Sebuah Cermin untuk Ibu

Posted on Updated on

Hanya keinginan kuat untuk mempersembahkan sebuah kenangan pada seorang ibu tentunya buku ini ditulis pada awalnya. Meski kemudian setelah cerita demi cerita tertulis, makin banyak inspirasi datang tentang kehidupan seorang ibu. Tantangan, kewajiban dan anggapan akan sosok wanita yang bernama Ibu ini akhirnya menjelma menjadi deretan kata yang terangkai dalam beragam cerita mini.

Membaca lebih dari 30 cerita mini yang berada di dalamnya sungguh membuat saya terharu. Betapa hubungan batin yang terjalin antara pengarang dengan sang ibu telah mampu menginspirasi sekian banyak kisah yang akhirnya disatukan untuk menjadi sebuah buku.

Cerita mini yang berjudul Detik Terakhir Napasku dan Kembali Padamu akan mampu menyadarkan pembaca bahwa bagi seorang ibu, nyawanya berharga sama dengan nilai kehidupan anak-anaknya. Tanpa pamrih mungkin terkesan klise untuk menyebut seluruh pengorbanan seorang ibu. Namun dua cerita di atas nyata mampu menghadirkan kembali ungkapan klise tersebut dengan cara yang lebih menyentuh.

Selain beragam cerita mini, buku ini juga menghadirkan puisi-puisi yang menyiratkan arti keikhlasan, ketangguhan dan kasih sayang seorang ibu.

Pengarang yang kini menetap di Lombok ini mencoba menyuguhkan cerita mini dengan jumlah kata tidak lebih dari 123 kata. Sebuah tantangan berat menurut saya. Namun, tantangan memang bukan untuk dihindari tapi untuk ditaklukkan. Meski tidaklah mudah melakukannya.

Tantangan terberat untuk sebuah cerita mini diantaranya adalah kemampuan menghadirkan ‘punch’ yang kuat di hati pembaca. Mengaduk emosi pembaca dengan kata berjumlah 123 adalah ibarat menghadirkan satu jenis makanan yang dari segi rasa dan penampilan sanggup mewakili hampir seluruh menu makanan yang disediakan oleh sebuah restoran. Jelas bukanlah tugas yang ringan.

Tidak mengherankan bagi saya bila sekian banyak cerita mini dalam buku ini masih terasa datar. ‘Punch’ yang diberikan masih berputar di area memberikan kejutan pada akhir cerita. Itu pun makin lama makin mudah ditebak. Sementara yang diharapkan pembaca tentunya adalah ‘suspense’ (ketegangan) yang dihadirkan sejak awal, mengingat singkatnya cerita yang dibawakan. Diksi (pemilihan kata) tentunya menjadi tugas yang sangat penting bagi pengarang dalam menyusun cerita dengan hanya 123 kata saja.

Di luar isi cerita, saya ingin memberikan sedikit tanggapan tentang sampul buku yang menggambarkan corak batik. Corak Batik Solo, mudah-mudahan saya tidak salah tebak. Sangat disayangkan, tidak satu pun cerita mini di dalamnya berbicara tentang batik, daerah pusat kerajinan batik, budaya Indonesia, ataupun sesuatu yang berkaitan dengan jiwa batik itu sendiri.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan buku Cermin ini, saya ingin menyampaikan penghargaan atas kerja keras tanpa lelah yang dilakukan oleh teman sekaligus sahabat, Momo DM, di sela-sela kesibukannya mengajar dan mengabdikan dirinya di bidang pendidikan. Di sebuah pulau di ujung dunia, Lombok .

Bravo, Masbro!

Salam semangat selalu!

Judul : Cermin

Pengarang : Momo DM

Penerbit : nulisbuku

Tahun : 2011

Tebal : 139 halaman

Jakarta, 17 April 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s