Batas Waktu

Posted on

Pulsa Rp 320.000,- s/d 31 Desember 2011

Aku terbelalak dibuatnya. Benarkah penglihatanku kali ini? Aku hanya rutin mengisi pulsa Rp 50.000,- tiap bulannya. Lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku dalam satu bulan. Aku punya lebih dari satu handphone. Selain yang membuatku terbelalak hari ini, masih ada satu lagi yang dibayar dengan cara berlangganan. Oya, seingatku aku tidak menang lotere apa pun, dan tidak menerima sumbangan pulsa dari mana pun. Yakin. Aku sangat yakin karena transfer pulsa ataupun hadiah yang berupa penambahan pulsa otomatis biasanya ada pemberitahuan sebelumnya.

Jantungku berdegup lebih kencang demi menyadari sesuatu. Sudah terlalu lama kah aku tidak mencoba menghubunginya? Penambahan pulsa yang aku lakukan secara rutin tiap bulannya tidak terpakai seperti biasa. Itulah jawaban atas pembengkakan jumlah pulsa yang tertera di layar handphone. Kapan terakhir aku menghubunginya? Tiga bulan? Atau empat bulan yang  lalu? Aku berusaha mengingat-ingat.

*

“Aku tidak suka dibohongi.”

“Cha, selesai meeting dengan klien kemarin aku kecopetan,” ujar Abram gusar. ”Kamu tahu kan, seharian aku mesti mengurus sim card yang baru sebagai pengganti yang hilang, belum lagi beli handphone baru.  Aku capek, Cha, capek badan dan capek dicurigai.”

“Kamu nggak curiga sama teman sekantormu? Siapa tahu handphone-mu yang hilang bukan karena kecopetan di bus, tapi hilang di kantor.”

“Kita pulang aja, yuk! Aku sedang malas berargumentasi, pengin istirahat, besok pagi ada trip ke luar kota”

Abram lelaki yang baik. Kami bersahabat sejak di bangku SMA. Sebagai angkatan kerja yang baru sama-sama meniti karir, aku dan Abram sering melewatkan waktu istirahat bersama untuk dapat saling mencurahkan perasaan. Kolega di kantor dengan segala keunikannya, jadwal meeting yang seringkali tidak dapat dikompromikan dengan waktu istirahat, tuntutan target, adalah bahan baku obrolanku dengan Abram hampir di tiap jam makan siang yang aku lewatkan bersamanya. Abram selalu dapat bersikap netral, tenang, praktis dan masuk akal dalam menghadapi persoalan di tempat kerjanya. Sementara aku, sesosok makhluk dari planet Venus yang menurut Abram terlalu sering mengeluh, berpola pikir ribet, namun memiliki rasa percaya diri yang cukup baik tentang… segala keluhannya! Ugh, separah itukah aku, hanya Abram yang selalu mengangguk setuju dan aku yang selalu menggeleng menolak.

Sejak SMA, kami punya hubungan yang sulit untuk diterjemahkan. Abram selalu ada untukku begitu pun sebaliknya. Ada masanya masing-masing dari kami lebih banyak melewatkan waktu dengan kekasihnya. Abram dengan Cindy dan aku dengan Adit. Meski demikian, kami tetap saling berkirim kabar dan kadang tukar menukar kado di hari Valentine. Bedanya, kalau kado yang aku berikan ke Adit lebih istimewa, sementara sebatang coklat kurasa cukup untuk disampaikan ke Abram sebagai bukti bahwa kami masih berteman baik. Begitu pun yang terjadi antara aku, Abram dan Cindy, kekasih Abram. Sayangnya, Adit tidak bertahan lama menjadi kekasihku. Aku putus dengan Adit di hari yang sama dengan Abram putus dengan Cindy. Itu terjadi dua tahun yang lalu. Aku, seperti biasa, bercerita panjang lebar tentang penyebab aku dan Adit berpisah, dan Abram juga seperti biasa tidak menceritakan apa pun tentang penyebab putus hubungannya dengan Cindy. Hanya masalah ‘trust’ katanya. Sudah…titik.

