Eliana – Memelihara Alam Melalui Cerita

Posted on

Eliana (Serial Anak-Anak Mamak) - Penulis : Tere Liye“Anak-anak, esok lusa ketika sudah besar, kalian akan menemukan segolongan orang yang pekerjaannya selalu merusak. Ketika dinasihati agar janganlah berbuat kerusakan, mereka dengan pintarnya menjawab, kami justru sedang berbuat kebaikan. Kami membawa kesejahteraan, melakukan pembangunan. Sejatinya, merekalah perusak itu… Esok lusa, akan lebih banyak lagi orang kota rakus yang berdatangan. Maka ketika itu terjadi, camkan kalimatku ini, jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki,maka setidaknya, janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang.Dukung orang-orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih baik”

Kalimat bijak diatas adalah kutipan nasihat seorang guru mengaji kepada sekelompok muridnya, diantaranya adalah Eliana, yang menjadi tokoh utama di dalam novel ini. Eliana, anak nomor satu sebuah keluarga petani di pedalaman Sumatera Selatan adalah satu contoh dari sekian banyak anak Indonesia yang berada di lingkungan dimana perhatian pemerintah pusat menjadi barang yang sulit ditemukan. Dikesampingkannya kondisi alam di tempat tinggalnya tidak menyurutkan Eliana, teman-teman, dan keluarganya untuk turut berjuang di garda depan dalam mendukung konservasi alam di daerahnya.

Tere Liye berhasil meramu sebuah kisah masa kecil penuh petualangan dengan misi pelestarian kekayaan alam Indonesia dengan indah. Eliana kecil, dengan segala keterbatasannya, telah berhasil menjadi cermin bagi teman-teman satu sekolahnya, guru sekolah, dan masyarakat di desa nya tentang arti penting sebuah pendirian yang nantinya menjadi pondasi kuat sebuah cita-cita mulia.

Menjadi salah satu dari sekian banyak novel yang berbicara mengenai konservasi alam, novel ini menjadi menarik karena ternyata banyak hal sederhana dapat dilakukan guru dan anak-anak didiknya untuk tidak hanya menyadarkan pemerintah di negaranya akan pentingnya pelestarian alam, tetapi juga membuat masyarakat setempat merasa bangga akan kekayaan alamnya. Rasa yang makin hari semakin menjadi barang mahal di negeri ini.

Novel ini sarat dengan pesan moral bahwa menukar kekayaan alam dengan uang adalah sebuah tindakan yang harus selalu dipertimbangkan dengan matang. Juga mengingatkan selalu akan harga yang mesti dibayar oleh sebuah eksplorasi berlebihan terhadap kekayaan alam. Demikian kira-kira yang ingin disampaikan oleh sang pengarang kepada pembacanya.

Paman Unus menyentuh bahuku, menatapku lamat-lamat,”Kau lupa satu hal, Eli. Kau lupa kalimat itu. Bukankah sudah pernah Paman katakan, Ada suatu masa diantara masa-masa. Ada suatu musim, diantara musim-musim. Saat ketika alam memberikan perlawanan sendiri. Saat ketika hutan, sungai, lembah, membalas sendiri para perusaknya. Berapa usia tambang pasir itu ? Sembilan bulan ? Percayalah.”

Jakarta, 26 April 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s