The Lost Symbol – Terseok-seoknya Dunia Barat Meraih Asa Ketuhanan

Posted on

Membaca novel karya Dan Brown memang asyik sekaligus mengasah otak karena pembaca seolah-olah diajak belajar, mengkhayal sekaligus berdebar-debar mengikuti alur cerita misteri yang berlatar belakang aliran mistis kuno. Kalau dianalogikan dengan film layar lebar, karya Dan Brown membawa ingatan kita pada sekuel India Jones yang terkenal itu.

The Lost Symbol yang merupakan novel terbarunya, rasanya dalam waktu singkat akan mampu bersaing dengan novel-novel sebelumnya yang meledak dipasaran, seperti “Angels and Demons” dan novel kontroversialnya “Da Vinci Code”.

Dibandingkan 4 judul buku karangan Dan Brown sebelumnya, bagi saya, The Lost Symbol memberikan perbedaan yang cukup signifikan dalam hal pola dasar berpikir yang diambil oleh sang pengarang yang dalam hal ini diwakilkan oleh sang arkeolog kutu buku, Mr. Robert Langdon. Meskipun alur cerita dan labirin misteri yang terkait dengan kisah pembunuhannya masih berpola sama atau bahkan bisa dibilang sedikit lebih ‘simple’ (paling tidak dibandingkan dengan kedua novel pertamanya yang meledak di pasaran).

Perbedaan signifikan yang dapat saya lihat disini adalah, di novel ini sang pengarang mencoba sedikit demi sedikit untuk memahami ‘keyakinan’ atau dalam bahasa kita sehari-hari adalah ‘agama’, yang sebelumnya lebih dilihat olehnya sebagai ‘kebudayaan’ semata. Konsep ketuhanan yang masih terasa sebagai barang mahal di novel-novel sebelumnya mulai mendapat tempat di novel yang satu ini. Sang pengarang berusaha mengemas perpaduan ilmu pengetahuan dan kebudayaan untuk meraih konsep ketuhanan.

Dunia tempat sang pengarang lahir dan besar tentunya adalah dunia penuh logika sebagai dasar ilmu pengetahuan. Dunia yang mengedepankan angka, perhitungan matematika dan fakta-fakta logis lainnya. Entah apa yang menyulut benak sang pengarang untuk mulai mengangkat tema mengenai ilmu pengetahuan yang disebut ilmu Noetic sebagai bahan baku novel ini. Ilmu yang akhirnya meminta pelajarnya mengedepankan ‘sense, soul, mind and faith’ untuk memahaminya. Ilmu yang bagi sebagian besar orang timur seperti saya adalah makanan sehari-hari.

Dunia barat dan timur mungkin memang dibesarkan dari rahim yang berbeda. Dunia orang-orang timur seperti saya adalah dunia yang penuh dengan kehalusan perasaan (sense) yang menjadi jiwa (soul) tiap seni yang tercipta, mengilhami ritual-ritual yang lahir dari keyakinan (faith) akan adanya Sang Pencipta. Percaya dulu, kemudian baru mencari faktanya sambil jalan, begitulah kira-kira yang terjadi, karena saat kita (dari dunia timur) dilahirkan, apa yang diyakini orang tua kita otomatis akan melekat sebagai identitas kita.
Sementara orang-orang di dunia barat, lebih banyak mempelajari ilmu-ilmu logika yang pada akhirnya ternyata bermuara pada sungai yang sama yaitu konsep tentang Sang Pencipta. Tidak ada yang salah pada keduanya (baik dunia barat maupun dunia timur) karena Sang Pencipta akan tetap menunjukkan kuasaNya melalui jalur apapun sepanjang manusia menjalani kehidupannya dengan berusaha untuk selalu bermanfaat bagi sesamanya.

Teruslah mencari, Mr. Langdon, karena makin dicari, anda akan makin banyak menemukan “The Lost Symbol” lainnya yang akan menggiring anda kepada suatu keyakinan akan kekuasaan di luar tangan manusia…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s