Aku tidak pernah mengira perbedaan dengan Abram dalam memandang hampir segala hal ini makin lama kian meruncing. Kemudian pada sebuah hari yang tidak berpihak pada kelanggengan persahabatan kami selama ini, aku dan Abram dihadapkan pada kenyataan bahwa friendship is forever hanyalah tepat untuk dijadikan slogan di buku harian anak Sekolah Dasar. Itu terjadi kurang lebih 6 bulan yang lalu, di sebuah siang, kala aku dan Abram menghabiskan waktu makan siang di sebuah kafe mungil tak jauh dari kantor tempatku bekerja. Menu favorit kami berdua, yaitu sop buntut, masih hangat di mangkuknya saat pembicaraan itu dimulai.

“Besok malam ada waktu kan, nonton konser?”

“Konser apaan?” jawab Abram datar seperti yang sudah sudah. Ia bicara dengan mulut penuh emping goreng.

“Anggun C Sasmi, Braaaamm…kan aku udah bilang kemarin.”

“Icha, kemarin kamu cuma bilang kalo ada konser Anggun C Sasmi, tapi nggak bilang kalo konsernya besok malam! Benar begitu, Nona Manis?,” sanggahnya penuh kemenangan.

“Tapi kamu bisa kan temani aku?”

“Sori, Cha, nggak bisa, seminggu ini bakal penuh dengan acara pertemuan dengan nasabah. Maklum, yang dicapai oleh timku masih jauh dari target.”

Aku berusaha tetap tenang. Maaf ya nuraniku-yang-selalu-mengajak-untuk-bersabar, kali ini aku merasa ada yang tidak beres dengan Abram. Bukan hanya karena penolakannya barusan, tapi kebiasaannya mengabaikan kepentinganku demi mengejar karirnya makin lama makin sulit dimengerti.

Alasannya ‘bakal penuh dengan acara pertemuan dengan nasabah’ itu sudah terlontar sejak dua minggu yang lalu. Tapi tetap saja kulihat ia sempat meluangkan waktu untuk bermain tenis dengan teman-teman kantornya, hang out dengan atasannya setelah jam kantor usai, bahkan nonton bareng dengan teman satu timnya. Jadi, alasan tadi maksudnya apa?

Adu mulut antara aku dan Abram tidak bisa dihindari waktu itu. Argumentasi Abram tentang jadwal bertemu nasabah yang seringkali berubah di saat-saat terakhir mestinya masuk akal untuk menjadi alasan atas terdapatnya waktu luang karena pergeseran jadwal yang dimanfaatkannya bersama teman-teman satu timnya. Tapi aku tidak ingin menerimanya.

Sehingga akhirnya, “Ok, aku akan menemanimu nonton konser besok malam.”

Egoku menang. Ada kepuasan batin waktu mendengar jawaban Abram menutup konfrontasi malam itu, tanpa menyadari akibat yang mesti aku pikul sesudahnya.

*

“Enaknya kuapakan ya sisa pulsa yang masih cukup banyak ini?” Aku menggumam dalam hati. Aku bukan pengguna handphone yang suka mengunduh ring back tone, aku juga tidak pernah punya keinginan untuk mengikuti kuis-kuis yang hampir tiap hari ditawarkan. Aku mendesah perlahan. Handphone dengan pulsa berlebih dari kebutuhanku itu adalah pemberian Abram. Awalnya karena ia ingin aku memiliki handphone khusus dengan nomor yang berasal dari operator yang sama dengan yang dimiliki Abram. Alasannya simpel, kami dapat sering berkomunikasi dengan biaya murah. Tapi kini alasan itu menguap dan hilang bersama keputusan kami untuk tidak lagi saling berkomunikasi. Abram rupanya menyerah menghadapiku yang dianggapnya egois dan suka menghakimi orang lain.

Egois karena menganggap bahwa konser Anggun C Sasmi yang digelar 5 bulan yang lalu adalah sebuah acara yang hukumnya wajib bagi kami berdua. Sementara suka menghakimi orang lain karena mencurigai bahwa Abram dengan sengaja tidak mau dihubungi setelah jam pulang kantor demi membiarkan aku menonton konser itu sendirian. Ya, aku akhirnya pergi ke konser itu sendirian! Penjelasan Abram bahwa handphone-nya hilang karena kecopetan waktu makan siang bersama teman-teman satu timnya untukku adalah bualannya semata. Keesokan harinya, sebuah sms aku terima dari Abram :

Cha, maaf ya kalo aku buat kamu kecewa kemarin. Jujur aku sedih banget waktu kamu bilang nggak suka dibohongi. Aku nggak bohong, Cha. Mungkin ada baiknya kita tidak saling telpon atau ketemuan dulu.

