Catatan Kecil

Saya, J50K dan (Bukan) Salah Waktu

Posted on Updated on

bukan salah waktu (final)Perjalanan berlatih membiasakan menulis fiksi bagi saya adalah perjalanan yang panjang dan tidak mudah. Meskipun lahir dan besar di lingkungan pembaca novel, tak satu pun dari pembaca di sekitar saya itu yang menulis fiksi. Menulis yang dilakukan orang tua saya adalah menulis laporan kerja, hasil tesis, menilai pekerjaan mahasiswa, dan mengisi jurnal untuk majalah kedokteran.  Sementara kakak, tak jauh dari menulis laporan kerja dan setelah berhenti bekerja praktis menulis laporan uang belanja saja. Saya? Tak jauh berbeda. Dengan kakak, tentunya 🙂

Diawali dengan mengisi blog secara acak-acakan dan bergabung di berbagai sosial media, saya dipertemukan dengan beragam komunitas menulis. Salah satu komunitas menulis yang bernama Kampung Fiksi, pada bulan Oktober 2011, melalui akun twitternya, mengadakan workshop menulis sehari. Tanpa berpikir banyak saya langsung mendaftar. Workshop yang terbilang sederhana tapi berisi itu membawa saya mengikuti salah satu lomba cerpennya. Dan alhamdulillah meraih juara 2. Waktu itu pesertanya memang cuma sedikit. Tapi bagi saya yang belum pernah mendapat hadiah gadget dari lomba menulis, rasanya senang bukan main.

Ditengah menulis pengalaman seperti ini sebenarnya saya diliputi kekhawatiran. Khawatir menulis terlalu panjang, membosankan, dan ngelantur ke mana-mana. Baiklah, sebenarnya banyak yang ingin saya ceritakan setelah lomba cerpen tadi. Tapi saya tak ingin membuat pembaca yang mungkin sudah ratusan kali membaca pengalaman belajar menulis seseorang semenjak ada sosial media menjadi bosan. Nah, mulai pada ngantuk…

Singkat cerita, sebuah ajang ngebut menulis novel dalam waktu sebulan yang diadakan Kampung Fiksi pada bulan Januari 2012 saya ikuti. Ajang inilah yang bernama January Fifty Kilo (J50K). Genap sebulan saya menulis dengan tekat baja anti karat, hasilnya adalah kepala terasa berat karena kurang tidur berhari-hari dan sebuah file berisi naskah novel yang tidak ingin saya baca kembali. Menulis 50.000 kata dalam waktu sebulan ternyata dahsyat. Dahsyat menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran. Suka duka selama mengikuti ajang J50K ada di sini. Naskah tersebut saya beri judul Rumah untuk Dua Hati.

Berbagai lomba menulis novel kemudian makin marak di sosial media waktu itu. Tapi naskah tersebut tidak saya ikutkan ke satupun lomba yang ada. Bagaimana mau diikutsertakan kalau saya saja, pengarangnya, tidak tega membacanya kembali untuk kemudian melakukan revisi dan mengirim ke penerbit yang mengadakan lomba. Saya justru menulis naskah novel yang lain lagi. Dengan stamina hasil gemblengan J50K, naskah novel kedua saya selesai pertengahan 2012 dan langsung saya kirimkan ke sebuah lomba menulis novel yang diadakan Gramedia Pustaka Utama. Ya, saya merasakan dampak positif mengikuti J50K saat itu. Saat dengan tenang dan percaya diri saya ternyata mampu menyelesaikan sebuah naskah (lagi) tanpa harus ada yang mengingatkan saya akan tenggat waktu ataupun mengejar dengan stopwatch kata.

Naskah J50K 2012 mati suri. Sementara naskah kedua yang saya kirim ke ajang lomba menulis novel mentok di 30 besar. Tidak termasuk 11 besar yang diterbitkan. Nasib. Meski demikian, saya tak ingin berhenti menulis novel. Tanpa bekal idealisme apa-apa, sekadar ingin menulis saja. Tidak ada yang mau menerbitkan tidak apa. Januari 2013, saya kembali menulis naskah novel ketiga saya. Belum selesai ditulis, saya membaca sebuah ajang lomba menulis novel yang diadakan penerbit bentang pustaka. Dari segi tema, sangat dengat dengan tema yang saya angkat dalam naskah J50K 2012 saya yang mati suri itu. Akhirnya, saya menguatkan hati untuk menengok naskah itu kembali. Merevisinya dengan setengah hati karena tak yakin akan mengirimnya ke bentang pustaka.

Akhirnya naskah tersebut saya kirim ke surel yang diberikan bersama persyaratan yang lain tanpa ada beban. Saya yakin tidak akan terpilih. Eh, tapi siapa tau. Ah, gimana sih!

Pengumuman yang sedianya pertengahan Maret mundur hingga pertengahan Mei 2013. Itupun tidak langsung mengumumkan pemenang yang akan dibukukan. Shortlist berisi 18 besar diumumkan terlebih dahulu. Saya yang ternyata masuk dalam shortlist tersebut kaget, terharu, lalu kembali ke niat awal, tidak berharap menjadi pemenang. Tapi siapa sangka, setelah dipilih kembali 8 naskah yang akan dibukukan, naskah saya ada diurutan ke-4! Wow, serta merta saya tidak bisa tidur semalaman :D.

