Saat Waktu Berjalan Lebih Lambat

Posted on

Saya tergopoh-gopoh membawa barang bawaan saya dan anak-anak turun dari mobil yang mengantar saya ke travel agent hari itu. Travel agent untuk bepergian dari Yogyakarta ke Semarang. Pemesanan tempat duduk sudah dilakukan sehari sebelumnya. Meskipun demikian belum ada kepastian dari pihak travel agent mobil jenis apa yang akan saya dan anak-anak saya tumpangi. Pilihannya adalah Toyota Avanza atau Suzuki APV. Tidak menjadi masalah untuk saya, yang penting 3 tempat duduk bersebelahan sudah dijaminkan untuk saya. Bagi orang yang terbiasa tinggal di kota yang serba lengkap pelayanannya seperti Jakarta, tentunya sangat aneh apabila sampai dengan hari keberangkatan mobil yang akan ditumpanginya untuk menempuh jarak diatas 100 km itu belum jelas jenisnya. Tapi untunglah masa kecil saya dihabiskan di kedua kota ini sehingga saya dapat membiasakan diri.

Maaf sebelumnya, mungkin memang benar kalau saya sudah harus terbiasa dengan kondisi tersebut diatas. Tapi rupanya yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang membuat saya menjadi memilih untuk tidak membiasakan diri lagi.

Seorang ibu separoh baya duduk gelisah di dekat tempat saya dan anak-anak saya duduk. Rupanya sang ibu telah tiba 1,5 jam lebih dahulu ketimbang saya dan sayangnya telah dijanjikan untuk berangkat 1 jam yang lalu. Namun demikian, sampai dengan saya duduk menanti di kursi saya, belum juga ada tanda-tanda siap diberangkatkan. Reaksi sang ibu wajar, dengan wajah ditekuk namun tetap halus nada bicaranya khas warga Yogyakarta, menanyakan berulang-ulang mengapa belum juga ada kejelasan kapan dirinya akan berangkat ke Semarang. Kota tujuan yang sama dengan saya. Saya mulai menyembunyikan rasa was-was. Tidak lama kemudian kemarahan sang ibu memuncak. Ia menyampaikan kalau ia berkepentingan menengok temannya yang sedang sakit di sebuah rumah sakit di kota Semarang dengan jam besuk yang ketat. Saya akhirnya angkat bicara demi melihat reaksi yang sangat tidak diharapkan dari sang recepsionist yang melulu hanya menyampaikan bahwa penumpang harus sabar menunggu.

“Mbak, apa tidak bisa ditanyakan ke garasi mobilnya kejelasannya kapan kendaraan ibu ini berangkat ? Saya terus terang juga jadi khawatir sekarang !” dengan nada sedikit membentak. Mbak recepsionist tidak akan tersinggung saya rasa, karena ia mengira saya adalah turis lokal dari Jakarta yang sedang menghabiskan liburan ke luar kota. Penduduk kota seperti Jakarta sudah sulit menyisakan kelembutan dalam nada bicaranya. Meski demikian, alih-alih mendapat perhatian khusus karena nada bicara yang saya buat, mbak recepsionist yang rupanya sudah sangat terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan serupa memberikan jawaban yang memperlihatkan kekebalannya atas kondisi tersebut,”Iya, bu, saya mengerti ibu khawatir…tapi bagaimana lagi, memang masih harus menunggu…”.

Beruntung suara saya ternyata juga terdengar oleh seorang bapak yang sedari tadi terlihat sibuk menelpon dan duduk di dekat mbak recepsionist kebal pertanyaan itu. Sang bapak sigap menanggapi kegelisahan saya dan berkata bahwa mobil yang akan saya tumpangi sebentar lagi datang. Oya ? menyenangkan sekali mendengarnya ! Sayangnya, bukan itu yang saya tanyakan ! Sebelum saya sempat melakukan klarifikasi atas pertanyaan saya, mbak recepsionist memanggil saya untuk segera memasukkan koper dan bawaan saya ke dalam mobil yang siap membawa saya dan anak-anak saya ke Semarang, sementara sang ibu yang makin gelisah dengan jadwal besuknya belum juga dapat informasi keberangkatan. Sungguh saya menyayangkan keadaan ini. Sebelum kembali tergopoh-gopoh memasukkan barang-barang bawaan saya, saya sempatkan untuk melongokkan kepala kembali ke bapak yang berusaha membantu saya tadi,”Pak, pertanyaan saya tadi untuk Ibu yang itu, tolong ya pak diperhatikan, kasihan beliau mau menengok temannya yang sakit di Semarang”. Doa saya kala itu adalah semoga tidak lagi terjadi kesalahsambungan urusan kali ini. Amin.

