Gadis Virus (Bagian 2)

Posted on

Sisi tak menoleh waktu kerikil sebesar kelereng menyentuh punggungnya dengan keras. Permintaan maaf gadis kecil yang rupanya tak sengaja melempar kerikil itu pun tak dipedulikannya. “Kak Sisi ngga marah, kan? Kak…aku ngga sengaja tadi. Aku cuma…” Kalimatnya perlahan lenyap ditelan dinding yang membatasi gang sempit di mana Sisi terus melangkah. Kecipak air dari lubang jalan yang terinjak kakinya membasahi sepatu yang baru dua hari yang lalu dengan cermat dibersihkannya dari kotoran. Pintu tempat tinggalnya telah nampak dari kejauhan. Ia ingin segera meraihnya. Genangan air akibat saluran pembuangan yang mampet harus dilewatinya perlahan. Jumlahnya makin lama makin banyak. Membuat kesal yang dirasakannya kian membuncah.

Terlalu tinggikah cita-cita ini hingga perusahaan ke-6 yang aku datangi untuk wawancara hari ini tak satu pun menganggapku sebagai manusia? Sisi menorehkan sebaris kalimat di buku hariannya sesampainya di rumah. Sayur bayam dingin dan bakwan jagung sisa sarapan tersimpan rapi di bawah tudung saji. Selera makan Sisi mati sudah. Ditinggalkannya meja makan dan buku hariannya di atas meja. Ia harus segera mencelupkan kepalanya yang hampir mendidih ini ke dalam bak mandi sekarang. Atau, emak keburu datang dan mengiranya mencoba bunuh diri.

Sisi menyambar handuk yang sejak pagi dibiarkan tergeletak di tempat tidurnya. Secepat kilat tanpa peduli gerakannya akan membahayakan benda-benda di sekitarnya.

Kalau saja bukan karena cicak yang melesat di hadapannya bak meteor yang siap menyerang, mungkin Sisi tak akan pernah menemukan kenyataan bahwa hidup bukanlah pertunjukan ketidakadilan seperti yang dirasakannya hari itu. Hidup juga bukan ajang persaingan tak sehat di mana uang menempatkan dirinya sebagai raja lalim yang tak berpihak pada penghuni rumah kontrakan sempit seperti dirinya. Bukan.

Sehelai amplop melayang ringan seolah siap menjadi tikar terbang bagi seekor cicak yang bergerak cepat di dinding. Ia lepas ke udara bersamaan dengan ayunan handuk Sisi. Tepat di atas pintu kamar tidur Sisi dan emak. Tak ubahnya tikar terbang, lajunya lambat menuju lantai. Ujung kanan dan kirinya bergantian naik turun diayun angin yang sebelumnya terasa panas di wajah Sisi. Hingga akhirnya ia mendarat mulus nan elegan dengan posisi terlentang diagonal terhadap pintu kamar. Meninggalkan cicak yang tak lagi nampak di dinding. Benarlah demikian kiranya bila Sisi diminta menggambarkan betapa syahdu pertemuan pertamanya dengan sepucuk surat yang mengubah hidupnya hari itu. Sehelai kertas yang mampu memindahkan dunianya yang sempit di ujung gang penuh balita dan anak sekolah ke kehidupan  perkantoran nan sejuk dengan bunyi ketuk sepatu di atas karpet dan gerak lembut jari di atas keyboard laptop sebagai iramanya.

Siang itu langit mendadak putih kebiruan tanpa gumpalan awan. Sisi menangkapnya sebagai pertanda baik. Dilipatnya surat pemberitahuan dari PT Arga Mulia bahwa dirinya diterima bekerja mulai bulan depan. Jendela kamar yang semula terbuka agar ia dapat memandang tiap huruf dalam surat tanpa terlewat dengan jelas ditutupnya perlahan. Sambil berbaring di kasur, Sisi mereka-reka kalimat seperti apa yang akan disampaikannya kepada Emak sore nanti.

‘Mak, aku punya kejutan buat Emak’, atau ‘sebentar lagi, Emak tidak usah menanggung hidupku lagi’, atau ‘doa Emak selama ini terkabul’, bagaimana kalau ‘tidak sia-sia Emak menyekolahkanku selama ini’.

Sore yang ditunggu tiba. Seperti biasa, sepulang kerja Emak meletakkan tasnya di tempat tidur dan bersiap mandi. Hal yang istimewa terjadi sore itu. Seseorang melompat keluar dari persembunyiannya di balik pintu kamar, memeluknya sambal berkata,”Mak, aku diterima Maaaak….aku diterima!” Emak yang masih kebingungan berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya yang hampir ambruk. Tanpa bertanya ia membalas pelukan gadisnya. “Sisi nggak sabar nunggu bulan depan Mak! Sisi bakal ngantor!”

Emak menyambar surat yang diserahkan Sisi. Tidak salah lagi, Sisi akan mulai bekerja di daerah perkantoran elit pusat kota mulai bulan depan. Sebagai office girl. Sama seperti dirinya.

Emak mempererat pelukannya. Dalam hidupnya, Emak meyakini bahwa kebahagiaan selalu berawal dari sesuatu yang sederhana. Seperti kebahagiaannya hari ini. Pipinya membasah.

 

Bersambung….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s