Separuh Hati

Posted on

Ada yang meringkuk di sudut relung hati itu. Ia sudah lama ingin dibebaskan dari kelamnya sudut ruang. Belum, selama ini belum ada waktu yang pantas untuk melakukannya. Namun ia pantas mendapatkannya. Suatu saat nanti. Hari dimana sebuah kehidupan haruslah diputuskan untuk menentukan arah yang dipilih. Setiap orang akan berharap hari itu adalah besok pagi, meski ketika esok pagi itu tiba, ia berharap mesin waktu memutarnya kembali ke masa lalu.

***

“Sampai kapan kamu mau menimbang-nimbang ?” ujarnya.

“Aku belum bisa memutuskan,” kataku.

“Jangan khawatir, aku bersedia menunggu. Aku cuma berharap tidak ada pihak yang merasa bahwa kamu sedang mempermainkan aku.”

“Tentu tidak,” jawabku yakin.

“Aku percaya padamu,” ujarnya menutup pembicaraan.

Awan bergerak perlahan tertiup angin yang siap mengajaknya pergi. Bila awan berubah menjadi kelabu, mungkinkah itu pertanda bahwa ia sedang ragu ? Tidak ada yang dapat menjawabnya kecuali jiwa yang gundah akan asa yang menghadang. Sayangnya awan bukanlah kawan yang dapat diajak bertukar pikiran. Ia setia menemani langit yang tidak dapat membaca kegelisahannya. Ia melaju terus menantang takdir.

*

Reporter sebuah stasiun televisi menghadangku untuk mengajukan beberapa pertanyaan,”Setelah kemenangan ini, apa rencana selanjutnya ?”

“1 bulan kedepan akan istirahat dulu, kemungkinan besar berlibur, untuk selanjutnya berlatih seperti biasa. Masih ada paling tidak dua agenda pertandingan yang harus dipersiapkan tahun ini.”

Sang penjual berita masih memburuku dengan rentetan pertanyaan seperti ‘apakah ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat ini’ atau ‘benarkah adikku akan dipersiapkan untuk menjadi bintang sepertiku juga’, tidak ketinggalan pertanyaan yang cukup mengejutkan dan membuatku enggan menjawab yaitu ‘seandainya ada klub dari luar negeri yang bersedia membayar anda lebih mahal, bersediakah anda pindah’. Aku berhasil menghindar dari pertanyaan yang terakhir ini. Mobil yang dipersiapkan untuk menjemputku menghadangku bertepatan dengan pertanyaan terakhir tadi datang. Sesaat ketenangan menghampiri dadaku.

*

Menyusuri lantai marmer ruangan itu sendirian membuatku gamang. Aku belum pernah dihadapkan pada situasi seperti ini. Aku merasa patung-patung yang menghiasi kanan kiri lorong yang sedang aku susuri mengarahkan matanya padaku. Ada yang menatap ingin tahu, ada yang mengharapkan aku menatapnya juga, tapi sebagian besar menatap curiga padaku. Seperti nuraniku saat ini.

“Kami menghargai apapun keputusan yang kamu buat. Apabila positif, semua yang tertulis dalam kontrak kerja berikut akan menjadi tanggung jawabmu. Kompensasi yang kami berikan juga tertulis didalamnya. Kami bekerja profesional. Hal itu bukan kami yang menilai. Dunia yang memberikan penilaian selama ini.”

Kata-kata yang telah kupersiapkan sebelumnya mendadak membeku di tenggorokanku. Tidak ada yang kata yang sanggup terucap kala itu.

“Selama ini yang kami lakukan adalah memaksimalkan potensi tim kami dan memberikan penghargaan yang pantas. Karena tanpa itu semua, kami lebih baik tidak ada. Kemenangan yang kami peroleh berasal dari anggota tim kami. Tidak ada alasan sama sekali bagi kami untuk mengeruk keuntungan sepihak. Kerja keras yang dilakukan pemain-pemain dalam klub kami adalah aset berharga yang harus dibina. Menelantarkan mereka berarti mempersiapkan tiang gantungan untuk kami sendiri.”

Pikiranku melayang kemana-mana. Terkadang pergi ke rumah tempat dimana aku dibesarkan, terkadang mampir ke ruang latihan ku sehari-hari, bahkan ia tak segan berlama-lama berada di sekolah dasarku dahulu. Sekolah yang mengajariku membaca dan menulis untuk pertama kalinya. 15 tahun telah berlalu semenjak aku lulus dari sekolah itu, namun semua tiba-tiba hadir bagai gelombang air bah dalam ingatanku seolah aku memintanya. Upacara bendera, pembacaan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945…pengibaran bendera merah putih.

Untuk kesekian kalinya aku minta waktu untuk membaca pikiranku sendiri dengan jernih. Saat ini gejolak emosi terlalu menguasaiku. Aku perlu tempat yang tenang untuk memberi ruang bergerak yang cukup bagi logika dan emosi. Meletakkannya pada posisi yang seimbang ternyata tidaklah mudah. Aku berjanji padanya dan diriku sendiri untuk tidak terlalu lama lagi mengambil keputusan.

*

20 tahun berlalu…

Siang hari di sebuah taman kota, tempat dimana pasangan muda mudi asyik bercanda ria, seorang pemuda bercakap-cakap dengan seorang lelaki paruh baya.

“Kebanyakan orang pasti sulit untuk mengerti alasan Bapak waktu itu menolak tawaran sebuah klub asing bergengsi untuk menjadi salah satu pemain bulutangkis andalannya. Ok, katakanlah hati nurani Bapak bertentangan dengan tawaran klub itu untuk bergabung, tidakkah bapak berpikir bahwa seandainya Bapak bersedia, suatu saat nanti, saat Bapak sudah menyelesaikan masa kontrak kerja, Bapak dapat mengabdikan ilmu yang didapat kepada putera-putera bangsa juga ? Keuntungan untuk Bapak tidak lari kemana, tanah air Bapak juga tidak merugi. Alih-alih mendapatkan tenaga pelatih setara dengan pemain dari luar.”

“Entahlah, Dik. Semenjak tubuh Bapak ini kerap bertanding membela nama bangsa, selalu ada perasaan bahwa hati dan jiwa Bapak hanya separuh yang bersemayam disini,” ia menepuk dadanya,”karena yang separuh lagi ada disini,” ujarnya seraya menapakkan kakinya ke tanah, mengakibatkan debu bertebaran disekitar sepatu usangnya. “Kalau bumi pertiwi ini menolak untuk ditinggalkan meski hanya sebentar, apa mau dikata…,” ia menghela nafas panjang. Dirapikannya kembali jaket tim nasional kebanggaannya yang sudah memudar warnanya dimakan usia. Ia tahu, lebih dari tahu maksud dari segala pertanyaan yang diajukan kepadanya. Kesetiaan yang diberikannya selama ini kepada bangsanya belumlah memberinya penghargaan apapun. Sungguh akan berbeda ceritanya andai tawaran untuk pindah ke klub asing itu dahulu tidak ditolaknya. Pandangannya kosong menatap langit yang makin senja. Pemuda di sebelahnya sibuk mencoret-coret buku catatan yang dibawanya khusus untuk wawancara singkat ini. Terbaca oleh sang bapak sebuah kalimat yang kiranya akan dijadikan judul dari wawancara itu,’Kala Separuh Hati Telah Tertanam Kuat di Pusara Ibu Pertiwi’.

Tamat

(Ditulis untuk #Proyek 5 Cerpen Hati, 3 November 2011)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s