Journey to Bali

Posted on

Selama sepersekian detik jantungku berhenti berdetak. Darah yang sedang dipompanya terhenti entah di mana. Aku merasa menjadi orang paling linglung saat itu. Berada di hadapan tetangga sebayaku yang tanpa rasa bersalah melontarkan pertanyaan yang membuatku merasa sangat bersalah. Lebih tepatnya merasa berada di tempat yang salah.

Aku telah keliru menghitung hari. Bukan, ini bukan tentang judul lagu. Ini adalah sebuah kekeliruan celaka yang dapat memporak-porandakan mimpiku selama ini. Seharusnya aku sedang tidak berada di rumah. Bercengkerama dan bermain dengan tetanggaku hingga terik matahari menyinari tempat kami. Aku seharusnya berada di sebuah tempat di mana aku dapat melepaskan pandangan seluas-luasnya pada segala sesuatu yang menghiasi pinggir jalan raya, mungkin juga pinggir pantai, bahkan bila mungkin lautan tanpa tepi. Aku merasakan tubuhku lemas seketika.

“Jare arep neng Bali… Ora sido to?”1

Pertanyaan tetanggaku masih saja terngiang-ngiang di telingaku bahkan hingga aku masuk ke dalam rumah dalam keadaan setengah yakin dan setengah tidak tentang apa yang terjadi padaku hari itu. Kalimat ‘Ya ampun, saiki tanggal 20 yo?’2 yang terlontar dari mulutku menanggapi pertanyaan tadi mungkin terdengar sedikit seperti bercanda. Namun, ketahuilah, aku sedang tidak bercanda. Aku cukup mengerti kapan waktunya melontarkan kata-kata lucu.

“Piye to? Lali yo?”3 timpal tetanggaku kemudian.

Aku benar-benar tak ingin mendengar kelanjutan kalimat tanya demi kalimat tanya yang menyambar kesadaranku seperti petir di siang hari bolong. Aku berlari masuk rumah. Memastikan kembali bahwa kejadian sepersekian detik waktu jantungku berhenti berdetak adalah sebuah sinyal bahwa kebenaran sedang hadir di waktu yang tidak tepat bagiku. Aku ingin berteriak, memaki diriku sendiri atas kekonyolan yang aku lakukan. Tanggal 20! Tanggal 20 Juni tahun 1992! Sudah kutandai di kalender untuk kujadikan hari keramat! Karena hari itulah seharusnya seluruh mimpiku untuk pergi ke pulau pujaan hampir semua orang di negaraku terlaksana. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku melupakannya.

Selama hampir satu tahun aku dan teman-temanku di sekolah mempersiapkan kepergian kami bersama ke Bali sebagai bagian dari kegiatan sekolah yang bernama karya wisata. Sekali dalam 3 tahun masa pendidikan kami di SMU, kami diberi kesempatan untuk menimba ilmu di luar sekolah sekaligus bertamasya. Kami merencanakan banyak hal jauh hari sebelum biro tur dan travel yang akan membawa kami ke Bali ditentukan oleh sekolah. Berjualan kue adalah bagian dari adat istiadat turun temurun di sekolah kami untuk meringankan sedikit biaya transpor dan akomodasi selama di Bali. Selain itu, kami juga disibukkan oleh merancang logo yang akan menghias kaos seragam kami di Bali nanti. Kami melakukannya dengan penuh semangat.

Entah dari mana asal muasal amnesia sehari yang aku alami di saat seharusnya segalanya menjadi indah. Persis seperti yang aku impikan selama ini. Berjalan-jalan ke Bali adalah kemewahan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tidak sebelum aku akhirnya meyakinkan diriku sendiri bahwa pergi ke Bali hanyalah hitungan waktu karena sekolah telah menjadikannya program tahunan. Kenyataan itu membasuh prasangka bahwa aku, seorang bekas tukang semir sepatu, tak mampu bepergian jauh, apalagi ke pulau yang konon disebut pulau dewata. Ah, sebutannya saja sudah membuat bulu kudukku merinding tiap kali mendengarnya.

