Rinai Semusim

Posted on Updated on

“Sssstt…Ahmad, buka pintunya !” seru seseorang sambil mengetuk perlahan pintu triplek sebuah rumah dikawasan kumuh kota Jakarta. Yang dipanggil Ahmad mendekat ke pintu demi mendengar suara sang kakak.

“Ada apa, kak ?” sapa Ahmad.

“Kamu mau tidak pergi sama aku, tapi jangan bilang-bilang ibu sama bapak ya…”

“Kemana, kak ?” ujar Ahmad

“Ke tempat kakak biasa bekerja, cari uang. Asyik deh, ga bakal nyesel deh kamu. Kita bisa sambil main hujan-hujanan nanti. Lihat, langit mulai mendung..”

Hari itu adalah hari pertamaku  diajak berkelana menyusuri lorong-lorong kota Jakarta untuk menawarkan jasa ojeg payung bersama kakakku, Ali. Ia sudah sangat terbiasa dengan kehujanan, diusir satpam sebuah pusat perbelanjaan, dan terkadang nyaris tertabrak mobil atau motor yang lewat. Ia terlihat menikmati setiap jengkal kegiatan yang aku yakin tidak banyak atau bisa dibilang sangat jarang anak-anak seusianya mau melakukan. Seandainya keadaan tidak memaksa pun, kami sesungguhnya juga tidak ingin.

Aku 6 tahun waktu itu. Sementara kakakku berusia 7 tahun. Sebelum menjadi jasa ojeg payung, sesungguhnya kak Ali sudah berkeliaran di jalan ikut-ikutan tetangga kami mengamen di angkutan umum. Dan aku, ya benar, aku pernah diajak juga. Tidak setiap hari, paling hanya seminggu sekali. Aku masih terlalu kecil, katanya. Lagipula, ia takut kena marah bapak dan ibu ketahuan mengajak aku pergi mengamen. Namun demikian, menurut kak Ali, penghasilannya lumayan meningkat kalau ia mengajakku ikut. Aku menurut saja, walalupun sebenarnya bapak dan ibu kami melarang.

 ***

“Bego, Anton ! Bener-bener bego dia !” aku mendengar suara itu. Tono, teman kak Ali, berlari terengah-engah sambil mengumpat sebisanya menuju tempat persembunyian kami. Kami dikejar polisi penjaga ketertiban waktu itu. Aku takut setengah mati. Kak Ali dan Tono, temannya nampak lebih tenang ketimbang aku yang rasanya sudah pasrah dengan nasibku di tangan para polisi itu seandainya tidak ada mereka yang menunjukiku tempat untuk bersembunyi.

“Dengar, Ali,” kata Tono. “Jangan sampai kita tertangkap sama polisi-polisi sialan itu ! Kamu tau apa yang mereka lakukan dengan anak-anak seperti kita di kantor mereka ?”

Tono lalu menjelaskan panjang lebar pengalaman teman-temannya yang pernah tertangkap sebelumnya. Aku ingin menutup telingaku rapat-rapat seandainya aku punya keberanian. Tapi aku tak punya. Perasaan takut dianggap tidak memiliki rasa senasib sepenanggungan dengan mereka yang memakan asam dan garamnya hidup di jalan. Mendadak aku rindu tempatku belajar sehari-hari. Tempat aku bisa bertemu dengan Kang Arman, Mas Budi, dan Bang Sueb yang biasa membagi waktu luangnya mengajar di tempat kami belajar membaca dan menulis. Kegiatan yang biasa kami lakukan menjelang Maghrib. Aku merasa nyaman berada di dekat mereka.

Mungkin aku berbeda dengan kak Ali. Ia perkasa, tahan banting, dan lebih suka berkeliaran di jalan ketimbang duduk di ruangan untuk belajar. Aku tertutup, penakut dan paling tidak tahan mendengar perkataan kasar yang keluar dari mulut teman-teman kami di jalan. Namun diluar itu semua, yang aku tahu adalah kak Ali anak yang bertanggung jawab terhadap keluarganya, terutama adik-adiknya. Ia tidak akan membiarkan dirinya makan sebelum ia melihat adik-adiknya kenyang. Ia hampir tidak pernah mengeluh. Pernah sesekali aku memergokinya seperti menangis di malam hari. Tapi katanya, mata yang keseringan kena debu memang sering begini. Aku percaya perkataannya. Sebagaimana aku percaya seluruh usahanya selama ini dilakukan hanya untuk melihat kami, adik-adiknya, bahagia.

