Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Posted on Updated on

Baru saja selesai membaca halaman terakhir dari novel terbaru Tere Liye ini rasanya ingin segera menulis ‘sesuatu’ tentangnya. Lebay yah sesuatu-nya, tapi itulah yang terjadi.

Sebagaimana novel-novel Tere Liye sebelumnya, novel ini mempunyai pesan moral yang kuat dalam balutan kesederhanaan hidup. Dengan caranya sendiri, tokoh-tokoh dalam novel ini menarik hati dan pikiran pembaca untuk menyelami indahnya kesederhanaan. Hidup sederhana, berpikir sederhana, namun meninggalkan renungan yang tidak sederhana.

Adalah Borno, pemuda Pontianak yang gigih berjuang mencari pekerjaan. Bila akhirnya mengemudi sepit (perahu penyeberangan Sungai Kapuas) menjadi pilihannya itu tidak lain karena pekerjaan lain yang telah dicoba untuk digelutinya tidak cocok-lah, membuatnya dimusuhi teman-lah, dan lain-lain. Ayah Borno sesungguhnya sempat berwasiat pada anaknya untuk tidak menjadi pengemudi sepit. Namun, ajakan teman dan tetangganya untuk memahami arti wasiat tersebut secara lebih luas akhirnya membuat Borno mengambil keputusan sebaliknya.

Pertemuan Borno dengan pemilik wajah sendu menawan di atas sepit memaksa bujang lulusan SMA ini untuk mengakui bahwa dirinya jatuh cinta. Adalah Mei, gadis keturunan Tionghoa, yang telah merebut hati Borno hingga kepergian Mei suatu hari ke Surabaya membuat Borno yang biasanya giat bekerja menjadi lesu. Begitulah cinta.

Ada cinta pertama, pandangan malu-malu, saling meragu, hingga akhirnya keadaan memaksa Borno dan Mei untuk berterus terang pada perasaannya masing-masing. Meski pada saat kejujuran ingin diutarakan, keadaan seolah makin tidak berpihak pada kelangsungan cinta mereka.

Cinta memang unik. Tere Liye selalu punya cara untuk mengangkat keunikan cinta dalam spektrum yang sangat luas. Bagi penggemar karya-karyanya, saya adalah salah satunya, mulai dari Hafalan Sholat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, Serial Anak Mamak yang terdiri dari Eliana, Burlian dan Pukat, serta masih banyak lagi lainnya menghadirkan kisah betapa keunikan cinta memang tak kan pernah habis untuk dibicarakan.

Dalam Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah, Tere Liye belum juga kehabisan ide untuk mengangkat kisah cinta muda mudi yang jauh dari kesan cengeng meski penantian akan kata cinta mengambil porsi yang cukup banyak di dalam alur cerita. Membuat pembaca hanyut dalam rasa penasaran tanpa harus melewati konflik-konflik tajam yang biasanya dibuat oleh pengarang untuk menyita perhatian pembacanya. Kisah dalam buku ini mengalir tenang, tapi tidak membosankan. Sarat pesan moral, tapi jauh dari kesan menggurui.

Tiap tokoh ditampilkan dengan karakter yang wajar. Borno, misalnya, sang bujang berhati lurus ini tetap memiliki emosi yang menggebu saat berusaha agar sepit miliknya selalu berada pada urutan ketiga belas demi memastikan sang pujaan hati menyeberangi sungai dengan sepit miliknya. Belum lagi usaha tanpa lelahnya untuk bertemu Mei yang selalu menghindar setelah kurang lebih setahun mereka berdua saling memendam rasa. Meski demikian, sebagai anak muda, canda tawa dan kejailan tetap menjadi keseharian yang sulit dipisahkan. Persahabatan Borno dan Andi, menggambarkan hal tersebut. Pesan moral disampaikan terutama oleh tokoh Pak Tua. Seorang sesepuh yang memang sudah sewajarnya melakukan hal tersebut, mengingat pengalaman sang tokoh yang pernah berlayar berkeliling separuh dunia.

Pemilihan kata yang digunakan sangat mendukung alur cerita sehingga membuat kisah cinta malu-malu ini makin mudah dinikmati. Kata-kata bijak disampaikan dengan ringan sebagai bagian dari dialog ataupun sebagai gambaran suara hati saat meragu.

Meski demikian, rasanya cerita dalam buku ini akan memberikan gambaran yang lebih utuh seandainya bagian penutup (epilog) bercerita sedikit lebih detil tentang pulihnya kesehatan Mei sebelum menutupnya dengan akhir yang bahagia. Namun apalah arti sedikit bagian di akhir cerita jika dibandingkan dengan kenyataan bahwa kisah dalam buku ini secara keseluruhan telah berhasil menyajikan sebuah kisah cinta remaja yang tangguh dan menginspirasi.

Judul           : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang : Tere Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun         : 2012
Tebal          : 507 halaman

Jakarta, 27 April 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s