Aku tidak merasa kehilangan Abram sama sekali waktu itu. Handphone pemberian Abram aku biarkan menikmati kehidupannya yang tenang di dalam lemari bajuku. Hanya sebulan sekali aku isi pulsanya agar tetap dapat digunakan sewaktu-waktu. Digunakan sewaktu-waktu? Oh, maaf ya Abram, bukan untuk menghubungimu, hanya untuk jaga-jaga siapa tahu ada teman atau keluarga yang mempunyai nomor yang berasal dari operator yang sama. Itu saja.

Dalam kesendirian aku teringat Adit, mantan kekasihku, yang hingga kini terkadang masih saja menghubungiku. Kehadiran Adit yang sekarang entah bagaimana bagiku sungguh berbeda dengan Adit yang aku kenal 2 tahun yang lalu. Ia kini jauh lebih dewasa dalam berpikir.  Juga lebih nyambung kalau diajak ngobrol. Singkat kata, ada rasa nyaman yang kudapat kini tiap kali dekat dengannya. Baru sebatas itu saja.

*

Akhir tahun. Pencapaian. Resolusi. Handphone. Pulsa Rp 320.000,-. Abram. Enam kata kunci di buku harianku di awal bulan Desember 2011. Tiga kata terakhir muncul begitu saja seolah minta diajak untuk berteman. Meskipun demikian, tiga kata kunci terakhir itu yang ingin segera aku tuntaskan terlebih dahulu. Batas akhir pemakaian pulsa handphone pemberian Abram adalah 31 Desember 2011, yang akan menjadi batas waktu dalam mengakhiri segala kebimbanganku selama ini. Handphone ini tidak bisa selamanya tersimpan dalam lemari bajuku. Keputusan harus segera diambil. Aku berkonsultasi dengan Adit mengenai hal ini. Ada 2 pilihan yang disarankannya; pertama, mengembalikan handphone itu kepada Abram, berterima kasih, dan menyampaikan bahwa pertemanan akan tetap terus berlanjut meski tanpa keberadaan handphone itu. Yang kedua adalah memberikan handphone itu ke saudara atau teman yang membutuhkan.

Untuk pilihan yang pertama, terus terang aku tidak punya keberanian melakukannya. Seringkali terbayang di benakku Abram yang telah sekian lama tidak kuketahui irama kehidupannya ini telah mempunyai kekasih yang baik hati, karir yang maju, dan teman-teman yang mendukungnya tiap waktu. Bertemu dan mengembalikan handphone pemberiannya akan terlihat sangat konyol dalam situasi seperti ini. Aku tidak yakin ia masih ingat padaku. Jadi kuputuskan untuk memilih saran yang kedua. Praktis, cepat, sehingga aku dapat segera mengisi hariku dengan menyusun resolusi 2012. Yes, you got it, Icha! Meski dalam hati ada getaran pilu dan penyesalan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Di hari yang sama dengan usulan Adit kuterima, sepulang dari kantor aku bergegas ke rumah Darma, tetangga sebelah rumah yang berusia sama denganku tapi sudah mempunyai anak dan tidak bekerja. Orangnya ramah dan baik hati. Tentunya ia tidak akan menolak pemberianku. Terlebih, beban keluarganya saat ini tidak memungkinkan Darma untuk membeli handphone bagi dirinya. Handphone satu-satunya yang ada di rumahnya saat ini adalah milik suaminya yang dipakai bersama.

Aku disambut di ruang depan sebuah rumah mungil yang juga berfungsi sebagai ruang menonton televisi.

“Hai, Icha! Tumben nih malam-malam mampir ke rumah. Ada yang bisa dibantu, Ibu Direktur?” sapanya ramah. Ah, Darma, selalu saja merendah. Tapi mungkin itulah yang membuatnya terhindar dari masalah apa pun yang menimpa keluarganya. Kekuatan dirinya tumbuh dari sikap yang rendah hati dan suka membantu sesama.

“Biasa nih, mau minta bantuan.”

“Sebisa mungkin Darma akan bantu,” jawabnya sambil membungkukkan badan seolah ia adalah seorang punggawa kerajaan.