Tertangkapnya Anton, cerita panjang lebar Tono tentang teman-teman yang pernah tertangkap polisi tidak pernah aku ceritakan ke adik-adik kami yang 2 orang itu. Mereka tidak boleh tahu. Cukup aku dan kak Ali. Aku harus terlihat tegar di hadapan mereka, ujar kak Ali suatu hari. Aku diam saja waktu itu.

Aku suka buku, kertas, pensil dan penghapus. Aku selalu rindu mereka. Mungkin mereka lah sahabat terbaikku waktu itu, sekarang dan seterusnya.

 ***

Suatu hari aku melihat kerumunan orang di dekat tempat tinggalku. Ada mobil bagus dan beberapa orang berpakaian rapi disana. Aku baru ingat. Ini adalah hari terakhir kak Ali berada diantara kami. Ia akan disekolahkan oleh seorang kaya raya, konglomerat mereka biasa menyebut orang itu. Aku belum pernah melihat yang mana orangnya. Kak Ali pernah. Aku tidak peduli yang mana orangnya. Yang aku tahu, aku sangat sedih merasa kehilangan sosok seorang kakak, teman, sekaligus pelindung di dekatku.

Aku ingin bercerita lebih banyak kepada kak Ali. Bercerita kalau Bang Sueb mengabarkan tentang kemungkinan beasiswa yang akan aku dapatkan dalam waktu dekat ini. Beasiswa untuk bersekolah dari SD sampai dengan lulus SMP. Aku sepertinya bakal sering berkirim surat untuknya. Bercerita tentang pengalamanku sehari-sehari selepas dia pergi.

Akhirnya, aku, bapak ibu dan adik-adik hanya bisa berdoa semoga kak Ali meraih kebaikan selama tinggal dengan bapak kaya raya itu.

 ***

Kegiatanku  5 tahun belakangan ini begitu menyita waktu. Selain kuliah untuk meraih gelar Sarjana Arsitektur, menjadi asisten dosen, aku juga diminta oleh sebuah penerbit buku untuk menjadi editor. Ya, menggeluti bidang kepenulisan memang menjadi obsesiku semenjak kecil. Sementara belum ada sekolah khusus berjenjang untuk menuai karir di bidang menulis, aku sengaja mengambil kuliah jurusan arsitektur untuk tetap mengasah jiwa seni dan kepekaanku terhadap keindahan goresan dan makna sebuah gambar dan tulisan. Semua kesempatan itu aku dapatkan melalui beasiswa.  Kak Ali masih mengirim uang kepada ku, bapak ibu, dan adik-adik meskipun beberapa kali sudah aku sampaikan kepadanya aku tidak perlu dikirimi uang lagi karena sudah mandiri. Penghasilanku sebagai asisten dosen dan editor majalah lebih dari cukup untuk keseharianku.

 ***

Aku memegang surat itu dengan gamang. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Haruskah aku mengatakan semuanya kepada bapak dan ibu. Ataukah menyelesaikannya dengan caraku sendiri. Tidak, tidak mungkin aku mempercayainya begitu saja. Tapi pernahkah Tono berbohong selama ini ? Ia memang urakan, tetapi berbohong kepada keluarga kami adalah hal yang selama ini tidak pernah dilakukannya. Kami bertetangga dan bersahabat sejak kecil. Mengarungi bahtera kelaparan dan kehausan bersama. Aku lebih dari mengerti kalau Tono menghargai itu semua. Menganggap keluarga kami sebagai saudara sendiri.

Sungguh aku tidak menyampaikan surat itu kepada siapapun. Belum lebih tepatnya. Tapi suatu sore, bapak memanggilku ke kamarnya.

“Mengapa kau simpan sendiri berita ini ?” ucapnya

“Berita apa, yang mana, pak ?” ganti aku bertanya

“Bukan begini caramu melindungi kakakmu. Tugas kita untuk mengingatkan. Jadi jangan pernah disembunyikan…”

Aku tercekat demi mendengarnya. Bagaimana surat Tono bisa sampai ke tangan bapak ?

Aku harus segera menemui Tono.

