Cerita Hujan

Posted on

Ali berdiri tegak di sebuah tanah lapang dekat tempat tinggalnya. Mencoba menghirup dalam-dalam udara basah yang mengelilinginya. Hampir hujan, pikirnya. Saat yang dinantinya satu minggu belakangan ini. Makin lama angin makin kencang menyapu wajah dan rambutnya. Senyum di wajahnya mengembang. Tanpa alas kaki, ia berusaha merasakan aliran udara dingin bergerak ke atas dari telapak kakinya. Akhirnya hujan turun perlahan. Bulir-bulir air menetesi wajah, rambut, dan sekujur tubuhnya. Sempurna, hatinya berkata. Sesempurna kisah yang dialaminya selama 25 tahun waktu berjalan di kehidupannya.

***

Ali kecil, di usianya yang ke 5, telah merasakan kerasnya belantara beton Jakarta menempa setiap makhluk yang mencoba menantang kehidupan disana. Bersama teman-temannya, ia mengisi hari-harinya dengan berpindah dari satu angkutan umum ke angkutan umum berikutnya untuk mengais rejeki lewat bernyanyi. Ali dan teman-teman bukanlah penyanyi terlatih yang mengerti tangga nada dalam irama lagu. Mereka adalah sekelompok anak-anak yang mencoba membantu mendidihkan periuk nasi orang tuanya lewat bernyanyi di jalan. Mungkin kurang tepat juga bila disebut bernyanyi, lebih tepat disebut mengeluarkan suara seadanya diiringi doa semoga cukup menghibur. Sebagian penumpang angkutan umum lantas biasanya mengeluarkan receh untuk dimasukkan ke dalam plastik kumal yang diedarkan oleh Ali ke masing-masing penumpang. Pastinya bukan karena merasa terhibur, tetapi lebih karena rasa kasihan.

Terkadang hasil dari mengamen cukup untuk makan siang sebungkus nasi untuk berdua. Namun ada kalanya, habis ditangan preman-preman stasiun tempat Ali dan teman-teman mengadu nasib. Yang membuat Ali paling bahagia adalah saat ia dapat membelikan makan siang 2 bungkus nasi yang akan dibawanya pulang untuk dimakan oleh ke empat adiknya. Ayahnya yang pemulung dan ibunya yang menyediakan jasa mencuci dan bersih-bersih rumah itu penghasilannya tidak menentu.

Ali kurang peduli dengan berapa dan apa yang didapat oleh kedua orang tuanya kala itu. Yang ia tahu adalah ia bahagia dapat berkeliaran di jalan kapan saja ia mau. Ada kalanya ia pergi mencari nafkah dengan mengajak adiknya yang baru berumur 2 tahun karena menurutnya adiknya ini membawa rejeki. Lebih banyak orang memberinya receh kalau ia mengajak adiknya serta, katanya.

Diusianya yang ke 7, Ali sudah lebih mahir mencari nafkah di jalan. Selain mengamen di angkutan umum, Ali juga menjadi jasa ojeg payung di sebuah pelataran hotel atau pusat perbelanjaan saat hujan. Tidak ada keharusan dimana ia berada. Yang penting, uang di tangan, ujarnya kala teman-temannya bertanya mau kemana mereka hari ini. Makian sopir-sopir kendaraan pribadi telah menjadi makanannya sehari-hari kala sebagian dari mereka merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak jalanan yang lalu lalang menghalangi jalan yang akan mereka lalui.

Ali, anak sulung dari 5 bersaudara, belum bisa bersekolah hingga usianya yang ke 7. Disaat anak-anak seusianya sudah bermimpi untuk mengenakan seragam putih merah lengkap dengan topinya, menjinjing tas sekolah dengan buku-buku bergambar menarik. Ali tidak meminta lebih dari pada kehidupannya saat ini. Ia sangat mengerti, lebih dari itu bahkan, bahwa mungkin dirinya akan selamanya mengais rejeki di jalan. Menghidupi keluarganya yang juga bahu membahu menghidupi dirinya.

Namun perih didada saat melihat sekelompok anak-anak seusianya berangkat sekolah adalah sebuah perasaan yang tidak dapat ia hindari. Sampai kapan luka ini akan terus menganga, tanyanya pada diri sendiri. Ia kerap menangis dalam hening malam. Berdoa entah untuk memohon agar dirinya dan keluarganya segera mendapatkan kehidupan yang lebih baik, atau hanya sekedar meminta sakit di dalam dadanya di sembuhkan oleh Sang Maha Memberi. Sampai akhirnya ia lelah dan tertidur.

Makin hari ternyata stasiun, pelataran hotel, dan pusat-pusat perbelanjaan makin di padati oleh anak-anak seusianya. Mencari rejeki dengan cara yang sama. Ali tidak habis pikir, mengapa jumlahnya sekarang makin banyak ? Tidakkah sekolah atau membantu orang tua di rumah lebih nyaman ketimbang berkeliaran di jalan seperti dirinya ?

