Interpreter of Maladies: Menerjemahkan Kegelisahan Imigran India

Posted on Updated on

Interpreter of Maladies adalah karya Jhumpa Lahiri pertama yang saya baca. Dan terus terang saja dibeli tanpa direncanakan terlebih dahulu. Seorang teman yang membuka usaha penjualan buku online menganjurkan buku ini untuk saya beli setelah saya membeli The God of Small Things karya Arundhati Roy yang memenangkan Man Booker Prize tahun 1997. Mungkin dia mengira saya penggemar karya pengarang berdarah India, mungkin juga dia menduga saya mengoleksi karya pemenang penghargaan semacam Man Booker Prize, Pulitzer, ataupun Nobel Literature. Keduanya tidak ada yang tepat sebelum saya membaca Interpreter of Maladies. Namun, saya menjadi seperti yang dia kira setelah rampung membaca kumpulan cerpen karya pertama pengarang berdarah India ini yang di tahun 2000 memperoleh penghargaan Pulitzer Prize.

Berbeda dengan Arundhati yang bergerak perlahan dalam membuka sebuah adegan, Jhumpa Lahiri cenderung berlari memasuki arena cerita yang dibuatnya. Kalimat yang digunakan efisien. Sederhana namun tepat sasaran. Kejelian menempatkan detail yang memperkokoh tulang punggung cerita sangat diperhatikan. Karakter tokoh-tokohnya bebas stereotip. Keputusan yang kemudian justru memunculkan sisi kemanusiaan dari dalam pribadi tokoh dengan baik dan luwes. Bicara tentang karakter, menurut saya, Jhumpa Lahiri adalah salah satu dari sedikit cerpenis yang berhasil menggerakkan cerita melalui kekuatan karakter tokohnya.

Interpreter of Maladies terdiri dari sembilan cerita pendek yang seluruhnya mengambil setting di Amerika, tempat di mana sang pengarang tinggal. Memiliki orangtua yang keduanya adalah imigran dari India, Jhumpa Lahiri mengangkat beragam kisah kehidupan imigran India di Amerika. Masing-masing cerita memiliki keunikan tersendiri. Menggali lebih dalam cita-cita, masa lalu, dan gaya hidup imigran India melalui suara hatinya.

Cerpen pertama yang berjudul A Temporary Matter menjadi kisah pembuka yang manis dan mengharukan. Sebuah pemberitahuan tentang pemadaman listrik selama satu jam dalam lima hari berturut-turut telah mampu mengubah cara pandang sepasang suami istri dalam memaknai kehilangan buah hati yang didambakannya. Cerpen ini adalah salah satu cerpen favorit saya. Suasana rumah tangga yang dingin semenjak bayi yang didambakan meninggal dunia sesungguhnya dihuni oleh hati yang saling menanti kehangatan. Cerita ini menarik bagi saya karena konflik yang terbilang sederhana sanggup dibawakan dengan cara yang berbeda. Tokoh utama pria dan wanita yang merupakan suami istri ini seperti dibebaskan berkehendak dalam menyikapi setiap pergerakan yang terjadi dalam hidupnya. Ia dibekali hati, pikiran dan perasaan saja oleh sang pengarang yang dibiarkan tumbuh dan berkembang seiring waktu. Saya tidak melihat pengarang mengatur urutan adegan, karena cerita seolah bergerak karena digerakkan oleh kekuatan sikap dan pola pikir tokoh. Sebagaimana dapat disimak dari adegan berikut ini.

He refilled the wine in her glass. She thanked him.

They were’t like this before. Now he had to struggle to say something that interested her, something that made her look up from her plate, or from her proofreading files. Eventually he gave up trying to amuse her. He learned not to mind the silences.

“I remember during power failures at my grandmother’s house, we all had to say something,” Shoba continued. He could barely see her face, but from her tone he knew her eyes were narrowed, as if trying to focus on a distant object. It was a habit of hers.

Dan juga bagian berikut.

His heart began to pound. The day she told him she was pregnant, she had used the very same word, saying them in the same gentle way, turning off the basketball game he’d been watching on television. He hadn’t been prepared then. Now he was.

