Semangkuk Sup Hari Ini

Posted on Updated on

Ia memandang daftar belanja sayur mayurnya hari itu. Senyumnya mengembang perlahan. Hari ini ia ingin mengadakan pesta. Pesta kecil-kecilan kata mbak Atun, pembantu rumah tangga yang telah bekerja lebih dari 5 tahun di rumah dimana ia tinggal.
Untuk gadis berusia 15 tahun seperti dirinya yang kesehariannya terbiasa dibantu keperluannya oleh seorang pembantu rumah tangga, kegiatan memasak menjadi sebuah kegiatan istimewa. Dan memang memasak untuk pesta yang ingin dipersiapkan ini sungguh teramat istimewa baginya.

“Neng Nisa udahan belum susun daftar belanjanya ? Mbak Atun udah mau berangkat nih ke pasar. Kalau kesiangan banyak pedagang yang udah pada pulang Neng. Buruan ya…”
“Tunggu sebentaaaarrr deh mbak Atun, Nisa takut ada yang kelupaan nih. Biar Nisa lihat sekali lagi resepnya ya, biar ngga ada yang ketinggalan”.
Nisa berlari kecil menuju kamar tidurnya. Untuk kesekian kalinya ia membuka buku resep yang tergeletak di meja belajarnya demi memastikan tidak ada satu pun bahan-bahan yang tidak tertulis di daftar belanjanya kali ini. Diluar keinginannya, pandangannya tertumbuk pada bungkusan kecil yang diselipkan oleh salah satu sahabat karibnya seminggu yang lalu. Ia teringat pesan yang disampaikan temannya saat itu,”nanti ada waktunya kamu membutuhkan barang ini. Jadi simpan dulu saja”. Nisa tidak menginginkannya saat ini. Ia membiarkan bungkusan itu berada di tempatnya tanpa menyentuhnya.

Selesai menyerahkan daftar belanja dan segala sesuatu yang diperlukan untuk pestanya nanti malam, Nisa mondar-mandir dari ruang depan, pindah ke ruang makan, lalu ke kamar tidurnya. Di setiap ruangan hanya satu benda yang selalu menjadi pusat perhatiannya, yaitu jam dinding. Jam dinding yang berdetak seirama dengan detak jantungnya membawanya melayang menjelajahi kenangan akan waktu yang bergulir dalam hidupnya.

Usianya 5 tahun kala ia terbaring lemas karena demam yang di deritanya selama 5 hari berturut-turut. Ibunya telah membawanya ke dokter saat itu. Apa yang dibicarakan sang dokter dengan ibunya, Nisa tidak mengerti. Yang ia tahu, ada rasa tidak nyaman menghampiri tubuhnya saat ia melihat ibu yang biasa menemaninya bermain riang di rumah kian sibuk mempersiapkan keperluannya untuk kembali bekerja di kantor. Sang ibu memang wanita karir sebelum Nisa lahir. Dan beliau ingin melanjutkan karirnya yang sempat terhenti setelah keberadaan Nisa di hidupnya. Nisa belum tahu artinya sendiri dan sepi kala itu. Ia hanya merasakan tubuhnya seolah menolak kenyataan yang akan dihadapinya.

Nisa kecil belum mengerti dilema yang dihadapi wanita bekerja seperti ibunya. Dengan segala cara sang ibu berusaha menjelaskan kepadanya betapa penting posisi yang ditawarkan perusahaan tempat sang ibu bekerja saat ini. Betapa kelak semua pengalaman bekerja dan harta benda yang didapat akan sangat berguna bagi masa depan Nisa. Ayah Nisa yang sudah terbiasa melihat istrinya bekerja terkadang juga membantu istrinya menjelaskan kepada Nisa bahwa kesempatan emas yang didapat sang ibu saat ini teramat sayang untuk dilepaskan begitu saja. Ini hanya soal waktu, begitu kata ibu Nisa kala itu. Begitu ibu mendapatkan cukup modal untuk membuka usaha sendiri, ibu akan tinggalkan pekerjaan ibu di kantor dan berwirausaha. Ketika saat itu datang, kita bakal bisa lebih sering bertemu. Nisa kecil tersenyum kala itu membayangkan jika saat itu tiba. Ibu hanya pergi sebentar, itu keyakinan yang menguatkan dirinya saat itu.

