Senyum Ilalang

Posted on

Dalam keadaan serba kecukupan ia mestinya dapat menikmati hidup dengan lebih baik. Itu anggapanku, sangat mungkin juga anggapan sebagian besar orang. Ilalang namanya, terlahir dengan keadaan tanpa kedua lengan. Meski demikian, ia tidak pernah kesulitan menjalani hidupnya. Ayahnya seorang pengusaha mebel yang sukses sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang mencurahkan segala perhatiannya bagi kebahagiaan keluarganya. Menurutku, dengan keadaan seperti itu mestinya Ilalang dapat dengan mudah meminta orang tuanya untuk membelikannya dua tangan palsu yang dapat membantunya untuk tampak seperti layaknya anak-anak seusianya yang gemar bermain bola, bulutangkis ataupun sekedar bermain kelereng.

Alih-alih meminta keutuhan organ tubuhnya, Ilalang justru memaknai perbedaan itu sebagai kelebihan yang tidak dimiliki anak lain. Sampai dengan usianya yang ke 8, ia makin rajin melatih kedua kakinya untuk menggantikan tugas sang tangan. ‘Ayah, lihat, jari kakiku bisa menjepit kuas untuk melukis. Sebentar lagi aku bisa deh melukis pakai kaki’ atau ‘Ibu, ajari aku menjahit dong. Masak iya aku ga bisa. Ibu percaya kan sama aku ?’ Tatap haru serta bangga hadir membingkai senyum penuh arti ayah, ibu, dan Padang, saudara kandungnya.

Padang, yang lahir 2 tahun sebelum kelahiran Ilalang kerap dibuat kagum oleh ketangkasan adiknya menggunakan kakinya untuk melakukan banyak hal. Mulai dari menggambar, menyusun puzzle sampai dengan bermain menangkap bola. Tidak jarang teman-teman Padang berdatangan ke rumah sekedar untuk menguji kemampuan Ilalang. Ilalang tidak malu, ia selalu menyambut tantangan itu dengan senyuman.

“Kak”, kata Ilalang memecah kesunyian sebuah pagi. “Kakak mau tahu nggak tokoh yang paling aku kagumi.”

“Hmmm…presiden ya ?”

“Bukan”.

“Terus apa dong ?” Padang dibuat penasaran oleh pertanyaan sang adik.

“Be A De U Te !”

“Badut, maksudnya ? Yang bener ah, kenapa mesti badut sih ?” sang kakak merasa mendapatkan jawaban yang benar-benar diluar dugaannya.

“Karenaaa…mmm apa ya…karenaa aku suka. Sukaaa banget..”

“Iya, tapi alasannya apa ?”

“Kakak pernah lihat badut cemberut ?”

“Pernah dong, kan rias wajah badut bisa beda-beda, tergantung perannya.”

“Ilalang tahu, kak. Maksudnya, badut yang cemberut hati dan wajahnya…”

“Mana kakak tahu hati badut, kan nggak ketahuan. Tapi, bener juga ya, mungkin yang kamu maksud pernah nggak kakak lihat badut yang tidak berhasil membuat penontonnya tersenyum gembira ? Yang pasang tampang bête jadi bikin orang yang lihat sebel gitu ? Belum pernah sih kalau yang itu.”

“Tuh, kakak tahu. Itu kak yang buat aku suka sama badut. Meskipun kadang mungkin hatinya sedang tidak bahagia, Ilalang yakin sang badut akan tetap berusaha membuat orang lain bahagia. Karena badut ingin memberi terlebih dahulu sebelum menerima. Keren kan, Kak…”

Padang tersenyum menyudahi percakapan dengan adiknya yang unik ini. Dalam senyumnya ia berharap suatu hari nanti sang adik dapat memenuhi keinginannya, menjadi apapun itu, yang penting ia bahagia.

Hari berganti menggulung minggu yang menanti untuk diperbaharui oleh sang surya. Begitu pula kehidupan berlalu bagi Ilalang, seorang anak yang dengan pemahamannya sendiri terhadap hidup membuat segala yang terlihat penuh dengan kekurangan menjadi begitu istimewa. Tak jarang pandangan sinis ataupun penuh belas kasihan menyertai langkahnya di pusat perbelanjaan, pasar, ataupun tempat bermain anak-anak. Namun senyum indah selalu dibiarkannya menghias bibir mungilnya sesering mungkin.

Bulan dan matahari yang setia menemani bumi tidak pernah mengingkari janjinya untuk hadir sebagai penanda malam dan siang. Namun adakalanya gerhana terjadi dalam siklus kehidupannya di tata surya untuk melengkapi makna sebuah ujian hidup yang mesti ditempuh. Menggali arti kesetiaan lebih dalam lagi.

