Unaccustomed Earth (Bagian 1)

Posted on

Membaca Unaccustomed Earth bagi saya adalah kesempatan melihat lebih dalam apa yang sesungguhnya terjadi di balik keseharian hidup manusia. Benarkah seorang anak yang hidup di tengah kultur yang menempatkan orang tua sebagai sosok yang sangat dihormati meyakini hal tersebut? Akankah kebenaran terus-menerus disembunyikan demi menghormati sebuah pertemanan? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang boleh jadi melatarbelakangi kisah-kisah dalam kumpulan cerpen karya Jhumpa Lahiri ini.

Dibanding Interpreter of Maladies, kisah dalam Unaccustomed Earth terlihat lebih matang dari segi penyajian. Terbit 8 tahun setelah Interpreter of Maladies, Jhumpa Lahiri rupanya ingin menghadirkan beragam kisah dengan warna yang baru. Plot yang terasa lebih lambat dalam cerita yang lebih panjang, digunakan oleh pengarang untuk menggali lebih dalam sisi kemanusiaan tokoh-tokoh di dalamnya. Unaccustomed Earth tidak lagi menghadirkan kisah kaum marjinal India. Ia banyak berbicara tentang bagaimana asimilasi budaya timur dan barat terjadi dalam tubuh imigran/keturunan India di Amerika.

Sebagaimana buku ini dibagi menjadi dua bagian, saya pun ingin mengulas keduanya secara terpisah. Part One, yang sedang saya ulas saat ini, terdiri dari lima buah cerita pendek yang sesungguhnya tidaklah pendek. Kelima cerita tersebut masing-masing mengisi setidaknya 40 hingga 60 halaman buku. Di sini, mungkin lebih lazim disebut novela, ketimbang cerpen (short story). Lima cerpen tersebut masing-masing diberi judul: Unaccustomed Earth, Hell-Haven, A Choice of Accomodations, Only Goodness dan Nobody’s Business. Sementara Part Two bercerita tentang sebuah saga berjudul Hema and Kaushik yang terbagi menjadi tiga buah cerita pendek.

Unaccustomed Earth berkisah tentang Ruma, wanita India, yang memutuskan menikah dengan lelaki Amerika dan mencoba tetap memelihara hubungan baik dengan ayah kandung yang telah mengecewakannya.  Lahiri menyelipkan kegundahan Ruma dengan baik melalui dialog maupun narasi, sebagaimana kutipan di bawah ini.

“How far it is?”

When she was younger she would have corrected him; “How far is it?” she would immediately have said, irritated, as if his error were a reflection of her own shortcomings. “I don’t know. I think it takes him about forty minutes each way.”

“That’s a lot of driving. Why didn’t you choose a house closer by?”

“We don’t mind. And we fell in love with the house.” She wondered whether her father would consider this last remark frivolous.

Dan juga pada bagian ini.

She had never been able to confront her father freely, the way she used to fight with her mother. Somehow, she feared that any difference of opinion would chip away at the already frail bond that existed between them. She knew that she had disappointed him, getting rejected by all the Ivy Leagues she’d applied to. In spite of Romi’s itinerant, uncertain life, she knew her father respected him more for having graduated from Princenton and getting a Fulbright to go abroad. Ruma could count the arguments she’d had with her father on one hand.

Meski beberapa detail kejadian sedikit melelahkan, hubungan Ruma dan sang ayah yang mengalami transformasi dari hari ke hari sangat menarik untuk disimak.

Hell-Haven, cerpen kedua, adalah salah satu cerpen favorit saya. Sebagaimana judulnya, siapapun akan menduga bahwa cerpen ini mengangkat pro dan kontra tentang mana yang baik dan yang buruk, ataupun mana hitam mana putih. Tapi lagi-lagi saya dibuat tercengang oleh kekayaan imajinasi pengarang. Kisah tentang seorang ibu yang membesarkan anaknya di luar tanah airnya tentu memiliki banyak ketegangan saat ideologi yang dianggapnya benar mengalami benturan dengan lingkungan yang membesarkan anaknya. Yang satu ini sudah sangat biasa. Yang tidak biasa adalah kenyataan bahwa sang ibu memiliki cinta diam-diam yang memicunya menjadi makin agresif dalam menanamkan keyakinannya pada anaknya. Cinta yang nyaris memakan tubuhnya dalam bara itu ternyata mampu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi anak semata wayangnya. Adegan-adegan konyol nan menggelitik bermunculan dari awal hingga akhir cerita.

A Choice of Accomodation, untuk saya adalah kisah yang tricky. Banyak fakta dihadirkan dalam sekelumit kisah perjalanan pasangan suami istri yang ingin menghadiri pesta pernikahan teman lama sang suami. Kenyataan bahwa calon pengantin wanita memiliki masa lalu tersendiri dengan sang suami hanyalah sebagian dari sekian banyak fakta tentang hubungan lelaki perempuan yang diangkat dalam cerpen ini. Tanpa meninggalkan gaya bertuturnya yang cerdas, Lahiri menguliti cara berpikir pasangan muda dengan dua orang anak sehingga seolah mereka hanyalah latar belakang dari seluruh peristiwa yang terjadi dalam cerpen ini.

Penyesalan seorang kakak terhadap adiknya diangkat dalam cerpen berjudul Only Goodnes. Sebagaimana imigran yang menginginkan kehidupan lebih baik dibanding di tanah airnya, orang tua Sudha dan Rahul mati-matian menginginkan anak-anaknya mampu menjadi kebanggaan keluarga. Sayangnya, keinginan ini justru menyakiti mereka. Berbagai peristiwa membawa Sudha dan Rahul, adik lelakinya, ke dalam situasi sulit yang hanya mereka berdua yang mengerti bagaimana mengatasinya.

She had not seen Rahul since her wedding night, a fact that was incredible to her. “Hi, Didi,” he said when she opened the door, still using the traditional term of respect their parents had taught him. She felt no awkwardness, the sight of him after over a year and a half standing under the portico of the house completing a part of her that have been missing, like the clothes she could wear again now that the weight of her pregnancy was gone.

Mencekam sekaligus mengharukan. Demikian Lahiri menciptakan dunia bagi Sudha dan Rahul. Only Goodnes adalah juga cerpen favorit saya.

Cerpen terakhir yang berjudul Nobody’s Business, awalnya saya kira bakal mirip dengan A Treatment of Bibi Haldar dalam Interpreter of Maladies. Ternyata berbeda jauh. Seorang India Bengali yang kurang beruntung dalam mencari pasangan hidup kali ini hadir dalam wujud wanita labil, drop out dari Harvard University, dan bekerja di sebuah toko buku. Cerpen ini terbilang ringan dibanding empat cerpen sebelumnya. Pergolakan batin tokoh utama tidak begitu dalam digali. Meski demikian, kisah ini diimbangi dengan plot yang lebih dinamis dibanding cerpen-cerpen sebelumnya.

Sebagaimana cerpen karya Jhumpa Lahiri yang lain, jangan mengharapkan kejutan apapun di akhir cerita. Tapi bersiap-siaplah menarik napas panjang kemudian berhenti membaca sejenak sekedar menakar ulang benarkah kejadian sehari-hari yang telah kita lalui sesederhana yang terlihat? []

Unaccustomed Earth (Bagian 1) pictureJudul                : Unaccustomed Earth

Pengarang        : Jhumpa Lahiri

Tebal               : 333 halaman

Tahun              : 2009

Penerbit           : Bloomsbury Publishing Plc, London

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s