2 – Ini Bulutangkis dan Ini Indonesia

Posted on Updated on

Suatu malam sebelum tidur, saya iseng menceritakan isi buku ini kepada kedua anak saya yang berumur 10 dan 7 tahun. Mereka memang sangat menyukai cerita terutama yang disampaikan menjelang tidur. Tapi ada yang istimewa dari cerita ini, karena malam-malam berikutnya, kedua anak saya hampir selalu minta saya mengulang dan mengulang lagi kisah ini. Ini yang unik bagi saya. Selama ini hanya kisah princess of the Disney story yang mampu merebut hati mereka. Bukan cerita tentang nasionalisme semacam ini.

Donny Dhirgantoro, pengarang buku ini rupanya berhasil menjadikan bukunya bukan hanya bacaan bagi remaja dan dewasa tapi juga kisah menarik bagi anak-anak. Agak ajaib memang tapi itulah yang terjadi.

Dikisahkan dalam buku ini kehidupan seorang anak perempuan bernama Gusni yang sejak awal kelahirannya memiliki kelebihan yang menjadi keterbatasannya. Kelebihan berat badan, bagi hampir setiap orang adalah keterbatasannya. Itulah yang terjadi pada tokoh di cerita ini.

Meski demikian, kehidupan Gusni kecil adalah sebuah hidup penuh warna sebagaimana layaknya anak-anak seusianya. Pertemanan dengan sesama ‘gendut-ers’ sejak SD hingga selesai SMA, persahabatannya dengan anak lelaki yang memiliki ukuran tubuh dan juga makanan kesukaan yang sama dengannya adalah sebagian dari riangnya masa kecil yang dilalui Gusni. Keunikan yang dimiliki Gusni sejak kecil ternyata bukan hanya ukuran tubuhnya, tapi juga jenis darahnya. Menurut ibunya, darah Gusni rasanya manis sehingga disukai nyamuk. Sama persis seperti darah ibunya. Hal ini melatarbelakangi koleksi raket nyamuk yang dimiliki keluarganya. Raket untuk seorang Gusni semula hanyalah pembatas dunianya dengan makhluk kecil penghisap darah yang gemar menyambangi wajah bulatnya.

Cerita menjadi berbeda kala Gita, kakak Gusni, menekuni olah raga bulutangkis dengan serius. Olah raga ini pula yang akhirnya mengantar Gita menjadi anggota Tim Nasional Bulutangkis Indonesia. Kelihaian Gusni menggunakan raket nyamuk selama menemani Gita berlatih bulutangkis ternyata berhasil menyita perhatian pelatih bulutangkis Gita. Meski demikian, harapan Gusni untuk menguasai olah raga yang satu ini harus terhenti ketika dirinya mendadak pingsan di lapangan.

Konflik semakin menjulang kala Gusni, diusianya yang ke 17, dipaksa untuk menyadari bahwa kelebihan berat badan bukan satu-satunya masalah yang harus dihadapi. Kelainan metabolisme tubuhnya adalah penghalang serius. Bukan hanya bagi aktifitas yang ditekuninya kala itu, namun juga bagi kelangsungan hidupnya. Usia maksimum bagi penderita kelainan sejenis adalah 25 tahun. Belum ada yang lebih. Namun Gusni memilih untuk tidak menyerah pada garis takdir yang seolah sudah tergurat untuknya berdasarkan penelitian di bidang kedokteran saat itu. Gusni memilih melawan. Olah raga berat yang dapat menyeimbangkan kondisi metabolisme tubuhnya diyakini oleh dokter yang merawat dapat melawan penyakitnya. Berlatih giat di lapangan bulutangkis akhirnya menjadi pilihan Gusni untuk tidak menyerah pada takdir.

Gusni, anak perempuan Indonesia, berusia 18 tahun, berbekal kelainan di tubuhnya serta semangat membara untuk membela nama tanah air tercintanya, melaju ke babak final sebuah kejuaraan bulu tangkis internasional melawan Malaysia. Semangat naik turun kawan seperjuangannya di lapangan bulutangkis, kegalauan sang pelatih menghadapi situasi kritis menjelang babak final tidak sedikitpun menyurutkan langkahnya untuk maju.

Keyakinan, kerja keras dan doa akhirnya mampu mengalahkan kenyataan sepahit apapun yang harus Gusni hadapi. Timnya yang dianggap ‘underdog’ pada awalnya berhasil menekuk tim bulutangkis Malaysia di babak final.

Kalau ada yang tiba-tiba menjadi melankolis karena ringkasan cerita diatas, membaca langsung bukunya dijamin lebih teriris-iris lagi. Konflik yang ditampilkan dari awal hingga akhir mampu membangkitkan ilusi keharuan bercampur kebanggaan yang cukup sulit dilukiskan. Namun diluar itu semua, kisah dalam buku ini mampu menjadi bahan bakar sebuah semangat yang bernama ‘nasionalisme’. Saya yakin, karena saya sudah merasakannya.

Judul           : 2

Penulis        : Donny Dhirgantoro

Penerbit     : Grasindo

Tahun         : 2011

Tebal          : v + 418 halaman

Jakarta, 16 November 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s