Kiki dan Koko

Posted on Updated on

Koko adalah seekor katak yang menikmati hidupnya dengan seringkali membanggakan kemampuan melompat dan bernyanyi di waktu hujan. Kiki, temannya, bukanlah dari golongan yang sama. Kiki adalah ulat kecil pemalu yang berjalan pelan dan gemar mendengar celoteh Koko setiap harinya.

Hari ini hujan turun cukup deras. Koko bernyanyi merdu diiringi lantunan derai hujan dan kecipak air di tanah basah. “Wow, indah sekali !” seru Kiki dari balik daun yang dipakainya untuk berlindung dari hujan.

Begitu hujan reda, Koko dengan angkuhnya bercerita panjang lebar tentang betapa hebat ia bernyanyi, yang menurutnya tidak hanya dikagumi oleh Kiki tapi juga hewan-hewan lain disekitarnya. Tidak lupa ia peragakan gaya melompatnya yang menurutnya ditiru oleh banyak katak disekelilingnya. Kiki berujar dalam hati, betapa bahagianya ia seandainya punya kelebihan yang bisa dibanggakan. Dalam hati Kiki memendam cita-cita agar suatu hari nanti ia dapat menemukan kelebihan yang mungkin tak dimiliki oleh ulat lain.

Hari demi hari berlalu…

Koko makin hari makin percaya diri bahwa dirinya akan selalu menjadi idola bagi teman-teman di lingkungannya. Terutama bagi Kiki, yang dianggap lemah dan lamban, yang selama ini menjadi pengagum setianya.

Hingga tibalah masa itu…

Masa dimana Kiki mesti melewati hari-hari panjang di dalam gua yang terbuat dari liurnya sendiri, yaitu kepompong.

Kiki tak lupa memberi kabar Koko bahwa dirinya untuk sementara waktu tidak bisa menemani Koko bermain karena masa kepompongnya segera tiba. Koko, yang merasa tidak lagi terlalu membutuhkan Kiki sebagai pengagum disampingnya, menanggapinya dengan acuh tak acuh. Bagi Koko, Kiki hanyalah salah satu pemirsa setianya setiap kali ia beraksi membanggakan diri.

“Ok lah kalau itu memang harus kau lalui. Aku rasa aku tidak akan kekurangan suatu apapun dengan kepergianmu ke dunia kepompong itu”, jawab Koko. Kiki sedih mendengarnya. Tapi baginya, Koko tetaplah salah satu teman istimewanya yang setidaknya telah memberinya inspirasi untuk menjadi maju.

Selama masa berkepompong Kiki, Koko menyibukkan diri dengan bermain bersama teman-teman katak yang lain. Beberapa katak adalah teman sejatinya yang selalu memberinya sedikit nasihat berupa sindiran halus tiap kali Koko menyombongkan diri. Sebagian lagi adalah katak-katak yang seolah suka dengan perbuatan Koko tapi sesungguhnya hanya ingin memanfaatkan sifatnya untuk kepentingan mereka sendiri.

Sayangnya, Koko lebih memilih teman-teman dari kelompok ‘penggemar palsunya’ ini. Dengan riang gembira, Koko selalu mengikuti apa yang diminta oleh teman-temannya itu.

Hingga suatu hari, teman-teman yang terus-menerus diikutinya itu memintanya untuk bernyanyi di sebuah tempat yang menurut mereka dapat membuat bakat menyanyinya makin didengar dan diketahui oleh komunitas katak yang lain, sehingga pengagumnya akan makin banyak.

Sementara itu di tempat yang berbeda, Kiki bergelayut di balik sebuah daun yang menaunginya selama ini, bersiap untuk menyempurnakan daur hidupnya untuk menjadi kupu-kupu. Dengan sabar ia melewati masa-masa berdiam diri di dalam guanya dengan senantiasa memohon kepada yang Maha Kuasa untuk kesehatan dirinya dan teman-temannya di luar sana termasuk Koko, dan juga untuk cita-cita besarnya, yaitu dikagumi oleh teman-temannya untuk sebuah alasan bermanfaat bagi sesama.

