My Neo Megalith (Jaman Batu Prasejarah Saya)

Posted on

Kecurian. Satu kata yang berkonotasi kehilangan ini menghampiri saya beberapa bulan yang lalu. Bagi sebagian anak muda, mungkin kata yang satu ini dapat berkonotasi “positif-romantis” saat yang dimaksud dengan kecurian adalah “kecurian hati”. Indah katanya. Tetapi, bagi saya, makhluk primata berjalan tegak yang menjadikan menulis sebuah kebutuhan primer setiap harinya, kehilangan kali ini sungguh menjungkirbalikkan peradaban di rumah saya.

Ya, saya pernah kecurian laptop. Betul, primata-primata lain di Jakarta juga mengalaminya. Yang kecurian di lapangan parkir sebuah mal padahal mobil dalam keadaan terkunci dan keberadaan laptop tersebut sudah disembunyikan sedemikian rupa sehingga tidak terlihat dari luar lah, yang kecurian di dalam angkutan umum lah, dan beragam cerita sedih tentang cara kehilangan laptop hasil karya maling-maling professional Jakarta. Ada kalanya kemarahan menggelegak demi mendengar kisah-kisah tersebut. Namun, setiap kali mengingat betapa banyak penduduk Jakarta yang tidak kebagian tempat bekerja dengan penghasilan cukup, rasanya miris benar untuk kemudian membayangkan bahwa setiap saat bagian dari harta milik yang berkecukupan haruslah direlakan untuk dicuri demi membuat periuk nasi sebagian masyarakat lain yang membutuhkan, mengepul. Ah, itu hanyalah ketakutan sesaat saya saja. Bukankah tiap agama mengajarkan manusia untuk berusaha, bekerja keras dan berdoa untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya, dan bukan mencuri ? Bukan pula harta si kaya dapat diambil dengan paksa oleh si miskin, melainkan si kaya harus menyantuninya melalui mekanisme zakat, sedekah dan pengumpulan pajak ?

Yang jelas, kecurian laptop yang saya alami kurang lebih 4 bulan yang lalu, seperti kata saya diatas tadi, telah berhasil mengubah hidup saya untuk setidaknya 2 bulan berikutnya.

Saya harus akui bahwa saya terbiasa menggunakan piranti elektronik untuk menulis. Untuk mengungkapkan keinginan. Untuk mengganti ucapan yang seharusnya dapat disampaikan secara langsung. Singkat kata, untuk sebuah kepraktisan dan tidak ketinggalan pula, untuk sebuah kata ‘ekonomis’, bila yang terjadi adalah menggantikan panggilan telepon dengan menulis sms.

Dan hari itu, sang primata elektronik harus menyerah dengan garis takdirnya yaitu kehilangan alat menulis hariannya. Sehari dua hari setelah kehilangan salah satu teman hariannya itu, sang primata merasa layak merenungi nasibnya yang malang. Tidak mengira sama sekali kalau sang sahabat setia rela meninggalkannya begitu cepat, tanpa sempat berpamitan sebelumnya (duh, lebay nian !).

Kata orang, kita tidak lah boleh terlarut dalam kesedihan terlalu lama. Kalau kata saya (yang notabene “orang” juga sih..) kesedihan kerap kali menjadi ajang bercermin diri terhadap segala sesuatu yang telah terjadi yang akan menjadi dasar untuk keputusan-keputusan penting dalam kehidupan berikutnya. Cermin saya kali ini membawa sebuah gambar masa kanak-kanak saya kala pensil, penghapus, dan kertas menjadi salah satu sahabat karib yang tak terlupakan. Kala kapur tulis yang debunya beterbangan setiap kali dipakai menggores di papan hitam telah menghantar saya ke sebuah keadaan ‘melek teknologi’.

