Pada Sebuah Malam

Posted on Updated on

Langkahnya berat di keheningan malam itu. Tak ada yang memperhatikannya berjalan makin lama makin terseok di trotoar sebuah kawasan pertokoan yang cukup ramai. Ia tidak membutuhkan perhatian siapa pun malam itu. Yang diharapkannya adalah kembalinya kenangan pada sebuah waktu dimana awalnya semua masih berjalan begitu normal.

*

“Dina, besok malam anak salah satu bos di kantor Mas menikah di rumahnya. Kita diundang. Jadi besok sehabis maghrib kita mesti sudah berangkat dari rumah,” kataku malam itu.

Istriku, Dina, diam saja.

Ia biasa melakukannya, dan seperti biasa aku tidak membutuhkan penjelasan. Menginjak tahun ke 7 dari pernikahan kami ini, semua yang berjalan di kehidupanku dan Dina makin mirip mesin berjalan. Merayap pada irama yang teratur dan sama tiap harinya. Pada akhir minggu kami biasa meluangkan waktu untuk berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau ke pantai untuk melepas jenuh. Setelah itu pulang ke rumah dengan berbagai bawaan hasil dari melepas lelah di tempat hiburan. Setidaknya itu menurutku. Kecuali satu hal.

Ada baiknya aku sedikit bercerita pertemuanku dengan Dina sebelum akhirnya kami melabuhkan hidup kami pada sebuah biduk pernikahan. Dina kukenal sebagai putri salah seorang dosen di universitas tempatku menimba ilmu. Sejak awal pertemuan kami, aku telah merasakan getaran yang tidak biasa hadir mengetuk pintu hati. Parasnya lembut walau tidak termasuk kategori cantik, ia menawan terlihat dari pandangan matanya, senyum penuh artinya, dan juga gesture tubuhnya yang memperlihatkan bahwa dirinya adalah wanita yang percaya diri. Berada di dekatnya adalah anugerah terindah yang aku miliki. Memandangnya adalah sebuah janji untuk tidak akan pernah meninggalkannya sampai kapanpun juga.

Kami menikah di hari dan tanggal yang dipilih Dina. Semua berjalan sesuai dengan yang kami rencanakan hingga akhirnya hari itu tiba. Kurang lebih satu tahun semenjak kami menikah, di salah satu kunjungan kami ke dokter kandungan sebagai usaha kami untuk mendapatkan buah hati, kami dikejutkan oleh kenyataan bahwa Dina harus menjalani operasi karena tumor yang terus tumbuh di rahimnya. Operasi yang tidak menjamin sama sekali bahwa sesudahnya kondisi rahim Dina akan dapat menerima pembuahan dan membesarkan janin. Sejak saat itu, ya sejak saat itu tepatnya, Dina yang periang dan penuh rasa percaya diri bak bunga layu karena kekurangan air di musim kering. Ia jadi sering melamun. Setelah operasi yang dijalaninya, Dina memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai salah seorang manager yang cukup berprestasi di kantornya. Pimpinannya memintaku untuk membujuknya agar membatalkan rencana pengunduran dirinya mengingat sekian banyak prestasi yang telah diraih dan mungkin juga tingkat ketergantungan tim yang dipimpinnya telah cukup besar atas kehadirannya. Aku tahu itu tidak mungkin mengingat perubahan yang terjadi pada dirinya begitu besar. Aku, pria yang mencintainya, ingin menghargai apapun keputusan istriku dalam hidupnya. Toh kewajiban mencari nafkah itu sejak awal memang terletak di pundakku. Itu janjiku kepada Dina sejak awal kami memutuskan untuk menikah. Aku juga berjanji akan mendampinginya selama apapun tidak perduli seperti apapun keadaannya. Aku begitu mencintainya. Dengan seluruh jiwa dan ragaku.

Kondisi emosi Dina dari hari ke hari semakin tidak menentu. Ia seolah seperti kehilangan jati dirinya. Hingga malam itu, malam dimana aku meninggalkannya sendiri di rumah untuk menghadiri resepsi pernikahan salah satu putra pimpinan perusahaan dimana aku bekerja. Dina mengeluh demam sejak pagi. Ia menolak untuk pergi bersamaku.

Malam yang tidak akan pernah kulupakan hingga saat ini.

Seperti biasa aku selalu membawa kunci ruang depan rumahku kemanapun aku pergi. Aku dan Dina menggandakan kunci rumah agar kami lebih leluasa untuk bepergian. Meskipun kecuali kegiatanku ke kantor, kami hampir selalu bersama. Sesuai janjiku untuk selalu menyertainya. Kubuka pintu ruang depan dengan hati-hati. Aku tak ingin membangunkan Dina. Kunyalakan lampu ruang makan yang berada dekat dengan kamarku dan Dina. Kusempatkan mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memandang meja kecil disebelah meja makan tempat Dina biasa meletakkan obat-obatan. Obat flu yang sedianya diminum Dina malam ini terlihat utuh. Ia belum menyentuhnya, gumamku dalam hati. Semoga ia memang tidak membutuhkannya. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Perlahan aku membuka pintu kamar. Tidak ada Dina disana. Aku mencoba mendekati pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar. Tidak terkunci. Lampu kamar mandi masih menyala. Dina lupa mematikannya. Tapi kemana istriku ? Kadar kepanikan yang semula berada di level sedang mulai merambat ke level yang lebih tinggi. Aku mencarinya ke dapur, kamar tamu, ruang makan, bahkan ke halaman rumah. Ia tetap tak ada. Sungguh aku mengharapkan ia tiba-tiba datang mengejutkanku dari belakang. Akhirnya, dengan penuh rasa sungkan, pencarian aku lanjutkan ke tetanggaku dengan mengetuk rumahnya.

