Antara Kita

Posted on

Antara kita seharusnya tidak begini. Aku mengerti ada jarak membentang, kebiasaan yang jauh berbeda, dan mungkin pula perbedaan tujuan kita datang ke tempat ini.

Deretan kalimat itu terpatri di benakku demi melihat dirinya tidak lagi mengacuhkanku yang merana di bawah terik sinar matahari di trotoar tepat di depan taman kota siang itu. Taman kota yang indah. Seharusnya desir angin yang menerbangkan dedaunan itu terasa menyejukkan, bukan seperti hawa panas yang kurasakan merasuki tubuhku demi melihatnya seperti ini.

Aku tahu tidak banyak yang dapat kulakukan dari tempatku berdiri. Ia yang tengah asyik bercumbu dengan kekasihnya telah menenggelamkan nyaliku untuk menghampiri dan memeluknya.

Belum terlalu lama kami berdekatan dan saling memadu kasih di tempat ini. Aku yakin itu. Dan kini aku tidaklah sedang hilang ingatan. Meski sejak pertama kali kedekatan kami terjalin aku sudah tahu akan berakhir begini. Bukan keputusannya untuk menjadikanku nomor dua, juga bukanlah keinginanku untuk merelakan posisi nomor satu ditempati oleh yang lain. Semua terjadi begitu saja. Kami saling membutuhkan meskipun nyata ia bukan milikku sepenuhnya.

Siang ini, yang seharusnya terjadi akhirnya memang terjadi.

Aku lunglai dibuatnya. Seharusnya mungkin dibuat saja perjanjian antara aku dengan dia. Hari apa saja aku dapat bertemu dengannya, dan hari apa saja ia ingin melewatkan waktunya dengan kekasihnya. Aku tidak akan berlebihan dalam menentukan waktu dimana aku bisa bersamanya. Demi menghindari segala yang saat ini ada di depanku, pemandangan yang menyakitkan.

Namun apalah daya ini. Tubuh ini hanya dapat menerima, tidak dapat menolak. Dalam keadaan sedih seperti sekarang ini, tugasku untuk membahagiakan orang-orang disekitarku tak juga berkurang. Mereka tidak mau mengerti sang badut pujaannya sedang menangis sendiri. Hanya sang badut yang dapat merasakan air matanya karena ia terbuat dari larutan semen dan air yang sudah mengeras. Pandangannya tak jua lepas dari patung putri duyung yang dahulu sempat menemaninya kala petugas dinas taman kota belum memindahkan sang putri duyung ke tempatnya sekarang. Tempat dimana ia seharusnya berada, bersama sang putra duyung menghias kolam air mancur di taman kota.

 

Tamat

(Ditulis untuk #11Projects11Days nulisbuku.com)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s