Membantu orang tua mencari tambahan penghasilan adalah kegiatanku semenjak aku duduk di bangku kelas 2 SD. Hingga lulus SD, aku meluangkan waktu untuk menjadi tukang semir sepatu setiap sehabis pulang sekolah. Itulah salah satu pekerjaan yang dapat dilakukan anak lelaki seumurku untuk mendapatkan sedikit tambahan uang makan waktu itu. Stasiun Kereta Api Poncol Semarang adalah tempat mangkalku sehari-hari. Melihat orang lalu lalang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Ada yang tergesa-gesa mengejar waktu, namun ada juga yang terlihat santai seolah waktu adalah barang tak habis pakai dan selalu dapat diperbaharui. Aku memandang mereka seperti memandang kunang-kunang yang masih bisa kutemukan beberapa kali di daerah persawahan di dekat rumah. Mereka bertaburan, indah, memikat untuk diikuti, namun kesulitan dijamah. Keinginanku untuk dapat bepergian seperti orang-orang yang kulihat lalu lalang di stasiun makin kuat melekat di benakku dari hari ke hari. Mereka seolah melambaikan tangan padaku, mengajakku untuk meninggalkan kota di mana aku tinggal untuk melanglang buana dari satu tempat ke tempat lain. Namun sayangnya, bayangan itu terhenti kala seorang petugas di loket pembayaran meminta ongkos perjalanan tersebut. Lamunanku buyar setiap kali teringat lembar demi lembar rupiah yang harus disediakan untuk sebuah perjalanan ke luar kota.

Lulus SD aku mencoba peruntungan sebagai tukang koran. Pekerjaan baru ini memberikan hasil yang lumayan. Kebiasaan menyisihkan penghasilan yang tidak banyak ini membuatku mampu mengisi celengan tanah liatku dengan koin-koin sisa uang jajan yang kuperoleh sendiri. Aku menyimpan banyak keinginan yang tak semua orang kubiarkan tahu. Diantaranya adalah bepergian ke luar kota. Aku masih menimbun keinginan itu.

Diterima di salah satu SMU favorit di Semarang adalah berkah bagiku. Sementara berjualan koran, aku tak pernah lalai mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan sekolah. Meski tak mungkin berharap memiliki buku paket yang diwajibkan sekolah, aku berusaha untuk membacanya dengan meminjam milik teman. Hasilnya tak sia-sia. Kesempatan mengenyam pendidikan di SMU favorit akhirnya kugenggam. Keinginan untuk melakukan perjalanan jauh tertanam makin kuat di kepalaku.

Namun yang terjadi di hari seharusnya aku menuai hasil dari seluruh jerih payah atas keinginanku itu sungguh tak seperti yang kuangankan sebelumnya. Aku melamun, terlalu terbuai, atau apalah namanya yang membuatku tidak menyadari sama sekali bahwa seharusnya pagi itu menjadi pagi yang sibuk dengan persiapan untuk menempuh perjalanan ke Bali bersama teman-teman. Naik bus yang telah disewa oleh pihak sekolah. Dengan biaya yang telah diringankan oleh kegiatan berjualan kue. Kemewahan itu sekarang berada di tepi jurang. Aku lupa hari, dan tertinggal bus rombongan sekolah yang tentunya telah berangkat beberapa jam yang lalu. Aku curiga demit penghuni pohon pisang tak jauh dari rumahku telah menutup penglihatanku hari itu atau mengganti tulisan di kalender yang telah kuberi tanda. Mana yang ia pilih yang jelas ia tak ingin melihatku bahagia. Aku sangat ingin menyalahkan siapapun yang dapat kupersalahkan.

Dengan gontai kuberanikan diri ini menyampaikan pada kedua orang tuaku tentang kelalaianku, karena aku tak mungkin mempersalahkan demit penghuni pohon pisang, di hadapan mereka.

