Nostalgia Senja

Posted on

Surti menghirup udara segar pagi itu. Persis seperti pagi-pagi sebelumnya ia sengaja menyibukkan diri demi melewatkan masa penantiannya akan sepucuk surat yang diletakkan begitu saja oleh pengirimnya di kotak surat di depan rumahnya. Diletakkan, bukan dikirimkan karena tidak ada perangko menempel di amplopnya.

Surat itu berisi kenangan indah. Keindahan yang selalu diciptakan oleh pengirimnya. Keindahan kala segalanya penuh dengan keterbatasan. Surti tidak bisa melupakan. Ia tidak ingin. Surat itu juga berisi rangkaian janji penuh arti bahwa tidak akan ada yang dapat menghalangi sang pengirim surat untuk dapat bertemu Surti lagi dan mengulang segala kisah kasih yang pernah ada.

Surti tak sabar menanti hari…

Seandainya ada yang dapat ia lakukan untuk membuat matahari terbenam lebih cepat, bulan tidak terlalu lama berdendang menghias malam, ia ingin awan yang menggantung berat di atas langit segera mengirimnya ke sebuah hari dimana hanya tangisan awan yang turun ke bumi yang menjadi saksi. Saksi sebuah janji setia.

Hari yang dinanti tiba.

Surti hanya meninggalkan pesan yang ia tulis diatas kertas untuk pembantu rumah tangga setianya bahwa ia akan pergi entah untuk berapa lama ia sendiri belum bisa menentukan. Ia minta rumah mungil yang selama ini melindunginya untuk dijaga dan dirawat sebaik mungkin. ‘Bisa jadi suatu saat aku pulang, yu’ ujarnya di atas kertas.

Tepat di depan pagar rumahnya, Surti kembali memandang wajah itu. Wajah yang dinantinya selama ini. Senyum hangatnya tidak pernah hilang dari ingatan Surti. Surti bimbang awalnya. Ingin mengajak lelaki yang menjemputnya untuk tinggal dengannya saja di rumah mungilnya. Tidak perlu pergi kemana-mana. Tapi rasanya tidak mungkin lagi.

“Sur, kamu masih ingat hari itu langit mendung persis seperti sore ini ?” ujar lelaki yang terus memandangnya dengan senyum hangatnya.

“Lebih dari ingat, Mas,” ujar Surti. Senyumnya mengembang demi mendengarnya.

“Sudah makan kan, Sur ? Jangan sampai belum, nanti kalau hujan biar tidak khawatir masuk angin.”

Surti geli mendengarnya. Seperti anak kecil saja, pikirnya.

“Aku sengaja belum makan, Mas, biar nanti kenyang makan air hujan,” Surti menggoda.

“Ya udah, Sur. Yuk kita jalan ke bukit itu. Oya, kamu masih ingat kain ini ?”

Surti heran bercampur haru memandangnya,”Mas masih simpan ?”

Surti tidak sanggup membendung air matanya. Diremasnya kain itu kemudian diciumnya perlahan. Aroma yang sama. Wangi seperti wangi air hujan yang turun kala pertama kali tangannya bersentuhan dengan kain itu. Langit seolah menjawab gundah yang dirasakan Surti kala itu. Perlahan awan yang telah berat dengan butiran air diatas kedua sejoli itu turun membasahi bumi. Lengkap sudah nostalgia indah hari itu.

Surti berlari kecil diikuti lelaki yang dicintainya menuju bukit yang dimaksud. Derai hujan yang turun seolah menjadi lagu pengiring kebahagiaannya. Sesekali tangannya menengadah ke langit, menampung sedikit air hujan yang ada dan mengusapkannya perlahan ke wajah. Hal yang sama dilakukan lelaki yang dicintainya.

“Mas, mana kain yang tadi ? jangan disimpan saja, dia kan dulu juga ikut kita bermain dengan hujan begini”.

