Dalam Bus Kota Kenangan

Posted on

Aku ingin mengatakan hidup ini indah. Seandainya saat ini aku berada di tempat yang berbeda. Bukan disini. Di dalam sebuah bus kota. Sendiri. Udara lembab yang sebentar lagi menghantarkan hujan menambah sendu suasana hatiku. Mungkinkah tetesan hujan yang akan turun sebentar lagi berniat mengejekku? Sudahlah, semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Aku akan memulai langkah baru. Disertai doa semoga tubuh ini tidak keburu melapuk diterjang air. Awan hitam makin berat menggantung di langit. Aku menanti hujan sambil menghitung mundur mulai dari dua puluh hingga nol, berharap tiap angka yang terucap dari bibirku mengantarku menuju hari-hari yang telah berlalu. Dan segera merangkainya menjadi Cerita Hari Ini.

*

“Buruan, Om. Nanti kita kesiangan sampai Stasiun Kota,” teriakan salah satu keponakanku terdengar nyaring dari teras.
“Iya, iya, sabar sedikit kenapa? Memang yang lain sudah siap?” jawabku sekenanya. Sebagai lelaki yang belum menikah di awal usia 40, aku lebih banyak, bahkan terlalu banyak meluangkan waktu untuk ‘me time’. Bergelut dengan pekerjaan kantor yang kerap aku bawa ke rumah, hang out dengan teman-teman kerja di waktu luang, dan membaca buku sambil tiduran di hari libur. Libur agak panjang biasanya aku gunakan untuk kegiatan traveling. Lebih sering sendiri ketimbang bersama rombongan. Mengatur urutan tempat-tempat yang ingin kukunjungi sendiri sangat berbeda dengan mengandalkan jasa biro. Meski demikian, hari-hari yang semula terasa istimewa bagiku itu tak urung lambat laun membuatku bosan. Pertanyaan klise seperti ‘kapan menikah’ mulai kuberi porsi perhatian sekian persen. Tidak banyak, tapi setidaknya tidak lagi berlalu dari telinga kanan ke telinga kiri dan akhirnya keluar dari kepala tanpa permisi.

Aku juga mencoba untuk membuka lebih banyak peluang atas hadirnya orang lain dalam jadwal hidupku sehari-hari. Seperti misalnya, mengajak tiga orang keponakanku untuk berkeliling kota Jakarta dengan bus TransJakarta. Riuhnya persiapan bepergian dengan tiga orang keponakan yang semuanya masih sekolah dasar tidak lagi kujadikan beban. Meski kadang telinga ini masih saja terganggu mendengar celoteh mereka yang belum mampu memahami kesendirian pamannya.

“Om, mau nggak aku kenalin sama guru Bahasa Indonesiaku. Namanya Bu Wati. Cakep deh orangnya. Baik hati lagi…” keponakanku yang paling sulung memulai percakapan selagi kami berempat menempatkan dirinya masing-masing di kursi bus TransJakarta.

Aku hanya tersenyum sambil menjawab,”Boleh aja, om suka kok kenalan.”

“Guruku juga ada yang cakep, Om, tapi kemarin aku lihat ke sekolah udah gandeng anak kecil. Aku tanyain dulu ya, Om, siapa tau bukan anaknya…,” adiknya menimpali.

Penumpang di kanan kiri mulai tersenyum-senyum mendengar percakapan kami. Aku jengah dengan senyum yang tertangkap oleh mataku sebagai kebahagiaan dalam iba. Untuk menutupi rasa canggung yang menyergap, aku segera mengeluarkan sunglasses dari saku dan mulai memakainya. Beruntung siang itu cahaya matahari begitu terik.

Mencoba menikmati traveling dalam kota kali ini, aku memasang headset ke telingaku sambil perlahan merebahkan kepala pada sandaran kursi. Aku berharap kiranya apa yang kulakukan ini dapat mengurangi tingkat keberisikan ketiga keponakanku. Setidaknya sebagai pengganti kalimat, ”Tolong simpan dulu pertanyaan kalian untuk di rumah nanti ya.”

Bila kemudian istirahatku menjadi terganggu setelahnya, itu bukanlah disebabkan oleh celoteh tiga makhluk kecil di sebelahku. Itu adalah akibat dari sudut mata lelaki yang telah berkompromi dengan hatinya untuk meninggalkan masa lajangnya di usia yang tidak muda lagi ini bertemu dengan sosok lembut namun bercahaya. Feminin tapi tegas. Tangguh, tapi tak kehilangan senyum manisnya.

