Touchdown 50K! Kata Magis di Bulan Januari

Posted on

Malam-malam nih baru sempat menulis pengalaman menarik dan sangat menarik selama sebulan menulis novel di ajang Januari 50K.

Terus terang ini pengalaman ternekat pertama saya seumur hidup. Menulis novel! Berani amat! Sedang menulis cerpen efektif baru setahun belakangan ini. Latar belakang pendidikan menulis tidak ada. Pengalaman menulis di media massa tidak punya. Menulis di majalah dinding jaman sekolah saja belum pernah. Saya cuma suka membaca. Itu saja. Jadi, saking miskinnya pengalaman, pengetahuan dan latar belakang menulis, saya sempatkan membaca 4 novel yang sekiranya dapat membimbing saya untuk memberikan pengetahuan bagaimana membuat alur cerita dan mengembangkan tokoh dalam cerita untuk genre yang akan saya tulis. Genre yang saya pilih untuk Januari 50K adalah drama rumah tangga. Oleh karenanya dari koleksi novel fiksi yang saya punya, saya memilih Tea for Two (Clara Ng), Cinta Sebuah Rumah Dihatimu (Ollie Salsabeela), Alpha Wife (Ollie Salsabeela), dan Ascolta La Mia Voce (Suzanna Tamaro).

Minggu pertama di bulan Januari adalah hari-hari yang penuh perjuangan untuk menulis. Bagaimana tidak. Meskipun saya sudah mengusahakan untuk membuat seisi rumah tahu kalau saya punya tugas berat selama bulan Januari 2012 ini, tetap saja yang namanya menemani anak-anak liburan sekolah itu tidak mungkin dihindari. Alhasil, jumlah kata yang dihasilkan di minggu pertama bulan Januari melaju bak siput merayap. Belum lagi mood di awal penulisan belum benar-benar baik. Bingung bagaimana baiknya naskah ini diawali. Dengan bab yang mengisahkan bagian mana supaya pembaca tertarik untuk menyentuh bab berikutnya. Idealisme di awal penulisan novel itu bagi saya ternyata menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi keinginan untuk tidak mengecewakan pembaca selalu ada (baca: banyak gaya padahal amatir), disisi lain ternyata hambatan banyak dialami saat saya menginginkan sebuah kesempurnaan didalam tulisan saya. Kalau sudah pusing begini saya memilih tidur saja atau bermain dengan anak-anak. Percuma menulis, tidak ada yang bisa ditulis juga.

Menginjak minggu kedua, saya mulai merasakan menikmati bercerita kepada diri sendiri ini (karena blog saya ‘private’ selama menulis). Meski demikian, ternyata masalah lain muncul. Saya mulai kebingungan mempertahankan alur cerita. Belum lagi karakter yang lupa-lupa ingat pada masing-masing tokoh. Mau kesal dan pergi tidur tidak mungkin karena waktu makin sempit. Akhirnya saya mencari padanan tiap tokoh yang saya tulis dengan beberapa orang teman, kerabat maupun tetangga saya. Tentunya yang sifatnya mirip-mirip dengan tokoh-tokoh dalam cerita saya.

Minggu ketiga dipenuhi oleh hari-hari dimana kegiatan anak-anak di sekolah sudah mulai meningkat. Bersamaan dengan meningkatnya mood menulis saya. Saya mulai dihinggapi keraguan apakah saya yang pemula, hanya modal nekat dan repot dengan urusan keluarga ini akan dapat menyelesaikan naskah sebanyak minimal 50.000 kata ini di akhir Januari. Perlahan saya mulai menjauh dari tulisan saya. Menjaga jarak dengan tokoh-tokoh yang saya ciptakan sendiri. Mungkin takdir mereka nantinya bukan saya yang menentukan. Tapi ternyata saya rindu bertemu dengan mereka. Sedih rasanya berpisah setengah hari saja dengan mereka. Saya merasa mereka memanggil-manggil saya. Menolak ditentukan takdirnya oleh orang lain. Saya baru sadar ternyata saya tidak hanya nekat, tapi juga gila. Lengkap sudah.

Akhirnya dengan tertatih-tatih ke hulu, sampai juga saya ke minggu keempat di bulan Januari. Minggu dimana kepanikan merajalela di pikiran saya. Bagaimana tidak, bahkan di awal minggu tersebut sudah ada yang mengumpulkan 50.000 kata! Saya mulai kelabakan. Tidak hanya waktu yang terus bergerak, tapi berbagai kegiatan di luar rumah juga mulai meningkat. Saya tidak dapat meninggalkan kegiatan-kegiatan tersebut begitu saja. Jadi, apa boleh buat, tiap malam saya begadang mari begadang sampai pagi. Oya, begadang sih setahu saya rutinitas biasa ya bagi penulis. Tapi bagi amatir seperti saya, rupanya hal ini belum menjadi kebiasaan. Akhirnya, tiap pagi saya bak zombie bangkit dari kubur mengantar anak-anak ke sekolah. Wajah kuyu tidak beraturan menjadi pemandangan orang-orang di rumah saya tiap pagi. Satu hal lagi, saya tidak biasa minum kopi. Selama mengikuti Januari 50K ini tidak setetes kopi pun saya minum. Sengantuk apapun itu. Kafein saya hanyalah semangat yang saya pupuk sendiri dan juga suntikan semangat dari sana sini teman-teman dan panitia yang baik hati dan tidak sombong penghuni grup Januari 50K di facebook.Setiap kali semangat akan runtuh, saya membuka grup tersebut di facebook dan simsalabim! Semangat ada lagi!