“Ke Bali bisa lain kali. Ndak harus sekarang,” ucap ibuku tandas. Waktu itu jam dinding di rumahku menunjukkan pukul 10 pagi. Rombongan bus sekolah menurut jadwal sudah harus meninggalkan sekolah tak lebih dari pukul 8 pagi. Keinginanku satu waktu itu. Memiliki sayap dan terbang menyusul mereka.

Di benakku tertanam kuat satu hal; aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Kesempatan yang kutunggu-tunggu sekian lama. Meski hati ini memaki diri sendiri akan sejumlah dana yang telah kuserahkan ke sekolah untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Bagi temanku yang lain mungkin jumlah yang dibayarkan tidak seberapa. Tapi bagiku berarti sangat banyak. Ingin rasanya mengaduh pada ketidakadilan ini. Mereka yang mampu justru tidak tertinggal bus sekolah, sementara aku?

Meski demikian, banyak hal dalam hidup yang telah mengajarkanku bahwa sesulit apa pun hidup ini, tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menjadi seorang pecundang. Aku tak ingin hanya menyesali keadaan. Aku akan berusaha menyusul bus sekolah. Dengan cara apa pun. Kugenggam sisa dana milikku yang kudapat dari celengan tanah liat seerat aku menggenggam cita-citaku untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Mungkin cukup, mungkin juga tidak. Mengejar ketinggalan saat itu sungguh amat berbeda dengan sekarang. Di jaman teknologi gadget telah berkembang sedemikian rupa, sangatlah mudah bagi seseorang untuk mengetahui lokasi orang lain, atau pun kendaraan yang sedang bergerak. Tapi waktu itu berbeda. Ditambah dengan segala keterbatasan akses dan biaya yang aku miliki, harapanku untuk menyusul rombongan sekolah adalah sebuah tindakan nekat yang berbekal semangat dan doa.

“Buk, aku berangkat dulu”

“Jadi nyusul bus sekolah?”

Aku tak menjawab pertanyaannya. Kulihat ibuku menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin ia sedang berharap dimasukkan dalam golongan orang-orang yang bersabar.

Aku memastikan untuk salat dzuhur terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan. Di dalamnya kusampaikan permohonan untuk keselamatan jiwa dan ragaku. Setelahnya, langkahku terasa ringan. Jam menunjukkan pukul 1 siang. Aku tak ingin menghitung lagi sudah seberapa jauh aku tertinggal rombongan bus sekolah.

Terminal Terboyo Semarang adalah langkah awalku menyusul rombongan bus sekolah. Berbekal tas yang berisi beberapa pakaian dan sejumlah uang yang kumiliki aku menaiki bus kota jurusan Terminal Jembatan Merah yang terletak di kota Surabaya. Membayangkan aku akan berada di kota terbesar nomor 2 di Indonesia itu saja sudah mampu membuat jantungku berdetak lebih kencang. Manusia dalam beragam bentuk dan keinginan mengisi bus kota yang kunaiki. Mereka datang dan pergi dengan cepat dari hadapanku. Ada yang membawa buku, map kerja, sayur mayur, bahkan hewan ternak. Ada yang tersenyum ramah, ada yang sibuk menempatkan diri dan hewan ternaknya di antara kerumunan penumpang, tak sedikit pula yang sibuk merapikan rambut dan jambulnya sambil sebentar-sebentar mengintip kaca spion supir bus. Aku menikmati semua pemandangan itu. Tak terlalu menghiraukan berbagai aroma yang seringkali sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Menjelang maghrib aku terdampar di Terminal Jembatan Merah. Aku melihat-lihat sekeliling mempelajari keadaan. Belakangan, baru aku tahu seharusnya dari Terminal Terboyo Semarang aku bisa langsung mendarat di Terminal Induk Bungurasih Surabaya tanpa berhenti di Terminal Jembatan Merah. Tapi nasi telah menjadi bubur. Menit demi menit yang berlalu harus kujalani di Terminal Jembatan Merah. Termasuk pertemuan tak terduga dengan sosok ‘bidadari terminal’ yang sulit untuk dilupakan. Ada baiknya aku ceritakan di sini pertemuanku dengannya supaya tidak menimbulkan rasa penasaran. Karena mungkin ada yang terinspirasi setelahnya.

