“Marginalia” dan Keunikan Sebuah Tema

Posted on Updated on

marginaliaMarginalia adalah judul novel pemenang kedua Lomba Novel Qanita Romance yang diselenggarakan penerbit Qanita pertengahan tahun 2012. Sebelum sempat membaca novel tersebut, beberapa teman telah membicarakan keunikan tema yang diangkat. Saya sendiri belum pernah mendengar kata Marginalia. Apalagi mengetahui artinya. Ketidaktahuan itu kemudian menjadi salah satu sebab saya percaya bahwa tema yang diangkat dalam novel ini memang unik.

Penasaran dengan isinya, sepulang dari menghadiri peluncuran ketiga pemenang lomba novel tersebut, saya langsung membuka dan membacanya. Setiap membaca sebuah novel fiksi, saya selalu berusaha untuk tidak terpengaruh terlebih dahulu pada segala hal yang membuat pandangan pembaca menjadi subjektif. Misalnya, bulrb yang selalu disusun semenarik mungkin, cover buku, endorsement penulis terkenal (bila ada).

Dari novel tersebut saya kemudian mengetahui bahwa Marginalia adalah catatan pinggir yang ditulis di sebuah buku. Perang pendapat dalam wujud marginalia menjadi awal pertemuan Drupadi dan Aruna yang kemudian bergulir menjadi sebuah kisah percintaan. Ide yang sangat menggelitik menurut saya untuk dijadikan sebuah awal pertemuan. Dan jangan disangka kedua tokoh utama yang berperang marginalia tersebut menyukai buku. Mereka justru melakukannya secara tidak disengaja. Ketidaksengajaan tersebut kemudian dikaitkan oleh semacam keyakinan sang pemilik perpustakaan (Gandi dan Sonya) bahwa sebuah marginalia dapat membawa keajaiban tersendiri. Sampai dengan ide tentang keterkaitan marginalia terhadap tokoh-tokohnya, sungguh saya kagum dengan kepiawaian pengarang.

Dari keseluruhan aspek yang mendukung sebuah karya fiksi, tema memang menjadi salah satu hal yang sangat menentukan penilaian pembaca terhadap karya tersebut. Meski harus saya akui, setting dalam buku ini terasa lemah belum lagi bila mengingat beberapa hubungan sebab akibat yang terlewat di sana sini. Tidak ada petunjuk yang pasti kisah ini bergulir pada tahun berapa. Twitter dan facebook tentu tidak dapat diharapkan menjadi petunjuk mengingat kedua sosial media tersebut telah lebih dari 6 tahun digunakan secara aktif oleh muda mudi di Indonesia. Kisah dengan setting tempat dan waktu yang kuat dengan mudah akan menyeret pembaca untuk masuk dan menikmati setiap adegan dengan mudah. Sementara pergantian adegan demi adegan dalam kisah ini masih terasa mengambang. Pembaca seperti saya kesulitan memahami bagaimana seorang wedding organizer tidak mengenal penyanyi rock yang sedang hits saat itu. Belum lagi penyanyi rock tersebut dengan mudah dapat menjadi wedding singer pengganti dalam sebuah acara pernikahan tanpa diketahui oleh pemilik wedding organizernya (sementara kapasitas usaha wedding organizer tersebut tidak digambarkan dengan jelas). Setting waktu yang kuat sangat diperlukan untuk memberikan gambaran kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam sebuah kisah. Tanpanya, pembaca akan menemukan banyak hal sebagai sebuah keganjilan di dalamnya.

Saya memberikan 3 bintang dari 5 bintang yang disediakan untuk novel ini. Bintang pertama untuk tema dan pengembangan konflik secara garis besar, bintang kedua untuk pemilihan nama tokoh-tokohnya, dan bintang ketiga untuk penyajian cerita dengan sudut pandang orang pertama yang berganti-ganti dari Drupadi ke Aruna namun tetap konsisten di karakter masing-masing.

Judul                     : Marginalia

Pengarang          : Dyah Rinni

Penerbit              : Qanita

Tebal                     : 304 hal

Cetakan               : I, Februari 2013

Iklan

8 thoughts on ““Marginalia” dan Keunikan Sebuah Tema

    G said:
    April 18, 2013 pukul 12:51 am

    Pengamatan yang sangat cermat 😉

      nastitidenny responded:
      April 18, 2013 pukul 8:20 am

      Mungkin krn ceritanya ringan, jadi lebih mudah mengamati detilnya 🙂

    Melvi Yendra said:
    April 18, 2013 pukul 1:10 am

    Saya suka judul dan rancang sampulnya. Semoga tak terjebak adagium “don’t judge a book by it’s cover” 🙂

      nastitidenny responded:
      April 18, 2013 pukul 8:26 am

      Iya, ilustrasi di covernya bagus. Kalau ceritanya bagusan yg juara ke-3 🙂

        Melvi Yendra said:
        April 18, 2013 pukul 11:53 am

        Lantas, kenapa tidak bahas yang juara 3 duluan? 🙂

        nastitidenny responded:
        April 18, 2013 pukul 12:29 pm

        protes aja nih! *cubit* 🙂

    Dyah Rinni said:
    April 19, 2013 pukul 6:07 am

    Terima kasih masukannya, mbak 😀

      nastitidenny responded:
      April 19, 2013 pukul 7:06 am

      Waduh tersanjung saya dibaca langsung sama pengarangnya. Sama-sama, Mba 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s