Mei

Posted on

Aku berjalan melewati kerumunan ibu-ibu yang sibuk memilih sayur mayur untuk memenuhi deretan hidangan di meja makan mereka. Kasak kusuk terlihat semakin hangat demi melihatku lewat. Aku sudah terbiasa. Telah lebih dari 10 tahun kejadian itu berlalu. Namun demikian tiap melihatku rupanya ibu-ibu tetanggaku itu terkenang kembali. Mungkin merasa iba, atau mungkin bertanya-tanya bagaimana aku menjalani sisa hidupku saat ini.

Aku lebih suka mengatakan kalau ini merupakan bagian dari perjuangan hidup. Sebagai lelaki yang belum menikah 15 tahun yang lalu, aku kerap menghabiskan waktuku di kegiatan sosial kemasyarakatan disamping bekerja mencari nafkah dengan penghasilan rutin tiap bulannya yang berguna untuk hidupku sendiri dan juga menyambung hidup orang tua dan adik-adikku yang masih duduk di bangku kuliah. Keinginan orang tuaku menimang cucu kerap disampaikannya kepadaku baik secara langsung maupun lewat adik-adikku. Aku jarang menghiraukannya. Masih sibuk di organisasi dan di kantor tempatku bekerja selalu kujadikan alasan. Meski sesungguhnya hati ini belum menemukan wanita yang diinginkan.

Lamunanku buyar saat seorang ibu dari perkumpulan arisan tukang sayur itu menyapaku ramah,”Pak Bagus apa kabar ?”

“Baik, Bu” sahutku.

“Bapak sudah tahu belum kalau rumah kosong disebelah rumah bapak sekarang sudah ada penghuninya ?”

Oya ? Aku terkejut dalam hati meski tidak kuperlihatkan seluruhnya.

“Memang siapa Bu yang tinggal disana ?”

“Ibu kurang tahu namanya, tapi kabarnya mereka peramal”.

“Peramal ??” jawabku setengah tidak percaya.

“Iya, seorang lelaki tua dan keponakannya yang berusia 12 tahun. Tuh, ibu-ibu juga sedang ramai membicarakannya”.

“Begitu ya Bu. Baik, saya berangkat kerja dulu. Mudah-mudahan pulang kerja nanti saya bisa mampir untuk menyapa tetangga baru,” kataku tersenyum sambil berjalan cepat khawatir tertinggal bus Patas AC yang sudah hampir berangkat setelah cukup lama mangkal menunggu penumpang.

Duduk di kursi bus Patas AC untuk paling tidak selama 90 menit memaksaku untuk kembali pada lamunanku tentang hidup yang aku jalani 13 tahun terakhir ini. Hidup terasa begitu cepat berlalu kala seorang wanita amnesia yang dirawat oleh organisasi sosial dimana aku sering mengabdikan diri berhasil merebut hati dan jiwaku sekaligus. Wanita yang untuk sebagian besar orang sangat tidak diinginkan kehadirannya. Amnesia, tidak ingat siapa saja anggota keluarganya, tetapi membutuhkan harapan hidup. Tentu sangat merepotkan. Tetapi entah bagiku ia seperti sumber inspirasi yang tiada habisnya. Wanita keturunan Tionghoa yang berhasil diselamatkan oleh anggota kelompok kami kala kerusuhan di bulan Mei melanda ibukota ini akhirnya kuberi nama Mei. Mudah diingat. Itu alasan utamaku.

Mei aku gaji setiap bulannya untuk membersihkan rumah tempat tinggalku, mencuci dan memasak. Tentu ia tidak kubiarkan tinggal di rumahku. Apa kata tetangga nanti. Sebuah rumah petak sederhana tidak jauh dari tempat tinggalku menjadi tempatnya berteduh selama bekerja paruh waktu di rumahku.

Setahun tak terasa berlalu. Mei ternyata wanita yang tidak hanya rajin dan dapat dipercaya tetapi juga pandai. Ketika aku tanya apa yang ia inginkan dalam hidupnya, ia menjawab bahwa ia ingin bisa menjahit. Keahlian yang banyak sekali gunanya dalam kehidupan wanita, ujarnya.

Aku terharu melihat kesungguhannya belajar menjahit. Pesanan sudah mulai mengalir kala ia belum menyelesaikan kursus menjahit yang mesti ditempuhnya selama satu tahun. Jahitannya rapih dan selalu selesai sebelum waktu yang dijanjikan. Itu yang membuatnya kebanjiran pesanan jahitan dari tetangga-tetangga dekatku.

Aku jatuh cinta untuk pertama kali, dan itu dengannya. Aku ingin melamarnya. Tapi pada siapa ? Sedang saudara tak satupun yang berhasil diingatnya. Aku sampaikan niatku pada orang tuaku yang menyambut keinginanku kali ini dengan riang gembira. Begitu juga adik-adikku.

Baru satu tahun, ya baru satu tahun semenjak kami melaksanakan upacara pernikahan yang hanya dihadiri oleh sanak saudaraku dan tetangga-tetangga dekat, semuanya terjadi. Takdir jenis apa yang tersurat bagiku dan Mei sehingga kami terpisah tepat di bulan Mei, bulan yang sama ketika pertama kali aku berkenalan dengannya.

