Bayang-Bayang Hidup

Posted on

Suasana di ruangan itu begitu hikmat. Rina menggerakkan matanya ke kanan dan kiri, menarik nafas dalam-dalam untuk sekedar memastikan bahwa dirinya mampu memupuk rasa percaya diri untuk tampil. Rina merasakan harapan telah diletakkan dipundaknya untuk diemban dengan sepenuh hati diusianya yang baru menginjak 15 tahun ini.

Masih ada sedikit waktu untuk sekedar mengenang saat-saat berharga yang dilaluinya bersama kakak tersayangnya, Rani. Rina melakukan melakukan semua ini tidak hanya untuk dirinya, tapi terutama untuk Rani.

Kerja keras tanpa lelah untuk terus berlatih balet dengan disiplin adalah untuk sesuatu yang hanya dirinyalah yang mengerti.

Sekarang ia berada di panggung ini. Ajang lomba balet tingkat internasional yang didamba oleh banyak orang. Tidak cukup hanya bermodalkan latihan keras untuk dapat mengikuti ajang ini. Perlu semangat dan motivasi kuat untuk dapat menaklukkan peserta lain senegara dalam proses babak penyisihan yang melelahkan.  Dan Rina memiliki itu semua.

Saatnya Rina tampil…

Lagu telah diputar…

Rina melangkahkan kakinya mantap. Perlahan tapi pasti. Alunan irama membuat tubuh, kaki, dan tangannya bergerak gemulai. Menyatu dalam melodi nan indah. Menyeretnya ke dunia antara sadar dan tidak.

Dunia itu adalah pintu masuk ke sebuah hari.

Hari dimana Rani, sang kakak, tergolek lemah di tempat tidur karena leukemia yang dideritanya. Rani yang lincah, manis dan periang terlihat pucat dan lemah. Rina, ayah dan ibu setia menemaninya di rumah sakit bergantian. Bergantian pula kami memutarkan lagu dari kotak musik milik Rani yang berhiaskan boneka balerina yang dapat berputar indah saat musik mulai mengalun.

Menjadi balerina terkenal adalah dambaan Rani sejak kecil. Dambaan yang terlahir dari kesukaan Rani yang sangat pada kotak musik dengan hiasan boneka balerina itu. Mimpi yang belum dapat tercapai hingga akhir hayatnya.

Butuh waktu cukup lama bagi Rina untuk mengobati luka akibat kepergian Rani. Rani yang selalu menghibur Rina dikala sedih, Rani yang selalu menemani dirinya bermain tanpa kenal lelah, Rani yang tidak pernah lupa menasehatinya di kala dirinya sedang butuh pencerahan.

Perbedaan usia yang hanya 2 tahun membuat mereka laksana anak kembar.

Panggung  balet ini, panggung yang didamba Rani, kini bagai alam kehidupan kedua bagi Rina. Denting piano yang melantunkan melodi Beethoven laksana awan cerah yang dihembus angin dan membawa Rina ke sebuah tempat indah. Tempat dimana Rina dapat melihat sebuah taman bunga. Rani sering bercerita tentang sebuah taman bunga yang indah. Inikah yang Rani maksud ?

Rani muncul disana…

Melambai, tersenyum dan menghampirinya. Rani menggandeng tangan Rina ke sebuah pelataran luas nan indah. Rani mengajaknya meliuk indah bak penari balet professional. Ia terlihat bagai dewi turun dari kayangan. Indah, cantik, sulit diungkap dengan kata-kata. Rina mengikutinya. Semua gerakan yang dimainkan. Semua ekspresi yang berusaha ditampilkannya.

Gemuruh tepuk tangan penonton mengakhiri perjalanan dunia bawah sadar Rina. Sedikit senyum gamang berhasil ditampilkannya. Sanubari yang belum lama menyatu dengan raganya. Terangkul kembali oleh kesadaran penuh.

Skor yang tercantum pada papan nilai masing-masing juri mengundang decak kagum penonton.

Medali berlapis emas dikalungkan oleh perwakilan penyelenggara acara ke leher Rina. Berikutnya, karangan bunga oleh pihak pemberi sponsor dan beberapa hadiah lain yang menjadi hak seorang juara. Sebuah kemenangan sejati telah diraih.

Rina menyentuh medali emas yang tergantung di lehernya. Memejamkan mata, berharap bayang-bayang sang kakak hadir kembali di alam sadarnya. Ia tak dapat menemukannya. Perlahan ia membuka matanya. Terlihat jelas air mata haru ayah, ibu dan seorang lelaki separuh baya yang duduk di dekat ayah. Laki-laki yang jasanya tidak akan Rina lupakan seumur hidupnya.

Ialah dokter Lukman, yang telah membantunya melalui hari-hari berat itu. Bekerjasama dengan orang tuanya untuk membantunya meraih jati dirinya kembali. Jati diri yang hilang bersama kepergian sang kakak. Semangat hidup yang luluh lantak. Tubuh Rina berisi jiwa Rani, bukan dirinya. Keputusasaan membelenggu. Jiwanya yang labil, rapuh dan enggan menuai asa.

Mau tidak mau dirinya harus menjalani perawatan intensif dibawah bimbingan seorang dokter ahli jiwa, yang bernama dokter Lukman ini. Dokter yang telah setia menjadi teman berkeluh-kesah. Tak henti ayah dan ibu berdoa untuk kembalinya jiwa Rina yang telah mendua, yang atas kehendaknya sendiri menjadikan sebagian dirinya adalah diri sang kakak, Rani.

Kini medali telah ditangan. Asa yang sempat tertinggal telah diraih. Dirinya sendiri yang telah meraih kemenangan itu. Bukan orang lain. Bukan pula sang kakak tercinta.

Sang kakak telah tenang di alam keabadian.

Rina harus meyakini itu.

Meyakini sebuah kebahagiaan abadi yang tak teraih oleh akal manusia.

Hari ini, hari terakhir di bulan Januari yang cerah, Rina melangkah tegap menuju ruang praktek dokter Lukman untuk terakhir kalinya. Ya, terakhir kalinya. Setidaknya, itulah harapan tertingginya saat ini.

Jakarta, Februari 2011

Iklan

2 thoughts on “Bayang-Bayang Hidup

    rachel said:
    September 23, 2011 pukul 1:10 pm

    So Good… 🙂

      nastitidenny responded:
      September 23, 2011 pukul 1:21 pm

      Thank u Rachel… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s