Aku menyapa sang bidadari yang berdiri membelakangiku sejak pertama kali aku turun dari bus. Rambutnya hitam dan panjang. Tubuh langsingnya dibalut jaket kulit sintetis KW kesekian. Stoking hitam dan rok di atas lutut menutupi kakinya yang tak kalah langsing dengan tubuhnya. Ia bersandar di salah satu sudut terminal. Terus terang aku tertarik dengan postur tubuhnya. Tanpa banyak membuang waktu, aku menantang naluri kelaki-lakianku.

Aku berdehem perlahan di dekatnya. Sepanjang ia mampu mendengar saja. Jangan sampai terdengar oleh orang lain.”Boleh tanya kalau mau ke Bali naik bus yang mana ya?” Aku membayangkan wajahnya yang malu-malu menunduk di hadapanku sambil memberikan jawaban singkat yang kembali mengundang pertanyaan. Menurut survey yang kulakukan sendiri terhadap teman-temanku sekelas, wajahku termasuk dalam kategori ‘lumayan ganteng’. Semoga bukan karena mereka sekedar ingin membuatku senang. Oleh karenanya, aku harus mempersiapkan beberapa pertanyaan lain. Ah, mengapa bukan di bus tadi aku bertemu dengannya. Tapi siapa tahu ia juga sedang melakukan perjalanan ke Bali. Tak ada salahnya mencoba berkenalan.

Pucuk di cinta ulam tiba. Aku tak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan perhatiannya. Ia menoleh ke arahku. Membuatku terperangah. Oh…

“Mau ke Bali? Yak opo to Cak, neng Bali barang…neng kene wae ngancani aku4

Awalnya aku ingin memasang senyum yang menurut sebagian temanku cukup mematikan bila dipertontonkan di hadapan kaum wanita. Namun rencana tinggalah rencana. Tak ingin mempertaruhkan keselamatanku sendiri aku segera berlari meninggalkan wanita yang telah berubah menjadi setengah wanita begitu wajahnya berhadapan dengan wajahku.

“Caak…arep nang endiii… Ai lop yuuuu!!”5

Aku tak menyangka ia akan mengejarku. Aku menambah tenaga pada kakiku agar mempercepat lajunya. Apakah ada yang terinspirasi setelah membaca bagian yang ini? Oh, ya, tentunya. Terinspirasi untuk mempelajari teknik kabur paling cepat dari hadapan banci terminal. Tapi sungguh, kecepatan kakiku waktu itu patut dijadikan contoh.

Aku mengatur nafas sebisaku setelah yakin sang bidadari tak lagi mampu mengejar. Sesungguhnya aku khawatir ia tiba-tiba muncul dari balik salah satu bus tempatku bersembunyi. Terbayang lagi di hadapanku kumisnya yang telah tumbuh tipis meski ia tentunya rajin memastikan bahwa setiap harinya ia akan makin mirip wanita. Kemudian, berakhir dengan benar-benar menjadi wanita. Aku merinding dibuatnya. Semua itu kubayangkan dalam perjalanan menuju Terminal Induk Bungurasih Surabaya.