Terpilih untuk dibukukan ternyata tidaklah mudah. Bagi saya yang sejak awal kurang puas dengan naskah tersebut ingin menulis ulang saja dengan format baru. Selain itu, saya merasa gaya menulis saya sudah jauh berubah dibanding Januari 2012. Kalau direvisi ala tambal sulam rasanya kurang bertanggung jawab terhadap pembaca yang nantinya harus mengeluarkan sejumlah dana untuk membelinya. Akhirnya, dengan persetujuan penerbit, naskah tersebut seluruhnya saya tulis ulang. Juli 2013, naskah dengan wajah baru selesai ditulis.

Naskah yang kemudian diberi judul (Bukan) Salah Waktu saat ini sudah dapat dipesan secara online di sini. Karena libur panjang, distribusinya ke toko buku baru akan dilakukan Januari 2014.

Semangat membaca dan menulis, Bookmania!

Salam hangat 🙂

Peri Dalam “Celoteh Perempuan”

Posted on

Saya Writing Workshop Addicted. Yes, it is so true! Banyak hal saya dapat dari kegiatan tersebut. Pertama, jalan-jalan ke luar rumah pastinya. Kemudian bertemu banyak teman baru yang dengan senang hati saling berbagi pengalaman dalam menulis, dan yang terakhir tentunya adalah materi dalam workshop itu sendiri.

celoteh perempuan

Kumpulan cerpen berjudul Celoteh Perempuan ini adalah buku kumpulan pekerjaan rumah para peserta sebuah workshop menulis yang saya ikuti. Tentunya setelah diseleksi terlebih dahulu. Yang membahagiakan buat saya dengan terbitnya buku ini adalah, dimuatnya cerpen fantasi pertama saya! Fantasi adalah sebuah genre yang tanpa saya sadari telah saya sukai begitu saja (maaf kalau kalimatnya agak aneh tapi seperti itulah gambaran singkatnya). Mungkin karena saya sering nonton film kartun, juga tanpa sengaja. Diawali dari menemani kedua anak saya nonton kartun Disney sembari menghabiskan makan pagi dan siangnya, kemudian menjadi sesuatu yang membuat saya ketagihan.

Cerpen saya yang berjudul Peri Hujan dalam kumpulan cerpen ini tidak selalu benar bila disebut sebagai cerpen fantasi saya yang pertama (kalimat aneh kedua). Saya pernah menulis beberapa cerpen dengan tokoh binatang. Ide-ide cerpen dengan tokoh binatang biasanya muncul begitu saja saat salah seorang anak saya memperlihatkan ketertarikan yang demikian besar pada kehidupan hewan tertentu ataupun fenomena alam yang berhubungan dengan kehidupan hewan. Jadi, mungkin yang benar adalah, cerpen Peri Hujan adalah cerpen genre fantasi-dewasa-tidak-bertokoh-binatang pertama saya. Makin ribet.

Bahagia itu sederhana, melihat buku yang berisi tulisan hasil karya sendiri mejeng di rak depan toko buku. Demikianlah status yang saya posting di dinding facebook tidak lama setelah pengambilan foto yang sekarang nampak di hadapan anda. Buku yang sudah jadi dan siap dibaca memang bukti konkret penyebab munculnya rasa bahagia. Namun, di luar itu, saya menyimpan dua kebahagiaan yang tidak nampak. Yaitu kenyataan bahwa Peri Hujan dinobatkan sebagai satu dari dua cerpen terbaik di minggu ke-3 workshop, dan bahwa saya menuliskan kelanjutan cerpen tersebut sehingga menjadi semacam cerpen bersambung. Cerpen fantasi bersambung ini terbukti sangat membantu disaat saya mengalami kebuntuan menulis kisah-kisah non fantasi. Menumpuk beragam sampah tulisan tentang peri berbaju biru, berwajah sayu, dan sedang menjalani masa hukuman di balik jeruji membuat saya terlepas dari beban menulis. Siapa tau, siapa tau ya, suatu saat layak dikumpulkan untuk dijadikan cerita yang menarik.

Salam semangat menulis dari saya dan Peri Hujan untuk teman-teman semua!

 

750 Kata Perhari Sebagai Bahan Baku Kompos

Posted on

Writing-writing-31277215-579-612Pada bulan Februari lalu, saya menghadiri sebuah workshop menulis kreatif yang diadakan di Istora Senayan. Pembicara workshop adalah penulis produktif Indonesia, Clara Ng. Clara sudah menulis kurang lebih 16 buah novel. Novel-novel Clara mengusung kisah yang beragam. Mulai dari KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) hingga dunia penyihir. Karya-karyanya sangat kreatif.

Dari sekian banyak uraian pengetahuan dasar menyusun kisah fiksi dengan baik hingga sesi tanya jawab yang seru, yang paling berkesan bagi saya justru makalah sebanyak 2 halaman yang dibagikan pada peserta di awal acara. Makalah yang berjudul Mari Menulis Buruk! Makalah yang ditulis oleh sang pembicara tersebut membuat saya untuk kesekian kalinya yakin bahwa untuk menghasilkan tulisan (fiksi) yang baik resepnya sungguh sederhana. Menulis dan menulislah terus. Itu saja. Kalimat tersebut tentu sudah berulang kali muncul sebagai timeline di twitter, status di facebook ataupun uraian panjang lebar di blog (seperti yang saya lakukan sekarang ini…haha!). Namun ternyata untuk mewujudkannya sangatlah tidak mudah. Saya ingin mengambil contoh diri saya sendiri. Sudah lebih dari 2 tahun saya mengunduh program berjudul 750wordsbuster. Program tersebut mengirim email reminder setiap pagi bahwa saya harus menulis setidaknya 750 kata. Kalau saja saya disiplin, tidak usah setiap hari, 4 hari saja dalam seminggu, entah sudah berapa banyak tulisan saya hasilkan. Mungkin masalahnya satu, kita sering dibuat risih dengan tulisan buruk yang dihasilkan dari kepala yang sedang kekurangan ide.

