Sebuah Asa Untuk Tobi

Posted on

Secercah cahaya menyusup ke tempat Tobi tidur malam itu. Meski cahaya itu tidak seterang sinar matahari pagi yang kerap membangunkan tidurnya, tetap saja membuat mata Tobi memicing.

Suara halus nan lembut menyapa,”Tobi, sekarang waktunya.”

“Benarkah ?” Tobi berkata antara sadar dan tidak.

“Perjalanan ini akan terasa berat untukmu. Tapi percayalah, tak ada satupun tantangan di dunia ini yang ringan dijalani untuk menjadikan diri kita pemenang sejati.”

Tobi bangkit dari tempat tidurnya. Demi mendengar suara yang memberinya semangat ia bergegas untuk melakukan perjalanan panjang penuh tantangan yang hanya akan memberinya dua pilihan. Hidup dan sampai di tujuan atau mati dalam perjalanan.

Telah lama Tobi memendam keinginan kuat untuk mengikuti jejak leluhurnya menggapai apa yang selama ini disebut sebagai amanat terakhir. Ia mengerti bukan hanya dirinya yang menginginkan perjalanan panjang ini. Ratusan bahkan mungkin jutaan makhluk seperti dirinya dengan kondisi sama atau bahkan lebih baik akan pergi bersamanya untuk mencapai titik akhir dari perjalanan yang akan ditempuhnya. Hanya satu, menurut suara itu. Ya hanya satu yang berhak hidup dan mencapai garis akhir. Sedang yang lain… Ah, Tobi tak ingin membayangkannya.

Perlengkapan yang diperlukan segera Tobi persiapkan. Ia tak ingin terlambat memulai. Selalu ada cara untuk mencuri start, pikirnya.

“Ingat, Tobi, perjalanan ini tidak hanya akan menghabiskan seluruh persediaan makanan dan minuman yang kau bawa, tapi juga akan menguras seluruh energi dan kemampuan kita menahan emosi. Bersiaplah !” suara itu mengakhiri kalimatnya.

Tobi melangkah ke arah kuda yang siap ditungganginya, menepuk punggung kuda kesayangannya dan melompat naik.

Sepertiga awal perjalanan yang mesti ditempuh diwarnai dengan pertemuan dan perkenalan dengan sesama ksatria muda yang rela meluangkan waktu dan tenaganya untuk meraih asa hidupnya. Tom, demikian penunggang kuda putih bersih itu memperkenalkan namanya. Dilihat dari caranya berbicara, tentunya ia bukan berasal dari keluarga sembarangan. Tetapi demi melihat perangainya, Tobi tidak dapat lagi menaruh rasa hormat sedikitpun padanya. Tom gemar menyiksa kuda tunggangannya dengan tidak memberinya makan pada waktunya selama perjalanan. Sementara sang kuda tidak boleh sedikitpun mengurangi kecepatannya berlari. Ia tak segan-segan mencambuk kudanya dengan cambuk besi yang tentunya menyakitkan sekali bila mendarat di punggung tunggangannya. Pemandangan ini membuat Tobi bertambah yakin bahwa penampilan sama sekali tidak menjamin tingginya budi pekerti. Pun banyaknya harta yang dimiliki tidak dapat memberikan jaminan sama sekali. Sungguh disayangkan.

Tanah lapang berumput dan berpasir telah dilewati Tobi dan kudanya dengan selamat. Pusaran angin terkadang menghampirinya sepertiga perjalanan ini. Ada kala dirinya harus menghentikan langkah kudanya demi menunggu pusaran angin itu berhenti. Sejauh ini Tobi sanggup menghadapi hambatan yang muncul di perjalanan. Kesabaran dibutuhkan disini. Juga kemampuan berkuda yang baik.

