Cermin

Posted on Updated on

“Apa tidak terlalu pagi aku mesti menjemputmu ?”

Ada rasa iba mendera demi mendengarnya mengeluh lesu mengingat jadwal pekerjaan pagi harinya yang padat di hari Minggu. Tapi sayang, egoku sebagai laki-laki lebih tangkas menguasai alam pikiranku saat itu. Aku diam, tidak menjawab hanya membuang muka seolah ingin cepat beranjak.

“Ok, sorry aku tadi cuma iseng tanya,” jawabnya mencoba mengerti keangkuhanku akan keberatannya.

Siang yang hening saat itu menemani aku yang egois dan ia yang agaknya dapat merasa bahagia hanya dengan memberi.

Di malam-malam sendiriku aku kerap merenungi hubungan yang aku jalin dengan Rima, kekasihku, satu tahun belakangan ini. Terbuat dari apakah hati dan pikirannya sehingga ia begitu saja dapat menerima segala perlakuanku padanya ?

Seperti yang terjadi di hari itu. Acara reuni SMU itu acaraku, bukan acaranya. Kami berasal dari SMU yang berbeda. Dengan semena-mena aku memintanya untuk datang juga ke acara itu sekedar mengantarku dengan mobil sedan keluaran terbarunya. Agar teman-temanku tahu aku punya sesuatu yang dibanggakan. Kekasih yang setia, cantik, baik hati dan berasal dari keluarga yang berada. Itu penting buatku, tidak peduli seberapa penting semua hal itu untuk teman-temanku.

Handphoneku berdering. Dari mama lagi. Dalam sehari ia bisa menghantuiku dengan panggilan-panggilan teleponnya lebih dari 10 kali. Yang mengecek aku sedang dimana lah, sedang apa lah, dengan siapa lah, belum lagi pembicaraan-pembicaraan tidak pentingnya mengenai tenggat waktu jadwal harianku yang menurutnya tidak efisien.

“Rendi, lama sekali sih angkatnya !”

Selalu begini, gerutuku dalam hati.

Meskipun omelan hariannya selalu berakhir dengan,”Rendi, meskipun kamu bukan anak kandung mama, mama selalu ingin menyayangimu seperti anak mama sendiri. Mama begini karena rasa sayang mama padamu, Rendi, percayalah…”

Ya, mama selalu mengungkapkan rasa sayangnya melalui kecurigaan mendalam, bentakan dan kadang juga umpatan. Orang lain di luar sana mungkin menganggap ini aneh. Tapi inilah hidupku. Aku tak perlu penilaian orang lain.

Sebagai seorang anak tunggal yang tinggal dengan wanita yang bukan ibu kandungnya, aku seringkali merindukan kehangatan seorang teman untuk kuajak bicara. Aku tak sanggup mengajak Rima, karena dia adalah salah satu sumber permasalahan di hidupku. Permasalahan akan rasa serba salahku tiap kali ia pasrah dengan segala usahaku untuk menyakitinya. Aku perlu yang lain.

Akhirnya kutemukan Dewi, yang selalu menyempatkan diri untuk duduk dan mendengarkan segala keluh kesahku. Dihadapannya aku seperti bertekuk lutut siap untuk memahami pertanyaan-pertanyaannya yang terkadang aneh, tapi tetap enak didengar. Tapi kali ini Dewi sungguh berlebihan.

“Ngga pulang ke rumah dulu, Ren ?” sapanya.

“Ngga apa-apa, mampir dulu, udah bilang mama kok”

“Kamu pembantu mama atau anak mama sih ?”

Aku kurang suka dengan pertanyaan sarkastisnya kali ini. Seperti biasa, terhadap pertanyaan yang menyinggung harga diriku, aku cuma diam, tak acuh dan mengharapkan siapapun bereaksi layaknya reaksi Rima selama ini padaku. Mengalah dan mengalah.

Sayangnya ini bukan Rima, tapi Dewi.

“Kamu ngga dengar ya pertanyaanku ?”

“Aku ngga minat buat jawab, ngga usah belagak sok ngga tau tentang hubunganku dengan mama selama ini. Aku butuh kamu yang selama ini berlega hati mendengarkan curhatku tentang Rima. Dia makin hari makin aneh.”

“Makin aneh bagaimana ? Bukannya selama ini perlakuanmu padanya yang aneh sementara ia selalu sanggup mengerti ?”

Kembali hatiku tersakiti.

Bukannya diam menunggu jawabanku, kali ini ia mengkuliahiku panjang lebar.

“Rendi, kali ini aku harus terus terang padamu. Aku muak dengan tingkah lakumu selama ini pada Rima. Apa yang ingin kamu tunjukkan sebenarnya ? kekuasaan ? ego ? atau sekedar pelampiasan rasa sakit hati karena kamu sebenarnya merasa tidak pernah ingin diperlakukan ibumu seperti sekarang ini tapi kamu tidak bisa menolaknya ?”

Ia meneruskan.

“Ayolah, Ren, bangkit dari keterpurukan hidupmu. Apa yang kamu anggap baik selama ini hanyalah kepuasan menyakiti orang lain ! tidak lebih !”

Tanganku mengepal kencang, ingin aku memukulnya saat ini. Ia tahu tapi tidak gentar sama sekali.

“Rendi, keluarkan tubuh kamu dari segala bayang-bayang kelam masa lalumu, baik yang masih terjadi hingga saat ini, maupun yang hanya membekaskan luka. Kalau kamu laki-laki, kamu pasti bisa !”

Kali ini aku tidak tahan lagi. Kulayangkan tanganku ke mukanya. Aku tidak peduli. Tidak pernah ada selama ini yang berani mengorek luka itu terlalu dalam. Luka hati melihat kekerasan yang dilakukan ayah terhadap ibu selama ini, perpisahan mereka selagi aku berumur 12 tahun, pernikahan ayah dengan mama yang tidak memperdulikanku kecuali demi menanamkan segala doktrin negatifnya.

Prang !!!

Tidak ada wajah yang terluka. Punggung tanganku yang bersimbah darah. Darah yang seolah ingin terbebas dari tubuhku yang penuh dengan kebencian. Dewi tidak ada lagi. Ia memang tidak pernah ada. Yang ada hanyalah aku dan cerminku. Cermin yang saat ini bagian-bagiannya sudah menjadi kepingan.

Sementara malam semakin kelam, masih bisa kudengar nada merdu mengalun dari CD Playerku

Just gonna stand there and watch me burn

Well that’s alright because I like the way it hurts

Just gonna stand there and hear me cry

Well that’s alright because I love the way you lie

I love the way you lie…

 

Tamat

(Ditulis untuk #11Projects11Days nulisbuku.com)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s