Hanya selang seminggu setelah perayaan ulang tahun Ilalang yang ke 12, badai menghantam perahu yang telah dikayuh keluarganya selama berpuluh-puluh tahun. Perahu yang telah membawa seluruh anggota keluarganya berlayar tenang mengarungi samudera kehidupan. Usaha mebel yang telah dijadikan sandaran hidup keluarganya selama ini harus direlakan untuk membayar hutang karena penipuan yang dilakukan rekan kerja sang ayah yang di saat kesulitan datang menghantam justru menghilang tanpa jejak.

Sang ayah yang merasa sangat terpukul tidak ingin diajak bicara untuk sementara waktu. Terkadang ia terlihat linglung, terkadang menangis sendiri di sepinya malam. Tak urung Padang, anak tertua di keluarga itu turut merasakan kepedihan sang ayah. Ia kerap menghilang dari rumah yang kian lama kian tidak terurus karena penghuninya tenggelam dalam kesedihan berlarut-larut. Kembali setelah dua atau tiga hari dengan pakaian dan wajah yang sama kumalnya. Bermain ke rumah teman, mencoba menghilangkan kesedihan, katanya. Ilalang awalnya belum benar-benar mengerti prahara yang menimpa keluarganya, hingga akhirnya sang ibu memeluknya dalam derai air mata sambil menceritakan keadaan yang sesungguhnya terjadi. Yang belum tentu dapat dipahami oleh anak bungsunya.

Lain yang terjadi dengan Padang, lain pula yang terjadi dengan Ilalang. Di tengah keterpurukan yang dialami oleh keluarganya, Ilalang tidak memandang bahwa kesulitan kali ini adalah sesuatu yang layak untuk disesali, pantas untuk ditangisi siang dan malam. Bukankah Tuhan Maha Adil pada hambanya ?

Tidak perlu menunggu terlalu lama bagi Ilalang untuk menentukan langkah yang dapat dilakukannya untuk menghapus derai air mata kepedihan ini dengan senyum tulus yang mulanya selalu menghias dinding rumah yang didiaminya.

“Ibu, ijinkan aku menjadikan kesulitan yang sedang kita hadapi ini sebagai langkah awal untuk menggapai apa yang selama ini aku inginkan.”

Sang ibu tidak mengerti maksud dari perkataan Ilalang awalnya hingga suatu hari ia menemukan kamar anak bungsunya penuh dengan kostum badut dan perlengkapannya.

“Ibu, aku mau ibu berhenti menangis, aku mau ibu tersenyum melihatku,” ujarnya seraya berusaha mengenakan pakaian badutnya dengan bantuan kedua kakinya.

“Ibu atau teman ibu pernah lihat badut nggak punya lengan ? Belum pernah kan ? Aku mau jadi yang pertama, ibu..”

Dikeluarkannya seluruh perlengkapan badutnya mulai dari bola berwarna-warni sampai beragam tongkat kayu untuk atraksi.

“Lihat, ibu, aku bisa memainkannya dengan kakiku ! Ibu boleh memamerkan keahlianku ini ke teman-teman ibu,” seru Ilalang tersenyum sambil terus memainkan kedua kakinya.

“Ibu nggak malu kan ?”

***

Sungguh aku ingin melanjutkan ceritaku ini pada semua orang yang sudi membacanya. Kisah yang telah membangkitkan semangat makin banyak orang yang semula berfikir bahwa hidup ini terlalu naif bila hanya diyakini sebagai arti dari sebuah senyuman. Senyuman adalah pelengkap. Ia tidak dapat berdiri sendiri tanpa sebuah sebab. Ia hanyalah akibat dari sebagian peristiwa yang dialami dalam hidup manusia. Tapi bagiku tidak. Senyum bagiku bermakna sangat utuh. Seutuh semangat yang selalu membara di dada ayahku, Ilalang, dalam menjalani hidupnya.

Aku pasti melanjutkannya suatu hari nanti. Melengkapi kisah ini menjadi cerita yang lebih menarik untuk dibaca. Saat ini jari-jari kakiku sudah mulai terlatih untuk menekan tuts keyboard komputer. Nanti, saat aku melengkapinya, aku berharap seluruh jari kakiku sudah lebih lihai lagi menari diatas huruf-huruf. Karena aku hidup dengan keistimewaan dan semangat yang dimiliki oleh ayahku.

 

Tamat

(Ditulis untuk #Proyek 3 Cerpen Hati, 29 Oktober 2011)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s