Gadis Virus

Posted on

Bagian Satu

Apa yang ada di pikiranmu saat seseorang mengatakan bahwa dirinya ingin membersihkan isi kepalanya darimu, katamu suatu hari padaku. Kau akan menganggap dirimu adalah virus, jawabku kemudian. Sebab bila kau menganggap dirimu alien, tentunya kau adalah jenis yang sulit untuk sekedar dibersihkan. Kau haruslah ‘dimusnahkan’. Terlebih, alien memiliki konotasi sebagai makhluk yang datang dari luar bumi, sementara dirimu tak ubahnya dirinya, sama-sama tinggal dan dilahirkan di bumi.

Meski tak nampak tanpa bantuan miskroskop, kau akan cukup berbahaya. Kau mampu memaksa tubuh inang yang kau tumpangi meningkat suhunya secara drastis. Kau memperbanyak dirimu dengan cepat. Kau tak butuh makanan, karena setiap inang yang kau tumpangi akan membantumu berkembang biak. Kau tak ubahnya makhluk tak tau diri yang merasa dirinya penting sementara sesungguhnya kau sedang menghancurkan pemilik sel inangmu perlahan. Di akhir analisaku tentang keberadaanmu baginya, kau mendesis kesal.

Pernahkah kau bertanya sejak kapan ia menyadari bahwa dirimu adalah virus baginya? Kau berkata sejak awal bertemu yang kemudian kau ralat tentunya tidak. Lalu? Kau mulai ragu dengan ingatanmu. Kejadiannya sudah agak lama, katamu. Agak lama adalah tenggat waktu yang menyebalkan, kataku. Baiklah, pertama kali bertemu, kami tak ubahnya Adam dan Hawa, sepasang makhluk Tuhan pertama di muka bumi yang lahir untuk dipertemukan sebagai jodoh. Lalu? Aku setengah tak sabar dengan perumpamaannya yang bombastis itu. Namun kulihat kau tersenyum mengingatnya. Kami kemudian mengukuhkan diri sebagai sepasang kekasih walaupun prinsip kami berbeda. Bah, kataku. Apa pula itu prinsip? Di hadapanmu, seekor kucing melintas. Kau melirik sebentar sebelum kemudian seperti mendapat ide. Begini, katamu memulai. Aku menyukai kucing karena wajahnya lucu, bulunya lembut, dan gayanya yang manja tapi sombong ataupun sebaliknya. Aku akan memberinya segala yang kucingku butuhkan karena jika aku menjadi kucing akupun akan menyukai majikan yang memperhatikan kebutuhanku. Sementara ia menganggap bahwa kucing perlu dipelihara karena keyakinannya bahwa mereka akan memberinya rizki lebih dan menghindarkannya dari marabahaya di kehidupan yang makin tak menentu ini. Ia berpikir bahwa makhluk ataupun benda tak perlu disukai agar dapat diambil manfaatnya. Ia hanya perlu ada.

Hanya itu?

Alih-alih memberi contoh lain, pandanganmu justru menerawang jauh. Seolah berbicara pada diri sendiri kau katakan bahwa seharusnya kau menyadarinya sejak awal. Harus kukatakan bahwa kali ini kau tak seperti biasa. Meski kalimatmu bernada penyesalan, wajahmu tidak. Kau justru seperti menertawakan dirimu sendiri. Entah kemenangan atau kekalahan. Yang jelas, aku sering tak mampu menjangkau alam khayalmu. Kau terbang terlalu cepat meninggalkan tubuh dan langit malam yang menaungi kita saat itu. Langit yang padanya kau temukan bagian dari dirimu yang lain. Bagian di mana seseorang telah menganggapnya sebagai virus.

Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s