Terdampar

Posted on Updated on

Membaca judulnya saja, pada awalnya saya mengira kalau sinetron ini pastilah berkisah tentang cerita horor, berdarah-darah, ataupun thriller. Karena anti dengan film horor, saya tidak pernah berkeinginan untuk sekedar mengetahui isi cerita sinetron tersebut. Cukup dengan kadang-kadang melihat iklan jadwal penayangannya diputar pada waktu mengganti-ganti channel di televisi.

Kira – kira 3 minggu yang lalu, saya dibuat heran dengan kedua anak saya yang masih tergolong kecil ini (6 tahun dan 8 tahun) duduk diam di depan televisi menikmati sebuah tayangan sinetron, yang akhirnya setelah saya ikutan nonton ternyata adalah sinetron “Terdampar” tersebut. Mereka terlihat begitu antusias dan tidak mau diganggu selama sinetron tersebut berlangsung. Saya yang sudah lebih dari 10 tahun menyatakan absen menonton sinetron Indonesia, dengan sangat terpaksa bergabung dengan mereka demi memberikan penjelasan seperlunya tentang kemungkinan banyaknya adegan, ucapan, dan visualisasi tidak pantas dan cenderung konyol yang akrab pada tayangan sinetron kita. Sebelum jeda iklan, saya dan anak-anak baru mengetahui kalau ternyata sinetron tersebut hanya menyisakan 2 episode lagi. Legalah hati saya karena makin banyak episode tersisa, makin lelah saya menjelaskan segala kejanggalan yang sepertinya dengan senang hati selalu dipertontonkan itu. Sedang anak-anak, juga senang karena tidak lama lagi mereka bisa mengetahui siapakah tokoh yang exist dalam kisah tersebut.

Sinetron yang berkisah tentang datangnya Dajjal, yang diyakini oleh umat muslim sebagai makhluk kafir yang datang menjelang hari kiamat ke dunia ini, sebenarnya mempunyai tema yang menarik. Belum lagi kalau kita bicara pengaruhnya yang cukup dahsyat pada anak-anak (paling tidak anak-anak saya) yang tiba-tiba selalu ingin menyegerakan sholat 5 waktunya pada waktu itu. Amazing, right ? Akan tetapi, keinginan menyegerakan sholat itu ternyata tidak bertahan lama. Lebih dari 2 kali 24 jam waktu peredaran bumi mengelilingi matahari, mereka sudah kembali seperti semula, yaitu beralasan capek, mengantuk demi mengulur-ulur waktu sholat.

Saya mencoba mencari tahu sebab perubahan tersebut melalui diskusi kecil diselingi canda tawa dengan anak-anak saya disela waktu luang mereka belajar selepas sholat maghrib. Ternyata oh ternyata, adegan-adegan konyol yang akrab di sinetron-sinetron produksi tanah air (seperti yang saya sebut diatas) lebih banyak membekas diingatan anak-anak dan akhirnya ibarat gaya gravitasi bumi yang kuat menarik level “wibawa” sinetron tersebut dari atas jatuh ke titik nadir !

Salah satu contohnya adalah, sang Dajjal dalam sinetron tersebut digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kemampuan untuk membuat sang istri mempunyai anak lebih dari 10 sekali melahirkan (mungkin yang ingin digambarkan adalah regenerasi kaum kafir yang menjamak dengan cepat nantinya…so, it is fine-lah) . Yang membuat anak-anak saya geli adalah, salah satu bayi yang dilahirkan ternyata sudah dilengkapi dengan pakaian dalam ! (it looks like so ridiculous !) Belum lagi tak terhitung banyaknya adegan-adegan tidak bermakna sebagai pengulur waktu yang dimata anak berumur 8 tahun saja sudah tidak masuk akal.

Fakta ini menjadi bukti betapa lembaga layanan konsumen di industri ini masih belum bisa menyaingi eksistensi rumah-rumah produksi yang mengejar rating sesaat dan rela membodohi penonton yang dituntut makin hari makin pandai itu.

Sementara berbagai rumah produksi industri persinetronan sudah merasa mendapatkan hasil optimal (dalam hal rupiah, tentunya), entah disadari atau pura-pura tidak disadari, dari segi kualitas produksinya masih benar-benar jalan di tempat kalau tidak mau dibilang makin hari makin jauh dari harapan.

Tidak kah pemilik rumah produksi tersebut juga mempunyai anak-anak yang akan terpengaruh pola pikirnya dengan tayangan-tayangan kurang bermutu tersebut ? Ataukah mereka sengaja menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri sehingga anak-anak tersebut tetap maju karena tidak mendapatkan tontonan produksi mereka sendiri ?

Mau ‘terdampar’ dimanakah kita ?

21 Mei 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s