Sejak hari pertama Nisa kecil ‘dipercaya’ untuk menapaki kehidupannya dengan hanya ditemani seorang pembantu rumah tangga, ia mulai belajar menyusun balok-balok mimpi. Balok-balok mungil yang terbuat dari harapan indah akan kembalinya hari-hari bersama sang ibu mulai disusunnya dengan rapi dan cermat. Di kala dirinya gundah akan ada atau tidaknya hari yang dinanti itu, dirinya kerap bersimpuh di atas sajadah seraya memanjatkan doa kepada Sang Maha Pemberi.

Hari ini genap 10 tahun Nisa membangun rumah khayalannya berbekal balok-balok mimpi. Sebulan yang lalu sang ibu memberinya kejutan yang hampir membuatnya tidak percaya bahwa kakinya masih menapaki bumi para manusia ini.
“Nisa, ibu memutuskan untuk menemani Nisa seperti dulu lagi, Nak. Kali ini ibu tidak akan meninggalkan Nisa lagi. Ibu janji..”
Nisa tidak mengerti mesti berkata apa. Yang ia tahu adalah rumah khayalannya sebentar lagi menjadi kenyataan. Rumah yang dinantinya selama ini. Tidak ada wujudnya, tapi tertanam kuat dalam hatinya. Angannya menari-nari tidak terkendali. Itu sebabnya Nisa ingin membuatkan sang ibu sebuah hari nan istimewa. Nisa tahu selama ini makanan kesukaan ibunya adalah sup daging dengan sayuran lengkap didalamnya. Sup buatan nenek Nisa adalah salah satu yang paling enak menurut ibu Nisa. Nisa telah menghubungi neneknya berkali-kali lewat telepon untuk menimba ilmu memasak sup kesukaan sang ibu sebisanya. Nisa juga rajin membuka-buka buku resep masakan yang menumpuk di dapur untuk mencari kombinasi yang paling pas untuk ditambahkan ke dalam masakannya kali itu. Sebulan terakhir ini waktunya nyaris didedikasikan sepenuhnya untuk resep masakan. Semangkuk sup akan dipersembahkan untuk seorang yang paling istimewa di hidupnya hari ini.

Nisa gelisah sekali hari ini. Gugup karena ia tak ingin kejutan yang dipersiapkannya untuk sang ibu tidak hadir sempurna seperti keinginannya. Ia mengerti sang ibu telah berkorban begitu banyak untuk dirinya. Sebulan yang lalu, demi mendengar Rita, salah satu anak kebanggaan atasan ibu di kantor, mengalami ketergantungan dengan narkoba, ibu mengambil keputusan drastis untuk meninggalkan pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga meskipun tabungan ibu belum mencukupi untuk membuka usaha sendiri seperti yang dicita-citakannya dahulu. Tidak apa, katanya, Ibu tidak ingin menyesal nantinya.

Nisa makin gugup tiap kali melihat jam dinding yang dirasa terlalu cepat bergeser. Ah, tidak biasanya jam ini begitu cepat bergerak, keluhnya. Nisa memohon dalam hati untuk diberikan cukup waktu untuk mempersiapkan masakannya hari itu.

Sang ibu masih bekerja hari ini. Hari terakhir sebelum akhirnya hari-harinya akan dilalui bersama buah hati tercintanya.
“Neng, mbak Atun cicip yah supnya, aroma nya sedap banget nih”, seru mbak Atun membesarkan hati sekaligus ingin membuat Nisa yang terlihat begitu gugup agar sedikit rileks.
“Ah, mbak Atun bisa aja. Duh, gimana nih mbak kalau ternyata ngga bisa istimewa ?”
Mbak Atun yang sudah hafal betul kebiasaan Nisa disaat gugup ini berusaha mengerti kegundahan sang nona rumah,”neng tambahin gula pasir sedikit deh, mudah-mudahan jadi lebih enak lagi” seraya tersenyum. Nisa menambahkan sedikit gula dan tersenyum puas demi mencicipi sesendok kecil kuah sup buatannya.

Sup daging sudah siap di dapur. Begitu juga puding buah yang Nisa pesan dari tetangga sebelah yang buka kios puding di sebuah ruko di kompleks tempat Nisa tinggal telah siap di dalam lemari pendingin sebagai hidangan pelengkap.