Only he didn’t want her to be pregnant again. He didn’t want to have to pretend to be happy.

Selain cerpen pembuka, cerpen berjudul Sexy juga menarik perhatian saya. Tokoh utama dalam cerpen ini adalah seorang wanita simpanan yang bukan keturunan India. Meski demikian, di perjalanan hidupnya ia terlibat dalam beragam peristiwa yang berhubungan dengan imigran India. Tetangga apartemen sewaktu ia masih kanak-kanak, teman di tempat kerja, dan tentunya yang menjadi ujung tombak konflik yaitu lelaki beristri yang dicintainya. Melalui suara hati Miranda sang tokoh utama, pembaca diajak melihat bagaimana seorang wanita simpanan berusaha mengenal lelaki yang dicintainya lebih dalam. Bagian paling menarik dari cerpen ini adalah bagaimana pengarang menguraikan makna “sexy” itu sendiri. Sungguh di luar dugaan.

Cerpen favorit saya berikutnya adalah dua cerpen terakhir yang diberi judul The Treatment of Bibi Haldar dan The Third and Final Continent. Dua cerpen ini memberi kehangatan tersendiri setelah beberapa cerpen sebelumnya seperti When Mr. Pirzada Came to Dine, Interpreter of Maladies, The Real Durwan dan Mrs. Sen’s menyuguhkan ketegangan beruntun. Bila di tujuh cerpen pertama Jhumpa Lahiri menghadirkan tokoh-tokoh berkarakter dingin dan depresi, pada dua cerpen terakhir, dihadirkan tokoh dengan kepribadian lembut.

Dalam The Treatment of Bibi Haldar, Lahiri secara implisit berbicara tentang bagaimana norma di masyarakat dapat begitu kuat menjadi penjara untuk jalan pikiran seseorang. Penghakiman akan keadaan di luar ‘normal’ akhirnya kerap terjadi. Melalui Bibi Haldar, Lahiri memberi gambaran kuat tentang kebahagiaan yang menanti di belakang atas kesetiaan yang diberikan oleh seorang yang dianggap ‘tidak normal’ di tengah masyarakat. Tak ada kesan cengeng sama sekali. Bibi Haldar digambarkan sebagai pribadi yang gelisah, tak mampu melawan keadaan namun berpegah teguh pada prinsip bahwa dirinya berhak bahagia.

The Third and Final Continent bisa jadi tersusun dari potongan kenangan Lahiri akan pengalaman kedua orangtuanya semasa tinggal di Amerika pertama kali. Kisah manis tentang persahabatan mahasiswa India dengan pemilik rumah kos yang sudah jompo. Pandangan mahasiswa asia yang sekian lama tinggal di Eropa dan Amerika tentang makna pernikahan di negeri asalnya. Cerpen ini menutup rangkaian kisah dalam Interpreter of Maladies dengan indah. Love it!

Cerpen-cerpen dalam buku ini telah dimuat sebelumnya di beberapa media seperti: The New Yorker, The Lousville Review, The Agni Review, The Harvard Review, Salamander, Epoch dan Story Quarterly.

IMG_00000079Judul                     : Interpreter of Maladies

Pengarang          : Jhumpa Lahiri

Tebal                     : 198 halaman

Tahun                   : 2000

Penerbit              : Flamingo An Imprint of HarperCollins Publishers

Iklan

3 thoughts on “Interpreter of Maladies: Menerjemahkan Kegelisahan Imigran India

    g said:
    Desember 26, 2013 pukul 3:38 am

    Resensi yang membuat saya nggak sabar menunggu 2014, buat mulai membaca juga. ^_^

      nastitidenny responded:
      Desember 27, 2013 pukul 5:52 am

      Beneran bagus 🙂 Di goodreads ada yang bilang bagusan Interpreter of Maladies ketimbang Unaccustomed Earth.

    Unaccustomed Earth (Bagian 1) « my life, my words on desert said:
    Februari 2, 2014 pukul 10:43 am

    […] Interpreter of Maladies, kisah dalam Unaccustomed Earth terlihat lebih matang dari segi penyajian. Terbit 8 tahun setelah […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s