Mei yang berangsur-angsur membaik ingatannya semenjak pernikahan kami menjadi berbeda. Ia seringkali gelisah tanpa sebab. Ingatannya memaksa ia untuk beranjak dari waktu ke waktu dimana hati dan jiwanya rupanya belum sepenuhnya siap menerima. Selisih usia yang cukup jauh antara kami berdua membuat jurang pendapat yang cukup dalam dari waktu ke waktu di sela-sela kegelisahan jiwanya merangkai segala kepingan mozaik hidupnya. Aku di usiaku yang cukup matang, 36 tahun, berusaha memahami segala jerih payah wanita berusia 23 tahun yang menemani malam-malamku ini untuk mendapatkan kembali jati dirinya.

Waktu tidak berpihak kepadaku. Mei pergi meninggalkan rumah tempat tinggal kami setahun setelah pernikahan kami. Sepucuk surat ditinggalkannya untukku. Dirinya ingin menemukan orang tuanya. Itu saja. Sederhana baginya, sangat mengkhawatirkan untukku. Aku tidak ingin melihatnya mengembara di belantara ibukota ini sendiri, berbekal alamat yang entah masih ada bangunan berdiri di tempat tersebut atau tidak. Aku sedih tidak kepalang. Hampir setiap jam istirahat dan sepulang kerja aku mengembara mencarinya. Konsentrasiku bekerja buyar. Jatah cutiku setahun aku habiskan sekaligus demi mencari dirinya yang seperti kuduga tak kunjung kembali. Aku belum pernah sehancur saat itu. Mei mebuatku mengerti arti hidup ini jauh lebih banyak dari yang aku tahu selama ini. Kembali tegak berdiri di tengah identitas tanpa pijakan yang dijalaninya membuatku mengerti bahwa manusia adalah makhluk yang sangat kuat. Asalkan harapan terus diletakkan di tempat tertinggi dalam tiap langkah penuh penghambaan pada Sang Pemberi Hidup.

Aku harus terus hidup, harus terus berharap, karena aku mencintainya.

 ***

Ruang depan rumah itu terlihat bersih. Pasti dua orang penghuni baru rumah ini adalah makhluk Tuhan yang percaya bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Aku dipersilakan duduk oleh seorang lelaki paruh baya dengan kemeja batiknya yang bersih dan rapih walau tidak terlihat baru lagi. Aku menduga dialah sang peramal yang dibicarakan tetanggaku tadi pagi.

“Saya tetangga sebelah Pak, ingin bersilaturahmi” ujarku ramah, seramah senyum yang diperlihatkannya padaku. Tidak ada kesan seram sama sekali seandainya benar ia seorang peramal.

“Senang sekali Pak Bagus bersedia bertandang ke rumah kami,” jawabnya.

“Bapak tahu nama saya dari mana ? Bapak hobi meramal ya ?” kebetulan aku mandapatkan kesempatan baik untuk mengetahui kebenaran berita kasak kusuk tetangga.

“Saya memang peramal, tapi saya tahu nama Bapak dari Pak Ketua RT kok, bukan dari kemampuan meramal,” ujarnya sambil tertawa.

“Bapak meramal dimana ?” tanyaku penuh rasa ingin tahu. Dalam hatiku setiap kesempatan dan kemungkinan untuk menemukan Mei kembali akan aku tempuh, sesulit apapun itu.

“Jangan Bapak bayangkan saya adalah peramal dengan bola kristal ataupun kartu tarot. Saya hanya mencoba membantu klien saya yang kesulitan menentukan langkah dalam hidupnya supaya dapat mencapai keinginannya dengan keyakinan yang kuat. Tidak ada unsur menebak sesungguhnya dalam pekerjaan saya. Saya hanya mengembalikan apa yang disebut banyak orang dengan segala kebaikan alami yang dimiliki manusia sejak lahir untuk membuat hidupnya lebih berarti. Mengembalikan rasa percaya diri yang saat ini sudah banyak yang luntur dalam diri manusia. Yang saya lakukan sebenarnya adalah self healing, tapi mungkin karena profesi ini belum banyak yang kenal, akhirnya mereka menganggap saya meramal. Orang banyak berfikir sukses seseorang dapat dibantu oleh peramal yang dapat melihat masa depan seseorang kemudian mengarahkan sikap dan tingkah lakunya saat ini untuk meraih apa yang dapat dilihat dari ramalannya. Menurut saya…”

Ucapannya terputus kala seorang anak laki-laki keluar dari ruang makan rumah itu dengan membawa nampan berisi teh hangat dan sekaleng biskuit. Aku memandang anak itu agak lama. Ada kemurnian yang aku rindukan selama ini. Kedamaian yang sudah lama tidak aku temui.

“Ini keponakan saya, namanya Iwan. Dia ikut saya sejak kecil. Ibunya meninggal kala ia berusia 6 bulan. Anak yang kuat. Ibunya adalah salah satu korban kerusuhan Mei 1998 yang rupanya sempat menderia amnesia. Hilang entah kemana hingga akhirnya saya bertemu dengannya di Beijing, di rumah orang tua ibunya yang telah mendapat kehidupan yang cukup mapan disana setelah semua usahanya di Jakarta hangus dibakar massa”.

Mataku mulai berkunang-kunang…

“Ibunya bernama Mei Ling. Kabarnya, setelah kerusuhan itu, saat dirinya ditemukan dalam keadaan amnesia dan depresi berat, seseorang yang sempat mengawininya memberinya nama Mei. Benar-benar sebuah kebetulan yang tidak disengaja…”.

Pandanganku gelap seketika…

Tamat

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s