“Tidak apa pak Rudi…silakan duduk dulu,” perempuan paruh baya sebelah rumah yang ramah dan mengerti kondisi Dina akhir-akhir ini dengan lega hati menerimaku sebagai tamunya malam itu.

“Iya, bu Ida, mohon maaf sebelumya. Apa Dina bicara dengan Ibu sebelum ia pergi meninggalkan rumah ?” ujarku panik.

“Terakhir saya bicara dengan Dina tadi siang Pak. Sepertinya dia kurang enak badan. Jadi saya tidak banyak mengobrol dengannya.”

“Atau Ibu melihatnya memanggil taksi mungkin..,” lanjutku pasrah.

“Kalau itu saya tidak lihat, Pak. Saya sibuk menjahit di kamar sampai Bapak datang ini. Sudah coba menghubungi handphonenya ?”

Handphonenya ada di rumah, Bu… Baiklah kalau begitu, saya akan coba tanyakan ke penjaga keamanan di gardu. Terima kasih banyak, Bu, maaf kalau mengganggu.”

“Jangan sungkan Pak Rudi, kita kan bertetangga. Tolong kabari saya ya Pak kalau ibu sudah ada dan baik-baik saja.”

Aku mengangguk lemas kemudian berjalan keluar rumah tetanggaku itu dengan kecemasan yang tak ada bandingannya.

Di gelap malam itu aku melihat cahaya menyilaukan. Tidak salah lagi, berasal dari luar pagar rumahku. Aku berjalan mendekat. Sebuah mobil berhenti di depan rumahku. Tak lama kemudian, cahaya yang berasal dari lampu depan mobil itu padam. Seorang lelaki keluar dari dalam mobil tersebut. Menyapaku ramah.

“Maaf apakah bapak yang bernama Pak Rudi ?”

“Iya, benar. Bapak siapa ?”

“Saya tahu nama Bapak dari bu Dina. Beliau sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit karena kecelakaan yang dialaminya.”

“Hah ?? Kecelakaan ? Dimana ? Kapan ? Sekarang..ya, sekarang tolong bapak antar saya segera ke tempat istri saya…tapi..kenapa..,” pikiranku kacau tak karuan. Aku ingin berteriak tapi tak bisa.

*

Sesekali anak-anak jalanan yang belum pulang dari kegiatannya mengamen di pinggir jalan memperhatikan lelaki itu. Terlihat rapi meski dari langkahnya ia seperti orang yang sudah lebih dari dua hari tidak makan. Mungkin ya, mungkin tidak. Seandainya ia tidak makan, itu bukan karena ia tidak punya sesuatu untuk dimakan. Ia hanya memutuskan untuk tidak makan. Jaket kulit yang dikenakan malam itu seperti turut membebani langkahnya. Salah satu pengamen yang iseng memperhatikannya mengikutinya dari belakang. Entah karena arah yang ingin dituju oleh pengamen itu sama atau memang ia sengaja membuntutinya. Lelaki itu terus melangkah menyusuri hutan buatan yang sengaja dibuat sebagai paru-paru kota. Pengamen yang mengikutinya terus berjalan dibelakangnya sambil berusaha menjaga jarak. Lelaki itu sampai di pinggir sebuah danau buatan. Memasukkan tangannya ke saku jaketnya sambil mengeluarkan selembar kertas. Selembar kertas ini yang mengajaknya pergi malam itu. Pergi mengejar janji yang telah diutarakan kepada istrinya untuk selalu bersama.

Dalam hening malam itu terdengar letusan. Kemudian sepi.

Pengamen muda berjalan mendekat. Letusan itu berasal dari arah lelaki yang diikutinya. Ia lupa akan tujuannya merampok lelaki itu karena saat ia berlari mendekat ke arah orang yang diikutinya, pekatnya malam menghentikan langkahnya. Bukan, itu bukanlah sekedar gelap. Itu adalah warna hitam jaket kulit yang dipakai lelaki tadi, gumamnya. Jaket kulit yang masih membungkus tubuh yang sekarang kaku dengan kepala tertembus peluru.

Selembar kertas menyatakan kehamilan seorang wanita ada di genggamannya. Dengan tinta hitam terbaca coretan di bagian bawah kertas itu ‘Dina, jemput aku di alammu sekarang seperti janjiku untuk tidak pernah meninggalkanmu.’

 

Tamat

(Ditulis untuk #Proyek 8 Cerpen Hati, 9 November 2011)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s