Nenek, Handphone dan Dunia yang Hilang

Posted on Updated on

Ini semua ulahku. Harusnya aku tahu akan begini jadinya. Tapi aku hanya ingin kue buatan nenek dikenal orang lebih banyak. Tidak hanya aku, ibu, bapak, serta keluarga besar kami. Nenek berhak untuk mendapat lebih dari penghargaan yang telah didapatnya hingga kini. Dan menurutku, yang aku lakukan cukup efektif.

*

Lagu Bengawan Solo berkumandang dari handphone nenek yang tergeletak di atas rak piring di dapur. Aku mendengar tapi diam saja. Aku tidak ingin ikut campur urusan nenek dengan teman-teman di perkumpulan juru masaknya itu. Meski tidak memberitahu nenek, aku tidak beranjak dari tempatku berdiri sambil membersihkan alat-alat memasak milik nenek. Aku sengaja. Keberadaanku saat ini harusnya dapat memberikan sinyal kalau aku kesal dengan segala kesibukan nenek saat ini. Nenek bukan lagi nenek yang aku kenal dulu.

“Mira, tidak dengar handphone nenek berdering ya?” ujarnya sembari melirik layar handphone yang bertuliskan ‘panggilan tidak terjawab’.

“Mira kira cuma ada sms masuk,” jawabku sekenanya.

Nenek terlihat kesal.

*

Di usianya yang ke-55, nenek memang masih terlihat gesit dan cekatan. Hobi memasaknya pernah mengantarnya menjuarai berbagai lomba memasak, baik di tingkat kelurahan maupun kecamatan. Seingatku, pernah juga sampai ke tingkat kotamadya. Aku bangga padanya. Sejak kecil hingga kini, di usiaku yang ke-12, aku selalu mengagumi caranya menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak, mulai dari berbelanja hingga memilih bahan yang baik dan segar karena akan mempengaruhi hasil masakan nantinya. Belum lagi jenis masakan yang dikuasainya. Mulai dari gado-gado, ayam goreng, nasi kuning, hingga pancake, fruit salad, beragam dessert dan yang utama adalah penganan khas Jawa Tengah seperti lemper, arem-arem, sosis Solo yang biasa disajikan di acara arisan, pertemuan resmi, maupun acara kumpul keluarga. Untuk jenis masakan eropa, ia belajar sendiri dari buku-buku yang dibelikan ibuku untuknya. Anak semata wayangnya yang super sibuk hingga menyerahkan tanggung jawab urusan cucu kepadanya.Ibu tidak salah pilih. Nenek memang sosok yang tepat untuk urusan menyenangkan hati seorang anak perempuan sepertiku. Dari obrolanku dengan teman satu kelas, hampir tidak ada yang mendapatkan kesenangan seperti yang aku dapat dari nenek. Mereka lebih banyak dilarang melakukan ini itu oleh orangtuanya. Sementara aku, hampir semua keinginanku dituruti oleh nenek. Bapak yang bekerja di luar kota sering mengingatkan ibu agar berbicara baik-baik dengan nenek tentang yang satu ini. ‘Biar Mira tidak kelewat manja, Bu’ katanya suatu kali.Tapi, begitulah nenek. Sulit untuk membuatnya berpikir bahwa aku bukanlah satu-satunya tempat mencurahkan segala kasih sayangnya setelah ibu, anak satu-satunya, memiliki wilayah kewenangan sendiri untuk memutuskan segala sesuatu dalam hidupnya tanpa campur tangan nenek. ‘Nenek hanya ingin selalu ada untuk kita, Pak’ sesederhana itu penjelasan ibu setiap kali bapak berusaha untuk memberi masukan atas sikap nenek padaku.

