Pakai Bahasa Apa ?

Posted on

Mal-mal yang bertebaran di seluruh penjuru Jakarta ini tidak disangkal lagi telah berhasil menjadi tujuan wisata atau tempat untuk sekedar menyalurkan hobi apapun di dalamnya. Yang saya maksud disini tentunya tidak jauh-jauh dari beragam hobi yang bisa disalurkan di tempat tersebut, seperti : hobi belanja, sekedar jalan-jalan sambil ‘window shopping’ ataupun sesuatu yang berhubungan dengan olah raga seperti gym.

Ada satu mal di Jakarta yang menawarkan sesuatu yang tidak ada atau setidaknya tidak selalu ada di mal yang lain. Tempat itu adalah mal dimana pengunjungnya dapat memuaskan diri memandang es. Maaf, bukan maksud saya mau bercerita tentang es dalam konteks minuman ataupun makanan pencuci mulut, tapi es dalam arti sesungguhnya. Sebuah arena beralaskan es lebih tepatnya. Tempat ratusan anak muda setiap harinya melepas penat setelah lelah belajar dengan ber-ice skating-ria.

Alkisah selama beberapa bulan dalam tahun 2010 lalu, kedua bidadari saya yang duduk di kelas 1 dan 4 SD ini benar-benar kecanduan dengan aktifitas yang satu itu. Ya, ice skating itu tadi. Banyak alasan direka demi mendapatkan ijin dari orang tuanya untuk diperbolehkan pergi ke mal tersebut sesering mungkin dan memuaskan diri berselancar disana. Yang refreshing lah (memang se-stress apa sih anak SD ?), yang janjian sama teman-temannya lah (wow, dulu ibu bapaknya paling banter janjian di rumah teman masing-masing buat bermain petak umpet) dan lain lain yang penting keinginan terpenuhi.

Suatu hari di hari libur kenaikan kelas, ke2 bidadari saya berhasil membujuk rayu ibunya untuk mengantar mereka bermain (atau berolah raga, entah mana yang lebih tepat) ice skating. Sejujurnya, ke tempat-tempat seperti itu di waktu libur sekolah anak-anak adalah permintaan yang sepantasnya (baca : seharusnya) langsung ditolak. Mengingat penuh sesaknya tempat-tempat bermain di Jakarta yang tidak hanya dipenuhi oleh penduduk Jakarta tapi juga para pendatang yang ingin berlibur di Jakarta (buat para urban dadakan yang datang untuk berlibur di Jakarta, yakinlah banyak sekali tempat di Indonesia yang lebih layak untuk dijadikan tempat berlibur ketimbang Jakarta…tapi punya hak apa saya menyarankan begini ?).

Singkat kata, perjalanan penuh kesabaran sang ibu dan ke2 bidadarinya akhirnya menghantar mereka terdampar di ruang tunggu dekat loket pembayaran tiket untuk berselancar di atas es itu. Selesai membereskan keperluan administrasi pembayaran di loket, yang mesti dilakukan oleh siapapun yang menghendaki dibantu oleh pelatih pada 30 menit pertama adalah menukar tiket dengan sepatu khusus untuk skater dan menanti di ruang tunggu yang disediakan, untuk kemudian dipanggil setelah sang pelatih siap di tempat. Waktu menunggu itu biasanya kami pakai untuk melihat-lihat pemandangan di sekitar. Berikut yang saya maksud dengan pemandangan : anak-anak kecil yang hilir mudik bersama orang tuanya untuk menukar tiket dengan sepatu, para pelatih yang dengan sabar menggandeng tangan muridnya, dan para orang tua yang sibuk membeli makanan pengganjal perut. Mengharapkan pemandangan alam nan indah penuh pepohonan adalah kesalahan terbesar penduduk Jakarta.

Akhirnya, tibalah saat bidadari kecil saya berselancar dengan didampingi oleh pelatih untuk 30 menit pertama saja. Seorang wanita muda yang ramah menghampiri saya mengatakan kalau dirinyalah yang akan mendampingi salah satu anak saya berskating ria hari itu.