Terlalu angkuhkah saya sehingga sahabat-sahabat lama saya sedemikian terlupakan begitu teman-teman baru yang lebih fashionable dan modern datang menghampiri ? Mengapa pengertian hakiki tentang kata ‘menulis’ sedemikian luntur tergilas teknologi ? Bukankan pensil, kertas dan penghapus masih bertebaran setia menemani saya hingga saat ini ?

Saya coba menghitung benda-benda tersebut di atas meja saya. Satu, dua, tiga…ada 3 pensil. Penghapus ada 2, rautan pensil ada 1 dan setumpuk kertas putih bersih siap digores tulisan kapan saja.

Seharian penuh saya mencoba mengumpulkan lagi seluruh piranti teknologi menulis masa lalu, kala peradaban belum terlalu diperbudak oleh teknologi gadget canggih masa kini. Cukup banyak ternyata. Lebih dari cukup untuk mengukuhkan pembenaran saya yang sedang merasa kehilangan teknologi masa kini, dan ingin menggantinya dengan peradaban menulis masa lalu. Bukankah menulis merupakan suatu kerja simultan dari seluruh bagian tangan ? Dari cara memegang pensil, meliukkan huruf hingga berapa tekanan yang harus dibuat demi tergoresnya kata per kata sehingga eksistensi menulis itu sendiri hadir dalam jiwa ?

Sejujurnya, yang saya lakukan itu adalah bagian dari trauma kehilangan.

Tetapi sebagai anggota manusia dewasa, rasanya setiap tingkah laku kita haruslah didasarkan pada fakta-fakta tertentu yang menjadikannya sebuah pembenaran sejati. Dan saya menemukannya hari itu. Yang berarti sebuah senyum kemenangan siap diukir setiap kali ada manusia dewasa lain yang bertanya mengapa saya mengganti piranti menulis berbasis teknologi masa kini dengan pensil, penghapus dan kertas. Oya, satu lagi, tidak khawatir ada bagian dari tulisan yang hilang bila listrik padam mendadak dan bertepatan dengan baterei yang sudah megap-megap kehabisan energi.

Mungkin saya harus membuat daftar di atas kertas beberapa poin penting yang dapat dijadikan pembenaran atas tingkah laku saya kali ini yang sesungguhnya berlatar belakang trauma psikologis kecurian. Sehingga manusia lain dapat lebih melihat kelakuan saya sebagai sesuatu yang positif ketimbang melihatnya sebelah mata dengan cibiran sinis ‘masih-ada-gitu-ya-manusia-prasejarah-di –era-milenium-ini’.

Cibiran sinis, seandainya ada (baca: pastinya ada), bukanlah sesuatu yang layak dibenci. Bagaimana tidak, di jaman dimana MC sebuah acara pernikahan membacakan susunan acaranya dengan melirik sebuah ipad ini, masih juga ada manusia yang menggunakan kertas dan pensil sebagai alat tulisnya. Kenapa tidak mencoba memanfaatkan batu dan alat ukir batu sekalian ? Seandainya ada yang demikian, mungkin mereka layak disebut pemrakarsa sebuah karya seni dengan judul Neo-Megalith (terjemahan bebasnya mungkin ‘sebuah modifikasi dari karya seni era jaman batu’- mohon maaf kalau keliru, itu adalah singkatan yang saya ciptakan sendiri sebagai bagian dari makhluk yang teraniaya waktu itu). Kemudian mereka berbondong-bondong menunjuk saya sebagai ketua umumnya.

Hidup memang terkadang sulit dimengerti. Teknologi hadir untuk menjawab seluruh kebutuhan manusia. Menjadi landasan perubahan jaman. Meskipun tak jarang pula teknologi menjadi pemangsa sejati kehidupan normal manusia.

Yang pasti, saya sangat menikmati masa-masa menulis dengan pensil diatas kertas waktu itu. Mungkin sebagai intermezzo , atau mungkin pula manusia memang membutuhkan saat dimana alam yang telah memberinya banyak manfaat ini terasa lebih dekat dengannya.

Jakarta, 2 Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s