Kembar

Posted on Updated on

Permukaan air itu membentuk lingkaran-lingkaran dengan urutan mulai dari yang paling besar ke yang paling kecil. Gita suka sekali dengan pemandangan seperti itu. Terkadang ia sengaja menambahkan sentuhan-sentuhan lembut agar lingkaran-lingkaran indah yang terbentuk kembali terlihat jelas. Gerimis hari itu telah memuaskan pandangan Gita akan keindahan sungai di dekat rumahnya. Rumah yang sengaja dipilihnya karena lokasinya yang dekat dengan pemandangan favoritnya, yaitu titik-titik air hujan yang jatuh ke permukaan air sungai.

Sebelum meninggalkan pinggiran sungai tempatnya memadu kasih dengan alam, pandangan Gita terantuk pada dua helai daun yang melintas terbawa aliran sungai. Lebarnya sama, bentuknya pun sama, namun tak lama kemudian kedua daun tersebut berpisah karena sebagian arus sungai terbelokkan oleh bebatuan.

***

Arman terlihat canggung bertemu denganku saat sebelah tangannya menggandeng tangan saudara kembarku, Gina, yang juga tunangannya saat kami berpapasan di sebuah pusat perbelanjaan. Ia seperti membaca pikiranku, ataukah selama ini gerak tubuhku yang memperlihatkannya ?

Aku tak ingin ada yang terluka. Baik Arman apalagi Gina, saudara kembarku yang manis, yang selama ini aku anggap sebagai separuh dari tubuhku. Ya, memang begitulah adanya. Kami memang berasal dari indung telur yang sama. Namun banyak hal dalam hidup ini yang mesti dihadapi dengan berani. Lebih dari sekedar menerima.

“Gita, aku…” Arman kesulitan menyambung kata-katanya.

“Ssstt…tidak ada yang perlu disesali,” jawabku.

“Adakah yang dapat aku lakukan untukmu ?”

“Ada, suatu saat nanti pasti ku beritahukan. Sekarang hadapilah kenyataan ini,” ujarku menutup percakapanku dengan Arman siang itu.

Menurut leluhur orang tuaku, apabila ada anak yang terlahir kembar, yang keluar dari rahim sang ibu belakangan itulah yang lebih tua. Dan itu adalah Gina. Ia mesti menikah lebih dahulu daripada adiknya supaya tidak ada petaka di kemudian hari. Itulah yang dipercaya oleh keluarga besar kami. Itu juga yang memisahkan aku dari cinta Arman. Mimpi nenek akan datangnya seseorang yang lahir di hari lahir Arman, berperawakan seperti Arman dan berlatar belakang seperti kehidupan Arman telah memantapkan keluarga besarku bahwa ia lah jodoh Gina, bukan aku.

“Mimpi orang tua seperti nenek itu bukan mimpi sembarangan nak, itu isyarat, kalau tidak kita ikuti, siapa yang mau tanggung jawab kalau ada apa-apa dengan Gina nanti,” demikian penjelasan ibu padaku, yang kemudian diikuti oleh keterangan panjang lebar dari om dan tante tentang tafsir mimpi yang sangat sulit aku pahami.

Aku bimbang dibuatnya. Di satu pihak mereka adalah keluargaku, yang menyebabkan aku ada di muka bumi ini, sementara hati dan jiwaku menyangkal segala pandangan mereka terutama untuk yang satu ini.

Sejak itu aku lebih suka menyendiri. Dalam sepi aku mencoba memahami segala yang terjadi dalam hidupku ini. Keadaan ini begitu kelabu bagiku. Ingin rasanya aku tinggalkan kehidupanku saat ini dan menyatukan diri dengan sepi yang ternyata lebih dapat diandalkan kesetiaannya. Ia tidak menuntut, hanya memberi. Memberi keleluasaan bagiku untuk bertanya pada Sang Pencipta, apa yang sesungguhnya tertulis dalam kitab kayangan untuk masa depanku. Mati muda kah ? Jadi perawan tua kah ? Atau apa ?

Mungkin segalanya dapat menjadi lebih mudah seandainya Gina tidak punya perasaan yang sama terhadap Arman selama ini. Mungkin segalanya juga dapat menjadi lebih mudah bagiku seandainya bukan Gina yang selama ini berkorban untuk kemajuan hidupku, pendidikanku, masa depanku. Gina yang rela menghentikan pendidikannya hanya sampai tingkat SMU agar orang tuaku dapat terus membiayaiku kuliahku, Gina yang selalu dengan ikhlas membantuku menyelesaikan tugas-tugasku semasa kuliah, Gina yang memelukku dengan haru pertama kali saat aku dinyatakan lulus sarjana.

“Arman, jangan pernah tinggalkan Gina untuk alasan apapun. Aku mohon, berjanjilah padaku,” ucapku pada pertemuan singkatku dengan Arman sehari sebelum keluarganya berkunjung ke rumah orang tuaku untuk melamar Gina.

***

Bunyi gamelan berdendang merdu mengiringi langkah pengantin yang terlihat anggun malam itu. Semua tamu yang telah hadir dipersilakan berdiri untuk menghormati pengantin dan keluarganya berjalan menuju ke pelaminan. Aku berdandan rapi, berjalan perlahan mengikuti irama gamelan yang menyatu dengan suasana sakral nan syahdu. Jiwaku terhanyut dalam lantunannya, setiap langkahku serasa mewakili seluruh kisah hidupku sampai dengan malam itu. Malam dimana Gina, kakakku tersayang bersanding di pelaminan dengan Arman yang dulu aku cintai. Sementara aku berjalan disamping seorang lelaki tampan yang baru satu minggu yang lalu melamarku, Herman, saudara kembar Arman.

Tamat

(Ditulis untuk #11Projects11Days nulisbuku.com)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s