Tetapi uraian tentang Kompos di makalah tersebut mengubah sedikit banyak pandangan saya terhadap ‘risih’ itu tadi. Berikut uraiannya.

Mau contoh apa saja yang buruk dapat menjadi hal yang bagus? Kompos! Kompos adalah sampah yang diolah menjadi pupuk. Ingat motto Go Green, yakni reduce, reuse, recycle? Saya percaya bahwa menulis fiksi juga seharusnya mematuhi prinsip Go Green: reduce-mengurangi kata-kata yang tidak berguna di tulisan burukmu, reuse-mempergunakan tulisan-tulisan burukmu yang diperbaiki lagi, recycle-mengolah tulisan-tulisan ngawur yang kamu tulis.

Menulis buruk juga membuatmu melepaskan beban untuk menulis dengan sangat indah dan tekanan menjadi penulis yang sukses. Itu akan membuatmu terhindar dari berbagai pikiran yang malah menyumbat benakmu untuk semakin berkreasi. Menulis harus lepas dan bebas. Itulah sebenarnya kebahagiaan hakiki seorang pekerja kreatif: merdeka dan santai.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk menulis!

Touchdown 50K! Kata Magis di Bulan Januari

Posted on

Malam-malam nih baru sempat menulis pengalaman menarik dan sangat menarik selama sebulan menulis novel di ajang Januari 50K.

Terus terang ini pengalaman ternekat pertama saya seumur hidup. Menulis novel! Berani amat! Sedang menulis cerpen efektif baru setahun belakangan ini. Latar belakang pendidikan menulis tidak ada. Pengalaman menulis di media massa tidak punya. Menulis di majalah dinding jaman sekolah saja belum pernah. Saya cuma suka membaca. Itu saja. Jadi, saking miskinnya pengalaman, pengetahuan dan latar belakang menulis, saya sempatkan membaca 4 novel yang sekiranya dapat membimbing saya untuk memberikan pengetahuan bagaimana membuat alur cerita dan mengembangkan tokoh dalam cerita untuk genre yang akan saya tulis. Genre yang saya pilih untuk Januari 50K adalah drama rumah tangga. Oleh karenanya dari koleksi novel fiksi yang saya punya, saya memilih Tea for Two (Clara Ng), Cinta Sebuah Rumah Dihatimu (Ollie Salsabeela), Alpha Wife (Ollie Salsabeela), dan Ascolta La Mia Voce (Suzanna Tamaro).

Minggu pertama di bulan Januari adalah hari-hari yang penuh perjuangan untuk menulis. Bagaimana tidak. Meskipun saya sudah mengusahakan untuk membuat seisi rumah tahu kalau saya punya tugas berat selama bulan Januari 2012 ini, tetap saja yang namanya menemani anak-anak liburan sekolah itu tidak mungkin dihindari. Alhasil, jumlah kata yang dihasilkan di minggu pertama bulan Januari melaju bak siput merayap. Belum lagi mood di awal penulisan belum benar-benar baik. Bingung bagaimana baiknya naskah ini diawali. Dengan bab yang mengisahkan bagian mana supaya pembaca tertarik untuk menyentuh bab berikutnya. Idealisme di awal penulisan novel itu bagi saya ternyata menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi keinginan untuk tidak mengecewakan pembaca selalu ada (baca: banyak gaya padahal amatir), disisi lain ternyata hambatan banyak dialami saat saya menginginkan sebuah kesempurnaan didalam tulisan saya. Kalau sudah pusing begini saya memilih tidur saja atau bermain dengan anak-anak. Percuma menulis, tidak ada yang bisa ditulis juga.

Menginjak minggu kedua, saya mulai merasakan menikmati bercerita kepada diri sendiri ini (karena blog saya ‘private’ selama menulis). Meski demikian, ternyata masalah lain muncul. Saya mulai kebingungan mempertahankan alur cerita. Belum lagi karakter yang lupa-lupa ingat pada masing-masing tokoh. Mau kesal dan pergi tidur tidak mungkin karena waktu makin sempit. Akhirnya saya mencari padanan tiap tokoh yang saya tulis dengan beberapa orang teman, kerabat maupun tetangga saya. Tentunya yang sifatnya mirip-mirip dengan tokoh-tokoh dalam cerita saya.

Minggu ketiga dipenuhi oleh hari-hari dimana kegiatan anak-anak di sekolah sudah mulai meningkat. Bersamaan dengan meningkatnya mood menulis saya. Saya mulai dihinggapi keraguan apakah saya yang pemula, hanya modal nekat dan repot dengan urusan keluarga ini akan dapat menyelesaikan naskah sebanyak minimal 50.000 kata ini di akhir Januari. Perlahan saya mulai menjauh dari tulisan saya. Menjaga jarak dengan tokoh-tokoh yang saya ciptakan sendiri. Mungkin takdir mereka nantinya bukan saya yang menentukan. Tapi ternyata saya rindu bertemu dengan mereka. Sedih rasanya berpisah setengah hari saja dengan mereka. Saya merasa mereka memanggil-manggil saya. Menolak ditentukan takdirnya oleh orang lain. Saya baru sadar ternyata saya tidak hanya nekat, tapi juga gila. Lengkap sudah.