Mau tidak mau, Ali harus menggunakan cara yang Tono, teman yang lebih tua, biasa lakukan. Memanfaatkan situasi, ujar Tono. Jadi orang harus jeli melihat peluang, lanjutnya. Kalau kita yang sudah lebih dulu mangkal disini berarti kita berhak untuk meminta upeti dari anak-anak baru ingusan itu, kata Tono lagi seperti memberi pelajaran singkat padanya. Bagi Ali, hal itu masuk di akal. Dirinya dan teman-temannya tidak dapat tersingkirkan begitu saja. Bukankah anak-anak jalanan baru itu mendapatkan penghasilan dari lahan yang sudah lebih dahulu ia dan teman-temannya buka ? Jadi kenapa juga mereka tidak layak mengucapkan rasa terima kasih berupa uang ?

Tono banyak mengajarkan pada Ali cara ‘meminta rasa terima kasih’ secara paksa dari anak-anak jalanan baru itu. Demikian berlangsung terus hingga Ali merasa bahwa hal tersebut dapat menjadi mata pencaharian baru. Tidak usah capek memberikan jasa. Cukup meminta anak lain untuk membagi sebagian atau terkadang seluruh penghasilan yang didapatnya hari itu.

Ada kalanya hari-hari Ali terganggu oleh kehadiran sekelompok polisi yang bertugas mentertibkan anak-anak jalanan sepertinya. Mereka membawa pentungan, berlari-lari mengejarnya dan teman-temannya hingga mereka kelelahan mencari tempat untuk bersembunyi. Pernah salah satu teman Ali, Anton namanya, tertangkap polisi dan dibawa dengan mobil bak terbuka entah kemana. Tidak ada yang dapat dilakukan Ali kecuali memberi kabar kepada orang tua Anton bahwa Anton tertangkap polisi. Rasa kehilangan seorang teman yang semula sering membuatnya sedih dan sendiri, perlahan hilang. Memang begini nasib kaum sepertinya. Tidak bisa menuntut lebih. Yang dapat dilakukan adalah bertahan hidup. Peduli apa para polisi itu dengan hidupnya. Mereka tidak memberinya jalan keluar apapun untuk mengatasi kesulitan hidup yang dihadapinya. Ia harus bertahan. Demi dirinya, demi keluarganya.

Meskipun Ali belum pernah mengenyam bangku sekolah, ia beruntung ada seorang relawan yang sering mengisi waktu luangnya untuk memberikan pelajaran membaca dan berhitung di sebuah bangunan kecil di dekat rumah triplek keluarganya. Mas Budi, namanya.

Dari mas Budi itu pula Ali akhirnya berkenalan dengan seorang konglomerat yang memberinya pekerjaan tetap hingga saat ini.

 ***

Ali mencoba merasakan derasnya hujan yang menerpa wajah dan tubuhnya entah untuk kesekian kalinya. Tetesan air yang menghujam kulitnya terkadang seperti jarum tajam yang siap melukainya kapan saja. Sakit kadang terasa, lama-lama hilang. Beginilah hidup harus dijalani. Tidak ada yang mudah, tidak pula ada yang terlalu sulit. Hanya perlu keteguhan hati dalam menjalaninya. Keteguhan itu pula yang ia abdikan kepada seseorang. Seseorang yang ia ingin namanya tak lagi ada dalam kehidupannya. Sekarang dan seterusnya.

 ***

Banyak yang bertanya-tanya mengapa Ali yang diajak pergi oleh sang konglomerat untuk disekolahkan, sementara ada cukup banyak anak yang perlu dan ingin bersekolah di perkampungan kumuh itu. Kata ajudan sang konglomerat, Ali dilihat mempunyai kesungguhan dan ketekunan yang tidak dimiliki oleh anak seusianya. Hanya itu. Setelah berpamitan dengan orang tua dan adik-adiknya, Ali pergi untuk tinggal dan bersekolah di tempat konglomerat itu tinggal. Sungguh perpisahan yang tidak pernah Ali kehendaki. Ia tak kuasa untuk tidak dapat lagi melihat tatapan sayu kedua orang tuanya yang kelelahan, celoteh adik-adiknya yang berebut minta jatah jajan, dan segudang kenangan yang mungkin bagi orang lain yang tidak semiskin mereka sangatlah tidak menyenangkan. Tapi bagi Ali, keluarganya adalah segalanya. Itu pula yang membuatnya bertekad untuk bersekolah dengan biaya bantuan dari sang konglomerat. Demi keluarganya. Kapan lagi, pikirnya.

