menarik napas panjang kemudian berhenti membaca sejenak sekedar menakar ulang benarkah kejadian sehari-hari yang telah kita lalui sesederhana yang terlihat? []

Unaccustomed Earth (Bagian 1) pictureJudul                : Unaccustomed Earth

Pengarang        : Jhumpa Lahiri

Tebal               : 333 halaman

Tahun              : 2009

Penerbit           : Bloomsbury Publishing Plc, London

Saya, J50K dan (Bukan) Salah Waktu

Posted on Updated on

bukan salah waktu (final)Perjalanan berlatih membiasakan menulis fiksi bagi saya adalah perjalanan yang panjang dan tidak mudah. Meskipun lahir dan besar di lingkungan pembaca novel, tak satu pun dari pembaca di sekitar saya itu yang menulis fiksi. Menulis yang dilakukan orang tua saya adalah menulis laporan kerja, hasil tesis, menilai pekerjaan mahasiswa, dan mengisi jurnal untuk majalah kedokteran.  Sementara kakak, tak jauh dari menulis laporan kerja dan setelah berhenti bekerja praktis menulis laporan uang belanja saja. Saya? Tak jauh berbeda. Dengan kakak, tentunya 🙂

Diawali dengan mengisi blog secara acak-acakan dan bergabung di berbagai sosial media, saya dipertemukan dengan beragam komunitas menulis. Salah satu komunitas menulis yang bernama Kampung Fiksi, pada bulan Oktober 2011, melalui akun twitternya, mengadakan workshop menulis sehari. Tanpa berpikir banyak saya langsung mendaftar. Workshop yang terbilang sederhana tapi berisi itu membawa saya mengikuti salah satu lomba cerpennya. Dan alhamdulillah meraih juara 2. Waktu itu pesertanya memang cuma sedikit. Tapi bagi saya yang belum pernah mendapat hadiah gadget dari lomba menulis, rasanya senang bukan main.

Ditengah menulis pengalaman seperti ini sebenarnya saya diliputi kekhawatiran. Khawatir menulis terlalu panjang, membosankan, dan ngelantur ke mana-mana. Baiklah, sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan setelah lomba cerpen tadi. Tapi saya tak ingin membuat pembaca yang mungkin sudah ratusan kali membaca pengalaman belajar menulis seseorang semenjak ada sosial media menjadi bosan. Nah, mulai pada ngantuk…

Singkat cerita, sebuah ajang ngebut menulis novel dalam waktu sebulan yang diadakan Kampung Fiksi pada bulan Januari 2012 saya ikuti. Ajang inilah yang bernama January Fifty Kilo (J50K). Genap sebulan saya menulis dengan tekat baja anti karat, hasilnya adalah kepala terasa berat karena kurang tidur berhari-hari dan sebuah file berisi naskah novel yang tidak ingin saya baca kembali. Menulis 50.000 kata dalam waktu sebulan ternyata dahsyat. Dahsyat menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran. Suka duka selama mengikuti ajang J50K ada di sini. Naskah tersebut saya beri judul Rumah untuk Dua Hati.

Berbagai lomba menulis novel kemudian makin marak di sosial media waktu itu. Tapi naskah tersebut tidak saya ikutkan ke satupun lomba yang ada. Bagaimana mau diikutsertakan kalau saya saja, pengarangnya, tidak tega membacanya kembali untuk kemudian melakukan revisi dan mengirim ke penerbit yang mengadakan lomba. Saya justru menulis naskah novel yang lain lagi. Dengan stamina hasil gemblengan J50K, naskah novel kedua saya selesai pertengahan 2012 dan langsung saya kirimkan ke sebuah lomba menulis novel yang diadakan Gramedia Pustaka Utama. Ya, saya merasakan dampak positif mengikuti J50K saat itu. Saat dengan tenang dan percaya diri saya ternyata mampu menyelesaikan sebuah naskah (lagi) tanpa harus ada yang mengingatkan saya akan tenggat waktu ataupun mengejar dengan stopwatch kata.

Naskah J50K 2012 mati suri. Sementara naskah kedua yang saya kirim ke ajang lomba menulis novel mentok di 30 besar. Tidak termasuk 11 besar yang diterbitkan. Nasib. Meski demikian, saya tak ingin berhenti menulis novel. Tanpa bekal idealisme apa-apa, sekadar ingin menulis saja. Tidak ada yang mau menerbitkan tidak apa. Januari 2013, saya kembali menulis naskah novel ketiga saya. Belum selesai ditulis, saya membaca sebuah ajang lomba menulis novel yang diadakan penerbit bentang pustaka. Dari segi tema, sangat dengat dengan tema yang saya angkat dalam naskah J50K 2012 saya yang mati suri itu. Akhirnya, saya menguatkan hati untuk menengok naskah itu kembali. Merevisinya dengan setengah hati karena tak yakin akan mengirimnya ke bentang pustaka.

Akhirnya naskah tersebut saya kirim ke surel yang diberikan bersama persyaratan yang lain tanpa ada beban. Saya yakin tidak akan terpilih. Eh, tapi siapa tau. Ah, gimana sih!

Pengumuman yang sedianya pertengahan Maret mundur hingga pertengahan Mei 2013. Itupun tidak langsung mengumumkan pemenang yang akan dibukukan. Shortlist berisi 18 besar diumumkan terlebih dahulu. Saya yang ternyata masuk dalam shortlist tersebut kaget, terharu, lalu kembali ke niat awal, tidak berharap menjadi pemenang. Tapi siapa sangka, setelah dipilih kembali 8 naskah yang akan dibukukan, naskah saya ada diurutan ke-4! Wow, serta merta saya tidak bisa tidur semalaman :D.

Terpilih untuk dibukukan ternyata tidaklah mudah. Bagi saya yang sejak awal kurang puas dengan naskah tersebut ingin menulis ulang saja dengan format baru. Selain itu, saya merasa gaya menulis saya sudah jauh berubah dibanding Januari 2012. Kalau direvisi ala tambal sulam rasanya kurang bertanggung jawab terhadap pembaca yang nantinya harus mengeluarkan sejumlah dana untuk membelinya. Akhirnya, dengan persetujuan penerbit, naskah tersebut seluruhnya saya tulis ulang. Juli 2013, naskah dengan wajah baru selesai ditulis.

Naskah yang kemudian diberi judul (Bukan) Salah Waktu saat ini sudah dapat dipesan secara online di sini. Karena libur panjang, distribusinya ke toko buku baru akan dilakukan Januari 2014.

Semangat membaca dan menulis, Bookmania!

Salam hangat 🙂