Akhirnya dengan tertatih-tatih ke hulu, sampai juga saya ke minggu keempat di bulan Januari. Minggu dimana kepanikan merajalela di pikiran saya. Bagaimana tidak, bahkan di awal minggu tersebut sudah ada yang mengumpulkan 50.000 kata! Saya mulai kelabakan. Tidak hanya waktu yang terus bergerak, tapi berbagai kegiatan di luar rumah juga mulai meningkat. Saya tidak dapat meninggalkan kegiatan-kegiatan tersebut begitu saja. Jadi, apa boleh buat, tiap malam saya begadang mari begadang sampai pagi. Oya, begadang sih setahu saya rutinitas biasa ya bagi penulis. Tapi bagi amatir seperti saya, rupanya hal ini belum menjadi kebiasaan. Akhirnya, tiap pagi saya bak zombie bangkit dari kubur mengantar anak-anak ke sekolah. Wajah kuyu tidak beraturan menjadi pemandangan orang-orang di rumah saya tiap pagi. Satu hal lagi, saya tidak biasa minum kopi. Selama mengikuti Januari 50K ini tidak setetes kopi pun saya minum. Sengantuk apapun itu. Kafein saya hanyalah semangat yang saya pupuk sendiri dan juga suntikan semangat dari sana sini teman-teman dan panitia yang baik hati dan tidak sombong penghuni grup Januari 50K di facebook.Setiap kali semangat akan runtuh, saya membuka grup tersebut di facebook dan simsalabim! Semangat ada lagi!

Selain membuka grup yang penuh semangat itu, ada satu hal lagi yang membuat saya terus melangkah untuk mencapai garis finish 50K. Itu adalah pelengkap kegilaan yang sudah saya miliki sebelumnya. Terobsesi dengan kata Touchdown 50K! Ya, kata-kata tersebut mulai menghantui kepala saya di minggu keempat bulan Januari. Saya ingin menjadikan kata-kata itu seolah tagline saya di bulan Januari. Berbekal keinginan tersebut, saya mulai ngebut sengebut-ngebutnya. Hari Jumat tanggal 27 Januari, sepulang dari mengantar anak saya dan rombongan sekolahnya lomba tari Saman di Istora Senayan, terus terang saya merasa sangat lelah. Tenaga saya sudah saya habiskan selama menjadi suporter anak saya di lomba tersebut. Meski demikian, kata-kata magis tadi telah masuk ke aliran darah saya rupanya. Membuat saya setengah mati kecanduan untuk menulis. Akhirnya, pukul 11 malam saya paksa tangan saya untuk mengetik kelanjutan cerita yang sedang saya buat. Sampai mata ini tidak mau kompromi lagi, saya baru berhenti menulis.

Sebenarnya masih banyak lagi pengalaman menarik lainnya. Tapi saya sedang ingin membalas dendam kekurangan tidur saya sebulan yang lalu. Jadi saya sudahi dulu cerita saya tentang pengalaman menempuh Januari 50K sampai disini 🙂

Alhamdulillah akhirnya saya bisa mencapai 50K, menyelesaikan cerita yang saya buat meski masih amburadul sangat, dan meneriakkan Touchdown 50K! untuk diri saya sendiri.

Terima kasih untuk panitia atas pengalaman menarik dan mengesankan yang bakal sulit saya lupakan ini. Terima kasih juga untuk rekan-rekan penulis nekaders yang telah membuat saya makin menyukai dunia penulisan dari hari ke hari.

Akhir kata, salam semangat ‘Touchdown 50K!’

Jakarta, 31 Januari 2012

(Tulisan yang sama di posting di blog khusus naskah novel saya di blogspot)

Natal di Central Park

Posted on Updated on

Natal identik dengan berhias diri. Tidak hanya rumah-rumah umat yang merayakan penuh oleh beragam pernak-pernik Natal. Mal-mal pun tak mau kalah dalam memperindah penampilannya menyambut Natal.

Tak terkecuali mal yang saya kunjungi hari ini, tepat di tanggal 25 Desember. Mal yang berada di kawasan grogol Jakarta Barat ini adalah salah satu mal terbesar di DKI Jakarta. Paling tidak bila diukur dari megahnya bangunan yang tampak dari luar.
Perjalanan kami sekeluarga hari ini dimulai pukul 15.30 setelah hampir setengah hari kami melakukan pemungutan suara kira-kira mal mana yang ingin kami kunjungi. Peserta pemungutan suara hanyalah seorang ayah, seorang ibu dan 2 orang anak saja. Lamanya keputusan diambil lebih disebabkan oleh jumlah mal yang bertebaran di seantero Jakarta. Tidak sedikit mal baru yang belum pernah kami kunjungi. Meski demikian, akhirnya pilihan jatuh pada mal Central Park. Sebuah mal yang belum berumur 5 tahun. Cukup baru, jarak tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami yang terletak di kawasan Jakarta Barat juga. Kami pernah bertandang ke mal tersebut sebelumnya. Paling tidak sudah 2 kali. Anak-anak sangat terkesan dengan suasana taman terbuka di bagian tengah mal yang luas, bersih, banyak air mancur dan kolam ikan di pinggir taman. Pada beberapa sudut dihiasi dengan lampu taman yang indah. Huruf-huruf kapital raksasa membentuk tulisan LOVE memberi kesan romantis. Tempat duduk yang dibuat menyerupai batu alam persegi disusun bertingkat melingkari sebuah tempat pertunjukan life music sederhana. Konsep taman terbuka didalam mal seperti ini cukup unik. Kesan modern-sophisticated sangat terasa bila kita berada di tengah-tengahnya. Tak heran jika tidak sedikit orang-orang yang belajar fotografi maupun yang sudah ahli melewatkan waktu untuk mengambil beberapa moment maupun sudut-sudut indah nan romantis di tempat tersebut.