Marni namanya, sebagaimana yang tertulis pada seragam yang dikenakannya. Sopir bus TransJakarta yang aku tumpangi bersama ketiga keponakanku. Beruntung aku menyadari keberadaannya saat bus belum lagi menyentuh halte Bundaran Hotel Indonesia. Masih tersisa sekitar 30 hingga 40 menit bagiku untuk menatap wajahnya, mungkin memasang senyum sepantasnya, kemudian mengajaknya berkenalan.

Takdir berpihak padaku dengan caranya sendiri. Beberapa penumpang yang duduk di kursi paling dekat dengan supir turun satu per satu. Dengan gaya menyediakan tempat duduk agar mudah dijangkau oleh penumpang baru, aku menggeser dudukku hingga ke kursi yang paling ujung. Tepat di belakang supir wanita bernama Marni ini. Kini, kaca spion memantulkan bayangan wajahnya lebih jelas. Sejelas gundahnya perasaanku yang datang kali ini.

“Halte Stasiun Kota masih jauh ya?” pertanyaan bodohku mengalun perlahan. Tak ada jawaban. Aku melongokkan kepala melampaui pembatas fiber glass yang memisahkan kursi penumpang dengan supir dan mengulang pertanyaanku. Beruntung ketiga keponakanku kelelahan dan tak lagi menghiraukan tingkah aneh pamannya.

“Eh, iya, Pak, masih enam pemberhentian lagi. Maaf tadi tidak dengar,” sahutnya memperlihatkan senyum manisnya yang lagi-lagi tertangkap oleh kaca spion. Tubuhku serasa diguyur air es di tengah padang pasir demi memandangnya. Tak kusia-siakan waktu yang tersisa sebelum perjalanan ini berakhir dan aku harus berpisah dengannya. Lama Marni bekerja sebagai supir, usia, latar belakang pendidikan, dan keinginan-keinginannya aku rekam dengan baik dalam ingatanku. Tak ketinggalan jadwal kerjanya yang diawali dari Stasiun Blok M.

*

“Pak Bowo, berkas tentang pencabutan izin bus kota yang dirapatkan kemarin sudah ditandatangani?”

“Sudah, Sur. Ambil aja di atas meja, dalam map kuning,” jawabku singkat.

“Bapak cuti sampai kapan?”

“Cuma tiga hari. Jumat pagi aku sudah di kantor lagi”

“Baik, Pak”

Aku menutup pembicaraan telpon dengan bagian tata usaha kantor tempatku bekerja. Mengambil cuti tiga hari saja untuk melepas lelah ternyata hampir tidak ada bedanya dengan masuk kerja seperti biasa. Telpon genggam berdering-dering menanyakan ini itu. Ada baiknya aku matikan sejenak agar hidup ini sedikit seimbang. Desas desus pencabutan izin beberapa jalur bus kota yang dikeluarkan kantor memang cukup meresahkan. Tak pelak demonstrasi kerap terjadi. Tapi yang akan kulakukan tiga hari kedepan ini tidak kalah pentingnya. Jatuh cinta tidak pernah tidak penting. Terutama bagi sebagian kecil yang sedikit terlambat merasakannya.

Aku dan Marni menghabiskan waktu hampir seharian penuh dengan berjalan menyusuri pertokoan di wilayah Blok M. Marni yang sedang mendapat giliran libur memang ada keperluan untuk membeli pakaian anak-anak titipan kakaknya. Dan aku tentunya juga mempunyai keperluan yang tak kalah pentingnya. Mengenal Marni lebih jauh.

Sejak hari itu, aku lebih sering tersenyum. Di rumah, di kamar, di tempat kerja. Meski yang menjadi penyebab senyumanku itu tidak nampak oleh orang di sekitarku. Namun gejala yang terjadi pada diriku sudah langsung diindikasikan sebagai penyakit umum pria lajang yang sudah mapan oleh orang-orang disekitarku.

“Kayaknya sebentar lagi ada yang sebar undangan nih,” Arman, teman sekantorku, berkata sambil berjalan melewatiku. Aku pura-pura tak mendengar. Sudah lebih dari lima orang yang melontarkan pernyataan serupa sambil cengar-cengir semenjak aku masuk kerja lagi dua hari yang lalu.

*

Aku memperbaiki dudukku di dalam bus kota yang bentuknya sudah lebih mirip rongsokan besi tua itu. Mengusir semut-semut yang berbaris di pinggiran jendela. Mereka mengganggu pandanganku. Meski sejujurnya merekalah yang lebih dulu ada di sana. Bukan aku. Aku hanyalah sosok yang terpaku pada kenangan akan perasaan. Perasaan yang pernah ada, yang begitu indah dan seolah minta dipupuk setiap hari.

