Asisten

Posted on

Malam kian larut kala kulihat tumpukan kertas di folder pending job belum juga berkurang jumlahnya. Kelap kelip lampu mobil di jalanan yang terlihat dari tempatku duduk saat ini seolah mencibirku yang sampai dengan pukul 8 malam masih saja terkurung diantara sekat ruangan kantor yang dimataku sekarang lebih mirip jeruji penjara. Tak lama kemudian terlihat kilau petir beberapa kali menerangi jalanan di wilayah perkantoran Jakarta Pusat itu sebelum akhirnya hujan turun membasahinya. Hujan ingin menemaniku malam itu yang sejatinya sudah bercengkerama dengan teman-teman setiaku yang bersayap dan haus darah. Entah dari mana serangga penghisap darah itu bisa bergabung denganku yang berlindung dalam ruang ber-AC. Ah, pastilah ada jendela yang sudah tidak dapat lagi ditutup sempurna, atau plastik usang yang dipaksakan melindungi ventilasi gudang sudah mulai berlubang. Mungkin aku pantas berterima kasih atas kehadiran mereka. Karena setidaknya kepak sayapnya adalah penanda kehidupan selain deru nafasku yang lenyap tertelan bunyi tuts keyboard komputer.

Keesokan harinya, setelah kurang lebih 3 jam merebahkan diri untuk beristirahat dan tidak lebih dari 2 jam berhasil terlelap kelelahan malam sebelumnya, aku sudah berada di depan meja kerjaku kembali. Tubuhku rasanya sudah mulai menolak tekanan paksa yang telah dibebankan kepadanya demi mengejar tumpukan pekerjaan yang seolah tidak pernah usai. Kuregangkan otot-otot kaki dan tanganku bergantian bertepatan dengan langkah-langkahnya terdengar memasuki ruangan tempatku bekerja.

“Ami, saya dengar kamu sampai larut malam lagi di kantor kemarin ?”

“Iya, pak, seperti biasa” jawabku berusaha menekankan bahwa keadaan itu sudah berlangsung cukup lama meskipun dalam waktu bersamaan bisa jadi yang tertangkap olehnya adalah diriku sudah tidak keberatan lagi dengan kondisi itu. Oh, tidak, semoga bukan yang terakhir.

“Bisa kamu ke ruangan saya setelah jam istirahat nanti sebentar sambil membawa berkas yang aku titipkan semalam di meja kerjamu ? Ada yang ingin saya bicarakan.”

Aku mendadak lemas. Kelelahan bekerja sampai larut malam selama 3 bulan terakhir ini telah menelan keinginanku untuk berdiskusi dengan orang yang telah mengakibatkan sebagian besar hidupku seolah tidak ada maknanya sama sekali kecuali menjadi pesakitan jeruji besi yang menjaminku dengan sejumlah gaji tiap bulannya meski hampir tidak ada waktu sama sekali untuk menikmati hasil jerih payah itu.

Dan berkas yang dimaksud ? Oh ya, pastinya tumpukan kertas yang dengan semena-mena tiap harinya mampir di meja kerjaku. Sejumlah email yang harus aku jawab atas nama dirinya, kumpulan data yang minta dianalisa dan tak lupa beberapa berkas surat ijin cuti, permintaan sumbangan untuk acara outing rekan perusahaan, serta penyusunan jadwal meeting untuk penentuan target kerja sekaligus evaluasinya secara berkala. Dan tentunya masih ada yang lain yang rasanya sudah tidak pantas lagi disebutkan satu per satu mengingat semakin lama semakin banyak tugas-tugas aneh yang bertebaran di meja kerjaku.

Aku mulai menaruh curiga pada seseorang yang menciptakan jenis pekerjaan yang belakangan ini disebut sebagai a-s-i-s-t-e-n. Apakah memang benar pekerjaan itu harus ada untuk orang tertentu yang membutuhkan bantuan ataukah hanya sekedar sebuah percobaan pembunuhan perlahan melalui penyerahan semua pekerjaan yang tidak disukai oleh atasannya ? Pikiranku meracau dengan sendirinya.

Aku mengaktifkan tombol radio di handphone ku dan mulai mendengarkan kicauan penyiar radio favoritku. Mencoba menghalau pikiran buruk dengan mendengarkan radio rasanya cukup efektif.

Belum juga satu menit lagu indah mengalun di telingaku melalui headset handphone ku, telepon di mejaku berdering.

“Ami, baru saja aku di telpon oleh head of corporate office untuk meeting setelah jam istirahat di kantornya. Jadi kamu sekarang saja ke ruangan saya. Jangan lupa draft hasil meeting antar departemen kemarin dibawa. Saya ingin mendengar pendapatmu juga. Oya, saya rasa lebih baik kamu ikut saya juga ke meeting nanti siang. Berkenalan dengan orang-orang dari corporate office penting buatmu.”

Apa ? setelah sekian banyak beban pekerjaan dilimpahkan kepadaku sekarang aku dimintanya untuk mengikuti meeting yang tidak mengundangku sama sekali ? Lalu, pekerjaanku yang tanpa ada tambahan kegiatan keluar kantor sedikitpun itu sudah menumpuk bak sindrom gunung es ? Aku merasakan jarum menusuk-nusuk kepalaku.

***

Seminggu berlalu semenjak meeting tidak penting yang menyelipkan sedikit acara perkenalan diriku oleh Pak Bambang, atasanku yang sepertinya dipaksakan itu. Dan seperti yang kuduga, beberapa email berkaitan dengan corporate office yang semula tidak pernah kusentuh mulai berdatangan di meja kerjaku. Di luar beban yang sudah ada, diluar jadwal meeting tambahan sebagai akibat dari perkenalan singkatku sebagai asisten Pak Bambang.