Aku menikmati semua keistimewaan yang nenek berikan padaku. Hingga suatu hari, sebuah ide hinggap di kepalaku setelah melahap habis pudding buah rasa vanila buatan nenek. Aku teringat akan sebuah lomba resep masakan yang diadakan oleh sebuah majalah wanita yang cukup terkenal. Berhadiah laptop, handphone dan beragam hadiah hiburan yang berupa uang tunai maupun merchandise menarik. Aku ingin mengikutsertakan beberapa resep masakan nenek dalam lomba itu. Sesaat keraguan sempat menghampiriku. Mungkinkah nenek, diusianya yang sekarang masih ingin mengikuti lomba? Lomba memasak terakhir yang diikutinya adalah lima tahun yang lalu. Sesudahnya nenek disarankan oleh dokter untuk mengurangi  kegiatannya karena osteoporosis yang dideritanya. Dan nenek memilih untuk mengikuti saran dokter. Lalu bagaimana dengan lomba ini? Tapi kan lomba ini hanya meminta pesertanya mengirimkan resep uniknya? Tidak akan merepotkan pastinya. Aku bisa membantu.

*

“Iya, Bu Joko, pesanan Ibu bisa diambil nanti sore. Yang untuk mengisi acara arisan kapan ya, Bu?… ah, oke, saya bisa kalau Senin depan. Soalnya Kamis minggu ini saya diundang untuk mengisi acara Tips Memasak Sehat di Gedung Walikota.Kemungkinan baru selesai sore hari.”

Handphone dimatikan. Wajah nenek selalu terlihat segar dan bahagia setiap kali seseorang menelpon untuk menanyakan pesanan maupun jadwal mengisi acara memasak yang sudah disusun nenek sedemikian rupa, setelah hadiah handphone dari lomba resep memasak dimenangkannya. Resep nenek meraih predikat juara ke-2. Ia berhak mendapatkan sebuah handphone lengkap dengan nomor dan sejumlah pulsa yang dapat digunakan hingga kira-kira tiga bulan kedepan.

Aku tahu awalnya ia enggan menerima hadiah itu. Terlebih setelah ia tahu kalau aku mengirimkan salah satu resep miliknya tanpa sepengetahuannya.

“Untuk apa nenek punya handphone, Mira?” ujarnya waktu itu.

“Buat gaya dong, Nek…hihihi, nggak lah, Mira cuma becanda,Nek. Kan Nenek sekarang sudah terkenal, jadi nanti kalau ada yang minta diajarin masak sama nenek atau pesan masakan kan bisa sms lebih gampang, daripada harus telpon ke rumah,” jawabku tidak mau kalah.

Namun yang terjadi kini benar-benar diluar kehendakku. Pertama, nenek jadi sering bepergian. Acara yang harus dihadiri makin hari makin banyak. Terkadang ia menjadi bintang tamu sebuah acara memasak yang diadakan teman-temannya. Huh, nenek norak! Dan handphonenya itu, tidak pernah ketinggalan dibawa. Kata Ibu, seorang pemenang lomba memasak yang cukup bergengsi seperti nenek harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang notabene ber-handphone. Membawa handphone sekarang jadi kewajiban buat nenek. Kalau Bapak bilang, handphone itu jadi bagian dari identitas nenek saat ini. Identitas? Bukannya KTP ya? Sudah ganti? Makin rumit saja hidup nenek. Kedua, nenek tidak lagi setelaten dulu dalam menanggapi keinginanku yang sudah sekian lama terbiasa dipenuhi. Protes kecil-kecilan kerap aku perlihatkan di depannya. Aku ingin nenek tahu aku kehilangan kehangatannya yang dulu. Saat sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mendengar celotehku tentang teman-teman di sekolah, tentang bagaimana mereka memanfaatkan uang jajan mereka, tentang menu makan siang mereka. Namun yang terjadi hingga detik ini tidak seperti yang kuharapkan. Nenek hanya memperhatikan marahku sekilas saja. Kemudian kembali pada kesibukan yang menyitanya dari waktu ke waktu.

Aku tidak ingin tinggal diam. Handphone baru nenek telah merampas kebersamaanku dengan nenek selama ini.

*

“Mira, temani Ibu beli kado untuk teman Ibu sebentar yuk, sekalian mampir toko buku, siapa tahu ada buku baru yang Mira ingin beli,” ajak ibu. Tidak tiap hari Minggu ibu mempunyai kesempatan mengajakku berjalan-jalan seperti hari ini. Aku senang bukan main. Setidaknya melupakan sejenak kekecewaanku pada nenek belakangan ini. Kejutan yang langka ini tidak ingin aku lewatkan.

