Menulis Sepi

Posted on Updated on

  Ia memandang sungai itu sendirian. Tangan kanannya memegang buku.  Tangan kirinya menggenggam parang.  Ia ragu untuk memilih. Hidupnya selama ini telah memberinya banyak pilihan. Meskipun disaat bersamaan pilihan itu nyata membelenggunya.

Diseberang sungai…

Seorang pria menenteng sekeranjang penuh buah-buahan dan sayur-sayuran. Wajahnya ceria meski terbakar sinar matahari terik siang itu. Kakinya melangkah pasti menuju sebuah rumah mungil yang penuh berisi anak dan sanak saudaranya. Kehidupan sederhana yang telah dijalaninya selama hampir 20 tahun tidak pernah membuat dirinya merasa tersisihkan dari gemerlap dunia yang tepat berada di seberang sungai tempat pria itu tinggal.

Ia tahu waktunya tak banyak. Hasil penelitiannya bertahun-tahun ternyata hanya dijadikan alat propaganda murahan yang tak berarti bagi kehidupan. Melenceng terlalu jauh dari keinginannya. Terlalu muluk-mulukkah bila dirinya ingin mengabdi pada bangsanya melalui hasil karyanya ? Sudah menjadi barang asingkah cita-cita semacam itu saat ini ?

Hatinya meratap memohon belas kasihan. Pada siapa, ia tak tahu ataukah raganya tidak siap untuk menopang gemuruh hati nuraninya.

Ia ingin segera mengungkapkan isi hatinya pada sungai yang mengalir deras dihadapannya.

Tak seorangpun boleh tahu dirinya gagal menghadapi permasalahan ini. Sungai ini pun seandainya bertuan, tuannya tidaklah boleh tahu. Dirinya, parang yang digenggamnya dan buku yang berisi seluruh curahan hatinyalah yang dianggapnya pantas untuk tahu semua yang ia pikirkan saat ini.

Ia ingin seseorang, ya hanya seseorang yang lebih pantas disebut baying-bayang dirinyalah yang boleh mendengar semua kegagalan hidupnya. Kekurangteguhan pendiriannya saat dilema menghampirinya. Nafsunya untuk terkenal mesti dibayar dengan harga yang terlalu mahal.

Pria penenteng keranjang buah-buahan dan sayur-sayuran itulah yang boleh tahu. Karena dia lah bayang-bayang  dirinya ditengah keputusasaan dalam menulis sepi hidupnya.

Jakarta, 14 Juni 2011

Iklan

2 thoughts on “Menulis Sepi

    Mazmo said:
    Oktober 8, 2011 pukul 6:24 pm

    Inspiratif. Suka. 🙂

      nastitidenny responded:
      Oktober 9, 2011 pukul 3:22 am

      tersapu sipu.. 😀 doain ya semoga bisa menulis yang lebih baik lagi kedepannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s