“Ami, kamu perlu refreshing. Berliburlah barang seminggu ke Bali,” kata Frida, rekan kerjaku dari bagian keuangan demi melihat mataku yang makin lama makin cepat sayu dari hari ke hari. Aku membisu. Bagaimana mungkin ? Siapa yang akan menggantikanku ? Siapa yang sudi ? Yang terakhir adalah pertanyaan yang sesungguhnya.

“Aku punya voucher spa gratis nih buat dua orang besok sabtu. Pergi yuk !” hibur Santi sambil melambaikan voucher nya di depan hidungku. Oh ya, ide bagus ! pikirku, hanya satu menit sebelum program reminder di laptopku berbunyi mengabarkan acara peresmian salah satu anak perusahaan baru yang harus aku hadiri karena Pak Bambang berhalangan hadir. Sungguh waktu yang tepat untuk menaburkan bunga duka cita. Santi bersimpati kepadaku sebelum pergi meninggalkan meja kerjaku dan mulai menawarkan voucher gratisnya kepada rekan kerja yang lain.

Aku mendesah perlahan kemudian kembali menenggelamkan diri dalam tumpukan kertas dan email pekerjaan yang tak pernah lupa menyapaku tiap jam, tiap menit, tiap detik. Tanpa aku sadari, sesosok makhluk berdiri dihadapanku entah sudah berapa lama.

“Sibuk terus nih…,” sebuah suara mengagetkanku.

“Eh, Bu Mira, ada apa nih tumben mampir,” sapaku terkejut melihat kepala personalia yang menyenangkan namun tegas itu berdiri di hadapanku.

“Ada yang ingin saya bicarakan, Ami, penting. Yuk ke ruangan saya.”

Tubuhku yang sejak semula sudah pegal karena sendi-sendi di kaki dan tangan sudah terlalu sering memberontak tapi tidak diperhatikan menjadi semakin linu. Apa aku melakukan kesalahan ? Terlalu banyak beban pekerjaan selama ini pasti penyebabnya. Tapi kesalahan apa ya, dan kapan itu terjadi. Segudang pertanyaan menghantui perjalananku menyusuri koridor kantor mengikuti langkah Bu Mira ke ruangan kerjanya.

“Duduk, Mi,” ucapnya lembut.

“Terima kasih, Bu.”

“Begini, Ami, saya ingin mengabarkan kepadamu bahwa berdasarkan pertimbangan perusahaan, kesehatan Pak Bambang sudah tidak memadai lagi untuk memimpin puluhan staf dalam sebuah divisi penting seperti sekarang ini. Oleh karenanya, kemarin kami meminta beliau untuk mengajukan beberapa nama calon pengganti beliau. Dan beliau memberikan amplop ini kepada saya. Setelah saya buka, didalamnya ada selembar kertas dan sebuah amplop berukuran lebih kecil yang tertutup. Kata beliau, hanya kamu yang boleh membukanya.”

Bu Mira menghela nafas panjang sambil tersenyum kepadaku. Kemudian melanjutkan kalimatnya,”Menurut Pak Bambang hanya kamu yang pantas menggantikan beliau. Hal itu berdasarkan performance kerja kamu selama 2 tahun belakangan ini, ditambah prestasi-prestasi yang berhasil diraih divisi Pak Bambang semenjak kamu bergabung di dalamnya. Selamat ya Ami. Tidak ada kerja keras yang tidak memberi hasil. Selama ini Pak Bambang mempersiapkan kamu untuk menggantikannya karena beliau merasa bahwa usianya yang sudah makin lanjut. Harus ada generasi muda yang tangguh dan pantang menyerah untuk menggantikan posisinya. Pekerjaannya selama ini tidak ringan, Ami, itu sebabnya beliau memintamu untuk….”

Pembicaraan kami dihentikan oleh dering handphone bu Mira.

“Halo, ya Mira disini… Serangan jantung ?”

Wajahnya pucat pasi.

***

Gundukan tanah itu basah diguyur hujan yang tak memberinya waktu untuk mengering sejak semalam. Aku berdiri mematung di bawah payung, tepat disamping gundukan itu. Bumi telah menyimpan orang yang paling berjasa dalam hidupku hingga saat ini. Membiarkannya menyatu dalam sunyi yang tak berbatas. Andai aku sempat mengucapkan salam perpisahan padanya siang itu. Andai amplop tertutup itu hadir untukku sehari saja sebelum kesunyian abadi membawanya pergi. Andai ada yang tersisa dari putaran waktu untuk berbicara berdua, ya, hanya berdua. Aku tidak akan menghindar, tidak juga akan mengeluh untuk waktu yang akan sangat berharga itu.

Perih menyusup dalam rongga dadaku. Kembali kubuka surat didalam amplop tertutup yang aku terima kemarin darinya. Aku melewatkan beberapa uraian tentang harta benda yang diwariskannya kepadaku. Aku hanya ingin membaca, entah untuk keberapa kalinya, pernyataan bahwa aku adalah putrinya. Putri tunggalnya.

Penyesalan tidak pernah bisa datang di awal, yang terpenting sekarang adalah melaksanakan amanat beliau sebaik-baiknya.

Aku memandang nisan itu sekali lagi. Terakhir kali sebelum beranjak dari tempatku berdiri.

Bambang Sukamto

Lahir 12 Oktober 1950

Wafat 30 Oktober 2010

 

Tamat

(Ditulis untuk #Proyek 4 Cerpen Hati, 01 November 2011)

 

Iklan

One thought on “Asisten

    adlyn_lovephobia said:
    November 2, 2011 pukul 6:23 pm

    “Tidak ada kerja keras yang tidak memberi hasil”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s