Kesempatan bepergian berdua dengan ibu, kali ini akan kumanfaatkan untuk berkeluh kesah tentang sikap nenek belakangan ini. Tapi rupanya ibu duluan bicara, ”Ibu jarang lihat Mira bacakan buku untuk nenek lagi kalau malam. Kan nenek suka dengar suara Mira yang merdu.”

“Dulu sih iya, tapi sekarang kan lain,” jawabku ketus.

“Eh, Mira pernah dengar belum ya cerita tentang nenek waktu masih muda…waktu kira-kira seumur Mira sekarang ini. Nenek dulu termasuk anak muda yang cukup gaul loh, suka berteman gitu dan memang disukai banyak orang. Padahal waktu seumur Mira, nenek sudah harus membantu orang tuanya berjualan kue, tapi nenek melakukannya dengan senang hati. Pelanggan nenek mulai yang muda hingga yang tua suka kalau nenek yang buat kuenya apalagi kalau yang antar ke rumah mereka nenek juga.”

Tidak terasa ibu dan aku sudah sampai ke pusat perbelanjaan yang dituju. Cerita ibu terpaksa terhenti. Tapi aku ingin mendengar lanjutannya. Ibu dengan senang hati berjanji untuk melanjutkan cerita masa lalu nenek di perjalanan pulang nanti. Ternyata pusat perbelanjaan yang kami tuju hari itu cukup ramai. Ibu memperingatkan aku untuk berhati-hati dengan tas kain yang aku bawa untuk menyimpan dompet mungilku. ‘Khawatir sama tukang copet’ katanya.

“Kakek dulu pelanggan kue buatan nenek ya?” tanyaku tak sabar menagih janji ibu untuk melanjutkan ceritanya. Ibu sambil memasukkan barang-barang belanjaan kami hari itu menjawab,”Bukan, Mira, sabar sebentar ya…,” ujarnya tersenyum demi mengetahui rasa penasaran anaknya.

Selesai membayar parkir ibu melanjutkan ceritanya. Kisah yang kalau aku boleh memilih, aku lebih memilih untuk tidak mendengarnya selamanya.

Ibu menghela nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan ceritanya, ”Jadi, dulu nenek menikah dengan kakek karena dijodohkan. Kakek sama sekali bukanlah pelanggan kue-kue nenek ataupun penggemar masakan nenek. Orang tua nenek punya teman yang anaknya secara usia dan pekerjaan sudah memadai untuk menikah. Nenek tidak diberikan pilihan waktu itu. Setelah menikah, barulah ia tahu kalau ternyata orang tuanya berhutang pada orang tua kakek dan tak sanggup membayar. Pernikahan nenek dan kakek adalah perjodohan yang diadakan demi untuk pelunasan hutang orang tua nenek.”

Ibu berhenti bercerita sesaat, memindahkan kopling, seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu, untuk kemudian kembali menyusun kalimat demi kalimat.

“Kakek bukanlah lelaki yang mengerti kesukaan nenek akan dunianya. Dunia berjualan kue. Kakek melarang nenek melanjutkan usaha yang telah dirintisnya sejak kecil. Nenek hanya boleh tinggal di rumah, mengurus keperluan kakek dan ibu, anak semata wayangnya. Nenek mengerti dirinya tidak dapat berbuat banyak. Mempertanyakan tentang hak dan kewajiban pasangan suami istri belum pantas dibicarakan waktu itu. Istri hanya punya kewajiban, yaitu mengikuti apa kata suaminya.”

Sampai dengan bagian ini, mataku menghangat.

“Nenek mengubur semua impian masa kecilnya hingga saat penyakit kanker merenggut nyawa kakek lima belas tahun silam. Tidak ada yang mengira kalau nenek ternyata masih menyimpan angan masa lalunya untuk kembali aktif memasak dan berjualan kue. Keinginannya sederhana; membangun toko kue mungil yang melayani pelanggan dari pagi hingga sore.”