Medan berikutnya jauh lebih menantang. Terlihat dari tempat Tobi berdiri kini pegunungan berjajar menanti untuk dipijak oleh langkah-langkah mungil yang bersedia mengabdikan dirinya demi amanat terakhir yang akan membawa namanya dan leluhurnya harum dan diingat selamanya.

Tobi ternyata tidak sendiri memandang keangkuhan pegunungan dihadapannya. Seseorang berdiri disebelahnya seraya berkata,”Aku dilahirkan sebagai seorang ksatria karena keluargaku menghendakinya. Tapi aku sesungguhnya tidak pernah benar-benar mengerti maksud mereka membiarkanku menyandang beban itu. Aku merasa ini sungguh tidak pada tempatnya. Aku tidak pernah menghendakinya. Mereka memintaku menempuh perjalanan ini tanpa pernah menanyakan apakah aku bersedia atau tidak, apakah ini semua bermanfaat untukku.”

Ia melanjutkan kalimatnya,”Tahukah kau kawan, apa yang akan kau dapatkan di ujung perjalanan nanti ? Dapatkah seseorang menceritakannya padamu ? Sementara bagi yang hidup sampai di tujuan nanti hanya bisa mendapati dirinya melebur bersama cahaya suci ?”

Tobi mulai mempertanyakan pada dirinya sendiri arti perjalanan ini.

Sosok asing itu melanjutkan kalimatnya tanpa menoleh sedikitpun pada Tobi. Ia seolah hanya berbincang pada kuda tunggangannya,”Hai, adakah pegunungan terjal yang akan kita tempuh nanti memberimu pelajaran berharga ? Lihat, ia begitu kering, tak ada tumbuhan dapat hidup disana. Sementara perjalanan untuk melewati pegunungan itu sudah dapat dipastikan lebih dari 6 hari. Mungkinkah kita bertahan dalam kondisi seperti itu ? Tidakkah lebih bermanfaat seandainya waktu tersebut kita pakai untuk berkumpul bersama yang lain dalam hangat api unggun seperti biasanya ? Bercanda dan bercerita hingga pagi tiba ?”

Ingatan Tobi melayang pada sanak saudaranya di tempat tinggalnya yang mungkin kehilangan dirinya, merindukan suaranya, serta kehadirannya di tempat mereka biasa berbagi perasaan. Oh, mengapa langkah ini menjadi kian berat terasa. Tobi ingin melangkah, namun jiwanya serasa tidak memberi kakinya ijin. Kini tidak hanya tubuhnya yang harus bekerja menuntaskan perjalanan ini. Jiwanya harus ikut serta. Membiarkan jiwa dan tubuhnya membuat keputusan sendiri-sendiri hanya akan menyisakan ragu tak berkesudahan. Tobi memejamkan mata, mencoba memusatkan perhatiannya hanya pada hati yang telah sejak awal membuatnya melangkah hingga sejauh ini. Mencoba bersahabat dengan harmoni kehidupan yang mengajaknya untuk berdamai dengan keputusan yang telah dibuat. Kini pertanyaan demi pertanyaan muncul dari dalam tubuh Tobi sendiri. Apakah yang ia dapat seandainya ia berbalik arah untuk pulang dan membatalkan seluruh perjalanan ini ? Kekecewaan sebagian sanak saudaranya mungkin. Namun yang lebih penting dari itu, adakah dirinya mampu memaafkan ketidakmampuannya menghadapi cobaan kali ini ? Ia tidak dilahirkan sebagai pengecut. Ia tidak ingin dibuai kebahagiaan sebagai pecundang. Tidak. Keputusannya telah bulat kali ini.

Pegunungan gersang yang pongah menghadangnya kini tak lagi terlihat garang. Hanya sedetik setelah keputusan untuk melanjutkan perjalanan itu dibuat, semua yang dihadapannya menjadi lebih terang, lebih indah. Kaki yang semula berat bagai bersepatu besi baja, kini terasa sangat ringan.