“Hahaha…aku becanda, Temanku. Ini, ada sesuatu untukmu…,” baru saja aku memasukkan tanganku untuk mengambil  handphone yang sedianya aku hibahkan padanya, Darma menyela pembicaraanku dengan nada sedih.

“Kamu tahu ya, Cha, kalau adik Mas Bambang yang tinggal di depan komplek kita barusan meninggal?” Ia memintaku duduk di dekatnya dan mendengarnya bercerita.

“Meninggal? Nggak tuh,” ujarku keheranan mendengar berita duka yang menimpa keluarga Mas Bambang, suami Darma.

“Turut berduka cita ya. Tolong sampaikan Mas Bambang juga. Meninggal karena apa, Darma?”

Darma menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan, dan menurunkan volume suaranya agar tidak terdengar oleh anaknya yang masih sibuk bermain, ”Kamu tahu sendiri kan Mas Bambang bukan orang yang suka menceritakan sesuatu dengan panjang lebar, ia hanya bilang kalau adiknya bunuh diri karena handphone.”

“Sebentar-sebentar, mungkin aku salah dengar. Karena apa?”

Handphone, Icha… kamu mungkin tidak percaya, tapi begitulah yang terjadi.”

Kepalaku pening seketika, entah karena berita bunuh diri itu, atau karena suatu hal yang untukku sangat sulit dimengerti.

“Kata Mas Bambang, adiknya punya kekasih yang akan dinikahinya. Entah bagaimana kejadiannya. Yahh…kamu tahu sendiri lah, Cha, zaman sekarang, sudah menikah saja masih bisa selingkuh apalagi belum. Jadi, adik Mas Bambang pernah menghadiahi kekasihnya ini handphone yang diharapkan dapat menjadi pengikat cinta mereka berdua. Suatu hari, kekasihnya itu tidak bisa dihubungi. Ternyata, setelah dicari tahu, handphone pemberian adik Mas Bambang itu diberikan oleh kekasihnya ke orang lain agar keberadaannya tidak diketahui adik Mas Bambang.”

Darma memandang meja tamu di depan kami yang kosong, lalu serta merta menawarkan minuman sambil beranjak menuju dapur.

“Nggak usah, Darma,” tanganku segera menyeretnya duduk di tempatnya seperti semula, ”Udah terusin aja ceritanya,” pintaku penasaran.

Darma terlihat sedikit kebingungan dengan rasa penasaranku yang mungkin menurutnya berlebihan.

“Ya gitu deh, Cha…setelah dicari tahu ternyata kekasih adik Mas Bambang ini sudah kabur dengan laki-laki lain, lalu saking kecewanya…”

“Stop! Nggak usah diterusin,” kembali Darma memperlihatkan keheranan atas sikapku yang terlihat gusar sekaligus kikuk.

“Aku pulang ke rumah sebentar ya, ternyata oleh-oleh buat anakmu ketinggalan di rumah.”

Aku segera berlari pulang ke rumah, mengambil sebagian kue kering dan permen simpananku untuk kuserahkan kepada Darma sesuai dengan tujuanku datang ke rumahnya malam itu. Dan tentunya sebagai pengganti sebuah benda yang batal kuserahkan kepadanya. Malam itu, Darma terlihat tidak habis-habisnya keheranan dengan tingkah lakuku yang terlalu janggal baginya. Ya…aku terlalu gusar dengan kisah sedih yang ia ceritakan padaku.  Jelas bukan handphone penyebab adik ipar Darma bunuh diri. Tapi faktanya, handphone telah menjelma menjadi sebuah alat yang sedemikian berarti bagi hidup seseorang saat ini, bagi kelanggengan sebuah hubungan, bagi keberadaan sebuah rasa yang bernama ‘setia’. Mungkin itu yang melatarbelakangi kesimpulan sementara Mas Bambang atas kematian adiknya.

Kurebahkan diriku di tempat tidur yang telah melambai-lambai minta dijamah. Wangi dan lembutnya kain sprei penutupnya tidak mampu mengajakku segera ke alam mimpi. Jam dinding yang gerakan jarum detiknya kini terdengar di telingaku mendorong untuk berpikir realistis. Ok, Icha, sekarang belum waktunya membuat keputusan apa pun atas handphone pemberian Abram. Beri waktu dirimu untuk tenang supaya keputusan yang kamu buat tidak akan kausesali kemudian hari. Tak lama kemudian gerakan jarum jam dinding di kamarku berubah menjadi musik indah pengantar tidur.

