Bu Clara

Posted on

Membaca buku di tepi sungai sambil mendengarkan suara air dan angin adalah dua hal yang paling ia suka dalam hidupnya. Selain itu, kegiatan rutinnya adalah mengajar di sebuah sekolah alam. Sekolah yang khusus dibuat untuk anak kurang mampu yang menginginkan masa depannya lebih baik dari pada kedua orang tuanya. Itu setidaknya yang aku dengar sewaktu kepala sekolah memberikan penjelasan singkat kepada seorang dengan pakaian rapi dan berdasi yang nampaknya tertarik untuk menjadi donatur tetap bagi sekolah ini. Sekolahku yang nyaman meski belum memiliki sarana dan prasarana selengkap sekolah dasar yang lain. Ya, aku adalah salah satu murid sekolah tersebut. Murid kelas 4 lebih tepatnya.

Senyumnya yang indah dan mampu melelehkan hati setiap orang yang memandangnya adalah salah satu hal yang membuatnya sangat disukai oleh murid-muridnya. Bu Clara namanya. Dari caranya bertutur kata saja orang pasti mampu menebak latar belakang pendidikan atau paling tidak lingkungan pergaulannya. Terpelajar. Itu kesan yang selalu terdengar dari mulut tiap orang yang baru saja mengenalnya. Meski demikian, tidak ada kesan angkuh atau ingin dihargai lebih dari pada tenaga pengajar yang lain di sekolah ini. Sedang untukku, hampir tidak ada alasan sama sekali untuk tidak menyukai makhluk Tuhan yang satu ini.

Aku mulai mengenalnya kala duduk di bangku kelas 3 SD. Belum lama memang. Cara mengajarnya yang sangat menyenangkan belum lagi dongeng-dongengnya yang sungguh menarik perhatian telah sanggup memenjara hatiku dan teman-temanku yang lain untuk selalu mengikuti hampir setiap gerakannya, mendengarkan celotehnya, dan mengikuti apapun yang diinginkannya. Caranya mengibaskan rambut kami ikuti. Kebiasaannya bercerita dengan banyak menggerakkan tangan pun tidak ketinggalan menjadi agenda baruku dan teman-teman untuk ditiru selama kami mengobrol biasa, bukan bercerita atau mengajar seperti dirinya. Yang penting bagi kami adalah ‘seperti Bu Clara’. Meski dengan tujuan, waktu dan tempat yang berbeda. Ia telah berhasil menjadi idola murid-muridnya dalam waktu singkat.

Kebiasaannya yang paling menarik bagi kami sebenarnya adalah kesukaannya membaca dan melamun di tepi sungai itu. Untuk yang satu ini, karena terlalu aneh bagi kami untuk langsung ditiru tanpa ada sebab yang pasti, aku dan teman-teman memilih untuk bertanya terlebih dahulu kepada beliau.

“Kalian mau tahu sebabnya ?” katanya penuh semangat.

Kami hanya mengangguk cepat tidak sabar ingin segera mendengar jawabannya.

Ia menarik nafas panjang sambil berusaha tetap menampilkan senyum terindahnya pada kami sebelum akhirnya menyampaikan yang kami nanti selama ini,”Entah mengapa, setiap ibu berada di tepi sungai, ibu selalu merasa seolah ada kekuatan yang memeluk ibu dan membuat ibu merasa lebih nyaman dan tenang. Suara gemericik air seperti lantunan lagu syahdu yang selalu minta ditemani oleh pendengarnya. Mungkin saat ini kalian belum dapat memahami yang ibu rasakan. Tapi ibu yakin suatu saat kalian pasti bisa.”

Menurutku, disela-sela penjelasannya tadi, senyumnya sempat menghilang beberapa kali. Tapi menurut teman-temanku yang lain tidak. Mereka bilang aku terlalu sering memikirkan hal yang tidak penting. Mungkin mereka benar. Aku memilih sependapat dengan mereka.