Singkat kata, lengangnya lalu lintas kota Jakarta hari ini segera mengantarkan kami menuju pintu masuk mal raksasa ini. Sesuai dengan ukuran mal nya, jalan menuju tempat parkir didalam mal pun cukup jauh dan berliku. Bila kurang cermat dalam membaca papan petunjuk, pengunjung mal akan dibuat berputar-putar di area tersebut dan tak kunjung tiba di area parkir mal.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah taman terbuka yang diceritakan di awal tadi. Diluar dugaan, taman yang biasanya hanya diisi oleh beberapa orang fotografer, pasangan muda dan sedikit pasangan paruh baya itu hari ini penuh sesak oleh pengunjung. Bayangan anak-anak saya untuk berlarian di taman sambil sesekali minta difoto sirna sudah. Kafe-kafe yang bertebaran di sekeliling taman pun dipenuhi pengunjung. Meski demikian sebuah kafe dengan menu utama donut dan frozen yoghurt ternyata masih menyisakan 3 kursi untuk kami duduki. Lega hati ini. Ini Natal, bukan hari biasa. Harusnya kami memaklumi kondisi yang tidak seperti biasanya ini. Mungkin lengangnya jalan-jalan raya di Jakarta tadi memberi kami sedikit harapan akan tersedianya ruang untuk berjalan-jalan atau sekedar duduk-duduk yang lebih di mal.
Meskipun dipenuhi pengunjung, taman terbuka ini masih mampu mempesona pengunjungnya dengan pohon natal raksasa di bagian tengahnya. Lampu warna warni dipasang dari bagian atas hingga bagian bawah pohon. Sementara disekitarnya dipasang deretan lampu-lampu yang menjuntai dari atas ke bawah menyerupai tetesan air. Sungguh memberikan kesan kemilau diantara entah berapa ratus manusia yang menikmati Natal di taman ini.
Pemandangan itu dapat kami nikmati dari tempat kami duduk di kafe ini.
Seorang pria yang intens menghisap rokoknya sangat disayangkan memilih untuk berdiri disamping kami yang sedang asyik menikmati suasana temaram perayaan Natal di Central Park ini. Sambil menghisap rokoknya, sebuah kalimat meluncur dari mulutnya untuk seseorang yang berdiri dihadapannya,”Kalau ada rejeki, tahun depan gua mau jalan-jalan ke Belanda”.
Wow, menyenangkan sekali mendengarnya. Saya berharap ia tidak membawa kebiasaan merokoknya di Belanda nanti.

Menyusuri lantai demi lantai di Central Park ternyata cukup menyenangkan. Setidaknya lautan manusia di bagian ini terbagi-bagi secara merata di tiap sudut ruang mal yang luas ini. Tidak berjubel seperti di taman tadi. Beragam etnis dari beraneka suku bangsa di tanah air ini terwakili satu per satu. Mereka berkumpul dan bersenang-senang bersama.

Jam bergeser ke pukul 18.30. Hampir separuh mal telah kami jajaki. Mengamati tingkah laku pengunjung memang menyenangkan. Pasangan muda dengan bayinya di stroller maupun dalam gendongan terlihat lalu lalang. Mereka mungkin menguasai sekitar 20% dari keseluruhan pengunjung mal ini. Muda mudi bergerombol berjalan sambil tertawa dan sesekali melirik ke smartphone yang ada di tangan masing-masing dari mereka, menambah semarak suasana. Di bagian tengah lantai dasar tegak berdiri pohon natal yang tidak kalah menariknya dengan kerabatnya yang menjulang di taman. Pohon natal yang ini dihias lebih meriah mengimbangi suasana bagian dalam mal. Tidak jauh dari tempat tersebut, seorang anak muda terlihat duduk di belakang sebuah meja yang berada di tengah mal membelakangi pohon natal tadi. Ternyata ia adalah penata rias sekaligus juru foto anak-anak yang ingin berfoto bersama Santa Claus ataupun ingin berpakaian menyerupai Santa. Stand foto ini dikelilingi oleh beragam kostum berwarna merah berikut latar belakang foto yang bergambar pemandangan yang sesuai dengan suasana natal. Seorang anak kecil terlihat asyik berfoto ria bersama orang tuanya menggunakan latar belakang yang disediakan stand foto tersebut secara gratis karena ia tidak ingin menyewa pakaian dan menggunakan jasa tukang foto yang ada. Untuk apa juga karena orang tuanya telah menggenggam kamera yang siap digunakan kapan saja tanpa harus melakukan pembayaran. Dan sang juru foto pun tetap diam di belakang mejanya.