 ***

Penjelasan yang lebih pantas disebut pembelaan mengalir deras dari mulutku beberapa hari kemudian di sebuah sore di beranda rumah sederhana kami.

“Bapak tidak pernah sekalipun mengajarkan kepada kalian untuk merampas hak orang lain”, kata bapak sore itu.

“Pak, biar Ahmad bertemu kak Ali sekali lagi. Ahmad tahu kak Ali bisa diajak bicara. Mungkin memang perlu waktu..”, ujarku gamang mereka-reka keadaan yang akan terjadi.

Bapak enggan memberikan jawaban. Pembicaraan kami usai ditengah kekalutan yang dirasakan oleh kami sekeluarga.

 ***

Isak tangis mengiringi kepergian bapak setelah kurang lebih 2 bulan ia bergelut melawan sakit yang dideritanya. Sakit yang begitu saja hadir setelah ia membaca surat dari Tono yang isinya mengabarkan bahwa kak Ali adalah kaki tangan pengusaha kaya raya yang telah memenangkan tender pembangunan sebuah apatemen mewah yang akan dibangun di atas tanah dimana ratusan rakyat miskin masih tinggal disana. Tanah yang masih menjadi tempat bernaung itu kini telah rata dengan tanah. Diratakan oleh kaki tangan kak Ali. Adik Tono adalah salah satu warga yang terusir dari tempat tinggalnya selama ini.

Sakit yang bapak derita adalah kesatuan dari lelah jiwa dan lemah tubuh rentanya yang dimakan usia.

Tidak ada air mata keluar dari mata kak Ali kala itu. Entah karena sudah lelah menangis atau ia ingin surga mengumpulkan air matanya untuk ditaburkan sebagai hujan diatas pusara bapak nantinya. Aku tahu ia sangat mencintai bapak. Menghormatinya selalu. Ia duduk termenung di sebuah sudut. Meringkuk menatap tubuh kaku bapak.

 ***

Seandainya aku bisa lebih tegas kepada kak Ali tentang pendirian bapak terhadap pekerjaan yang sedang digelutinya saat itu. Seandainya aku tidak terlambat menemui Tono yang kalap ingin menghabisi kak Ali hari itu. Seandainya aku mempunyai separuh saja keberanian dan ketegasan sikap yang dimiliki kak Ali. Ya, kak Ali memiliki ‘parang’ keteguhan diri yang sayangnya digunakannya secara keliru. Dan tibalah hari itu. Hari dimana aku menemukannya terbujur kaku di bawah derasnya hujan yang mengguyur. Mungkinkah masih ada harap untuk memeluk dan bercerita dengannya sebagaimana kami menghabiskan waktu-waktu kami dahulu. Kala rinai hujan masih dapat kami rasakan bersama.

Aku menyukai sepi dan kelam malam. Saat raga beristirahat dalam pelukan jiwa. Mengaduh mendengar tangis yang tak bersuara. Kami memang berbeda. Tapi hari itu, kami disatukan dalam keheningan yang sama. Aku yakin ia telah menyelesaikan banyak perkara dalam hidupnya. Meski ajal menjemputnya diujung senapan.

 ***

“Kenapa menangis ?”

“Aku tidak menangis”, kataku berbohong,”aku cuma ingin kakak berjanji mengirimiku surat sesering mungkin”

“Ingatlah kakak disetiap rinai hujan yang dapat kamu rasakan. Cerita kakak ada di setiap tetesnya. Berdoalah supaya kamu dapat merasakan rinai hujan setiap saat, bukan hanya rinai semusim”

Aku terbangun dari mimpi indah di hadapan gundukan tanah basah berisi jasad kakakku pagi itu.

 ***

Jakarta, 13 Mei 2011

Iklan

2 thoughts on “Rinai Semusim

    Huriyah Riza said:
    Juni 4, 2011 pukul 6:36 am

    Membaca lagi sebuah kisah keseharian yg bisa ditemui di kota besar. Tulisan yang baik, suka membacanya…. nulis lagi ya, tema lainnya.

      nastitidenny responded:
      Juni 4, 2011 pukul 8:54 am

      Yeyy…seneng banget baca komen mb Riza. Alhamdulillah kalau bisa dinikmati. Siap menulis cerita yg lain. Terima kasih, mb. Sukses buat mb Riza !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s