Dari Bungurasih, aku masih harus melanjutkan perjalanan ke Probolinggo. Perjalanan kali ini tak kalah mengesankan dari sebelumnya. Di tengah degup jantung yang belum benar-benar teratur, bus kota melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Menurut kernet bus, sang sopir terbiasa menantang dirinya dengan berjanji mengembalikan ongkos kepada para penumpang bila terbukti bus yang disetirnya ini berhasil diselip oleh bus lain. Aku pasrah mendengarnya. Tapi bisa jadi inilah kesempatanku untuk mengejar bus yang membawa rombongan sekolah. Aku terkantuk-kantuk sambil mencoba menikmati semangat sang supir. Malam semakin larut. Uang yang kubawa semakin menipis. Bertemu dengan rombongan bus sekolah masih jadi angan-angan.

Sesampai Probolinggo, perutku mendendangkan melodi pilu. Aku teringat akan bekal yang kubawa dari Bungurasih. Sepotong roti, satu buah jeruk, dan sebotol air mineral. Ingin rasanya aku sikat habis saja seluruh bekalku itu. Lalu melanjutkannya dengan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya di salah satu warung yang masih buka malam itu. Tapi kuurungkan niatku demi menghemat sisa bekal. Aku belum juga dapat memastikan berapa rupiah lagi yang harus dikeluarkan untuk mencapai Bali. Belum lagi ongkos untuk perjalanan mencari tempat penginapan rombongan sekolah. Aku menyeka peluh yang membasahi dahiku perlahan.

Tubuh yang lelah ini kusandarkan pada dinding warung yang pemiliknya berbaik hati mengijinkanku duduk di bangku meski tidak membeli apa-apa. Dari kejauhan aku melihat kerumunan manusia. Rasa penasaran membuatku ingin mendekat. Sebuah televisi berada di tengah-tengah kerumunan. Aku menepuk keras dahiku demi menyadari bahwa malam itu adalah malam disiarkannya pertandingan Piala Eropa Denmark melawan Belanda. Seumur hidup, tak ada yang mampu menyita waktuku dengan sia-sia kecuali sebuah pertandingan sepak bola. Dan pertandingan ini adalah pertandingan yang sangat aku nanti-nanti. Tak lama kemudian aku sudah mendapatkan tempat diantara kerumunan supir, kernet, preman dan bahkan mungkin makhluk sejenis bidadari Terminal Jembatan Merah. Mereka semua bersatu di bawah panji-panji pertandingan sepak bola Piala Eropa. Sepak bola menyatukan perbedaan. Pemuja-pemujanya makin hanyut dalam pesonanya. Dan aku makin pasrah dengan kenyataan dan harapan yang beradu di kepalaku. Kesulitan memahami mengapa Tuhan membiarkan pertandingan ini disiarkan selagi aku terburu-buru seperti ini. Aku terdiam di tengah keramaian. Takzim mengikuti pertandingan hingga usai.