Sebuah papan petunjuk bertuliskan blitz megaplex terpampang didepan kami saat melintas didepan toko buku yang berada di lantai 3. Sontak kedua anak saya berkata,”Nonton yuk!”. Pembelian tiket dilakukan oleh suami saya. Saya dan anak-anak kembali mengamati suasana theater yang dipenuhi anak muda dengan gaya mirip-mirip boyband dan girlband masa kini. Potongan rambutnya, kacamatanya, berpakaiannya. Sungguh kuat pengaruh gaya boy/girlband Korea pada anak muda masa kini. Iklan smartphone bertebaran di area pembelian tiket tersebut. Saya pun akhirnya bersandar pada salah satu pilar yang bergambar smartphone canggih produksi Cina yang rupanya sedang gencar dipromosikan, sambil menunggu tiket terbeli.

Dalam waktu singkat, film Alvin and The Chipmunks yang kami tonton berhasil menyedot perhatian anak-anak. Selama pertunjukan, ekspresi penuh kekaguman dan tawa ceria terpancar di wajah kedua anak saya. Ditemani kentang goreng dan hot dog, mereka terlihat tak henti tertawa. Betapa tidak, melihat tupai-tupai mungil melenggak lenggok dengan gemulai di lantai dansa sebuah diskotik kapal pesiar adalah salah satu daya tarik yang ditawarkan film ini. Belum lagi lagu-lagu hits masa kini seperti Party Rockin’ nya LMFAO serta Born This Way nya Lady Gaga turut meramaikan film berdurasi sekitar 90 menit ini. Pesan moral yang dibawakan pun sesuai untuk anak-anak. Berisi, tapi ringan untuk dipahami.

Pukul 9 malam kami sekeluarga sudah tiba di lantai 11 area parkir mal. Tempat dimana mobil kami bersemedi selama hampir 4 jam. Kami bersiap meninggalkan riuhnya pesta Natal di Central Park.

Tak lama kemudian mobil kami kembali melaju di keheningan Jakarta.

Jakarta, 25 Desember 2011

Saat Waktu Berjalan Lebih Lambat

Posted on

Saya tergopoh-gopoh membawa barang bawaan saya dan anak-anak turun dari mobil yang mengantar saya ke travel agent hari itu. Travel agent untuk bepergian dari Yogyakarta ke Semarang. Pemesanan tempat duduk sudah dilakukan sehari sebelumnya. Meskipun demikian belum ada kepastian dari pihak travel agent mobil jenis apa yang akan saya dan anak-anak saya tumpangi. Pilihannya adalah Toyota Avanza atau Suzuki APV. Tidak menjadi masalah untuk saya, yang penting 3 tempat duduk bersebelahan sudah dijaminkan untuk saya. Bagi orang yang terbiasa tinggal di kota yang serba lengkap pelayanannya seperti Jakarta, tentunya sangat aneh apabila sampai dengan hari keberangkatan mobil yang akan ditumpanginya untuk menempuh jarak diatas 100 km itu belum jelas jenisnya. Tapi untunglah masa kecil saya dihabiskan di kedua kota ini sehingga saya dapat membiasakan diri.

Maaf sebelumnya, mungkin memang benar kalau saya sudah harus terbiasa dengan kondisi tersebut diatas. Tapi rupanya yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang membuat saya menjadi memilih untuk tidak membiasakan diri lagi.

Seorang ibu separoh baya duduk gelisah di dekat tempat saya dan anak-anak saya duduk. Rupanya sang ibu telah tiba 1,5 jam lebih dahulu ketimbang saya dan sayangnya telah dijanjikan untuk berangkat 1 jam yang lalu. Namun demikian, sampai dengan saya duduk menanti di kursi saya, belum juga ada tanda-tanda siap diberangkatkan. Reaksi sang ibu wajar, dengan wajah ditekuk namun tetap halus nada bicaranya khas warga Yogyakarta, menanyakan berulang-ulang mengapa belum juga ada kejelasan kapan dirinya akan berangkat ke Semarang. Kota tujuan yang sama dengan saya. Saya mulai menyembunyikan rasa was-was. Tidak lama kemudian kemarahan sang ibu memuncak. Ia menyampaikan kalau ia berkepentingan menengok temannya yang sedang sakit di sebuah rumah sakit di kota Semarang dengan jam besuk yang ketat. Saya akhirnya angkat bicara demi melihat reaksi yang sangat tidak diharapkan dari sang recepsionist yang melulu hanya menyampaikan bahwa penumpang harus sabar menunggu.

“Mbak, apa tidak bisa ditanyakan ke garasi mobilnya kejelasannya kapan kendaraan ibu ini berangkat ? Saya terus terang juga jadi khawatir sekarang !” dengan nada sedikit membentak. Mbak recepsionist tidak akan tersinggung saya rasa, karena ia mengira saya adalah turis lokal dari Jakarta yang sedang menghabiskan liburan ke luar kota. Penduduk kota seperti Jakarta sudah sulit menyisakan kelembutan dalam nada bicaranya. Meski demikian, alih-alih mendapat perhatian khusus karena nada bicara yang saya buat, mbak recepsionist yang rupanya sudah sangat terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan serupa memberikan jawaban yang memperlihatkan kekebalannya atas kondisi tersebut,”Iya, bu, saya mengerti ibu khawatir…tapi bagaimana lagi, memang masih harus menunggu…”.

