Penjara

Posted on

Lelaki itu duduk bersahaja di hari pertama dirinya terkurung dalam jeruji besi itu

Tidak ada pengadilan sebelumnya

Tirani mengurung keadilan waktu itu

Hanya kertas dan pensil yang ia butuhkan

Untuk melepas penat, pedih, dahaga jiwa yang meronta

 

Ini bukanlah jeruji yang pertama baginya, pikirnya

Hanya makhluk berjiwa kerdil yang cuma bisa mengeluh tanpa berbuat

Khayalan, realita, ilmu pengetahuan, kebebasan, berkecamuk di kepalanya

Berputar-putar, mendorongnya untuk segera menjadikannya sebuah karya

Tidak ada kata menunda, yang ada hanyalah berbuat

Rakyat tidak lagi bisa menanti

 

Untaian kata merangkai beribu cerita tentang alam berisi kebebasan yang sedang dipertaruhkan

Meski semuanya harus dibayar dengan separuh hidup meronta dipenjara

Namun tak seorang pun mampu membuat penjara untuk jiwa yang senantiasa ingin berkarya demi anak bangsa

 

30 tahun kemudian………….

 

Dari atas awan ia memandang jeruji besi bangsanya lagi

Heran tak kepalang ia dibuatnya !

Banyak senyum, kamera dan lambaian tangan memenuhi bagian luar jeruji itu

Benarkah mereka pantas mendapatkannya ?

 

Dahulu tidak ada popularitas yang dikejar

Dahulu juga tidak ada sedemikian banyak materi yang bisa ditukar dengan udara bebas

Karena berkarya seni tidak berarti melepas tanggung jawab terhadap moral

 

Tidak, bukan begini !

 

Tangisnya tidak akan menjadi hujan

Hanya rintih perlahan di atas langit

17 Agustus 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s