Berikutnya, langkah demi langkah dan putaran demi putaran roda bus menghanyutkanku perlahan. Tanpa terasa, aku sudah makin dekat dengan Pulau Bali. Tak ada lagi gairah menggebu untuk bertemu dengan bus sekolah. Segalanya kunikmati seolah menikmati buaian ibu sewaktu aku masih dipangkuannya. Ayunannya yang selalu mampu meninabobokkanku serta mendatangkan angin lembut yang mengusir hawa panas di tempat tinggalku yang berada di pemukiman padat penduduk. Angin yang kurasakan mampu membasuh luka dan kecewa separah apa pun itu. Ketenangan yang tak mampu disandingkan dengan sejumlah harta benda manusia. Di tengah menikmati ketenangan tersebut, satu per satu anggota keluargaku hadir sebagai bayang-bayang. Pertama ayahku. Seluruh waktu dan tenaga yang ia punya ia persembahkan untuk keluarganya. Untukku, ibu, kakak dan adikku. Siang dan malam. Kadang terpikir olehku akankah aku mampu menjadi sepertinya. Seperti separuh saja dirinya. Kini, jarak membentang diantara kami. Jarak yang membuatku makin sadar akan kegigihan dan semangat hidupnya hingga kini. Mungkin sebagian dari kenekatanku hari ini diwarisi dari sifatnya. Aku tak hanya melihat bayang-bayangnya hadir serupa senyuman bangga seorang ayah atas keberanian anaknya. Tapi juga pelukan hangat yang tak lagi pernah kurasakan. Kesibukannya membanting tulang dengan penghasilan pas-pasan menyita waktunya terlalu banyak. Sementara di rumah, selalu saja ada keributan yang aku ciptakan bersama adik dan kakakku. Kemudian ibu mendatangi khayalku seolah seorang peri yang membawa tongkat ajaib. Ya, beliau adalah pembawa keajaiban dalam hidupku. Pemberi napas kehidupan yang seringkali tak kuhiraukan keberadaannya. Sedang apa ia sekarang? Separuh lebih keyakinan diriku mengatakan bahwa ia sedang tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk anaknya yang sedang terkatung-katung tanpa ia mengerti nasibnya. Kemudian, senyum nakal saudara-saudara kandungku datang bergantian. Empat orang kakakku dan dua orang adikku. Mereka adalah teman sekaligus sahabat terbaik selama ini. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya mereka selalu hadir mewarnai hari-hariku. Meski jarak membentang, aku tahu mereka berusaha memelukku dari kejauhan. Aku terbuai dalam ilusi hingga tanpa kusadari…hup! Aku terjerembab ke belakang. Nyaris tercebur ke laut. Tubuhku oleng selagi berusaha memejamkan mata untuk bertemu sejenak dengan Sang Pencipta. Di buritan kapal feri ditemani sepoi angin dini hari. Kapal yang telah membongkar sauh dan mengajakku terombang-ambing dipermainkan ombak di tengah laut. Kapal yang akan menyempurnakan mimpiku selama ini. Aku bangkit, menjaga keseimbangan tubuhku dengan lebih baik, kemudian mengulang salat subuhku yang terhenti karena geliat ombak.

Saat matahari menyembul dari balik cakrawala aku dapat melihat pulau dewata yang kerap disebut-sebut orang itu. Mereka mendekat padaku. Turut menyambut datangnya pagi yang cahaya langitnya memantul berkilauan di permukaan air laut. Aku mengucap syukur kepada Sang Pencipta berkali-kali. Jangankan ke luar kota, aku bahkan saat itu dalam perjalanan untuk ke luar pulau! Anganku kembali melayang pada suatu waktu saat aku tak hanya mampu mempersembahkan cerita tentang perjalanan ke luar pulau, tapi juga mengajak seluruh keluargaku ke sana.

Tiba di Pelabuhan Gilimanuk Bali, aku merogoh saku celana dan mendapati uang saku yang makin menipis. Mungkin hanya cukup untuk sekali perjalanan dengan bus kota. Bagaimana seandainya dalam perjalanan penuh ketidakpastian itu aku tak mampu bertemu dengan rombongan sekolah? Dengan apa aku akan pulang ke Semarang? Aku benar-benar bangkrut setiba di Bali. Aku harus menyusun rencana  sebagai langkah cepat memperoleh uang. Aku melihat kuli panggul di pelabuhan lalu lalang mengangkut apa saja yang diturunkan dari kapal. Aku bisa menjadi salah satu dari mereka. Suara kernet bus kota yang mangkal di pelabuhan memecah lamunanku. Ia begitu saja menawariku naik dan duduk di bus dan aku begitu saja mengikutinya. Rencana dan kenyataan entah mengapa begitu kerap berbeda. Terutama dalam keadaan penuh kepanikan seperti saat itu.

Aku dapat merasakan degup jantungku kembali bertalu selama duduk di dalam bus kota yang menurut kernetnya akan membawaku ke Tanah Lot, sesuai keinginanku. Aku berharap rombongan bus sekolah masih berada di sana. Kalau tidak, aku akan menambah riwayat hidupku menjadi salah satu kuli panggul atau tukang bersih-bersih pantai seandainya ada.

