A Day To Remember

Posted on

Afghanistan, 1 Januari 2002

Tak biasanya ia melamun selagi membersihkan Kalashnikov kesayangan yang telah menemani tugas ‘mulia’ nya selama kurang lebih 2 tahun terakhir. Hari ini ada yang mengganjal di benaknya. Ia menoleh ke arah kalender yang terpajang di dinding, meletakkan senjata yang dipegangnya perlahan ke lantai, berdiri, kemudian menghampirinya. Memandang kalender di depannya dengan pandangan takjub, seolah ia adalah benda dari luar angkasa.

‘Tahun depan ayah berulang tahun yang ke 70. Kita semua diharapkan berkumpul untuk syukuran kecil-kecilan.’

Akhir tahun lalu kalimat itu terdengar dari mulut adik kandungnya yang baru berusia 15 tahun melalui telepon.

‘Ayah rindu dengan kak Ahmad.’ Lanjutnya.

Pulang ke tanah air 3 tahun yang lalu tidak sesulit sekarang. Membawakan oleh-oleh karpet, kerudung dan souvenir yang didapat dari negara dimana ia ditempatkan sebagai staf kedutaan besarnya adalah keasyikan tersendiri meskipun ia mesti menghadapi pemeriksaan berlapis di kantor bea dan cukai tanah airnya. Karpet Pakistan yang dibawanya 3 tahun yang lalu kini masih menghiasi ruang depan tempat tinggal orang tua dan adik-adiknya. Foto yang dikirim terakhir kali oleh adiknya memperlihatkan foto keluarga tanpa dirinya berpose di ruang depan rumah masa kecilnya yang hangat dan asri itu dengan karpet merah oleh-oleh darinya.

Tetapi kini berbeda.

Tidak ada yang tahu perbedaan itu kecuali dirinya dan segolongan kecil pasukan yang semula juga berasal dari golongan sipil yang kini mengabdikan diri untuk kepentingan kelompok Taliban. Dan itu baru terjadi 2 tahun yang lalu.

Selama 2 tahun itulah ia membiarkan gambaran tentang dirinya dalam balutan jas ataupun kemeja staf kedutaan dibiarkan melekat di benak keluarganya. Agar ketenangan yang ada dalam keluarganya selama ini tidak terusik. Tidak ada salahnya. Toh kami dibentangkan oleh jarak ribuan kilometer. Tak ada seorang pun yang berani mengabarkan tentang wajah barunya kepada keluarga tercintanya. Mereka semua mengerti resikonya.

Semua tersimpan rapat hingga hari ini. Ia berharap untuk seterusnya.

Perlahan ia membubuhkan tanda pada angka 28 di bulan Februari.

Pakistan, 27 Februari 2002

Mereka menyebut tugasku sebagai Peringatan Terakhir. Aku dapat merasakan semangat yang berkobar-kobar di setiap denyut nadiku. Segala yang kulakukan saat ini adalah untuk sesuatu yang bernama ‘keyakinan’. Kendaraan yang aku tumpangi dari Afghanistan menuju Islamabad pagi itu melaju cepat mengiringi segala kenangan indah akan kota ini. Pasar yang selalu penuh sesak, proses tawar menawar harga yang terkadang berujung pada perseteruan, segalanya selalu dengan cepat berhasil membawaku pada kenangan akan tanah airku. Tidak lama lagi mereka semua akan mendengar berita tentang diriku.

Aku tiba ditempat yang kutuju.

Hidup memang seharusnya sesederhana ini. Disaat sebuah keputusan telah diambil, jangan pernah meninggalkan penyesalan sesudahnya. Pesan ayah padaku yang satu ini akan selalu kuingat. Aku rindu padamu, Ayah. Aku berjanji akan turut merayakan hari ulang tahunmu yang ke 70 dengan caraku sendiri. Berbekal keputusan yang telah kuambil. Aku tidak pernah menyesalinya. Kuharap ayah pun tidak menyesalinya.

Aku berdiri khidmat di sebuah gudang tidak terpakai yang berada di bagian dasar gedung sambil memejamkan mata. Sebuah padang rumput nan luas hadir dipandanganku. Cahaya berpendar redup tampak nun jauh di batas pandang ku yang berdiri tertegun hendak meraih. Tak dapat. Kakiku terasa berat. Tak sanggup kumengangkatnya. Tak lama kemudian cahaya itu menjadi sedikit terang, lebih terang lagi, lagi dan lagi hingga wujudnya lebih mirip kilat yang siap menyambar. Saat itu kakiku terasa lebih ringan. Tumitku terangkat perlahan. Hingga akhirnya seluruh kakiku tidak lagi menginjak apapun. Aku melayang…

Suara bom memekakkan telinga terdengar hingga radius 5 kilometer dari sebuah gedung perkantoran megah di kawasan bisnis ibu kota Islamabad. Bom pertama di tahun 2012. Untuk kesekian kalinya Taliban mengirimkan pesan melalui tubuh seorang anggotanya.

Debu menguar ke mana-mana, membawa serpihan tubuh muda penuh harap yang mestinya masih punya banyak kesempatan untuk menghirup segarnya udara kehidupan.

Jakarta, 28 Februari 2002

Tangan keriputnya menggenggam sebuah surat. Pandangannya menerawang tak tentu arah. Benda persegi disebelahnya masih mengeluarkan suara. Buru-buru ia menekan tombol off. Ia merasa tidak sanggup lagi mendengarkan. Berita bom bunuh diri yang didengarnya melalui radio usang kesayangannya membuat dadanya bergemuruh. Tangannya bergetar kala membuka amplop surat ditangannya.

Teruntuk Ayahku Tercinta,

Selamat Ulang Tahun, Ayah.

Semoga Ayah senantiasa sehat wal afiat

Mohon maaf ananda tidak dapat pulang tahun ini

Ananda yakin dalam waktu dekat kita akan bertemu.

Anakmu,

Ahmad

Keringat dingin menyelimuti tubuh rentanya. Ada kecemasan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Air mata mengalir deras tanpa henti kemudian. Mengiringi nafasnya yang tersengal-sengal hingga akhirnya berhenti.

Kedamaian kini menjemputnya. Mengajak jiwanya menuju alam keabadian. Ia tak yakin dalam perjalanannya kali ini Tuhan mengizinkannya untuk bertemu anak lelakinya atau tidak.

 

Tamat

Iklan

2 thoughts on “A Day To Remember

    S.Riyadi said:
    Februari 1, 2012 pukul 7:41 am

    luar biasa, tapi apakah keyakinan itu benar!

      nastitidenny responded:
      Februari 1, 2012 pukul 7:55 am

      Setahu saya tidak ada satupun agama yg meminta umatnya untuk menyakiti dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s