Sebelum mencoba bercakap-cakap dengan anak saya, dengan mantap pelatih wanita ini bertanya pada saya,”Anak-anak biasa bicara pakai bahasa apa ya ?”.

Dengan mantap pula saya balik bertanya,”Maaf, maksudnya ?” (Saya, orang Indonesia asli, dengan kulit tidak mewakili bangsa bule manapun, ditanya anak-anaknya berbahasa apa ? Saya salah dengar ? Sepertinya tidak, sang penanya cuma berjarak sekian centimeter dari saya).

Kemudian ia menjelaskan dengan sabar bahwa cukup banyak anak-anak pribumi (kata lain dari bangsa kita sendiri yaitu Indonesia) yang tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari dan di rumahnya masing-masing, sudah tentu yang dimaksud adalah ‘apakah bahasa Inggris diperlukan dalam pergaulan dengan anak-anak saya ?’. Sekiranya diperlukan, ia bersedia menyesuaikan diri. Ohh, begitu ya, dalam hati saya. Senyum khas ala warga negara Indonesia dan penjelasan singkat ‘ah, biasa, pakai bahasa Indonesia saja’ dari saya telah memantapkan langkah sang pelatih untuk berjalan ke arena ice skating dengan sebelah tangan menggandeng tangan anak saya.

Seperti layaknya film-film dimana sang aktor atau aktris melayangkan ingatannya pada kejadian beberapa tahun yang lalu untuk film dengan jenis alur flash back, saya pun selama penantian di ruang tunggu arena ice skating mengalami hal yang sama (mohon dicatat, saya bukan aktris, cuma pengkhayal kelas berat).

Ingatan saya kali ini melayang ke beberapa tahun silam, di saat saya dan anak-anak harus meninggalkan tanah air tercinta untuk menemani suami yang sedang menuntut ilmu di negeri kangguru. Kami tinggal di sebuah apartemen yang dijaga (sebutan untuk penjaganya adalah caretaker) oleh warga Italia asli yang sudah cukup lama bermukim di Australia. Karena sebuah tugas ‘menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia’ anaknya yang mengambil studi bahasa Indonesia di sebuah universitas di Australia, sang caretaker ini menjadi cukup akrab dengan kami sekeluarga. Beliau banyak bercerita tentang kehidupan keluarganya. Diantara sekian banyak ceritanya, ada sebuah cerita yang menarik bagi kami, warga sebuah negara yang masuk kategori ‘negara dunia ke3’. Sebuah cerita tentang ‘berbahasa’.

Diceritakan oleh sang caretaker, kalau meskipun ia dan istrinya adalah orang Italia asli, ke3 anaknya lahir dan besar di Australia. Sejak kehidupan anak-anaknya dimulai, bahasa Inggris (ala Australia tentunya) adalah bahasa keseharian dan pergaulan dimanapun anak-anaknya berada. Meskipun demikian, ia menekankan kepada kami, di rumah, dan dalam pergaulan dengan kerabatnya, mereka haruslah menggunakan bahasa ibunya, yaitu bahasa Italia. Berikutnya, ia berusaha menjelaskan dengan gamblang betapa penguasaan akan bahasa ibu tidak pernah boleh tertinggal. Dimana pun mereka berada, bahasa pergaulan apa pun yang mereka dapatkan, bahasa ibu negaranya tetap harus dijaga kelestariannya. Alasannya sangat mudah, siapa lagi yang dapat diharapkan untuk melestarikan kekayaan sebuah bangsa kalau bukan bangsanya sendiri ?

Lah, saya dan anak-anak barusan, cuma main ke mal yang hanya berjarak beberapa menit dari tempat tinggal kami, jelas masih di negara sendiri, tidak perlu paspor untuk bisa masuk ke dalamnya, kenapa ditanya ‘pakai bahasa apa’ ya ?

Lamunan saya buyar seiring dengan langkah kecil ke2 bidadari saya yang sudah kelelahan minta segera pulang…

Jakarta, medio 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s