Beragam ilusi berisi harapan kembali mondar-mandir di kepalaku. Tapi kini ia hadir dihadapanku secara samar-samar dari balik kaca jendela bus kota yang aku tumpangi. Bus yang membawa rombongan sekolah nampak samar-samar. Di dalamnya, kepala teman-teman sekelasku mencuat bergantian, juga samar-samar. Kemudian, spanduk bertuliskan nama SMU di mana aku menuntut ilmu beserta logonya, juga hadir secara samar-samar. Yang aku yakini saat itu hanyalah gerak refleks tanganku mengusap-usap kaca jendela tersebut. Mencoba menahan ilusi yang mau pergi begitu saja dari hadapanku. Sejenak keraguan menghampiri. Mungkinkah yang terlihat sejauh mata memandang ini hanyalah ilusi? Mungkin benar tubuhku memang lelah. Pun pikiranku dihantui oleh keraguan akan biaya pulang. Tapi sebentar, aku berulang kali memastikan pandanganku yang makin lama makin jelas. Tak salah lagi! Rombongan bus sekolah berada pada jarak pandangku! Yeah! Aku bersorak tertahan.

Tanpa babibu aku berlari kegirangan menuju pintu keluar bus kota. Kernet bus yang semula ingin memaki, mau tak mau mengimbangi kenekatanku yang hampir melompat keluar tiba-tiba dengan gerakan spontan meminta supir berhenti. Aku membayar ongkos bus dengan rupiah terakhir yang kumiliki dan berlari menyongsong rombongan bus sekolah.

*

“Kenapa diam?” kataku padanya.

“Aku mendengarkan,” jawabnya singkat.

“Kau tahu apa yang terjadi sepulangku ke Semarang?”

“Hmm, apa ya…kau makin percaya diri, makin ingin melakukan lebih banyak lagi perjalanan jauh karena banyak pengalaman berharga yang didapat, mungkin”

“Tidak hanya itu,” aku ingin kembali menantangnya. Tapi aku tahu waktuku untuk berbicara padanya terbatas. Aku harus segera menghadiri sebuah meeting.

“Sejak saat itu aku memandang keluarga, pekerjaan dan kehidupanku sehari-hari secara berbeda. Saat aku berada begitu dekat dengan mereka, aku lebih banyak menemukan kekurangan ketimbang kelebihan. Tapi, saat mereka begitu tak dapat kuraih, saat begitu sedikit kemungkinan untuk bertemu dengan mereka lagi, pikiranku dibuat lebih jernih untuk memaknai setiap detik kebersamaan yang telah berlalu. Menikmati rumah kami yang sempit. Menikmati penghasilan yang cenderung minus tiap bulannya. Sejak saat itu aku ingin berbuat jauh lebih banyak lagi bagi mereka. Aku ingin…” Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Waktuku tinggal 15 menit untuk sampai ke tempat meeting.

“Kalau begitu, bolehkah aku menuliskan kisahmu ini menjadi sebuah cerita pendek?” katanya antusias, memotong pembicaraanku. Aku tidak menyangka ia dapat membaca pikiranku. Tanpa berpikir panjang aku mengiyakan. Aku masih berbicara padanya saat bergegas mengambil kunci mobil dan berjalan cepat menuju garasi.

“Hati-hati di jalan,” katanya mengakhiri pembicaraan kami melalui telepon.

***

Catatan kaki:

 

1 Jare arep neng Bali… Ora sido to? : Katanya mau ke Bali… Tidak jadi?

2 Ya ampun, saiki tanggal 20 yo?: Ya ampun, sekarang tanggal 20 ya?

3 Piye to? Lali yo?: Bagaimana sih? Lupa?

4 Yak opo to Cak, neng Bali barang…neng kene wae ngancani aku : Bagaimana sih, Mas, ke Bali segala…disini saja menemani aku

5 Caak…arep nang endiii… Ai lop yuuuu : Maas…mau ke manaa…I love you

 

(Ditulis berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh seorang teman)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s