Merayakan hari ulang tahun bukanlah kegiatan yang biasa dilakukan oleh kami, anak-anak yang sehari-harinya masih mesti berharap bisa makan nasi sebanyak 3 kali. Tapi bu Clara dengan caranya sendiri selalu dapat membuat kami tersenyum bahagia di hari kelahiran yang biasanya untuk anak seusia kami dirayakan dengan kue tart dan puluhan goodie bag yang dibagi-bagikan ke teman-teman. Sementara kami, membayangkannya pun tidak berani. Hari itu, Ida, temanku, anak seorang pemulung, mendapatkan kejutan mungkin yang terindah selama ia hidup hingga saat ini, baik dari kami, teman-temannya, dan terutama dari ibu guru kesayangan kami. Seminggu sebelum Ida berulang tahun, Bu Clara membawa berbagai barang bekas seperti botol aqua, plastik bekas tempat sabun cuci, dan barang bekas berbahan plastik yang masih bersih untuk disulap menjadi hiasan ruangan dengan memadu padan dengan balon berwarna-warni. Ia tidak berkata apa-apa kepada kami waktu itu. Ia hanya berkata bahwa kami harus bisa memanfaatkan berbagai barang bekas sehingga mutunya dapat ditingkatkan. Selain itu mengurangi limbah plastik sangat penting saat ini ujarnya. Tepat di hari ulang tahun Ida, ruangan kelas kami tiba-tiba menjadi berbeda. Bu Clara menghiasnya pada malam hari ditemani beberapa guru yang lain. Kami seperti bermimpi melihat keindahan ruang kelas kami yang awalnya terhitung sangat sederhana. Nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya menghiasi bagian tengah ruangan kelas kami. Dengan khidmat kami bersyukur dan berdoa bersama sebelum menyantap hidangan istimewa di hari ulang tahun teman sekelas kami itu. Kami berterima kasih hingga saat itu dikaruniai kesehatan, umur panjang, hidangan lezat, dan tidak ketinggalan seorang ibu guru yang selalu dapat membuat kami bahagia.

Kami tidak pernah mendengar Bu Clara mengeluh atas pekerjaannya mengajar beberapa kelas sekaligus di sekolah kami. Sebagai tenaga suka rela, lebih banyak tenaga pengajar di sekolah kami yang kurang sabar menghadapi kami. Entahlah, apakah karena IQ kami yang jauh dibawah rata-rata karena pemenuhan gizi yang jauh dibawah tingkat kebutuhannya, atau mungkin memang benar kata orang kalau kesabaran dalam bekerja itu seiring dan sejalan dengan nominal penghasilan yang diterima tiap bulannya. Atau bisa juga kombinasi dari keduanya.

Untuk sejumlah kebaikan yang telah kami terima dari bu Clara selama ini, tidak ada yang sanggup kami lakukan kecuali membalasnya dengan kebaikan yang sama. Kami ingin memberinya sebuah kejutan kecil. Kami berharap ia mau menyimpan dan mengenangnya selama mungkin.

Sebuah buku berisi berbagai cerita pengalamanku dan teman-teman sehari-hari di sekolah selama menjadi muridnya kami buat seindah mungkin. Sedikit dana kami sisihkan untuk membuat proyek ini menjadi istimewa. Kami menggunakan spidol warna-warni untuk menggoreskan huruf-huruf kami diatas buku pengalaman tersebut. Tidak lupa beberapa gambar menarik kami sertakan didalamnya. Masing-masing dari kami punya bayangan masing-masing saat buku itu siap dipersembahkan untuk penerimanya. Ida tentunya membayangkan perasaan bu Clara akan seindah perasaannya kala melihat dekorasi istimewa dan tumpeng lezat di hari ulang tahunnya. Sedang aku, lebih banyak membayangkan bu Clara akan membaca buku yang kami persembahkan berulang-ulang di tepi sungai sebagaimana biasa beliau meluangkan waktunya.

Dua hari sebelum hari terakhir kami menduduki kelas 4 buku yang kami persiapkan untuk menjadi kejutan istimewa telah terbungkus rapi. Kami tidak sabar ingin segera menyerahkannya kepada bu Clara meski rencana kami semula adalah menyampaikannya tepat di hari kami menerima rapor hasil perjuangan kami belajar selama kelas 4. Intan, temanku punya rencana yang lebih menarik. Menurutnya, meletakkan buku kenangan itu di kotak surat di rumah bu Clara sehari sebelum penerimaan rapor akan menjadikannya lebih indah untuk dikenang. Menjadikannya kenangan yang tak terlupakan. Kami setuju. Cukup 3 orang yang mengendap-endap ke rumah bu Clara untuk memasukkan buku kami ke dalam kotak surat di rumah beliau. Aku menjadi salah satu yang terpilih karena aku lah yang tahu persis dimana bu Clara tinggal selama ini.

