Becus Nggak Becus

Posted on

Manusia melewatkan banyak hari dalam hidupnya. Dan seorang ibu rumah tangga seperti saya, tentunya mempunyai hari-hari yang melibatkan perasaan standard sebagaimana mestinya sebagai seorang ibu, yaitu : merasa bangga atas prestasi anak-anak yang secara tidak langsung akan berimbas ke reputasi ibunya, suka dipuji dan mendengar cerita teman-teman tentang kebaikan diri sendiri, dan yang terakhir, tidak ingin dijelekkan atau dikecewakan oleh siapapun (well, sebenarnya 3 hal tadi sama saja, bukan ?). Intinya adalah perasaan senang dan tidak senang. Atau bahagia dan tidak bahagia. Mana yang lebih benar, silakan pembaca memilih dan memilah sendiri.

Yang saya ingin ceritakan disini adalah hari dimana perasaan saya tidak termasuk dalam salah satu kategori diatas. Hari dimana perasaan, ekspresi, tangan, kaki sepertinya tidak ingin berfungsi sebagaimana biasa (maaf, meskipun lebay, tapi tetap saja saya bukan alien ya).

Hari itu adalah hari dimana matahari bersinar sangat cerah (baca: panas) di Jakarta Raya ini. Jadwal saya hari itu adalah melepas kakak tercinta untuk berangkat menunaikan ibadah haji di bandara Soekarno Hatta pukul 13.00 siang. Berarti saya mesti sudah berangkat dari rumah paling lambat pukul 12.00.

Sebagaimana layaknya melepas keberangkatan haji saudara dan kerabat yang lain, alangkah bahagianya mereka apabila kami yang melepas kepergiannya datang sekeluarga. Atau, paling tidak, di kasus saya ini adalah anak saya yang dua orang itu turut pergi ke bandara Soekarno Hatta karena suami saya sedang di luar kota. Anak-anak sudah pasti bahagia demi mendengar rencana tersebut karena berarti mereka akan pulang sekolah lebih awal dari biasanya.

Berikut kita memasuki inti ceritanya.

Anak bungsu saya saat itu adalah makhluk yang paling berbahagia dengan kegiatan ‘pulang lebih awal’ itu. Meskipun wajahnya tampak biasa saja pada waktu saya meminta ijin gurunya (yang biasa dipanggil Ustadz karena mengajar tahfidz Al-Quran) untuk tidak dapat melanjutkan mengikuti pelajaran di sekolah sebelum jam istirahat pertama, begitu sampai di luar kelas ekspresi bahagia terpancar dengan jelas di wajahnya. Setengah berlari sambil melompat-lompat kecil adalah ungkapan kebahagiaan yang tidak perlu diucap oleh bungsu saya yang satu ini.

Agak jauh dari ruang kelasnya, ia memulai sebuah pembicaraan dengan saya, lengkap dengan ekspresi ceria plus bangga yang membuat saya selalu ingin tersenyum bahagia.

Begini katanya,”Bunda, tadi aku udah bilang sama Ustadz kalo kata ibuku, Ustadz itu ngajarnya nggak becus !”. Senyum nakal masih menghiasi wajahnya sampai kata di akhir kalimat tadi.

Sementara saya ? (Wait a moment, saya benar-benar harus mencerna dulu situasi ini lebih dalam). Saya dengan senyum saya, dan si bungsu juga dengan senyumnya. Mungkin kalau masing-masing senyum dijadikan individu, lebih banyak yang harus pandai-pandai menata perasaan menghadapi kicauan si bungsu kali ini (kewajiban mengisi kata-kata puitis penuh metafora memang harus terjadi di setiap karya tulis, bukan ?). Kenyataannya, sudah tentu tidaklah sedramastis itu.

Kenyataannya adalah, dengan sigap dan serta merta, saya menatap wajah si bungsu bingung sambil bertanya,”Siapa yang bilang gitu ? Emang bunda pernah bilang gitu ? Nggak pernah lho, dik..”.

Si bungsu dengan tenang menjawab,”Pernah, bundaaaa….bunda nggak ingat ya ?”.

Bahkan diingatan saya yang paling absurd sekalipun, saya tidak pernah membayangkan kata-kata semacam itu terlontar dari mulut saya. Tidak mungkin ! Impossible ! Ora bakal ! Sejak kapan saya merasa sangat sok pintar ? (seharusnya adalah : sejak kapan saya merasa tidak pintar ? maaf, jangan diambil hati, cuma intermezzo). Meskipun demikian, percakapan masih terus berlanjut.

Saya ganti bertanya,”Lalu Ustadz bilang apa ?”.

Dengan ringan bungsu saya menjawab,”Ustadz cuma tanya, ibunya yang mana sih orangnya ? gitu doank..”.