Di dalam kendaraan Suzuki APV yang saya tumpangi, saya menggunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk melihat-lihat pemandangan melalui kaca mobil. Berapa banyak perubahan yang sudah terjadi atas salah satu kota turis di Indonesia ini, apakah ada mal baru (harap maklum kalau lagi-lagi mal menjadi perhatian, sebab di Jakarta, perubahan atas pemandangan di sekeliling kota adalah karena dibangunnya mal baru), masih banyakkah dokar berkeliling kota, becak berkeliaran mengangkut penumpang, sepeda-sepeda kuno berseliweran, atau kios-kios buku kecil penuh dengan mahasiswa di kanan kiri jalan. Tidak banyak yang berubah.

Suzuki APV yang saya tumpangi melaju perlahan layaknya penganten Jawa menuju ke pelaminan. Ada baiknya saya pikir, karena berarti kesempatan menikmati pemandangan di luar sana akan lebih lama. Tapi nanti dulu. Ada hal lain yang mengganggu saya. Cara sang sopir menyetir sambil menelpon. Memang betul ia menyetir perlahan, tetapi ia juga terus saja sibuk menjawab dan melakukan panggilan telpon dengan irama bicara lambat mendayu-dayu yang tidak ada habisnya itu. Ia sedang menelpon penumpang yang ingin dijemput rupanya. Kenapa mesti sekarang baru ia lakukan ? Tidak bisakah ia melakukannya di kantor tadi hingga tidak membuat penumpang seperti saya khawatir ? Apakah di kota ini tidak ada larangan untuk perbuatan berbahaya seperti ini ? Karena tingkat kecelakaan rendah ? Sayangnya saya tidak dapat melarangnya begitu saja, karena bertanya-tanya arah sambil menyetir perlahan itu adalah satu-satunya cara untuk mengetahui alamat penumpang yang akan dijemput sepertinya. Keadaan rupanya tidak berpihak pada saya saat itu untuk melakukan protes atas tindakan sang sopir. Saya tinggal berdoa.

Setelah sekian lama berbicara melalui telepon genggam informasi yang diperoleh sang sopir rupanya belumlah akurat. Kegiatan menelpon yang tentunya membahayakan penumpang ini masih harus dilanjutkan lagi dengan perjalanan salah-salah alamat berikutnya. Tapi tunggu dulu, rupanya hanya saya, ya hanya saya yang terlihat risau. Penumpang lain terlihat tenang dan cukup menikmati keadaan berbahaya tanpa kepastian atas waktu ini.

Benarkah tidak ada yang menolak kebiasaan sopir itu selama ini ? Ataukah saya yang tidak dapat memahami kebiasaan di kota yang tenang ini ?

Rupanya 11 tahun tinggal di kota segarang Jakarta telah membuat toleransi saya terhadap hal-hal di luar kepraktisan berkurang. Praktis bagi saya berarti menghemat waktu, yang berarti juga menghemat energi dan biaya. Tingkat keamanan sudah seharusnya menjadi bagian yang mendapatkan perhatian khusus dalam melakukan kepraktisan ini. Jakarta mengusung kepraktisan untuk menjadi topik utama setiap harinya. Makanan ringan sampai dengan berat dapat dipesan antar sampai ke rumah. Pembayaran semua billing bulanan dapat dilakukan dari satu mesin ATM ataupun lewat internet. Pusat perbelanjaan berkonsep ‘one stop service’ bertebaran dimana-mana. Pemesanan tiket apa pun dapat dilakukan melalui online service.

Waktu, waktu, dan waktu. Tentunya menjadi wacana penting di kota super sibuk yang hanya untuk menempuh jarak 200 meter saja dapat menghabiskan waktu 30 menit. Ada yang salah ? Tidak. Inilah paradoks kehidupan kota besar.

Sementara nun jauh disana, di kota dimana “kepraktisan” seolah tidak menjadi perhatian, sang waktu dibiarkan berjalan lambat. Tidak tampak ketergesaan di tiap sudut kota. Seolah semua makhluk siap menanti.

Waktu memang menjadi sesuatu yang sangat tidak absolute bila keadaan geografis, adat istiadat setempat, kebiasaan penduduk dan nilai kebenaran yang dianut sangatlah jauh berbeda.

Setidaknya saat itu saya menikmati tamasya di sebuah lingkup kehidupan dimana bumi berputar lebih lambat dari pada biasanya.

Jakarta, 20 September 2011

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “Saat Waktu Berjalan Lebih Lambat

    Mazmo said:
    Oktober 8, 2011 pukul 6:19 pm

    Yang jelas pas di Jakarta bisa lebih eksis ngumpul-ngumpul atau kesana kemari membawa alamat. #terAyuTingTing #mudikstory 🙂

      nastitidenny responded:
      Oktober 9, 2011 pukul 3:13 am

      hahaha…ayoo ditunggu nih kapan ngumpul di Jkt 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s