Diandra dan Sekeping Kenangan yang Hilang

Posted on

Dari lubang sebesar kelereng itu aku dapat memandang meja dan kursi yang diletakkan secara tidak beraturan. Ada yang miring ke kiri, ada yang ke kanan. Persis seperti kepingan kenangan di kepalaku. Mungkin seseorang tanpa sengaja pernah menekan tombol shuffle di kepalaku. Alhasil, kepingan itu muncul secara acak.

Botol susu di salah satu meja yang terlihat dari tempatku sekarang pernah menemaniku di satu waktu. Tiap kali menyadari tak ada lagi air susu dapat kuhisap dari botol tersebut, aku menangis kencang. Ibuku tergopoh-gopoh berlari ke arahku. Ia memungut botol susu yang nyaris kosong. Tubuhku terlalu rakus untuk ukuran gaji bulanannya yang hampir habis tiap pertengahan bulan.

Sebelum aku menjadi serakus itu, ada suara yang kerap hinggap di telingaku. Meski telingaku belum terbentuk sempurna, aku dapat menangkapnya. Mungkin melalui cairan yang berfungsi sebagai membran pendengaran. Semacam hentakan kasar dan sumpah serapah menggetarkan membran tersebut. Membuatku menciut ketakutan. Kepingan yang muncul secara acak itu biasanya menjadi gelap pada bagian yang ini. Kemudian meluruh. Sebagian menghilang.

Aku tak akan pernah menemukan bagian yang hilang itu seandainya tak mengikuti ajakannya. “Diandra, keluarlah dari tempat itu,” katanya.”Keluar?” kataku. Dari mana ia memiliki keberanian semacam itu! “Percaya padaku, Diandra!”

Kupupuk keberanian didiriku untuk melangkahkan kaki ke luar. Ke luar dari tempat persembunyianku selama ini. Menyambut riuhnya pesta ulang tahunku yang ke-7.

Meja dan kursi diatur sedemikian rupa sehingga membentuk lingkaran dengan sebuah meja besar di tengahnya. Topi kertas berada di dalam goodie bag lucu. Pisau plastik berhiaskan pita merah muda menemani tart berbentuk Barbie yang gaunnya bisa dimakan. Wanita dengan pelukan paling hangat di tubuhku berdiri di dekatnya. Kemudian seorang pria yang memeluk wanita itu dengan kebahagiaan yang membuncah. Pria itu berkali-kali mengabadikan senyumku dengan kamera telepon genggamnya. Saat itu aku menemukan kepinganku yang hilang. Seorang ayah baru di hari ulang tahunku. Dengannya, aku tak membutuhkan kepingan yang lain lagi.

 

(Ditulis untuk #postcardfiction di @kampungfiksi)

Jumlah kata: 302

Iklan

3 thoughts on “Diandra dan Sekeping Kenangan yang Hilang

    Melvi Yendra said:
    Desember 11, 2012 pukul 1:58 pm

    Sukak euy!

    meyrinda said:
    Januari 12, 2013 pukul 3:34 pm

    kereenn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s