My Sister’s Keeper: Menakar Keadilan

Posted on Updated on

When I was a little, the great mystery to me wasn’t how babies were made, but why.

Anna Fitzgerald, di usianya yang ke-13, mendatangi sebuah kantor pengacara untuk meminta bantuan melayangkan gugatan pada orangtua kandungnya. Pasalnya, Anna, yang sepanjang hidupnya menjadi donor sumsum tulang belakang Kate, sang kakak yang menderita APL (Acute Promyelocytic Leukemia), merasa tidak pernah dimintai pendapat oleh orangtuanya apakah dirinya bersedia menjadi donor.

Bab pembuka sebagaimana diringkas dalam uraian di atas sempat membuat saya enggan melepas barang sebentar saja novel ini dari tangan saya. Segudang pertanyaan serta merta menghampiri kepala usai membaca pembuka kisah yang terlalu ringan untuk dibilang “sangat menarik”. Mampukah anak berusia 13 tahun berpikir sejauh itu? Pantaskah yang dilakukan orangtua Anna padanya? Bagaimana reaksi sang pengacara menanggapi keinginan Anna?

Jesse dan Kate menjalani masa kecil dengan bahagia bersama kedua orangtua mereka, Sara dan Brian, hingga Kate didiagnosa dokter menderita APL. APL adalah jenis leukemia yang tergolong berat dengan kesempatan hidup yang sangat kecil bagi penderitanya. Kemoterapi dan beragam pengobatan hanya mampu menunda pendarahan yang terjadi secara reguler pada penderita. Meski demikian, Sara tak putus asa mencari beragam kemungkinan untuk memperpanjang usia Kate. Donor sumsum tulang belakang dari saudara sedarah menjadi pilihan setelah kemoterapi tak kunjung memperlihatkan hasil. Belum juga memberikan hasil yang optimal, donor ginjal diusulkan oleh pihak rumah sakit sebagai kemungkinan terakhir bagi Kate. Anna, yang memang dilahirkan dengan tujuan sebagai donor bila Kate membutuhkan, lelah dengan beragam perlakuan medis yang harus dijalaninya semenjak balita demi kelangsungan hidup sang kakak. Ia berniat menolak keinginan orangtuanya mendonorkan ginjalnya untuk Kate.

Kisah kemudian bergulir dengan alur flashback bolak balik di mana pembaca dibawa pada masa lalu Sara, Brian, juga Alexander Campbell (sang pengacara) dan Julia Romano (guardian ad litem Anna setelah gugatan masuk ke pengadilan).  Penggunaan sudut pandang orang pertama dalam tiap bab secara berganti-ganti antara Anna, Kate, Jesse, Sara, Brian, Campbell dan Julia memberikan gambaran yang kuat baik tentang karakter maupun cara pandang masing-masing tokoh terhadap konflik dalam cerita. Alur bolak balik yang dipakai pengarang tidak membingungkan dan mampu membuat pembaca terus menerus penasaran.

Meski demikian, beberapa hal dalam buku ini saya rasakan mengganggu. Pertama, jenis huruf yang dipakai beragam. Setidaknya ada empat jenis huruf dipakai untuk membedakan tiap bab yang mewakili sudut pandang yang berbeda dari masing-masing tokoh. Sementara tiap bab sudah diberi judul sesuai dengan tokoh yang berbicara. Kedua adalah tokoh Jesse, anak pertama keluarga Fitzgerald. Jesse diberi porsi cukup banyak dalam menggerakkan alur cerita. Namun sayang di akhir tak nampak perannya selain ungkapan perasaannya saja.

Keadilan memang topik yang tak akan habis dibicarakan. Melalui tokoh-tokoh dalam buku ini, pembaca diajak melihat keadilan dari beragam sudut. Pertama, sudut pandang orangtua terhadap anak-anaknya. Apa yang telah diputuskan oleh orangtua adalah yang terbaik bagi anak-anaknya tidak lagi bisa dipandang sebelah mata terutama bila ternyata ketidakadilanlah yang justru dirasakan oleh sang anak. Kedua, sudut pandang anak terhadap orangtua dan lingkungan yang membesarkannya. Kemudian, bagaimana keadilan dimaknai dalam sebuah persaudaraan yang dalam hal ini tidak hanya muncul dari kasus Anna, Kate dan Jesse, tapi juga Sara dengan saudara perempuannya yang kaya raya, dan Julia Romano dengan saudara perempuannya yang lesbian. Dari sekian banyak konflik yang muncul dalam kisah ini, muaranya adalah keputusan hakim tentang gugatan Anna yang tidak akan saya ungkap di sini.

There is way too much to explain-my own blood seeping into my sister’s vein; the nurses holding me down to stick me for white cells Kate might borrow; the doctor saying they didn’t get enough the first time around. The bruises dan the deep bone ache after I give up my marrow; the shots that sparked more stem cells in me, so that there’d be extra for my sister. The fact that I am not sick, but I might as well be. The fact that the only reason I was born was as a harvest crop for Kate. The fact that even now, a major decision about me is being made, and no one’s bothered to ask the one person who most deserves it to speak her opinion – ANNA

I know I jump at every sliver of possibility that might cure Kate, but it’s all I know how to do. And even if you don’t agree with me, even if Kate doesn’t agree with me, I want to be the one who says I told you so. Ten years from now, I want to see your children on your lap and in your arms, because that’s when you’ll understand. I have a sister so I know-that relationship, it’s all about fairness: you want your sibling to have exactly what you have-the same amount of toys, the same number of meatballs on your spaghetti, the same share of love. But being a mother is completely different. You want your child to have more than you ever did. You want to build a fire underneath her and watch her soar. It’s bigger than words – SARA

Jodi Picoult dengan piawai mengolah beragam tema dengan setting dunia medis dan hukum. Setelah membaca buku ini terus terang saya makin penasaran dengan kisah lain yang serupa dari pengarang yang sama. Salah satu yang saya tahu berjudul Handle with Care, yang sekarang sudah bertengger manis di rak buku untuk dibaca 🙂

my sister's keeper 2Judul               : My Sister’s Keeper

Pengarang       : Jodi Picoult

Tebal               : 500 hal.

Tahun              : 2004

Penerbit           : Pocket Books A Division of Simon & Schuster America

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s