Hahh ?? ‘gitu’ dan ‘doank’ nya itu adalah dua kata yang sangat tidak bisa saya terima.

Sore hari sepulang dari bandara, bahkan sewaktu di bandara rencana itu terngiang-ngiang menanti untuk dilakukan, saya segera menelpon  sang ustadz untuk meminta maaf sekaligus ‘setor muka’ (walaupun melalui telpon muka saya tidak keliatan) sebelum saya lah yang dipaksa untuk menyetorkan muka di sekolah nantinya. Ternyata, sang ustadz adalah sosok sabar yang dengan penuh pengertian menjelaskan kepada saya bahwa hal tersebut ‘sangat biasa’ dilakukan murid-muridnya di sekolah karena beliau memang tidak menghendaki sistem pembelajaran jaman dulu yang mengandalkan slogan ‘murid harus takut pada guru’.

Murid memang tidak harus ‘takut’ pada guru. Tetapi menurut saya, tetap harus ada satu batasan dimana seorang guru mampu dihormati dan dihargai selayaknya seorang yang dengan ikhlas mengemban tugas berat mempersiapkan generasi muda harapan bangsa. Mungkin kondisi dihormati dan menghormati ini memang mesti datang dari kedua belah pihak. Sang guru dengan usaha membangun wibawa untuk tetap dapat menjadi sosok yang layak dihormati dan sang murid dengan pemahaman bahwa menghormati orang lain adalah bagian dari kehidupan sebuah bangsa yang ingin maju tanpa merasa terkekang dan jauh dari kondisi modern yang ada saat ini.

Kembali ke percakapan ibu dan anak di awal tadi, sungguh saya tidak mengira kalimat yang cukup drastis tersebut dapat mengalir dari mulut kecil anak saya. Meskipun demikian, mungkinkah si bungsu dapat mengucapkan kalimat tersebut tanpa sebuah latar belakang ? Bukan dari sinetron, bukan pula dari cerita teman-teman sekelasnya karena mempertaruhkan nama ibunya di hadapan seorang ustadz bukanlah lelucon seorang anak kelas 1 SD.  Belum selesai masalah yang satu ini terpecahkan, anak sulung saya, demi mendengar permintaan maaf saya kepada sang ustadz, dengan bangganya mengoceh kalau saya sebenarnya tidak perlu meminta maaf untuk kasus serupa.

“Itu biasa banget, lagii…” katanya. “Guru matematikaku aja sering aku katain ‘jayus’ di kelas”.

“What does it mean ?” kata saya.

“Jayus ituu…suka melucu tapi nggak lucu ! Padahal aku sama teman-temanku itu udah berulang kali bilang…misterrr, mister itu nggak lucu, jadi udah deh, nggak usah susah payah melucu ! Ehh..tetep aja dia melucu. Payah deh tuh orang”.

Hati saya mengaduh perlahan. Salah siapa kalau begini.

Jawabannya segera datang ke ruang menonton tv di rumah saya keesokan harinya. Tepatnya di sore hari pada waktu saya menemani anak-anak mengulang hafalan tahfidz di rumah. Pada waktu saya membetulkan salah satu bacaan si bungsu yang saya anggap keliru, terpecahkanlah misteri ‘Kata Ibu Saya Ustadz Ngajarnya Nggak Becus’ itu. Jadi, menurut si bungsu, ada masa, entah beberapa kali pada waktu mereka mengulang hafalan tahfidz Quran di rumah bersama saya, tiap kali mereka membaca terlalu cepat dan tidak mau saya betulkan, dengan kesal saya mengungkapkan betapa kecewa saya dengan guru-guru mereka di sekolah. Mengeluh panjang lebar tentang seharusnya sang guru bisa begini-bisa begitu, dan bukan seperti ini. Melemparkan kesalahan adalah hal yang sangat mudah dan menyenangkan memang untuk dilakukan. Kicauan bertubi-tubi saya (pastinya dengan gaya sok pintar andalan saya) dalam menanggapi pola mengajar gurunya itulah yang akhirnya disimpulkan oleh si bungsu sebagai ‘ngajarnya nggak becus’. Bagaimana dia tidak bangga menyampaikannya kepada sang ustadz, itu adalah bagian dari ‘amanat tidak langsung’ ibunya.

Becus-Nggak Becus mungkin adalah sebuah gambar abstrak yang sangat bergantung dari mana kita memandangnya, berdasarkan kepentingan yang mana dan siapa, dan landasan ideologi masing-masing orang yang berbeda-beda.

Yang pasti hari itu, saya, manusia dengan pemahaman agama yang masih dangkal dan kemampuan membaca Al-Quran yang sangat pas-pasan, selesai mendengar penjelasan singkat anak bungsu saya, merasa layak menyandang predikat “Nggak Becus”.

Jakarta, Oktober 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s