Yang disebut Mas segera mengeluarkan kain yang dimaksud, menciumnya takzim dan membuatnya seolah menjadi payung tanpa pegangan untuk mereka berdua. Gelak tawa menghiasi pertemuan penuh nostalgia itu.

“Sur, boleh Mas memohon sesuatu darimu ?”,ujarnya penuh harap. “Mas cuma mohon suatu saat nanti, seandainya Tuhan sudah menghendaki Mas untuk terus berada disampingnya, wariskanlah kain ini kepada seorang anak bangsa yang dapat menjaganya setiap hari, setiap detik, bahkan dapat membuatnya bersatu dengan setiap hembusan nafasnya.”

Surti memeluk kain itu, berjanji akan melaksanakan amanat sang pemilik kain tersebut setiap saat.

Bukit itu masih seterjal dulu. Namun pasangan itu tidak merasa kesulitan sama sekali. Dahulu dikala kesulitan masih membelenggu kehidupan mereka, pendakian itu mereka lakukan sambil berlari dan menari. Melupakan lelah yang terus mendera tubuh mereka, menikmati setiap kecipak air hujan yang menjadi lagu penghapus rindu.

Langit ternyata tidak dapat menahan rasa lelahnya menemani pasangan itu bermain dengan hujan. Hingga akhirnya tampuk kepemimpinan kerajaan langit menyerahkan mandat kepada matahari untuk menghias langit pagi dengan semburat keemasannya.

***

Rumah mungil di kaki bukit itu penuh dengan pelayat. Adi, satu-satunya putra pemilik rumah yang meninggal di hari itu, beserta keluarganya, duduk bersimpuh mengelilingi jenazah ibu, sekaligus nenek dari dua orang cucu yang merasa sangat kehilangan atas kepergian sang nenek hari itu.

“Ibu titipkan surat ini, Mas Adi,” ujar Ijah penjaga sekaligus pembantu setia rumah itu.

Adi membuka surat yang diberikan untuknya.

Adi anakku yang kucintai,

Bersama surat ini, ibu ingin menyampaikan salam perpisahan kepada kalian semua yang selama ini telah setia menemani ibu dikala ibu harus berjuang melawan kesedihan dan kesendirian ibu di rumah penuh kenangan ini.

Ibu juga mohon maaf sebesar-besarnya bila selama ini ibu selalu merepotkan kalian dengan meminta kalian untuk rajin menulis tentang segala kenangan indah kalian bersama ayah dikala beliau masih hidup dan meletakkannya di dalam kotak surat hampir setiap harinya. Ibu kesulitan melupakan ayahmu, Nak. Pertemuan ibu dengan ayah ditengah-tengah kesulitan hidup selama perang kemerdekaan, perjuangan ayah menghidupi keluarga kecil kita di era pembangunan negeri ini yang meninggalkannya sendiri tanpa penghargaan sedikitpun atas usaha keras dan perjuangannya selama ini, sungguh sangat mulia. Itu sebabnya ibu meminta kalian menulisnya untuk ibu. Ibu terhibur sekaligus terkenang tiap kali membacanya.

Adi, bendera merah putih didalam lemari ibu yang selama ini ibu simpan sesuai amanat ayahmu, tolong dirawat dengan baik. Ayahmu selalu berpesan kepada ibu baik dikala beliau masih hidup maupun didalam mimpi-mimpi ibu bersamanya, untuk menjaga kehormatan bangsa dan negara ini baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan senang. Itu yang dimaksud beliau dengan merawat kain merah dan putih peninggalan beliau. Kain itu pula yang mempersatukan kami dahulu. Bendera bangsa, jatidiri bangsa. Jangan hiraukan mereka yang selalu menganggap bangsa ini lemah, Nak. Teruslah memupuk harapan akan sebuah hari dimana kemakmuran dapat dirasakan di seluruh pelosok tanah air ini.

Ibu pamit ya Nak, ayahmu sudah menjemput.

 

Ibumu,

Surti

Tamat

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s