Perlahan tapi pasti, tahap akhir dari masa kepompongnya hampir usai. Penantian panjang ini tak akan disia-siakan olehnya. Termenung dalam kepompong bukanlah hal yang mudah, menurut Kiki. Disaat dirinya dengan mudah dapat bermain dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya, ia harus rela berdiam diri, merenung dan berserah diri terhadap takdir yang telah ditentukan olehNya. Takdir yang dialami oleh orang tua dan pendahulu-pendahulunya. Kiki selalu ingat akan pesan orang tuanya untuk memahami masa berkepompong ini sebagai sebuah anugerah yang mungkin tidak dimiliki oleh semua makhluk hidup. Keindahan tak terkira sesudahnya. Demikian orang tua Kiki selalu berpesan.

Sekarang, Kiki siap untuk keluar dari kepompongnya.

Dan…yak !! Seekor kupu-kupu indah bersayap lebar telah siap mengepakkan sayapnya menyongsong hari depan.

Di tempat berbeda, Koko sibuk mempersiapkan diri menghadapi hari besarnya. Aku akan makin terkenal, pikirnya. Wow, apa yang akan dikatakan teman-temanku nanti !

Sementara itu Kiki dibuat kagum oleh dirinya sendiri. Tak kusangka aku bisa seindah ini ! Terima kasih Allah atas karuniaMu.

Koko berangkat ke tempat yang disebut oleh teman-teman liciknya. Koko tidak tahu kalau dirinya dijebak. Ia disuruh untuk datang untuk mempertontonkan kemampuannya bernyanyi di suatu tempat dimana banyak anak-anak manusia pemburu katak berkeliaran. Selama ini sangat jarang seekor katak dapat lolos dari sergapan manusia di tempat itu.

Setibanya disana, Koko bernyanyi dengan riang gembira diiringi musik rintik hujan. Alam seolah membaca pikirannya. Musiknya sangat cocok bisiknya dalam hati.

Dari kejauhan, Kiki yang sedang menikmati fungsi alat terbangnya mendengar nyanyian seekor katak sayup-sayup dari kejauhan. Kiki merasa mengenal suara itu. Kiki yang telah mempunyai banyak teman dari komunitas kupu-kupu, segera memanggil teman-temannya untuk terbang mengikutinya ke arah suara tadi.

Koko, yang tidak menyadari kalau dirinya dijebak, sangat terkejut begitu melihat pemandangan mengerikan dihadapannya. Seorang anak kecil dengan jala siap menangkapnya dari jarak yang tidak terlalu jauh.

Kurang 2 langkah manusia lagi dan hap !! habislah Koko.

Namun takdir berkata lain. Sekelompok kupu-kupu menghalangi pandangan anak manusia itu. Jumlahnya cukup untuk membuat anak tersebut tidak mampu lagi menangkap sasarannya. Dari kerumunan kupu-kupu tersebut, salah satu kupu-kupu dengan sayap paling indah terbang mendekat ke arah Koko sambil berteriak,”Koko, cepat pergi!”. Koko seperti mengenal suara itu. Tanpa sempat berbasa-basi, Koko melompat sekencang-kencangnya menjauh dari tempat itu. Setelah Koko menjauh, kerumunan kupu-kupu segera bubar dan terbang bebas ke angkasa.

Koko selamat !

Dengan terengah-engah, Koko melompat pulang ke tempat tinggalnya.

Hampir tiba di tempat tinggalnya, Koko merasa ada yang berbeda. Tidak jauh dari tempatnya biasa berteduh, sekawanan katak sedang mengerumuni sesuatu. Aha, kupu-kupu yang menyelamatkannya dirinya tengah berada di tengah kerumunan. Katak-katak disekitarnya memberikan selamat dan tertawa-tawa bahagia. Koko mencoba memandang dari tempat yang lebih tinggi. Kupu-kupu itu tampak rendah hati, tidak tampak membanggakan dirinya setelah mempertaruhkan nyawanya demi seekor katak pongah seperti dirinya.

Sesaat ingatan Koko melayang membentuk siluet ulat kecil yang pemalu…

26 November 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s