Kedai 1001 Mimpi

Posted on

Bermodalkan obsesi akan dunia Timur Tengah, Valiant Budi, penulis novel ini, melamar menjadi TKI di Arab Saudi pada tahun 2008. Sekitar pertengahan 2009, keinginannya terpenuhi. Kota Alkhobar di Arab Saudi adalah kota pertama tempatnya tinggal dan bekerja di sebuah kedai kopi.

Sebagai pemenang Kathulistiwa Literary Award, ia ingin berbagi pengalamannya di Arab Saudi tersebut ke rekan-rekan pembaca di seluruh Indonesia.

Berbagai kisah penting dimulai dengan culture shock yang ternyata tiada henti, Valiant Budi ingin menggambarkan beragam ironisme unik yang terjadi di tanah para nabi ini. Ironisme yang tentunya tidak dapat disangkutpautkan sama sekali dengan keberadaan para nabi, agama mayoritas ataupun agama minoritas apapun.

Lalu adzan Isya mengumandangi malam, semua toko pun mematikan lampu dan menutup pintu. Ada yang buru-buru mengambil air wudhu, ada juga yang tunggang langgang memesan minuman.

Yang aku bingung, justru yang hafal dan tertib keluar saat waktu shalat adalah para ekpatriat. Sementara para penduduk lokal malah sering memaksa masuk ruangan dengan berbagai alasan. Alasan terlucu adalah ’malas’ kena tegur si polisi religius yang sering muncul secara misterius itu.

 ***

Perkenalannya dengan beberapa TKI yang telah lebih dulu tinggal dan bekerja di Arab Saudi membuka jendela keterkejutannya lebih dalam lagi. Berita mengenai nasib para TKI di luar negeri pastilah bukan sebuah berita baru. Namun mendengar langsung dari sang empunya cerita ternyata adalah shock tiada henti.

Aku lari ke kamar mandi. Selama ini aku selalu berhasil untuk sok kuat atas apa yang aku hadapi selama tinggal di negeri ini. Lagi pula, segala ‘kesialan’ku tak sebanding dengan apa yang dialami ribuan TKI dan TKW disini. Setetes air mata mengalir dari ujung mataku. Entah bagian mana yang sedang kutangisi. Aku rela dihujat kafir asal anak itu bebas dari siksa ayahnya.

 ***

Diluar berbagai pandangannya terhadap beragam nasib para TKI di Arab Saudi, Valiant Budi juga menceritakan kisahnya sendiri yang tidak kalah unik bin menyedihkan sebagai barista di sebuah kedai kopi. Beragam kecurangan dalam bekerja yang tanpa rasa malu sedikitpun dibeberkan kepadanya oleh rekan dan atasan kerjanya demi mengeruk keuntungan materi semata.

Dari : Tanpa nama

Pesan : Kamu tidak perhatikan, banyak orang MATI karena terlalu BANYAK TAHU ?!

 ***

Pengalaman kerja sebagai barista Indonesia pertama di kedai kopi tersebut tentunya sangatlah beragam. Termasuk salah satunya adalah didaulatnya sang barista menjadi relawan penerjemah SMS bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris, lebih bagus lagi kalau tahu Arabnya.

Dan, SMS fenomenal yang sering membuatku gatal adalah kala pelanggan ingin memastikan,”ini bahasa Indonesia bukan ya ?!”

CAMLIKUM ! lamb knall yupz ! U 9Hy D! HuMZzZ…??

Haduh, ternyata ABG alay berkeliaran di Saudi juga. Lalu, akupun bakal lebih mati kutu lagi kalau mereka memintaku menerjemahkan bahasa Jawa, Gorontalo, Angkola, Balantak, Pipikoro, dan entah apa lagi !

 ***

Ketahanan mental dan jiwa memang bukanlah ujian ringan bagi warga Indonesia yang tinggal di negara asing. Tidak jarang (baca: seringkali) harkat dan martabat negara yang kita junjung tinggi ini mesti direlakan untuk ‘dipertanyakan’ entah berapa kali dalam sehari.

Tapi bener deh, hal paling mengiritasi telinga dan hati adalah kala mereka tahu kita dari Indonesia, lalu langsung bertanya,”Punya temen atau saudara yang mau jadi pembantu di rumah saya ?” Mungkin mereka pikir dari Sabang sampai Merauke isinya pembantu semua.

 ***

Dalam sebuah kisah perjalanan hidup, tentu tidak hanya kisah pedih, aneh, atau absurd yang pernah datang dan pergi. Kisah indah ditolong oleh seorang imam Arab Saudi juga menjadi bagian dari cerita ini.

“Terima kasih, Anda telah banyak menolong saya.” Ya, dialah imam yang telah membantuku bebas dari hukuman penjara tempo hari. Ia menempelkan telapak tangan kanannya di dada kiri atas sambil mengangguk, salah satu gesture khas Arabia yang aku suka.

“Alhamdulillah, itu Allah yang menolongmu.”

Semua kosa kata dalam benakku mendadak hilang. Mulutku terkunci. Aku jarang sekali mendapat pandangan yang menyejukkan seperti ini. Mungkin karena terbiasa dihujani pandangan binal.

 ***

All mankind is from Adam and Eve, an Arab has no superiority over a non-Arab nor a non-Arab has any superiority over an Arab; also a white has no superiority over black nor a black has any superiority over white except by piety and good action

–          The Prophet Muhammad’s Last Sermon

 ***

Sebagai penutup, tentunya besar harapan baik dari sang penulis maupun pembaca novel ini kepada pemerintah Republik Indonesia untuk mencurahkan lebih banyak lagi perhatiannya kepada seluruh tenaga kerja Indonesia yang telah menjadi pahlawan devisa bagi bangsa ini. Hingga tiba saatnya penerus generasi bangsa ini dapat menghidupi dirinya dan keluarganya tanpa perlu mencari belas kasihan dari bangsa lain.

Amin ya robbal alamin.

Jakarta , 11 Mei 2011

P.S Berharaplah semua kisah dalam novel ini hanya ‘dongeng’. Lebih tepat lagi ‘dongeng Horor-Komedi’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s