*

“Mas Bowo, Marni mau pamit,” ucapnya malam itu.

“Pamit?” aku tersedak selagi menghirup teh panas yang disediakan Marni untukku.

“Iya, Mas, mau menemani bapak pindah ke Palembang…”

Aku merasa kehilangan akal waktu itu. Tak tahu pertanyaan apa yang sebaiknya kulontarkan padanya. Mana yang lebih dulu harus kuketahui. Segalanya terasa begitu cepat. Tidak! Tidak mungkin aku melepaskannya!

“Kamu bercanda, kan?” aku mulai dikuasai halusinasiku sendiri.

“Nggak bercanda, Mas. Kami berangkat Senin depan, tiga hari lagi. Bapak ditawari pekerjaan di lahan sawit adiknya”

“Kok… kamu… baru bilang…” aku gugup. Sangat gugup.

“Marni nggak mengira bapak sedemikian kecewa dengan pencabutan izin bus kota yang biasa disupirinya, Mas. Sementara bapak sudah tua dan sakit-sakitan, Marni harus menemani bapak pindah ke mana bapak mau. Tidak mungkin Marni membiarkan bapak sendiri. Kakak Marni kan sudah berkeluarga semua. Marni-lah satu-satunya harapan keluarga untuk menemani bapak semenjak ibu meninggal. Di tempat baru nanti, Marni akan mengikuti tes masuk pegawai administrasi Pupuk Sriwijaya. Doakan ya, Mas, Marni betah tinggal di sana dan dapat pekerjaan yang baik”

Lidahku makin kelu.

Tanpa menunggu pertanyaan lanjutan dariku, Marni melanjutkan ceritanya,”Jadi, bapak dan teman-temannya itu sudah berkali-kali demo di depan kantor Departemen Perhubungan, Mas…”

Deg! Kantorku. Aku memang belum pernah bercerita pada Marni kantor tempatku bekerja. Tidak penting bagiku. Toh, jabatan dan tanggung jawab yang aku emban bukanlah sesuatu yang penting untuk dibanggakan. Aku ingin Marni mengenalku sebagai Bowo saja. Bukan kepala bagian perizinan jalur bus kota.

“Tetapi tidak diperhatikan. Bapak tahu kalau bus kota jalur tersebut dikurangi dengan tujuan untuk membuat lalu lintas Jakarta lebih teratur. Tapi tidak bisa begitu saja kan, Mas. Bagaimana nasib supir dan keluarganya? Itu alasan bapak berdemo pada awalnya. Tetapi kemudian bapak dan teman-temannya juga mendengar kalau jalur tersebut ternyata akan diisi dengan bus kota lain. Lebih bagus dan baru busnya. Bapak jadi curiga, pencabutan izin ini hanya akal-akalan sebagian pihak yang memenangkan tender pengadaan bus kota baru…”

Kepalaku berdenyut makin kencang.

“Bapak muak, Mas, tinggal di sini. Udah habis badan, habis pula hati…”

*

Akhirnya aku membiarkan deretan semut yang semula mengganggu pandanganku itu tetap dengan aktivitasnya. Mereka hanya kubelokkan untuk menempuh arah yang berbeda. Yang semula beriringan melintas di jendela, kini mereka ku arahkan sedikit ke bawah. Aku meletakkan jariku di jalur awal yang mereka tempuh. Mereka mengerti, kemudian berbelok sedikit dan terus membentuk deretan dengan arah sejajar jalur awal tadi. Sebuah lubang kecil menjadi tujuan mereka. Tempat sisa-sisa makanan mereka timbun.

Setahun telah berlalu semenjak kepergian Marni. Sejak itu pula hampir setiap bulan aku rutin menyambangi sebuah lapangan tempat di mana sebagian bus kota yang telah dicabut izinnya teronggok tidak berdaya. Kemudian duduk di salah satu kursinya yang mulai dimakan rayap. Mencoba merasakan kembali makna keadilan di dalamnya.

(Ditulis untuk #CeritaHariIni yang diselenggarakan oleh @_PlotPoint)

Iklan

2 thoughts on “Dalam Bus Kota Kenangan

    bintangrina said:
    April 28, 2012 pukul 4:48 am

    sebetulnya cerita di atas bagus, hanya sayang fokusnya kurang jelas, (terlalu lebar) sehingga menjadi hambar kurang greget
    salam dari oldman Bintang Rina

      nastitidenny responded:
      April 28, 2012 pukul 5:04 am

      Terima kasih masukannya:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s