*

Sebuah konser musik di Balai Sarbini yang digelar pada tanggal 31 Desember akan menjadi kegiatan penutup tahunku kali ini. Informasi tiket earlybird dengan harga lebih murah aku dapatkan dari sebuah situs penjualan tiket di internet. Aku tidak akan pergi sendiri lagi. Ada Adit yang akan aku hubungi untuk menemaniku menonton. Adit sudah berjanji padaku untuk menghabiskan detik-detik akhir tahunnya denganku. Dia harus kuberi tahu sekarang. Ditengah tumpukan kertas berisi pekerjaan akhir tahun yang mesti aku bereskan, dering telpon yang tak kunjung berhenti, aku segera mengetik sms untuk Adit mengenai rencana ini.

Tanggal 31 nanti ada konser musik di Balai Sarbini. Nonton yuk, udah lama kita nggak nonton bareng. Aku tunggu ya kabarnya 🙂

Search recipient, ketik A, dan send.

Message Sent.

Tidak lama kemudian handphone berlanggananku berbunyi. Wow, kali ini Adit menjawab sms ku lebih cepat dari biasanya. Terbaca di layar handphone :

Yuk, dengan senang hati. Kebetulan aku belum ada acara nih akhir tahun. By the way, handphone pra bayar kamu masih aktif? 🙂

Handphone prabayar? Oh my God!! Ini Abram, bukan Adit! Aku mengirim sms ke Abram, bukan ke Adit! Sejenak logikaku buntu, perasaan terlalu banyak menguasainya. Entah perasaan apa yang ada saat ini. Aku baca sekali lagi sms yang baru saja aku terima. Aku yakinkan sekali lagi diriku kalau huruf yang tertera di kolom Sender adalah a-b-r-a-m.

Dalam situasi seperti ini, satu hal yang ada di pikiranku, benarkah hati dapat menguasai alam bawah sadar manusia untuk menjadi komando atas apa yang sedang tersimpan rapat di dalamnya? Lalu mengajak seluruh organ tubuh ini untuk jujur dengan apa yang dirasakannya?

*

Meja bulat dengan penutup kain putih bersih itu tampak temaram dibawah sebatang lilin mungil. Dua set piring lengkap dengan perangkat makan tersusun rapi di meja itu. Dalam hening mereka seolah menanti  suara hati dua insan yang duduk di kursi yang disediakan untuk meja tersebut.

Serta merta, dua buah suara memecah keheningan.

“Mmmm….”

“Mmmm…”

“Kamu duluan deh yang ngomong.”

“Nggak, kamu duluan aja, kan kamu suka kalo menang,” masih saja Abram menggodaku.

“Nggak, kali ini kamu duluan aja, Bram. Aku jarang-jarang loh kasih kesempatan orang lain buat ngomong duluan. Jangan disia-siakan dong…”

“Ok. Aku mau terus terang soal tiket konser tanggal 31 Desember kemarin yang aku berikan ke Adit… Soalnya gimana ya Cha, Adit kakakku, dan aku tahu kamu sebenarnya ingin mengajak Adit dan bukan aku. Maaf ya, Cha, kalau untuk kesekian kalinya aku ngecewain kamu,” Abram terlihat tegar dan tetap menyungging senyum di wajahnya.

Aku menjaga ketenanganku demi mengimbangi sikap Abram, ”Bram, sebenarnya…tiket konserku…aku berikan ke Cindy. Aku nggak pergi ke konser juga kemarin.”

Abram tak dapat menutupi keheranannya, ”Aku nggak ngerti deh, Cha.”

“Bram, Cindy kan adikku. Aku tahu betul gelagatnya waktu ia mulai dekat dengan Adit. Aku juga mengerti yang dilakukan Adit selama ini padaku adalah demi mendekatkan dirinya pada Cindy. Kakak kamu baik, Bram, aku suka Cindy dekat dengannya. Adit cerita kok kalau kamu berikan tiket konsermu padanya. Makanya, tiketku aku berikan ke Cindy.”