 ***

Tubuhnya kali ini menggigil diterpa hujan deras. Ia dapat merasakan gemetar kakinya menopang tubuhnya yang sedikit demi sedikit menolak untuk terus-menerus diterpa angin kencang dan hujan yang tak henti turun. Wajahnya tidak hanya dibasahi tetes air hujan. Tetapi juga air matanya sendiri. Mengalir tidak kalah derasnya dengan terpaan hujan kali ini. Senyum di wajahnya hilang sama sekali. Justru di saat ingatannya membawanya ke sebuah gambar masa lalu di saat dirinya mendapatkan yang sebagian besar orang biasa menyebutnya sebagai kemakmuran.

 ***

“Apa lagi yang mereka minta ?!” hardik Ali kepada anak buahnya.

“Harga beli yang kita tawarkan sudah lebih dari cukup untuk ongkos pulang kampung mereka dan membangun rumah di desanya !” Ia melanjutkan.

“Mereka tidak menginginkan tanahnya diambil, Pak. Mereka menolak menjual kepada siapapun” ujar anak buahnya.

“Mereka tidak memberi kita pilihan. Laksanakan ‘plan B’, kita tidak lagi punya banyak waktu !” perintah Ali singkat.

Sang konglomerat tersenyum melihat hasil pekerjaan Ali. Lahan yang semula berupa perkampungan kumuh kini sudah siap untuk menjadi sebuah apartemen indah. Bukankah memperindah kota adalah tanggung jawabnya juga, pikir sang konglomerat lega. Lagi-lagi ia harus memberikan penghargaan yang setimpal untuk Ali dan keluarganya. Bekerja untuk memuluskan semua proyek-proyek yang sedang dan ingin dibangun olehnya bukanlah pekerjaan mudah. Selama kurang lebih 10 tahun belakangan ini, hanya Ali yang mampu melakukannya. Tanpa cacat, tanpa cela.

***

Yang Ali ingat hari itu hanya satu. Satu kalimat yang terlontar dari mulut ibunya. Seorang wanita yang menyebabkan dirinya dapat menghirup udara di dunia ini.

“Ali, ayahmu tak sanggup menanggung beban pikiran bahwa anak sulungnya yang dibanggakan ternyata seseorang yang tega mencampakkan orang-orang kurang mampu seperti dirinya dulu”.

Ia memang tidak pernah berterus terang kepada orang tua dan adik-adiknya selama ini. Pakaian dinas rapi yang selalu dikenakannya setiap kali berkunjung ke rumah orang tuanya yang telah pindah ke sebuah perumahan sederhana telah berhasil meyakinkan orang tuanya akan ke’mulia’an pekerjaannya.

“Bapak ibu tidak perlu lagi khawatir”, ujarnya,”kita akan segera menikmati rumah yang selama ini kita idam-idamkan, yang hanya ada di dongeng dan mimpi-mimpi kita dulu”.

Dan yang terjadi ternyata memang benar adanya. Kenyataan bahwa rumah yang mereka idamkan hanya akan ada di dalam mimpi mereka. 2 bulan semenjak ayah Ali sakit keras demi menanggung pilu, beliau meninggalkan alam fana ini. Membuat anak sulungnya tersungkur dalam kehampaan jiwa.

 ***

Ia berdiri limbung kali ini. Akhirnya terduduk di tanah lapang. Yang ada selama ini di hidupnya hanyalah berjuang dan berjuang. Adakah yang lain lebih penting dari pada itu ? Mengapa harus ayah, mengapa bukan orang lain yang tidak setuju dengan apa yang ia kerjakan sehingga akan lebih mudah baginya untuk menghadapinya ? Masih adakah kesempatan untuk bertobat, bisik hatinya. Aku ingin ! Sungguh aku ingin ! Petir bersahutan seolah menjawab keinginannya. Ia berdiri, ingin berlari kencang melepas segala penat jiwanya. Sayang, dirinya tidak lagi bisa melakukannya… Meski hujan masih setia menemani.

 ***

Keesokan harinya.

“Abaaaah…abaaaah…” seorang anak kecil berlari panik menghampiri ayahnya yang baru selesai sholat Dhuha.

“Ada apa, pagi-pagi teriak-teriak. Sudah sholat, Udin ?”

Yang dipanggil Udin tidak menghiraukan, nafasnya benar-benar tersengal-sengal disela keinginannya untuk berbicara dengan sang abah,”Abah, a-a-ada ma-ma-mayat di lapangan rumput dekat masjid !”

Kedua ayah dan anak itu berlari menuju tanah lapang yang dimaksud.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Masya Allah…ini kan mandor proyek apartemen baru yang sedang di bangun di dekat masjid itu. Kalau tidak salah biasa dipanggil Bos Ali. Abah sering melihat dia memeriksa pekerjaan anak buahnya. Cepat, Din, panggil penduduk yang bisa angkut badannya. Kita mandikan dulu untuk kemudian segera disholatkan di masjid”.

Jakarta, 6 Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s