Garis Batas

Posted on

(Salah satu buku tentang kisah perjalanan ‘terbaik’ sampai saat ini yang ditulis oleh penulis Indonesia)

Garis Batas adalah buku kedua Agustinus Wibowo yang bertutur tentang kisah perjalanan sang penulis di negeri-negeri Asia Tengah bekas jajahan Uni Soviet. Negeri yang dimaksud adalah : Tajikistan, Kirgiztan, Kazakhstan, Uzbekistan dan terakhir Turkmenistan. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk menjelajahi keindahan alam tersembunyi di tempat-tempat tersebut berikut seluk beluk perekonomian, politik dan tentunya masa lalu negara-negara bentukan diktator Uni Soviet, Stalin, yang sampai sekarang sangat berpengaruh pada gaya hidup dan sudut pandang penduduk yang menempati wilayah tersebut.

Tajikistan, negara yang berbatasan langsung dengan negara perang, Afghanistan, digambarkan sebagai sebuah tanah impian orang-orang Afghan yang rindu kedamaian dan perekonomian yang lebih baik. Hanya dibatasi oleh sebuah sungai, penduduk Afganistan yang masih menggunakan keledai sebagai alat transportasi dapat memandang mobil-mobil meluncur di jalanan mulus beraspal Tajikistan.

Kirgiztan menyajikan keramahan luar biasa penduduknya terhadap setiap tamu yang datang meskipun dalam waktu bersamaan gelombang demonstrasi menuntut pemunduran sang presiden juga tengah terjadi.

Kazakhstan, sang negara penghasil minyak tentunya menawarkan gemerlap kota yang menyilaukan mata, meskipun kejahatan malam masih juga terjadi dimana-mana.

Lantunan musik pengiring tarian Uzbekistan seolah terdengar secara langsung demi membaca uraian sang penulis tentang bagaimana tradisi dibangun dan dipertahankan di Uzbekistan, berikut foto-foto indah penari-penari Uzbek dan bangunan-bangunan kuno nan bersejarah yang menyimpan sejuta misteri.

Perjalanan ditutup oleh sang penulis di sebuah negara penuh utopia bernama Turkmenistan.

Selain menyajikan narasi keindahan alam dan budaya yang ada, Agustinus Wibowo, lewat kepiawaiannya dalam menulis mengupas sedikit demi sedikit filsafat hidup manusia yang tercermin dalam setiap langkah perjalanannya. Melakukan refleksi terhadap satu demi satu kejadian dalam kehidupan yang dialaminya di negara-negara muda dengan beragam permasalahannya untuk kemudian membuat pembacanya merenung.

Pembaca tidak hanya dibuat mengerti bentuk dan wajah masing-masing negara tetapi juga diajak mengerti dan memahami nilai-nilai kehidupan.

Buku yang sungguh menajamkan mata, imajinasi dan hati kita.

Setiap negara telah merengkuh takdir atas garis batas yang mengelilinginya. Garis batas buatan manusia telah membingkai semangat nasionalisme dan merangkul keberagaman. Kemakmuran menjadi angan yang ingin terus diraih untuk dipertahankan. Namun sayangnya, ego manusia lagi-lagi meletakkan kemakmuran pada bagian yang layak untuk dipertaruhkan.

Jakarta, 21 September 2011

Iklan

5 thoughts on “Garis Batas

    Mazmo said:
    Oktober 8, 2011 pukul 6:22 pm

    Pengen baca bukunya! 😦

      nastitidenny responded:
      Oktober 9, 2011 pukul 3:15 am

      Harus ! te-o-pe deh pokoknya. Buku pertamanya Selimut Debu juga recommended 🙂

      nastitidenny responded:
      Oktober 9, 2011 pukul 5:39 am

      bisa baca di avgustin.net juga 🙂

    ibnumarogi said:
    Februari 12, 2013 pukul 3:52 am

    Buku yang bagus banget!! Perjalanan yang keren. 😀
    Nice review :mrgreen:

      nastitidenny responded:
      Maret 10, 2013 pukul 4:53 am

      Sudah ada buku ke-3 nya. Judulnya Titik Nol. Agustinus Wibowo buat saya sampai saat ini masih menjadi penulis perjalanan terbaik di negri ini 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s