Menghafal vs Mengerti

Posted on

Minggu-minggu ujian sekolah yang saya mengerti sampai saat ini adalah minggu-minggu berat bagi para murid dan orang tuanya. Berat secara mental dan fisik karena pada saat bersamaan, fisik yang sedang dipacu untuk menjaga kestabilan konsentrasi belajar mesti dibarengi dengan rasa was-was akan hasilnya, berikut konsekuensi yang harus dihadapi.

Saya tidak ingin mengungkapkan metode belajar tipe apapun, karena saya bukanlah pakar dibidang pendidikan. Saya hanya tergerak untuk mengungkapkan keheranan saya yang berujung pada kekhawatiran atas kurikulum nasional atau biasa disebut kurikulum Diknas yang ada di sekolah-sekolah saat ini.

20 tahun adalah penantian yang cukup panjang untuk sekedar melihat kemajuan kurikulum Diknas yang pastinya tidak lagi bisa dinikmati oleh generasi saya, tapi oleh generasi anak-anak saya. Kalau masa kecil saya hanya dapat mendengar cerita tentang pola mengajar di negeri seberang yang membuat hampir semua orang di negeri ini (yang secara financial mencukupi tentunya) berkeinginan untuk menyekolahkan anaknya disana dengan alasan kemajuan pendidikan putra putrinya, tentunya saat ini cukup wajar apabila orang seperti saya berkeinginan bahwa pendidikan di negeri ini sudah mengalami kemajuan yang sangat berarti mengingat sekian banyak kajian yang dilakukan oleh tenaga-tenaga ahli di bidang ini.

Bersyukur mungkin kata yang tepat untuk mengungkapkan langkah awal saya menghadapi keheranan-keheranan yang muncul di dalam kurikulum Diknas yang sedang dipelajari oleh anak saya yang duduk di bangku Sekolah Dasar. Bersyukur karena diberi kesempatan untuk membandingkan kurikulum Diknas dan kurikulum Internasional yang keduanya diberikan secara bersamaan di sekolah anak saya. Bersyukur karena diberi kesempatan untuk melihat timpangnya pola pengajaran ke2 kurikulum tersebut. Ironis, bukan ?

“Don’t judge the book by the cover” sepertinya tidak berlaku pada saat membandingkan ke2 kurikulum ini. Mengapa, karena buku-buku untuk menunjang kurikulum internasional memang benar-benar bagus mulai dari kualitas sampul sampai dengan cetakannya, dan buku-buku penunjang kurikulum Diknas memang benar-benar tidak bagus. Tapi itu bukanlah suatu hal yang esensial untuk dibandingkan. Berikutnya adalah inti dari permasalahannya. Anak saya yang duduk di bangku SD hampir tidak pernah menampakkan keberatannya untuk mulai membuka buku-buku penunjang kurikulum internasionalnya pada saat belajar. Gambar-gambar visual yang menarik disertai model cerita sederhana untuk membuat anak-anak tidak jenuh dan terbeban selama belajar sudah menjadi metode standard penampilan buku-buku pelajaran tersebut. Kata-kata sederhana yang mudah dimengerti oleh anak-anak, kalimat-kalimat singkat yang menuju kepada tema yang ingin dipahami telah menjadi dasar sistem pengajaran di kurikulum internasional.

Teramat sangat ironis rasanya pada saat kita menemui kenyataan bahwa mata pelajaran internasional yang secara keseluruhan dibawakan dalam bahasa asing (bukan bahasa ibu kita) jauh lebih mudah dipahami oleh anak-anak ketimbang kurikulum Diknas yang dibawakan dalam bahasa nasional kita. Aneh tapi nyata, mungkin ungkapan yang sesuai untuk menggambarkan kondisi ini.

Dipahami adalah dimengerti, bukan hanya dihafal, setahu saya.

Wajah ditekuk anak saya tiap kali harus berhadapan dengan buku-buku dari matapelajaran kurikulum Diknas adalah satu kondisi yang dapat dipahami, mengingat beratnya untuk hanya sekedar mengerti arti kalimat-kalimat yang digunakan. Kalimat-kalimat sulit dalam buku-buku tersebut yang entah mengapa membuat saya berburuk sangka untuk mendakwa bahwa pembuatnya ingin dilihat sebagai orang pandai, telah dengan sukses membuat anak-anak bosan sekaligus keberatan plus memilih melamun pada saat kalimat-kalimat tersebut dibacakan. Pada akhirnya, keputusan yang mesti diambil dalam keadaan ini adalah “menghafalkan” kata-kata yang ada untuk kemudian dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan sekenanya. Belum lagi kalau kita mau melihat betapa tidak masuk akal dan terkesan mengada-adanya (sekedar hanya menciptakan kesulitan) soal-soal yang diberikan pada kurikulum yang satu ini. Jauh dari kata MENGERTI, dan dekat dengan system MENGHAFAL adalah jawaban fenomena ini.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada usaha-usaha pemerintah republik tercinta ini untuk kemajuan sistem pendidikannya, rasanya saya ingin menyampaikan kekhawatiran saya akan kondisi ‘terpaksa menghafal’ ini, dan kemudian hanya mengukur kemampuan anak melalui kapasitas hafalannya. Kekhawatiran yang mengarah pada terciptanya generasi angkuh materialistis yang rentan dengan sifat korupsi.

‘Mengerti’ adalah kondisi dimana hati, pikiran dan logika bekerja secara simultan untuk sebuah tujuan. Sementara ‘Menghafal’ adalah proses mengerti yang belum selesai.

Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Bung Andrea Hirata, dengan “Laskar Pelangi”-nya dan Bung Ahmad Fuadi (alhamdulillah bisa di tag disini) dengan “Negeri 5 Menara”-nya yang telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi sistem pendidikan bangsa ini.

25 Maret 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s