Beruntung suara saya ternyata juga terdengar oleh seorang bapak yang sedari tadi terlihat sibuk menelpon dan duduk di dekat mbak recepsionist kebal pertanyaan itu. Sang bapak sigap menanggapi kegelisahan saya dan berkata bahwa mobil yang akan saya tumpangi sebentar lagi datang. Oya ? menyenangkan sekali mendengarnya ! Sayangnya, bukan itu yang saya tanyakan ! Sebelum saya sempat melakukan klarifikasi atas pertanyaan saya, mbak recepsionist memanggil saya untuk segera memasukkan koper dan bawaan saya ke dalam mobil yang siap membawa saya dan anak-anak saya ke Semarang, sementara sang ibu yang makin gelisah dengan jadwal besuknya belum juga dapat informasi keberangkatan. Sungguh saya menyayangkan keadaan ini. Sebelum kembali tergopoh-gopoh memasukkan barang-barang bawaan saya, saya sempatkan untuk melongokkan kepala kembali ke bapak yang berusaha membantu saya tadi,”Pak, pertanyaan saya tadi untuk Ibu yang itu, tolong ya pak diperhatikan, kasihan beliau mau menengok temannya yang sakit di Semarang”. Doa saya kala itu adalah semoga tidak lagi terjadi kesalahsambungan urusan kali ini. Amin.

Di dalam kendaraan Suzuki APV yang saya tumpangi, saya menggunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk melihat-lihat pemandangan melalui kaca mobil. Berapa banyak perubahan yang sudah terjadi atas salah satu kota turis di Indonesia ini, apakah ada mal baru (harap maklum kalau lagi-lagi mal menjadi perhatian, sebab di Jakarta, perubahan atas pemandangan di sekeliling kota adalah karena dibangunnya mal baru), masih banyakkah dokar berkeliling kota, becak berkeliaran mengangkut penumpang, sepeda-sepeda kuno berseliweran, atau kios-kios buku kecil penuh dengan mahasiswa di kanan kiri jalan. Tidak banyak yang berubah.

Suzuki APV yang saya tumpangi melaju perlahan layaknya penganten Jawa menuju ke pelaminan. Ada baiknya saya pikir, karena berarti kesempatan menikmati pemandangan di luar sana akan lebih lama. Tapi nanti dulu. Ada hal lain yang mengganggu saya. Cara sang sopir menyetir sambil menelpon. Memang betul ia menyetir perlahan, tetapi ia juga terus saja sibuk menjawab dan melakukan panggilan telpon dengan irama bicara lambat mendayu-dayu yang tidak ada habisnya itu. Ia sedang menelpon penumpang yang ingin dijemput rupanya. Kenapa mesti sekarang baru ia lakukan ? Tidak bisakah ia melakukannya di kantor tadi hingga tidak membuat penumpang seperti saya khawatir ? Apakah di kota ini tidak ada larangan untuk perbuatan berbahaya seperti ini ? Karena tingkat kecelakaan rendah ? Sayangnya saya tidak dapat melarangnya begitu saja, karena bertanya-tanya arah sambil menyetir perlahan itu adalah satu-satunya cara untuk mengetahui alamat penumpang yang akan dijemput sepertinya. Keadaan rupanya tidak berpihak pada saya saat itu untuk melakukan protes atas tindakan sang sopir. Saya tinggal berdoa.

Setelah sekian lama berbicara melalui telepon genggam informasi yang diperoleh sang sopir rupanya belumlah akurat. Kegiatan menelpon yang tentunya membahayakan penumpang ini masih harus dilanjutkan lagi dengan perjalanan salah-salah alamat berikutnya. Tapi tunggu dulu, rupanya hanya saya, ya hanya saya yang terlihat risau. Penumpang lain terlihat tenang dan cukup menikmati keadaan berbahaya tanpa kepastian atas waktu ini.

Benarkah tidak ada yang menolak kebiasaan sopir itu selama ini ? Ataukah saya yang tidak dapat memahami kebiasaan di kota yang tenang ini ?

Rupanya 11 tahun tinggal di kota segarang Jakarta telah membuat toleransi saya terhadap hal-hal di luar kepraktisan berkurang. Praktis bagi saya berarti menghemat waktu, yang berarti juga menghemat energi dan biaya. Tingkat keamanan sudah seharusnya menjadi bagian yang mendapatkan perhatian khusus dalam melakukan kepraktisan ini. Jakarta mengusung kepraktisan untuk menjadi topik utama setiap harinya. Makanan ringan sampai dengan berat dapat dipesan antar sampai ke rumah. Pembayaran semua billing bulanan dapat dilakukan dari satu mesin ATM ataupun lewat internet. Pusat perbelanjaan berkonsep ‘one stop service’ bertebaran dimana-mana. Pemesanan tiket apa pun dapat dilakukan melalui online service.

Waktu, waktu, dan waktu. Tentunya menjadi wacana penting di kota super sibuk yang hanya untuk menempuh jarak 200 meter saja dapat menghabiskan waktu 30 menit. Ada yang salah ? Tidak. Inilah paradoks kehidupan kota besar.

Sementara nun jauh disana, di kota dimana “kepraktisan” seolah tidak menjadi perhatian, sang waktu dibiarkan berjalan lambat. Tidak tampak ketergesaan di tiap sudut kota. Seolah semua makhluk siap menanti.

