Rumah Kaca – Memandang Dua Zaman

Posted on Updated on

Pergerakan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan di era awal tahun 1900-an memang tidak ada habisnya dibicarakan dan dikupas dari berbagai sisi dalam beragam tulisan. Namun demikian rasanya tidaklah berlebihan bila Tetralogi Buru yang terdiri dari : Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa dan Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer dapat disebut sebagai salah satu karya terbaik dalam mengisahkan periode perjuangan bangsa Indonesia kala itu.

Berbeda dengan 3 novel pendahulunya, Rumah Kaca, novel pamungkas dari tetralogi buru tidak lagi bercerita tentang Minke, sang tokoh pergerakan bangsa yang telah mempelopori lahirnya organisasi pribumi di wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Pram dengan gaya penulisannya yang cerdas telah menempatkan Pangemanann, seorang pejabat dijajaran kepolisian kala itu, tokoh utama dibalik terbuangnya Minke ke pengasingan di Pulau Ambon, sebagai tokoh utama sekaligus sang pembawa cerita.

Sebagai seorang Indonesia asli berbekal pendidikan Prancis, dalam waktu singkat Pangemanann dapat menikmati apa yang disebut sebagian besar orang sebagai ‘kemuliaan dunia’ setelah keberhasilannya mengemban tugas dari Gubernur Jendral Hindia Belanda dalam mengekang laju pergerakan nasional yang dipimpin oleh Minke.

Tidaklah mudah untuk menjadi pengkhianat bagi bangsa sendiri. Pergolakan batin yang dialami Pangemanann dalam menyikapi perjalanan hidupnya mengemban ‘tugas mulia’ yaitu mengawasi pergerakan organisasi nasional bangsanya tidak kalah peliknya dengan perjuangan kaum pribumi itu sendiri.  Ya, Rumah Kaca adalah istilah yang digunakan untuk sebuah pekerjaan pengarsipan semua berita tertulis yang ada di buku, surat kabar dan majalah yang dilakukan untuk membaca jejak perjuangan tokoh ataupun organisasi yang dianggap mengancam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda kala itu.

Saya benar-benar dibuat berdecak kagum demi membaca setiap lembar cerita yang ada di buku ini. Kagum dengan penggambaran gejolak perseteruan batin yang dialami seorang Pangemanann, pribumi terpelajar yang dengan kesadaran penuh telah mengkhianati orang (Minke) yang telah dianggapnya sebagai ‘guru’ dalam kehidupannya. Kekaguman berikutnya adalah bagaimana seorang Pramoedya melihat gejolak sosial kala itu berbagai sisi secara utuh dan mendasar. Sisi bangsa yang terjajah dan bangsa penjajah dari segi mental, prinsip hidup, yang menjadi dasar semua keputusan yang diambil oleh masing-masing pihak.

Saya, sebagai penduduk Indonesia biasa dengan pengetahuan yang sangat minim mengenai pergolakan yang terjadi pada rentang waktu yang diceritakan dalam novel ini, awalnya merasa ‘terlalu nekat’ untuk turut menyumbangkan sebuah ulasan (review) terhadap novel yang tentunya telah menjadi bahan diskusi di berbagai kalangan di beragam belahan dunia. Namun, kekaguman saya terhadap novel ini membuat saya ingin berbagi beberapa hal yang muncul bagai kelebatan peristiwa kembar dalam pikiran saya demi membacanya hingga selesai.

Beberapa peristiwa yang diceritakan di novel ini seolah mengantarkan saya pada beberapa tenggat waktu yang terjadi di era menjelang millennium hingga kini.

Berikut yang saya maksud dengan peristiwa-peristiwa tersebut.