Berbekal ucap syukur, Tobi melecut kudanya untuk melintasi pegunungan dan melanjutkan perjalanannya hingga akhir. Hanya akhir perjalanan ini yang mampu menghentikannya, lain dari itu tidak. Ia menengok ke kanan dan ke kiri dengan pandangan tak percaya. Dari jutaan ksatria yang pergi bersamanya, kini tak lebih dari 10 yang tersisa seraya memantapkan diri untuk menyelesaikan perjalanan ini. Untuk kesekian kalinya Tobi menyadari sesuatu. Memaknai arti ‘mati’ dalam sebuah perjalanan dengan lebih bijaksana.

Rintangan datang dan pergi mengiringi perjalanan sejumlah ksatria yang pantang menyerah itu. Sengatan matahari, dingin yang menusuk di gelap malam serta lemahnya tubuh akibat semakin berkurangnya persediaan makan dan minum telah kembali menenggelamkan nyali sebagian pejuang-pejuang itu. Satu per satu menyerah pada nasib yang mereka gariskan sendiri.

Tobi menunggang kudanya tanpa memperdulikan sekelilingnya lagi. Nafasnya tersengal-sengal seiring dengan makin dekatnya dirinya ke tujuan akhir. Cahaya yang sangat menyilaukan mulai mendekat. Sedikit lagi, pikirnya. Cahaya itu pertanda tujuan akhir sudah dekat. Dirinya ataukah bukan yang akan memenangkan perjalanan ini tidaklah dirisaukannya lagi. Ia harus sampai. Ia harus mampu sampai ke tujuan akhir. Kini cahaya yang menghampirinya terasa makin menyilaukan. Ia merasakan energi yang sangat besar menghisap tubuhnya perlahan. Semakin lama semakin banyak bagian tubuhnya yang menyatu dengan kekuatan itu. Hingga akhirnya seluruh tubuhnya terhisap tak bersisa.

***

Sepasang suami istri terlihat gusar di sebuah ruang tunggu pasien. Keringat dingin membasahi tubuh keduanya. Ini adalah penantian untuk usaha mereka yang ke 5 kalinya. Tidak banyak yang tahu pasangan itu telah menanti selama 15 tahun untuk mendapatkan buah hatinya. Selama itu pula semangat mereka untuk memperjuangkan keinginannya jatuh bangun. Tidak cukup dengan vonis beberapa ahli medis yang menyatakan ketidakmampuan benih sang suami untuk membuahi indung telur sang istri, tetapi juga posisi indung telur sang istri yang tidak normal. Pembuahan melalui proses bayi tabung pun akhirnya menjadi pilihan.

Tidak lama kemudian, nama sang suami dipanggil masuk ke ruang dokter. Telapak tangan sang istri yang basah oleh keringat dingin digenggam erat oleh sang suami yang selalu menguatkannya. Membasuh keraguannya melangkah kali ini.

“Berdasarkan hasil dari laboratorium tempat pembuahan kami lakukan, akhirnya kami pun turut mengucap syukur bahwa pembuahan kali ini berhasil,” sang dokter tersenyum penuh haru mengingat pasangan suami istri ini telah berkali-kali menghadapnya di ruangan ini untuk mendengar pernyataan tentang hasil yang negatif dari proses pembuahan dalam tabung yang dilakukannya. Tapi kali ini lain.

“Tampaknya, benih yang bapak tanam kali ini mengerti perjuangan yang bapak dan ibu lakukan demi menimang buah hati tercinta. Ia tidak ingin mengecewakan calon orang tua yang tidak pernah berputus asa untuk terus menerus berusaha. Penerus keturunan yang akan menyambung segala amal baik kita di dunia ini. Sekali lagi kami ucapkan selamat kepada Bapak dan Ibu Tobias.”

Air mata haru tak henti mengalir dari mata keduanya.

 

Tamat

(Ditulis untuk #Proyek 2 Cerpen Hati, 27 Oktober 2011)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s