Monas, I Am Alone

Posted on Updated on

Ara membuka perlahan tirai penutup jendela ruang kerjanya hari itu. Tampak sekian banyak gedung pencakar langit dari tempatnya berdiri. Pemandangan yang sangat lazim baginya. Tetapi pagi itu ada satu gedung yang seperti mendominasi pandangannya. Ya, gedung tempat Dodi, kawan dekatnya bekerja.

Ara ingat benar pertama kali dirinya berkenalan dengan Dodi. Saat itu Ara diberi tugas oleh perusahaan tempatnya bekerja untuk mewakili salah satu manager yang tidak dapat hadir di acara tersebut. Saat itu jabatan Ara adalah asisten manager, sebelum akhirnya jabatan manager diserahkan kepadanya  6 bulan yang lalu. Dodi yang pandai, ramah sekaligus menyenangkan dengan mudah memikat hati Ara.

Hari-hari berikutnya adalah sebuah petualangan indah nan sulit dilupakan oleh Ara karena Dodi yang begitu memikat hatinya ternyata juga menaruh perhatian yang sama dengannya. Dodi yang gemar menulis telah memberikan warna tersendiri di kehidupan Ara. Ara yang sejak awal memang suka membaca menjadi lebih mudah untuk mencoba menekuni dunia menulis. Dunia baru dimana ia merasa seluruh kegembiraan dan kekesalan hatinya lebih mudah dituangkan dalam mahligai kata-kata indah. Beban pekerjaan di kantornya terasa lebih mudah dihadapinya dengan lapang dada semenjak dunia menulis ditekuninya. Prestasinya dibidang pekerjaan meningkat hari demi hari. Tak urung, promosi jabatan diraihnya dalam waktu cukup singkat.

Lamunannya dibuyarkan oleh bunyi dering telepon.

“Assalamu’alaikum, ibu” sahut suara disana

“ya, bik Inah…ada apa ?”

“bu, pagi tadi Lila lupa membawa bekal makan siangnya ke sekolah, karena terburu-buru. Apa saya boleh mengantarnya sekitar pukul  11 nanti naik ojeg ?”

“oh, iya, bik, antar saja makan siang Lila, pakai dulu uang belanja untuk membayar ojegnya”

“baik, bu, terima kasih, wa’alaikum salam”

Telepon ditutup.

Lila adalah putri semata wayang Ara dari pernikahannya dengan Arman 8 tahun yang lalu.

Arman, seorang manager kepercayaan sebuah perusahaan consumer goods yang sedang berkembang pesat di Indonesia, seringkali ditugaskan untuk melakukan perjalanan ke luar kota/negeri.   Bahkan sudah 2 tahun terakhir ini ditempatkan di luar Jawa untuk kepentingan pengembangan pemasaran sebuah produk di daerah tersebut. Dalam satu bulan, Ara, Arman dan Lila berkumpul dan makan bersama tidak lebih dari 3 hari.

Ara menarik nafas panjang sembari membuka laptop dan kemudian mencoba mengalihkan konsentrasinya kembali ke pekerjaannya. Sekian banyak email yang perlu dijawab dan masalah yang harus diselesaikan. Mencoba menumbuhkan semangat kerjanya kembali demi mengusir galau dihatinya akhirnya berhasil dilakukannya sampai jam istirahat hampir tiba.

Secangkir teh hangat yang mulai menjadi dingin dihirupnya perlahan. Mestinya office boy kantor menyediakan teh di mejanya saat ia sudah meminta untuk dibuatkan, pikir Ara. Sambil membereskan kertas-kertas yang berserakan di mejanya, tanpa sengaja Ara menyentuh gantungan kunci tas kerjanya. Sebuah gantungan kunci berbentuk Monumen Nasional yang dibelinya saat menyertai Lila dalam salah satu acara kunjungan bersama sekolahnya ke Monumen Nasional (Monas).

Ara meraba setiap bagian dari miniatur monumen bersejarah itu. Mencoba menyelami rasa yang didapat. Seketika hampa menguasainya. Baginya, Monas adalah sebuah kerapuhan berbalut emas. Bagaimana tidak, bangunan kokoh nan megah di tengah-tengah belantara beton ibukota itu ternyata menyimpan sejuta duka dan kekosongan hati orang-orang disekitarnya seperti dirinya saat ini. Sejenak keraguan melanda. Benarkah teman-temannya juga merasakan kekosongan hati seperti dirinya ? Tita, teman sesama manager di tempat Ara bekerja adalah seorang single parent yang sudah resmi bercerai dengan sang suami. Kesehariannya, Tita ‘looks so fine’ menurut Ara. Bagaimana dengannya ? Pantaskah dirinya merasa seperti sekarang ini ?

Hampa karena merasa berat untuk berjuang sebagai seorang wanita karir sekaligus ibu yang baik bagi anak dan juga istri yang baik bagi sang suami ? Berdiri tegar sebagai problem solver bagi semua lingkungan dimana ia berada ?