Sambil mengunyah sepotong pizza aku masih saja penasaran mendengar kisah nenek dan dunianya.

“Lalu nenek jadi berjualan kue lagi?”

“Mmm…nggak, Mir, ”jawab ibu lesu.

“Kenapa?”

“Soalnya ibu kerepotan mengurusmu waktu kecil. Ibu perlu nenek di samping Ibu selalu. Terlebih waktu Ibu sudah harus kembali bekerja. Meskipun waktu Mira sudah cukup besar, Ibu berhasil memintanya untuk mengikuti berbagai lomba memasak hingga tingkat kotamadya, tetap saja ia belum berhasil memupuk rasa percaya dirinya untuk meninggalkan cucu yang dititipkan padanya.”

Aku merasa ada yang memberontak di dadaku. Seandainya hal itu terjadi padaku, sanggupkah aku menghadapinya. Tentunya tidaklah mudah memelihara mimpi selama puluhan tahun, kemudian disaat kesempatan seolah menghampiri, kita diminta untuk menguburkannya kembali.

“Jadi, tentang osteoporosis itu?”

“Itu alasan nenek saja supaya Ibu tidak terus memaksanya untuk kembali merintis keinginan masa mudanya dulu. Nenek sudah merasa waktu memang tidak berpihak padanya.”

Ibu, dengan pandangannya yang lurus kedepan, aku rasakan hatinya mendekat kepadaku.

“Mira, waktu nenek memenangkan lomba resep masakan beberapa bulan yang lalu, ia merasakan bahwa panggilan jiwanya mendekat untuk diraih. Mira sudah lebih besar, sudah lebih mandiri mengurus segala keperluannya…dan yang terpenting Ibu ingin sampaikan kalau sibuknya nenek saat ini melayani pesanan makanan untuk arisan dan yang lain-lain, tak lain adalah atas permintaan Ibu yang berusaha mengerti akan keinginan nenek sejak dulu.”

Potongan pizza terakhir yang masuk ke mulutku serasa berhenti di kerongkongan.

“Terima kasih ya, Mir, kalau bukan karena handphone hadiah dari lomba waktu itu, mungkin nenek belum bisa sebahagia sekarang. Kalau Mira rasakan nenek berbeda, itu wajar, tapi percayalah nenek hanya ingin kita sedikit saja memahami sebagian dari dunia impiannya yang pernah hilang, yang kini, di usia senjanya, perlahan baru bisa teraih.

Air mataku menetes perlahan. Hingga beberapa detik kemudian aku baru menyadari sesuatu. Kuraba tas kain yang kubawa ke pusat perbelanjaan tadi. Tas dimana kusembunyikan handphone nenek yang telah merampas masa-masa indahku bersamanya. Tidak akan kubiarkan seorang pun menghalangi keinginan nenek kali ini untuk meraih keinginannya. Kuraba sekali lagi tas kainku. Tidak terasa ada benda keras yang berhasil kusentuh kecuali dompet mungilku. Denyut jantungku mulai bertalu sedikit lebih kencang. Kubuka tas itu, kubalik bagian dalamnya hingga memungkinkan seluruh isinya tumpah keluar. Hanya dompet mungil! Sekali lagi kumasukkan tanganku ke dalamnya, kuraba seluruh bagiannya. Kosong. Handphone nenek tidak ada!

Ibu memandangku keheranan. Aku memandang ibu dengan mata sembab penuh penyesalan sambil berkata, ”Ibuuu….handphone nenek hilaaaaang….”

Tamat

Iklan

4 thoughts on “Nenek, Handphone dan Dunia yang Hilang

    chemistryofray said:
    Februari 10, 2012 pukul 4:30 am

    blogwalking dari kampungfiksi, bagus ceritanya
    inget nenek
    :’)

      nastitidenny responded:
      Februari 15, 2012 pukul 10:49 am

      Terima kasih. Jadi kangen nenek juga :’)

    eugene said:
    April 11, 2012 pukul 9:42 pm

    wah ini bagus banget loh 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s