Suasana kembali hening. Hanya bunyi mangkuk berisi sop buntut panas pesanan kami yang telah siap dihidangkan mengisi kekosongan ruang dan waktu. Asapnya mengepul membangkitkan selera. Sambil menunggu seluruh menu yang dipesan terhidang di atas meja, kami menyibukkan diri untuk mengecek handphone kami masing-masing, apakah ada sms yang perlu segera dibalas ataupun panggilan yang tak terjawab.

Tak lama kemudian…

“Cha, emang kamu beneran masih simpan handphone prabayar yang dulu itu?”

“Masih. Emang kenapa?”

“Nggak apa-apa, cuma mastiin aja. Sekarang kamu bawa?”

“Nggak tuh,” ujarku bohong demi menjaga sedikit gengsi yang tersisa.

Kepulan asap yang datang dari mangkuk sop buntut mulai menipis. Abram seperti biasa tidak bisa terlalu lama menahan hasrat menikmati makanan favoritnya itu.

Keasyikan Abram memakan sop buntut dan emping goreng kesukaannya, aku manfaatkan untuk memasukkan tangan kananku ke dalam tas, meraba bagian dalamnya mencari handphone pemberian Abram yang sengaja aku silent. Rasa penasaran akan pertanyaan Abram tentang keberadaan handphone itu membuatku ingin memastikan sekali lagi kalau ia aman berada di dalam tasku. Sekilas mataku tertumbuk pada layar handphone yang bertuliskan 1 Message Received. Aku klik tombol untuk membaca pesan tersebut.

Cha, maukah kamu menjadi teman hidupku selamanya?

Sender : Abram

Hari itu, tanggal 1 Januari 2012, aku, Raisa Ramadani, menerima pinangan Abram Wicaksono, teman, sahabat, sekaligus kekasih yang telah membuktikan kesetiaannya pada persahabatan dan cinta.

Tamat

 

 

Iklan

10 thoughts on “Batas Waktu

    Emak Gaul said:
    Desember 5, 2011 pukul 6:26 am

    bagus, mbak nastiti….
    saya suka bacanya, mengalir ringan….enak dibaca.. 😉

      nastitidenny responded:
      Desember 5, 2011 pukul 6:57 am

      Duh senengnyaa…baca komen mb Winda. Terima kasih mb! Alhamdulillah kalo gitu, semoga bisa terus berkarya seperti mbak 🙂

    manggarlintang said:
    Desember 5, 2011 pukul 9:02 am

    Mba Nastiti, ceritanya keren! 😀
    Aku suka bagian akhirnya, berarti sms itu masuk sebelum jam 12 malamnya ya? Hehe 🙂

      nastitidenny responded:
      Desember 5, 2011 pukul 9:24 am

      Hehe…thank’s Manggar. Mereka (Icha/Abram) pergi makannya memang di tgl 1 Jan 2012 🙂

    rianaadzkya said:
    Desember 6, 2011 pukul 1:23 am

    Boleh nangissss gak yaaah…? Hik hik..
    So sweeeeeeeet :’)

      nastitidenny responded:
      Desember 6, 2011 pukul 3:42 am

      Cup..cup..(*sodorin tissue)
      Terima kasih komennya 🙂

    rianaadzkya said:
    Desember 8, 2011 pukul 9:58 pm

    Seperti lagi baca kisah sendiri.. :’)
    Semoga berujung bahagiaa aja seperti ini.. *eeh 😀

      nastitidenny responded:
      Desember 9, 2011 pukul 1:07 am

      amin ya robbal alamin 🙂

    Diyan said:
    Januari 14, 2012 pukul 11:40 pm

    he..he…kalo gak kenal penulisnya, pasti aku pikir sang penulis lagi menulis catatan harian dirinya…gaya tulisan mbak Titi masuk ke semua usia, kalo tokohnya dewasa, ikutan dewasa, kalo tokohnya “muda” ikutan muda…emang masih muda kok ya….aku sukaaa yang ini mbak…:)

      nastitidenny responded:
      Januari 15, 2012 pukul 4:26 am

      Terima kasih, mba Diyan 🙂
      Seneeng banget kalo baca komen yang begini. Seneng karena bisa memberi bacaan yang menarik untuk orang lain.
      Kalo lagi nulis berasa jadi bunglon mba, berubah menurut cerita yang sedang dibuat 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s