Selesai sholat maghrib kami berangkat. Jarak yang kami tempuh lebih dari 5 km. tapi kami memilih untuk berjalan kaki. Aku dan teman-teman termasuk segolongan kecil anak-anak yang sudah terbiasa melatih kaki untuk berjalan jauh. Maklumlah, pergi dengan kendaraan umum bagi kami memakan biaya yang tidak sedikit.

Kami memperlambat langkah kami begitu rumah bu Clara sudah mulai tampak di depan mata. Lebih dekat lagi tampak oleh kami tiga orang pria berbadan kekar duduk dengan gusar di ruang tamu rumah itu. Tidak lama bu Clara datang dan berbicara dengan mereka. Yang badannya paling besar berbicara membentak-bentak kasar kepada ibu guru tercinta kami. Tak urung kami berusaha mendekat untuk mendengar pembicaraan mereka.

“Clara, kami sudah berbaik hati untuk memberikanmu kelonggaran pelunasan hutangmu. Kamu tidak tahu berterima kasih !”

“Ma-maaf sebelumnya, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengulur-ulur pembayaran hutang tanpa ada kepastian. Aku baru sanggup menyicil sebanyak ini, ayahku membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit yang pembayarannya tidak dapat ditunda. Aku pasti melunasinya. Saat ini rumah orang tuaku satu-satunya sedang dalam proses negosiasi untuk dijual kepada seorang calon pembeli. Segera setelah terjual, aku akan membayar hutang orang tuaku selama ini.”

“Bagaimana aku dapat mempercayaimu,” ujar lelaki kekar yang sedari tadi hanya diam.

“Sedang orang tuamu saja tidak menepati janjinya !” bentaknya kemudian.

Dalam keadaan ketakutan kami bertiga tetap menyelipkan buku kenangan yang telah kami persiapkan untuk bu Clara ke dalam kotak posnya dan berlari meninggalkan rumah itu. Kami berdoa untuk keselamatan bu Clara.

*

Hari itu kami semua selesai menerima rapor. Tidak seperti biasanya kami tidak langsung pulang ke rumah tapi berkumpul di sekolah terlebih dahulu. Kami berkumpul untuk menanti. Namun hingga siang hari yang kami nanti tidak kunjung datang. Tidak ada suara apapun diantara kami. Hanya degup jantung kami yang berharap bahwa tugasnya untuk bertalu tidak lama lagi akan berakhir dan digantikan dengan irama jantung normal. Kami pun tidak ingin kelelahan menanti begini.

*

Hingga hari keenam terhitung dari saat penerimaan rapor, bu Clara tidak pernah lagi datang ke sekolah kami. Kepala sekolah berkata bu Clara akan kembali suatu saat nanti. Ia sedang ada keperluan yang tidak mungkin ditinggalkannya. Lagi pula, seorang guru pengganti telah disiapkan oleh sekolah. Sayangnya, kami tidak ingin beliau diganti.

Hari, minggu dan bulan bergantian menemani kegiatan kami bersekolah tanpa bu Clara. Tidak seperti yang dijanjikan pak Kepala Sekolah, bu Clara tidak pernah kembali. Tanpa disadari, aku dan teman-teman menjadi lebih sering mengunjungi sungai dimana bu Clara biasa meluangkan waktunya untuk membaca. Seolah ada kekuatan yang mengajak kami untuk datang ke tempat tersebut. Disana, hanya suara air dan angin yang hinggap ditelinga kami. Kesunyian inikah yang selalu dirasakannya ?

Tamat

(Ditulis untuk #Proyek 6 Cerpen Hati, 5 November 2011)

Iklan

2 thoughts on “Bu Clara

    S.Riyadi said:
    Februari 2, 2012 pukul 3:05 am

    Good mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s