Kerusuhan yang terjadi di beberapa tempat di Pulau Jawa di masa pe Rumah Kaca an itu giat dilaksanakan. Kerusuhan yang dilatarbelakangi oleh niat pemerintah Hindia Belanda untuk kembali memecah belah persatuan yang telah dijalin oleh beberapa pergerakan nasional yang mulai menuai dukungan dari luar negeri. Hal ini dinilai oleh pemerintah Hindia Belanda kala itu tidak boleh terjadi. Rakyat pribumi tidak boleh mendapatkan dukungan positif dari luar negeri karena dianggap sangat berbahaya bagi kewibawaan pemerintah. Untuk itu adu domba dilakukan. Cara termudah adalah membakar kemarahan kaum pribumi terhadap kaum tionghoa yang sukses dalam perdagangan dan mulai menguasai sektor penting dalam sistem perekonomian. Kerusuhan yang dikehendaki pun terjadi. Organisasi yang dianggap paling kuat dalam membangkitkan pergerakan nasional berhasil dijadikan kambing hitam. Anggotanya cerai-berai dengan membawa argumentasi masing-masing. Kepercayaan luar negeri hancur. Rakyat kembali terjatuh dan tertatih untuk bangkit.

Kisah ini entah bagaimana mengantarkan ingatan saya akan kerusuhan yang terjadi di Jakarta pada bulan Mei tahun 1998.

Selain itu, kelebatan peristiwa kembar juga muncul kala Pram dengan tegas melalui tokoh yang ia pilih dalam cerita menjelaskan bagaimana rakyat terjajah terbagi menjadi 2 golongan besar. Golongan pertama adalah golongan yang mengabdikan hidupnya untuk tanah air. Berkorban untuk tetap tegaknya wilayah yang kemudian hari disebut Indonesia. Golongan kedua adalah golongan yang lebih banyak mengabdikan hidupnya demi keyakinan yang dimilikinya. Dimanapun mereka berada atau tanah yang mereka pijak, tidaklah penting. Bagi golongan ini sepanjang mereka berada di bawah langit Tuhan tidak ada yang lebih penting untuk dipertahankan kecuali keyakinan mereka berdasarkan kitab suci masing-masing.

Dalam banyak hal, kala itu gesekan golongan pertama dengan golongan kedua tidaklah terlalu tajam. Saat ini, saya yakin pembaca dapat menilai sendiri seberapa besar gesekan yang terjadi belum lagi bila menghitung jumlah efek sampingnya.

Pramoedya memang memiliki kemampuan luar biasa dalam menyajikan detil peristiwa dalam periode kebangkitan nasional sebagaimana tersaji dalam novel ini. Pembaca tidak hanya terseret oleh gelombang waktu untuk kembali menyelami kehidupan di era tersebut, tetapi juga diminta untuk merenungi segala kejadian di kehidupan dirinya sebagai bagian dari komunitas sebuah bangsa dengan cerdas dan objektif.

Bagi sebagian besar pembaca, saya yakin novel ini telah memberikan wawasan bernegara sebanyak ia memberikan pertanyaan tentang integritas sebuah bangsa. Bagi saya secara pribadi, selama membaca novel ini, saya sungguh seperti diajak membaca dua zaman sekaligus dalam satu cerita. Mengupas sedikit demi sedikit dua kulit buah yang berbeda tekstur, bentuk maupun warna namun menyajikan isi yang sama baik dalam rasa dan sensasi. Dua zaman yang direntang oleh 1 abad perjalanan hidup manusia.

Namun demikian, saya tetap dan akan terus berharap bahwa zaman sebelum kemerdekaan republik ini adalah zaman yang memberikan isi yang berbeda dalam rasa dan sensasi dengan era millennium sekarang ini. Bukan hanya kulitnya saja.

Karena setidaknya, perbedaan itu menandakan bahwa banyak pelajaran berharga telah dipetik bangsa ini dari masa lalunya untuk dipilah dan diolah menjadi pondasi yang kuat untuk berdiri dan melangkah di era millennium ini. Dan bukan hanya menjadikannya pajangan di ruang pamer museum.

 

Jakarta, 30 Juni 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s