Selain membuka grup yang penuh semangat itu, ada satu hal lagi yang membuat saya terus melangkah untuk mencapai garis finish 50K. Itu adalah pelengkap kegilaan yang sudah saya miliki sebelumnya. Terobsesi dengan kata Touchdown 50K! Ya, kata-kata tersebut mulai menghantui kepala saya di minggu keempat bulan Januari. Saya ingin menjadikan kata-kata itu seolah tagline saya di bulan Januari. Berbekal keinginan tersebut, saya mulai ngebut sengebut-ngebutnya. Hari Jumat tanggal 27 Januari, sepulang dari mengantar anak saya dan rombongan sekolahnya lomba tari Saman di Istora Senayan, terus terang saya merasa sangat lelah. Tenaga saya sudah saya habiskan selama menjadi suporter anak saya di lomba tersebut. Meski demikian, kata-kata magis tadi telah masuk ke aliran darah saya rupanya. Membuat saya setengah mati kecanduan untuk menulis. Akhirnya, pukul 11 malam saya paksa tangan saya untuk mengetik kelanjutan cerita yang sedang saya buat. Sampai mata ini tidak mau kompromi lagi, saya baru berhenti menulis.

Sebenarnya masih banyak lagi pengalaman menarik lainnya. Tapi saya sedang ingin membalas dendam kekurangan tidur saya sebulan yang lalu. Jadi saya sudahi dulu cerita saya tentang pengalaman menempuh Januari 50K sampai disini šŸ™‚

Alhamdulillah akhirnya saya bisa mencapai 50K, menyelesaikan cerita yang saya buat meski masih amburadul sangat, dan meneriakkan Touchdown 50K! untuk diri saya sendiri.

Terima kasih untuk panitia atas pengalaman menarik dan mengesankan yang bakal sulit saya lupakan ini. Terima kasih juga untuk rekan-rekan penulis nekaders yang telah membuat saya makin menyukai dunia penulisan dari hari ke hari.

Akhir kata, salam semangat ‘Touchdown 50K!’

Jakarta, 31 Januari 2012

(Tulisan yang sama di posting di blog khusus naskah novel saya di blogspot)

Iklan

9 thoughts on “Touchdown 50K! Kata Magis di Bulan Januari

    Ariko (&) Sofia said:
    Januari 31, 2012 pukul 6:25 pm

    Langkah diawal 2012 yang sangat ‘heboh’ ya Mba’ Nastiti šŸ™‚ dan ditutup dengan cukup mengesankan di akhir Bab Januari ini, Alhamdulillah…

    Mudah-2an pencapaian tersebut cukup memompakan semangat serta meniupkan kesegaran, sehingga Ide-2 yang terendap di ruang rasa dan fikir dapat terus mengalir dengan lancar dan tenang di sepanjang 11 bab berikutnya, sampai akhirnya kisah-kisah dalam ‘Novel’ 2012 dapat rampung dengan menarik dan sempurna bagi sang pencari pengalaman.
    ( sebenarnya sih ga’ terbaca seperti pencari pengalaman kalo Mba’ Nastiti ga’ pake bilang-bilang … sudah bolehlah bersanding dengan para jawara šŸ˜‰ )

    Selamat menikmati kegiatan kreatifnya, jangan menyerah pada letih dan lelah. ( mudah-2an selalu tersedia waktu untuk kegiatan ini serta diberi kesehatan, Aamiin )

      nastitidenny responded:
      Februari 1, 2012 pukul 7:49 am

      Amin ya robbal alamin. Terima kasih banyak doanya. Maaf ini belum sempat mampir blogwalking kemana-mana. Tapi besok insya Allah udah lebih longgar waktunya buat baca blog teman-teman.
      Terima kasih sekali lagi:)
      Semoga kita senantiasa dikaruniai kehidupan yg barokah. Amin.

    abuanjeli said:
    Februari 8, 2012 pukul 2:20 am

    Boleh… boleh … senang dan iri rasanya aku sama temanku satu ini…
    Kapan yaa aku bisa seperti Julak Nastiti….???!!!

      nastitidenny responded:
      Februari 9, 2012 pukul 8:51 am

      Heheh..bisa aja. Masih belajar kok. Ayo, kalo mau sama-sama belajar, aku temenin:)

    abuanjeli said:
    Februari 10, 2012 pukul 1:22 am

    Ya … mau sekali lah… tapi kapan yaa….

      nastitidenny responded:
      Februari 10, 2012 pukul 3:43 am

      Sekarang pertanyaannya jadi : kapan ya mau meluangkan waktu untuk menulis.
      Bukan ‘bisa atau tidak bisa’ tapi ‘mau atau tidak mau’…hehehe.
      Yuk mariii šŸ™‚

    rianaadzkya said:
    Februari 15, 2012 pukul 9:05 am

    (OĢ“Ģ“Ģ“Ģ“Ķ”ĢÆ .Ģ® OĢ“Ģ“Ģ“Ģ“Ķ”ĢÆ) selamaat ya mbaa.. Awal tahunn yang indaaaah :’)
    *pengen punya semangat kayak mba* šŸ˜‰

      nastitidenny responded:
      Februari 15, 2012 pukul 10:50 am

      Amin. Ayo, pasti bisa!:)

        rianaadzkya said:
        Februari 15, 2012 pukul 12:54 pm

        Aamiin Allaahummaamiin ā€‹ā€Žā€‹(āŒ’Ė›āŒ’) :’).. \(Ā“ā–½`)/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s