Bumi Manusia

Posted on

Sepenggal kisah tentang pergolakanyang terjadi di masa penjajahan Belanda di Indonesia ini ditulis pada tahun 1975 dengan sangat indah oleh seorang kandidat pemenang Nobel Sastra dari Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (Almarhum), dalam novelnya yang berjudul Bumi Manusia yang merupakan bagian pertama dari Tetralogi Buru.

 

Novel yang menggugah semangat kebangsaan ini sangat objektif dalam memandang sikap dan perilaku bangsa yang menjajah dan yang terjajah. Pemberontakan batin yang (tentunya) dirasakan oleh sang pengarang pada waktu itu digambarkan dengan tegas melalui karakter tokoh utamanya yang bernama ‘Minke’ (nama yang berasal dari makian seorang guru sebuah sekolah Belanda kepada muridnya yang keturunan pribumi asli).

 

Minke adalah gambaran sosok seorang pribumi muda, pencari jati diri dirinya, sekaligus jati diri bangsanya. Mencoba berdiri tegar diantara pandangan dan pola pikirnya yang dibentuk disekolah Belanda dan kehidupan pribadinya sebagai putra seorang Bupati di daerah Jawa Timur yang dalam banyak hal laksana bumi dan langit. Memilah banyak hal positif yang ia dapat dari sekolahnya dalam perjalanannya telah mengantarnya pada situasi sulit yang harus dihadapi di keluarganya.

 

Tokoh lain yang juga menjadi nadi dalam kisah ini adalah seorang Nyai (sebutan untuk seorang gundik yang tidak dinikahi resmi oleh seorang Belanda) yang harus berjuang untuk menghidupi anak-anaknya,  yang menurut undang-undang yang berlaku pada saat itu tidak berhak untuk memperjuangkan status apapun termasuk semua hak yang seharusnya diperoleh oleh anak-anaknya dari ayahnya,hanya karena sang ibu adalah “seorang pribumi asli”.

 

Pramoedya Ananta Toer mencoba menciptakan beragam konflik batin bagi pembacanya melalui kisah seorang Nyai,yang tidak lulus sekolah dasar tapi berpandangan sangat luas tentang harkat dan martabat bangsanya, dan kisah seorang pelajar sekolah Belanda (Minke) yang berusaha menerobos sisi kelam bangsanya, dalam koridor yang sangat luas.

 

Meskipun kisah ini bertutur tentang pandangan dan kehidupan rakyat Indonesia di masa penjajahan, jiwa dan semangat nasionalisme yang digambarkan masih sangat relevan sebagai pengobar semangat kebangsaan hingga saat ini.

 

Berikut sepenggal adegan antaraMinke dengan sang ayah yang dapat menjadi gambaran pemberontakan terhadap mentalitas bangsa terjajah pada waktu itu :

 

Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku,waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak ditempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnyadunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu…Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri ! Sampai sedatar tanah kalau mungkin ! Uh, anak cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.

Akhir kata, tidak ada saran dari saya selain untuk turut membaca salah satu novel sumbangan dari Indonesia untuk Dunia yang satu ini…..selamat membaca !

 

 

Bumi Manusia wilayah Jakarta Barat, 16 Agustus 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s