Waktu memang menjadi sesuatu yang sangat tidak absolute bila keadaan geografis, adat istiadat setempat, kebiasaan penduduk dan nilai kebenaran yang dianut sangatlah jauh berbeda.

Setidaknya saat itu saya menikmati tamasya di sebuah lingkup kehidupan dimana bumi berputar lebih lambat dari pada biasanya.

Jakarta, 20 September 2011

 

 

 

Mari Berkhayal !

Posted on

Ditulis dalam rangka Hari Buku Nasional 17 Mei 2011

Khayalan 1# Buku pelajaran di setiap sekolah di Indonesia diberikan secara gratis kepada seluruh murid. Sudah tersampul rapi, sehingga memperlihatkan penghargaan sang pemberi terhadap buku itu sendiri. Sebuah sikap yang ingin ditularkan kepada anak-anak yang membacanya. Ada gambar tokoh di bagian depan setelah sampul di tiap buku pelajaran sesuai subjek masing-masing. Misal : buku pelajaran Matematika, di halaman pertama ada tokoh kartun atau apa saja yang menarik bagi anak-anak yang menyerupai angka 2. Tokoh itu berfoto bersama dengan teman-temannya yang dibentuk dari lambang ‘+’, terus ‘x’, dan bila mungkin sebuah angka pecahan. Mereka terlihat bahagia sambil berpesan pada pembaca untuk ‘mencintai’ mereka sebagaimana mereka juga ‘mencintai’ pembacanya. Tertulis di halaman berikutnya “Selamat Saling Mencintai”… (upss !?)

Khayalan 2# Ada perpustakaan milik negara di tiap mal. Berlebihan ga sih ? Namanya juga khayalan, tidak ada tolok ukur apapun, yang penting memuaskan sang pengkhayal. Kan bangun mal mahal, yang sewa juga harus bayar mahal dong…memang negara sanggup ? Kan negaranya kaya, masak ga sanggup. Kaya apa ? Ya kaya uang dong, masak kaya monyet !

Khayalan 3# Kalau sedang nongkrong di café (jangan nongkrong ah, melepas waktu luang dengan minum kopi buatan café, maksudnya) tengok kanan kiri, semua orang pada bawa buku masing-masing, ga cuma otak atik blackberry aja. Jangan juga yang berkhayal ini ga bawa buku yaa… Masak suruh orang lain bawa buku diri sendiri ga bawa. Malu dong ya…

Khayalan 4# Bangunan tempat menyimpan buku di tiap sekolah dan atau kampus yang disebut perpustakaan adalah tempat terindah dan ternyaman di kawasan tersebut. Maksudnya, tidak kalah nyaman dengan mushola. Walaupun bukan berarti nyaman untuk tidur ya. Misal : Banyak pohon rindang di bagian luarnya. Pot-pot berisi tanaman yang sesuai dengan interior ruangan tersedia juga di dalam. AC dipastikan selalu terpasang dengan suhu yang sesuai untuk membuat penghuni di dalamnya betah berlama-lama membaca. Rak bukunya disusun secara rapi dan indah. Bagus lagi kalau dekorasi tiap ruangan disesuaikan dengan tema buku yang tersimpan di dalam rak-raknya. Beberapa rak buku yang berisi sejarah dan seluk beluk Indonesia bagian timur, warna raknya disesuaikan mungkin dengan warna favorit suku Asmat di Irian Jaya yang terkenal itu. Ditambah lukisan bergambar ornament atau kerajinan khas daerah tersebut pastinya lebih menarik. Membuat orang ingin tahu lebih dalam tentang misteri dibalik dekorasi tersebut (wuihh !).

Khayalan 5# Orang-orang kita kan paling suka sama yang namanya gadget. Tidak atau kurang ‘update’ sama yang namanya gadget sih jaman sekarang mendingan bunuh diri (ekstrim sih kalo ini !). Jadi, bagaimana kalau ada aplikasi yang disediakan oleh operator telpon selular yang wajib didownload oleh anak sekolah dan kaum terpelajar lainnya yang isinya reminder buat membaca buku dan kemudian menelaah (mereview) buku tersebut. Mungkin tiap minggu atau senin, atau hari apa aja yang tidak dianggap ‘pamali’ (Duh, masih ada ya ‘pamali’…) ada pop-up message yang bunyinya “sudahkan anda membaca buku minggu ini ?” atau “mau tahu dong buku yang paling kamu suka minggu ini” kalau mau agak lebay sedikit. Kemudian, di kolom isiannya, ada kolom untuk review isi buku tersebut, terus hasil review buku itu terhubung dengan semacam blog milik orang yang mengisi. Identitas tiap blog tentunya sesuai dengan nomor telepon masing-masing. Bagi yang reviewnya paling banyak disediakan hadiah khusus. Udah lengkap belum ya khayalannya ?

Khayalan 6# Beli lipstick dapat voucher diskon beli buku tentang ‘attitude’, beli tahu dapat buku resep cara memasak tahu yang baik dan benar. Didalam buku resep tersebut ada voucher diskon untuk membeli buku yang berisi manfaat kedelai dan produk olahannya bagi kesehatan tubuh dan jiwa. Jadi, beli lipstick berakibat cantik luar dalam, dan beli tahu berakibat sehat jiwa raga. Udah cukup ‘ok’ belum ya ?

Udah ah…wake up, guys, it’s time to do small things for big things !

Jakarta, 18 Mei 2011