Rumah Kedua

Posted on

(Dipersembahkan untuk seluruh relawan #koinsastra atas dukungannya untuk kelangsungan hidup Perpustakaan PDS HB Jassin)

Aku membisu. Mungkin memang sejatinya bisu. Itu sebabnya mereka tidak meminta pendapatku kala berniat memindahkanku ke rumah kedua. Mereka tak perlu bicara. Aku mengerti dari segala tingkah laku dan gerak gerik mereka kala mempersiapkan segala keperluanku untuk pindah. Aku tidak menghendakinya. Aku tahu sebagian dari mereka bahkan menangisiku.

Tapi biarlah pilu ini kusimpan sendiri. Manfaat diri selama ini tiada berbalas. Yang menangisikupun tidak mampu berbuat apa. Kecewa ini aku pendam sendiri. Mengapa baru sekarang aku tahu betapa rendah penghargaan yang mereka berikan kepadaku. Aku menemani kesepian mereka selama ini. Aku mampu diam dikala mereka meninggalkanku meringkuk berteman kelamnya udara dingin negara sub tropis yang menusuk di belahan selatan katulistiwa. Aku tidak ingin mengeluh. Mereka sahabat-sahabat terbaikku selama ini. Separuh hati ini mengatakan mungkinkah kepindahanku ini bukan keinginan mereka sendiri ?

Hari itu tiba. Mereka mengangkatku perlahan ke bagian belakang mobil yang akan membawaku ke rumah kedua. Wajah tergesa, wajah sedih, wajah bahagia, mewarnai keberangkatanku kali ini.

Ini perjalanan pertamaku selama kurang lebih 6 tahun terakhir. Wajarlah kiranya rasa tidak nyaman menggelayutiku selama perjalanan. Sesekali aku dengar celoteh anak-anak dari tempatku berada dalam perjalanan itu. Kesedihan kelihatannya sirna dari wajah mereka. Ah, anak-anak, benarlah bila orang-orang berkata hanya optimisme yang layak terpancar dari wajah mereka.

Aku tergoncang selama perjalanan. Celoteh anak-anak berhenti setiap kali mereka menyadari aku tergoncang dari tempatku duduk karena lubang dijalanan yang setiap kali ditambal dengan ongkos sebesar biaya membangun beberapa sekolah dasar di tempat terpencil itu, tetap saja kembali berlubang tiap musim hujan tiba. Mereka menoleh, sekedar memastikan kalau aku masih berada di tempatku. Kemudian melanjutkan lagi permainannya.

 ***

Mobil terparkir sempurna. Aku merasa inilah rumah keduaku. Bangunan sederhana terdiri dari 2 lantai. Aku masih diam di tempatku sementara mereka keluar dari mobil yang kami tumpangi dan menyapa beberapa orang diluar sana. Kerumunan orang-orang diluar mobil yang mereka temui itu berwajah damai. Aku sedikit terhibur. Luka yang menganga akibat perasaan terbuang ini pun aku tak yakin siapa yang buat. Diriku sendirikah yang mendakwakan semua kejahatan ini kepada mereka, keluargaku selama ini. Atau memang sejatinya mereka, yang sudah aku anggap keluarga ini memang merencanakannya untukku ?

Biarlah kini kuakui sesungguhnya angan burukku telah berhasil menjadi nahkoda segala prasangka yang aku timpakan kepada mereka yang telah aku anggap keluargaku sendiri. Mereka yang telah memeliharaku dengan penuh kasih. Aku mulai diliputi kekhawatiran akan salah sangka.

Pintu mobil terbuka. Seseorang dengan senyum ramahnya mengangkatku perlahan. Memeriksa segala piranti yang mesti dibawa bersama dengan kepergianku ke rumah keduaku itu.

Galauku sirna demi melihat senyumnya. Senyum itu juga yang mengukuhkan pendirianku untuk menghapus prasangka burukku pada mereka yang membawaku kemari.

Makin lama makin banyak manusia lalu lalang dihadapanku. Aku terlalu rendah untuk menatap wajah-wajah mereka dari tempatku berdiri saat ini. Mereka belum sempat memperhatikanku. Tak apa. Saat-saat yang dapat kupakai untuk memahami hakikat kehidupan yang akan aku hadapi di rumah kedua ini.

Buku-buku tua nan lusuh berderet di dalam rak kayu adalah pemandanganku sesaat sebelum aku berada di tempatku berdiri saat ini. Rak buku yang kurang terawat ini terlihat bosan ditemani setumpuk koran tak bertuan yang tampak menguning dimakan usia. Seonggok meja kayu seperti layaknya meja pendaftaran pengunjung bersandar lesu disisi sebelah kiri ruangan itu. Mereka mirip penghuni museum bersejarah yang tidak pernah lagi ditengok pengunjung satupun. Habis tinggal kenangan. Tenggelam dalam kepungan media elektronik yang bernama televisi. Pantaskah aku bersedih di hadapan mereka ?

Aku belum ingin beranjak. Tetapi lelaki dengan senyum ramahnya yang dengan sepenuh hati membawaku ke tempatku berdiri saat ini tidak memberiku banyak kesempatan untuk memandang perabotan-perabotan itu lebih lama. Mungkin ia tidak ingin aku bersedih. Selama ini sesuatu yang selalu berusaha ditutupi oleh manusia itu memang bernama kesedihan. Lagi-lagi mereka tidak mengatakannya padaku. Tapi aku dapat merasakannya.

Aku ingin terbiasa dengan segala pergantian waktu yang membawa kesedihan dan kesenangan secara bersamaan, kegagalan yang disusul keberhasilan, kegalauan yang ditutup senyum ceria, dan segala mendung yang berakhir dengan kilau pelangi.

Di tempatku berdiri sekarang, aku ingin dapat memahami semua itu. Belajar untuk mengenal semangat itu lebih dalam. Mengiringi semangat yang telah berkobar dan akan terus menyala tanpa lelah di dada setiap manusia pemegang slogan ‘AKU Penyelamat Peradaban’ yang masih saja lalu lalang di hadapanku hingga saat ini. Saat sebuah perekat bertuliskan seperangkat Personal Computer donasi nomor 2 menempel di tubuhku. Kini aku punya nama. Rumah ini memberiku nama untuk mengawali sebuah perjuangan baru.

 

Jakarta, 31 Mei 2011

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s