Berikutnya entah mengapa waktu serasa bergerak lambat. Sangat lambat. Nisa kembali gelisah. Membaca buku dan menonton televisi dilakukannya untuk merintang waktu yang tak kunjung tiba. Pukul 5 sore. Nisa menyempatkan dirinya menelpon ayah dan ibunya demi memastikan untuk kesekian kalinya bahwa orang tuanya akan tiba di rumah kurang lebih pukul 7 malam. Sesudah menutup telepon, Nisa menghampiri mbak Atun yang sibuk membersihkan dapur,”mbak, menurut mbak Atun, nanti Nisa pakai baju yang mana ya ? maksudnya, baju rumah aja apa baju pergi ?”. Mbak Atun tersenyum haru mendengarnya,”pakai baju pergi aja neng, tapi yang sederhana. Namanya juga kejutan, neng. Kalau pakai baju rumah kan biasa aja nanti, ngga kayak kejutan gitu”.

Meja makan telah siap ditata serapi mungkin. Aroma masakan tercium dari tiap sudut ruangan. Bunga mawar segar mengisi jambangan mungil diletakkan tepat disamping piring tempat ibu biasa makan. Jam dinding menunjukkan pukul 06.45 petang. Nisa serasa mendengar degup jantungnya sendiri. Riuh bertalu-talu. Hari ini sungguh istimewa. Mangkuk keramik berhiaskan lukisan bunga telah diisi dengan sup yang seistimewa harinya. Asap masih mengepul dari dalam mangkuk. Kilat kuah sup benar-benar membangkitkan selera.

Jarum jam dinding bergeser ke pukul 08.30. Asap tidak lagi mengepul dari mangkuk sup istimewanya. Piring yang berisi puding buah pun sudah tampak sedikit berair. Ada yang salah, pikir Nisa. Jam dindingnya kah, atau…
Nisa memandang bintang di langit. Gelap sungguh-sungguh menyelimuti malam.

Pandangannya kosong dipelukan sang ayah. Ia bertanya-tanya, benarkah Allah ciptakan manusia dengan sekian banyak air mata tersedia yang siap untuk dimuntahkan kapan saja ? Benarkah tidak akan pernah habis sebanyak apapun tangis sang manusia ? Pendingin ruangan di ruang ICU malam itu membekukan sebagian air mata yang tumpah di pipinya. Sebagian yang lain terus mengalir tak terbendung. Telinganya tak ingin mendengar penjelasan sang dokter tentang akibat dari kecelakaan yang menimpa ibunya. Ibu yang paling ia sayangi. Makhluk Allah yang sangat ia nantikan kehadirannya di sisinya selalu setiap hari tengah terbaring kritis antara hidup dan mati. Nisa hanya ingin ibu makan malam bersama Nisa hari ini ! Nisa tidak ingin lebih ! pekiknya dalam hati. Akankah takdir kali ini memisahkan ia dengan orang yang sangat dicintainya ? Mampukah dirinya bertahan ?
Bungkusan berisi serbuk putih masih ada di saku jaketnya malam itu…
Sebaris kalimat terngiang-ngiang ditelinganya,”nanti ada waktunya kamu membutuhkan barang ini. Jadi simpan dulu saja”.

Jakarta, 29 September 2011

Iklan

6 thoughts on “Semangkuk Sup Hari Ini

    diyan said:
    September 30, 2011 pukul 12:59 am

    “Nice story”…hiks..jangan sampai terjadi sama anak2 kita… Indahnya menjadi Full Time Mother alias ibu RT 😉

      nastitidenny responded:
      Oktober 9, 2011 pukul 3:19 am

      Ini salah satu potret kehidupan disekitar kita aja, mba…
      Baik ibu bekerja maupun tidak, insya Allah semua ditujukan untuk kebaikan bersama. Yang penting menyediakan waktu dan hati kita selalu untuk perkembangan anak-anak 🙂 Semoga Allah SWT melindungi kita semua. Amin.

    Mazmo said:
    Oktober 8, 2011 pukul 6:16 pm

    benarkah Allah ciptakan manusia dengan sekian banyak air mata tersedia yang siap untuk dimuntahkan kapan saja? *uhuk banget*

    evi nansi said:
    Oktober 11, 2011 pukul 2:58 am

    Duh… kog akhir ceritanya bikin hati nelongso toh, mbak yu 😦

    Salam,
    Evi Nansi

      nastitidenny responded:
      Oktober 14, 2011 pukul 4:51 am

      Masak siyy 🙂
      Yah namanya juga hidup, kadang susah kadang sedih..(Lho, salah ya :D)
      Nggak sedih kok mamiku yg canteek..blm tentu ibunya meninggal trs blm tentu jg anaknya jadi terjerumus ke narkoba.
      Seneeng banget dikomenin sm mami Evi..
      Have a nice day ya mami 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s