Ara galau saat itu. Galau dalam ketenangan yang selalu ditampilkannya di depan siapa pun, dalam kondisi apapun. Mampukah ia bertahan ?

Tak jarang segudang keraguan akan kesetiaan Arman melanda dirinya. Kalau sudah begini, Ara mencoba untuk berdiam diri lebih lama dari biasanya. Mencoba untuk menyelami dunia pernikahannya dengan Arman yang menginjak usia ke 8. Arman yang walaupun dengan segala keterbatasan waktunya selalu berusaha untuk hadir di tengah-tengah Ara dan Lila, Arman yang tidak pernah lupa mengucapkan selamat ulang tahun ke keluarga besar Ara…ah, seandainya keadaan tidak begini. Seandainya tidak ada pertemuan dengan Dodi waktu itu. Dodi begitu menyita perhatiannya, tapi dalam waktu bersamaan telah pula membuatnya sadar akan arti kebersamaannya dengan Arman dan Lila.

Hidup ini begitu rumit, pikir Ara. Kejadian setahun belakangan ini sama sekali tidak masuk dalam daftar rencana hidupnya.

Pintu ruangan Ara diketuk.

“Maaf, bu” seorang office boy yang biasa dimintai tolong Ara membelikan makan siang datang untuk menawarinya dibelikan makan siang di luar kantor.

Dengan mantap Ara menjawab,”Hari ini saya tidak makan siang di kantor, saya akan keluar kantor sebentar”.

“Baik, bu” sang office boy menjawab seraya meninggalkan ruangan kerja Ara.

Ara menyambar tasnya, dan berlari keluar kantor. Sampai di depan kantor, Ara melambaikan tangan kearah taksi yang dalam waktu singkat menghampirinya.

“Ke Monas, pak”

“Baik, bu”

Ia mengeluarkan handphone dari tasnya dan menekan tombol ‘call’. Tertulis Dodi di layar handphone. Ara ingin membatalkan makan siang bersama Dodi hari ini. Ia ingin sendiri di Monas, itu saja. Dodi ternyata tidak keberatan sama sekali.

Sopir taksi yang melihat Ara sudah tidak disibukkan dengan handphone nya mencoba untuk membuka pembicaraan.

“Malam tahun baru kemana, bu ?”

Ara terhenyak demi mengingat bahwa hari ini adalah tanggal 31 Desember…dan Arman belum ada kabar apakah bisa hari ini tiba di Jakarta untuk merayakan tahun baru bersamanya dan Lila.

“Hmm…belum ada rencana sih, kami sekeluarga kurang biasa merayakan tahun baru di luar rumah” jawab Ara sekenanya.

“Di Monas seperti biasa ada pesta kembang api, bu. Tahun lalu saya ajak anak dan istri saya untuk menonton pentas kembang api di Monas. Bagus, bu, insya Allah ibu dan keluarga tidak rugi”

“Oh, begitu ya pak, terima kasih informasinya”

Sesampainya di Monas, Ara segera membayar ongkos taksi dan bergegas kearah pagar masuk yang membatasi area Monas dengan lapangan parkir kendaraan bermotor.

Berhenti sejenak di pekarangan luas yang mengitari Monas, Ara mencoba menata kembali perasaannya saat itu. Ia merasa Monas angkuh menatapnya. Menjajaki dirinya yang belum juga dapat mendefinisikan keadaannya saat ini.

Ara tidak mengira kemandiriannya sebagai seorang wanita telah menjadi bumerang dalam kehidupannya. Dirinya menyatakan sangat siap dengan segala resiko yang diterimanya waktu Arman mengajaknya berdiskusi tentang promosi jabatan Arman di tempat kerjanya yang bakal mengharuskannya sering meninggalkan rumah. Ara justru mentertawakan Arman saat itu karena baginya hal tersebut bukanlah suatu hal yang mesti dipermasalahkan. Kan ada bik Inah yang bersih-bersih rumah, Lila juga lambat laun akan terbiasa dengan kondisi demikian. Ah, ego atas nama uang !

Ara duduk di tangga marmer, bagian paling bawah museum Monas. Membiarkan rambutnya disapu angin. Menghirup nafas dalam-dalam ia rasakan dapat membuat dirinya lebih nyaman.

Ia mendapatkan apa yang diinginkan wanita seusianya saat ini. Uang, jabatan dan keluarga yang harmonis, setidaknya itulah yang dikatakan orang-orang di sekitarnya. Sampai kemudian ia mulai dihinggapi keraguan. Apakah yang ia cari selama ini ? Berhasilkah ia mendapatkannya ? Benarkah yang sering dikatakan oleh kawan-kawannya tentang kesuksesannya, itukah yang ia damba ?

Dirinya diam tak bersuara.

Sementara ia tahu hanya dirinya lah yang mampu menjawab.

Kini ia merasa Monas menatapnya dengan sayu, mencoba merangkul dirinya yang hampa.

Jakarta, 17 Januari 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s